Culinary, Indonesia, Jalan-jalan, Landscape, Pictures, Trip
Comments 5

Kota Malang, Bromo dan Pak Beye

Akhirnya, penantian kami terbayarkan juga pada awal Mei ini. Rencana trip ke Bromo dan sekitarnya yang sudah direncanakan hampir tiga bulan sebelumnya, berujung pada hal-hal menarik yang kami alami selama perjalanan. Ya, saya yang awalnya hanya merencanakan perjalanan ini dengan sahabat sejak kuliah, Dian dan Rosi, akhirnya ‘memboyong’ juga teman-teman kantor. Dari yang paling senior bahkan sudah jadi Pejabat, Pak Didik sampai para staf yang pada ngga tahu diri untuk mem’bully’sang senior, Yogi, Yuli, Arif dan Rayi.

pelancong Bromo

Perjalanan saya mulai dari hari Jumat sore sepulang jam kantor. Saya bersama Rayi, Yogi, Arif dan Pak Didik memilih naik kereta Gajayana dari Stasiun Gambir menuju Stasiun Malang. Dengan harga tiket 375 ribu rupiah, kereta berangkat jam 18.20 dan sampai di Malang sekitar jam 10.30 keesokan harinya. Berbeda dengan tiga rekan saya yang menempuh perjalanan udara, Yuli dari Jakarta langsung ke Malang sedangkan Dian dan Rosi dari Jakarta menuju Surabaya baru lanjut ke Malang.

Akhirnya kami pun bertemu di penginapan yang telah dipesan dari Jakarta, Hotel Edotel. Hotel milik SMKN 3 Malang ini terletak di Jl. Surabaya No. 1 dan boleh dikatakan nyaman. Seusai melepas penat sebentar karena perjalanan panjang dari Jakarta, tujuan pertama kami adalah Toko Oen.

Siapa sih yang ngga tahu tempat ini? hmmm toko atau yang lebih cocok disebut restauran ini sudah ada sejak tahun 1930 lho. Interior dan perabotnya juga masih jadul. Tapi justru ini yang menarik banyak orang untuk datang dan mencicipi suasana kolonial. Untuk menu makanan, cukup bervariasi dari yang model makanan barat sampai kuliner Indonesia. Tapi masalah harga menurut saya memang lumayan mahal dan bikin tekor kalau keseringan makan di sini, hihihi. Kalau memang budget pas-pasan bolehlah sekedar mencicipi es krimnya, hehe.

toko oen1

toko oen

Cabut dari Toko Oen, tujuan kami selanjutnya adalah ke Kota Batu, persisnya ke Secret Zoo (hohoho jadi terkesan seperti liburan keluarga). Kebun binatang modern dengan konsep yang keren, udara yang sejuk karena terletak di dataran tinggi, dan tempatnya bersih. Dengan tiket terusan seharga 90 ribu rupiah untuk Museum Satwa dan Secret Zoo, kami tak menghabiskan waktu lama dan mengitari hanya 10 persen dari total luas secret zoo ini.

kupu-kupu

secret sign

secret zoo

Mengingat waktu istirahat sebelum naik ke Bromo tak banyak, kami kembali ke kota sebelum maghrib dan memutuskan makan malam di RM Inggil. Berbeda dengan Toko Oen yang kami kunjungi tadi siang, RM Inggil menawarkan suasana tradisional Jawa sekali dan interiornya juga memajang perabot-perabot kuno, sehingga terkesan seperti museum. Harga makanan standar, dengan menu khas masakan Indonesia.

Dan main destination kami adalah gunung Bromo, here we goooo. Perjalanan menuju Bromo kami mulai jam 01.30 pagi. Jeep yang dipakai dari Singa Adventure Travel mampu manampung kami semua berdelapan plus 3 orang kru. Dari kota Malang melewati Desa Tumpang menuju ke Penanjakan Bromo, ditempuh waktu hampir 3 jam. Sempat khawatir tak akan mencapai Bromo dan melihat sunrise karena kebetulan Presiden juga sedang mengunjungi Bromo. Tahu sendiri kan bagaimana hebohnya voorijder dan ketatnya pengamanan Pak Beye? Untungnya jeep kami punya stiker bertuliskan ‘VIP TN BTS’. Inilah yang membuat jeep ini menjadi satu-satunya yang lolos dan bisa sampai ke atas (yeaayyy).

