Indonesia, Jalan-jalan, Landscape, Pictures, Trip
Leave a Comment

Jelajah Pulau Bersejarah Onrust, Kelor dan Cipir

Menyambangi utara Jakarta sebenarnya bukan pilihan favorit saya untuk menghabiskan akhir pekan. Kawasan yang berudara panas menyengat, becek, bau amis, sampah di mana-mana merupakan gambaran Pesisir utara Jakarta. Genangan air berwarna coklat pekat dan ceceran sampah hampir saya jumpai sepanjang jalan di daerah Kamal. Inilah yang membuat saya berdecak miris sepanjang melintasi kawasan ini. Jika bukan karena destinasi Kepulauan Seribu, mungkin saya tak pernah berniat untuk menginjakan kaki di Muara Kamal. Salah satu pelabuhan nelayan ini biasanya dipakai para ‘low budget traveler’ untuk menuju ke kepulauan seribu. Karena jika dibandingkan melalui pelabuhan Marina Ancol yang diisi kapal-kapal fery yang sewanya mahal, di sini cukup menumpang kapal nelayanpun kita bisa sampai ke pulau tertentu.

kelor3Well, kita lupakan sejenak pemandangan di pinggir Jakarta ini, karena saya hendak menuju ke Taman Arkeologi Onrust di Kepaulan Seribu. Terletak sekitar 14 km di utara Jakarta, taman bersejarah ini terdiri dari empat pulau yaitu Pulau Onrust, Pulau Kelor, Pulau Cipir dan Pulau Bidadari. Khusus untuk Pulau Bidadari, karena sekarang lebih dikenal sebagai pulau resort, walaupun ada peninggalan sejarah juga di sana, kami tidak mampir ke Pulau ini. Hehehe

Kami?ya, bersama teman-teman dari Komunitas Kompas Khatulistiwa saya berkunjung ke sini. Tujuan trip kali ini adalah dalam rangka memperingati 100 tahun Hari Kepurbakalaan. Dengan menginap di pulau Onrust, saya bisa menikmati suasana malam di sebuah pulau kecil  dan menjelajahi sisa – sisa peninggalan Kolonial Belanda tepat di tengah malam, weeeww. Tenda tempat kami melepas lelah pun didirikan di sebelah bekas runtuhan bangunan tempat pemeriksaan kesehatan Jamaah Haji dan berada di depan rumah dokter yang bertugas kala itu.

OLYMPUS DIGITAL CAMERADi pulau tujuan pertama kami, yaitu Onrust terdapat ‘kenangan’ bangsa Indonesia dari penjajahan Kolonial Belanda berupa rumah sakit, penjara, barak karantina haji, rumah dokter, gudang mesiu dan pemakaman, hihihi. Nama ‘Onrust’ sendiri diambil dari bahasa Belanda yang berarti ‘Tidak Pernah Istirahat’ atau dalam bahasa Inggrisnya ‘Unrest’. Dengan luas hanya sekitar 7,5 Ha saat ini, kebayang kan jarak bangunan-bangunan tersebut?? Banyak cerita yang datang dari masa kejayaan Kolonial Belanda terkait peninggalan tersebut yang berlangsung dari abad ke-17 sampai abad ke-19. Bahkan pada saat Gunung Krakatau di selat Sunda meletus pada tahun 1883, sebagian besar fasilitas yang ada di Pulau Onrust hancur akibat gelombang pasang. Setelah itu, dibangun kembali dan sempat berfungsi sebagai tempat karantina haji.

Perkiraan awal saya, udara di sana bakalan dingin di waktu malam sehingga harus memakai sleeping bag saat tidur. Ternyata cukup panas, hmmm..baru ingat ini berbeda dengan berkemah di daerah pegunungan. Meskipun begitu, bukan berarti saya rajin untuk mandi hehehe. Karena semua sumber mata air meskipun jernih tapi berasa asin. Maklum pulau kecil, dan faktor ini juga yang menjadi penyebab jarang ada pelaut yang mau berlama-lama ‘mampir’ melepas lelah di pulau ini. Oh iya, di Pulau Onrust ini hanya ada dua warung yang menjual makanan, masing-masing pemiliknya menetap di sini. Tentu saja mereka tidak bisa bebas menikmati listrik seperti di Pulau Jawa. Dengan menggunakan solar, mereka menghidupkan listrik dari generator, dan hanya dinyalakan malam hari demi menghemat bahan bakar. Jadi, kalau ke sini membawa smartphone, sangat disarankan untuk membawa juga powerbank full-charged.

Setelah menikmati sunrise di Onrust, jelajah kami lanjutkan ke Pulau Kelor dan Pulau Cipir. Tak lama kami singgah di masing-masing pulau itu, hanya sekedar mengelilingi dan menikmati pantainya yang berpasir putih. Di Pulau Kelor hanya terdapat sisa bangunan Benteng Martello yang masih berdiri meskipun dengan ancaman abrasi pantai. Banyak orang yang datang untuk sekedar memancing bahkan ada yang sampai menginap dan mendirikan tenda. Sayangnya ada beberapa di antara mereka yang tidur di dalam bangunan benteng dan membuat perapian sehingga merusak rumput-rumput dan menyisakan sampah 😦

Terakhir, kami singgah di Pulau Cipir, kondisi tak jauh berbeda dengan dua pulau sebelumnya. Hanya di pulau ini terlihat beberapa rombongan wisatawan yang sepertinya betah berlama-lama. Beberapa di antara mereka mendirikan tenda dan beberapa melepaskan lelah di gazebo-gazebo yang berjejer di pinggir pantai, sementara yang lain ada yang berenang di bibir pantai. Di Pulau Cipir ini terdapat bekas bangunan rumah sakit yang hanya menyisakan bagian dindingnya saja. Udara di sini menurut saya lebih ‘adem’ karena banyak pohon-pohon rindang di antara puing-puing bangunan. Jika merasa lapar, tak perlu khawatir karena ada warung yang menjual makan kok. Warung makan dengan bangunan yang sangat sederhana ini menyediakan mie instant rebus atau goreng dan nasi lengkap dengan sayur, lauk ikan sampai gorengan. Di sini Anda bebas mengambil makanan sendiri, pemiliknya sangat ramah meskipun sudah tua.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Di antara keindahan alam dan nilai historis pulau-pulau yang saya singgahi, terdapat satu hal yang cukup membuat saya kesal. Sampah. Yah, sepanjang bibir pantai banyak sampah yang ‘berlabuh’. Entah berasal dari mana saja sampah-sampah itu, yang jelas perlu segera dikelola. Di pulau-pulau kecil itu tidak mungkin kan dibuat tempat pembuangan akhir (TPA) atau tempat pembakaran sampah? karena jelas justru akan menimbulkan polusi. Salah satunya mungkin perlu ada kapal khusus pengambil sampah di Kepulauan Seribu dari pemerintah untuk dikelola di tempat khusus. Namun sebenarnya tanggung jawab untuk lebih ramah terhadap lingkungan tentunya harus di mulai dari kita, sang penikmat alam.

foto bareng

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s