Tiba tepat waktu di Penanjakan 2, saat semburat jingga sudah mulai terlihat di ufuk timur. Kami tidak ke Penanjakan atas mengingat waktu mungkin yang tak cukup untuk mencapai sana. Tapi pemandangan di depan dan belakang kami tak kalah indahnya. Jika menghadap ke depan melihat matahari yang akan segera muncul maka jika menghadap ke belakang pemandangan gunung batok dan kawah Bromo tampak sejajar dengan kami. Berikut foto-foto yang berhasil saya abadikan….

semburat

sunrise2

sunrise

semburat gunung

bromo1

bromo

bromo gunung batok

bromo foto

perkampungan

Tidak cukup hanya menikmati matahari terbit di Penanjakan, exploring kami lanjutkan ke kawah Bromo. Tepat di bawah gunung Batok dan gunung Bromo, terdapat sebuah Pura yang digunakan oleh suku Tengger untuk upacara Kasada, Pura Luhur Poten. Sekali lagi kami sedang beruntung, pada hari biasa pengunjung tidak diijinkan untuk membawa jeep sampai ke area dalam pura, namun karena sedang ada Pak Beye, kendaraan diperbolehkan masuk. Jadi tidak perlu jauh-jauh jalan menuju tangga ke kawah Bromo, meskipun menurut saya jaraknya masih tetap jauh juga 😦

pasir  pure

pasir (2)

Dengan bekal pikiran ‘ngapain jauh-jauh ke Bromo kalau tidak sampai atas kawah’, meskipun dengan kondisi sedang flu saya berhasil menaklukan 200 lebih anak tangga yeyeye 😉 . Sesampainya di atas, badai pasir menghantam akibat tiupan angin kencang yang menerbangkan pasir kering di sana. Makanya, masker dan kacamata atau goggle wajib dipakai ke sini. Dan, hati-hati dengan kamera yang dibawa, bisa-bisa karena keasikan motret pemandangan alam yang memang sangat bagus di sini, kamera kemasukan debu.

lembah2

lembah

siap

batok

pasir atas

tangga

naik tangga

sampai atas

kawah

penjual bunga

penjual bunga2

penjual bunga3

gaya dulu

foto bareng

Matahari sudah mulai meninggi dan panasnya mulai menyengat kulit, sepertinya waktu kami sudah cukup dan harus kembali ke kota Malang. Di sepanjang perjalanan terhampar lautan pasir nan luas, kemudian padang rumput ilalang dan bukit-bukit berumput yang tak kami lihat waktu berangkat. Sempat beberapa kali jeep sengaja berhenti untuk memberi kesempatan kami berfoto. Namun karena lelah, kami tidak terlalu memanfaatkan kesempatan itu, huuftt.

Di tengah perjalanan melewati savana, kami berpapasan dengan rombongan Pak Beye. Perlakuan ‘istimewa’ pun wajib kami berikan dengan memberi jalan untuk iring-iringan mobil mereka. Seperti rakyat jelata yang baru pertama kali melihat ‘rajanya’, namun di jaman modern, kami langsung menyiapkan kamera untuk mengabadikan momen langka bertemu Pak Beye ini. Tanpa disangka-sangka ada satu mobil yang terbuka kaca jendelanya dan lambaian tangan khas birokrat tertuju pada kami, ya itu Bu Ani. hahaha

Bu Ani

Perjalanan kami lanjutkan, didampingi hamparan pemandangan indah sepanjang jalan. Tidak banyak yang bisa saya ceritakan lagi, hanya decak kagum atas ciptaan Tuhan yang maha indah ini dan rasa syukur  atas kesempatan saya sampai ke tempat ini.

bukit teletubbies

Advertisements

5 Comments

  1. rossy says

    So much awesome pictures. I though the children on the pics just like Uzbec’s, children from north Asian.. Hehehehee…

  2. Pingback: Butterfly Farm dan Penang Hill | Langkah - Langkah Kecil

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s