Culinary, Pictures, Singapore, Trip
Comment 1

Mengintip Modernitas di Negeri Seribu Satu Larangan

Pernah saya membaca di timeline twitter, “Singaporean people says how lucky you Indonesian..all your tourism destination is God made and all Singapore destination is man made”, benarkah?. Saya jadi ingin mengintip dan membandingkannya 😀

Iconic Marina BayMarina Bay Sand

Akhir September ini saya bertandang ke Singapura, setelah memesan tiket, mencari penginapan dan merencanakan perjalanan secara tiba-tiba. Sebagai negara pertama yang saya kunjungi dalam perhelatan ke luar negeri dalam hidup saya, banyak hal yang ingin saya ‘cicipi’ khususnya yang di Indonesia tidak ada. Okesip. Mengikuti budget travel yang memang kecil dan berbekal hasil browsing, saya dan sahabat @a_liensky pun berani hanya mengandalkan transportasi umum untuk keliling menuju spot-spot yang menjadi target tujuan. Ternyata sangat mudah, meskipun baru pertama dan tak ada satupun petugas yang bisa diminta informasi namun rambu dan papan petunjuk sangat membantu di sana.

Seperti pepatah, di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung, saya pun harus mengikuti segala peraturan yang diterapkan di sana. Di negara yang sudah maju ini, memang segalanya sangat teratur. Bisa dicerminkan lewat kebiasaan orangnya ketika di jalan raya. Pertama, di sana menyeberang jalan harus di tempat yang disediakan. Bahkan penduduk kota yang sudah lanjut usia diberi keistimewaan lebih seperti kartu khusus manula yang jika ditap ke tiang pengatur lampu penyeberangan jalan, waktu menyeberang lebih lama. Sederhana sih, tapi menurut saya itu sebuah respek yang tinggi.  Kedua, setiap lampu merah menyala, semua kendaraan pasti berhenti di belakang garis marka jalan, tidak berebut seperti di garis start lomba balap seperti di Jakarta.

Sign Pedestrian

Menyeberang Rame

Menyeberang Jalan

Rambu Penyebrangan

Berjalan di trotoar

Berjalan di trotoar sambil menikmati bentuk bangunan dan gedung merupakan suatu hal yang nyaman di sana. Tanpa khawatir harus naik turun jika ada pedagang kaki lima seperti di Jakarta. Atau was-was karena ada motor yang tiba-tiba menyalakan klakson dari belakang. I really enjoy the city tracking..

Naik MRT

Begitu mendarat di Changi Airport (finally I steped my feet on one of the greatest airports in the world), saya langsung menuju stasiun Mass Rapid Transit (MRT) yang lokasinya entah berapa puluh meter di dalam tanah. Karena sampai di Singapura sudah menginjak sore, saya memilih untuk membeli tiket single trip yang hanya bisa dipakai sekali jalan. Tidak ada loket yang melayani penjualan tiket single trip ini, jadi memang harus dibeli di mesin penjual tiket otomatis. Dengan harga tiket berkisar 2.1 SGD menuju Boon Keng, stasiun terdekat dari tempat saya menginap, saya harus dua kali memasukan pecahan nominal 2 SGD (pecahan terkecil dari moneychanger yang saya terima) dan dapat kembalian pecahan cents. Untuk tiket single trip ini, saya tidak boleh salah dalam memilih stasiun pemberhentian, karena harga tiket disesuaikan dengan jarak tempuh, dan tiket memang hanya bisa ditap di gate keluar stasiun yang saya pilih.

Single TripTiket MRT Single Trip

GTMGeneral Ticketing Machine

Tidak lebih dari tiga menit saya menunggu di stasiun yang luas, bersih dan sejuk, kereta pun datang. Ketika menunggu kereta datang, saya tidak boleh berdiri di depan pintu melainkan di samping pintu yang dibatasi oleh garis-garis di lantai. Hal ini bertujuan untuk mendahulukan penumpang yang hendak turun terlebih dahulu. Dari stasiun bandara menuju ke Boon Keng, saya harus transit dua kali karena memang berbeda line, caranya persis seperti transit koridor di Transjakarta. Kalau MRT di Singapura, penamaan jurusan disesuaikan dengan arah mata angin, misalnya East-West (EW), North-South (NS), North-East (NE) yang saling terhubung satu sama lain.

Banyak papan warning terpasang di sudut-sudut kota, Singapura memang terkenal dengan kota denda (fine city), di mana banyak larangan yang jika dilanggar harus membayar denda yang tidak sedikit (berkisar 500-5000 SGD). Di tempat umum, terdapat larangan seperti membuang sisa permen karet sembarangan, mencoret-coret fasilitas umum, meludah, memetik bunga di area publik, dan bahkan jika lupa menyentor kloset setelah buang airpun bisa terkena denda, Di dalam MRT ataupun di stasiunnya saja kita tidak boleh makan/minum, membawa durian, merokok, dan membawa benda yang mudah menyala. Jika memilih untuk duduk di dalam kereta, pilih duduk di bagian tengah tiap baris kursinya karena setiap kursi paling pinggir merupakan reserved seat bagi manula dan ibu hamil 😉

Sayangnya, lintasan rel MRT sebagian besar berada di bawah tanah, jadi saya tidak bisa menikmati pemandangan kotanya. Namun naik MRT memang sangat nyaman, cepat, aman dan bisa diandalkan untuk mengekplorasi semua spot penting negara ini.

mrt

mrt berdua

Exit Boon Keng

Naik Bus

Alternatif kedua untuk berkeliling kota adalah dengan bus. Dibanding MRT, sebenarnya saya lebih suka naik bus. Keuntungannya, bisa melihat pemandangan kota, apalagi kondisi bus juga sangat nyaman dan ada beberapa bus yang seperti double decker di London, Inggris. Saya langsung bersemangat untuk sekedar mencobanya meski tanpa tahu pasti tujuannya. (it’s about the journey) Hahaha. Ada banyak nomor bus yang melayani banyak rute, namun informasi halte mana saja yang dilewati setiap nomor bus bisa dibaca di papan pengumuman semua halte, dan memang akurat.

Double DeckerBus Tingkat Rute Nomor 7

Di Dalam BusDi dalam bus

Double Decker InteriorInterior Bus Double Decker

Berbeda dengan MRT yang peta rutenya bisa didapat di bandara maupun informasi wisata dan nama-nama stasiun pemberhentian yang juga sama dengan nama-nama tourist attraction-nya, untuk rute bus saya hanya mengandalkan peta kota berhubung tidak bisa memakai GPS dari handphone. Untuk turun dari bis saya memilih halte yang namanya sama dengan nama stasiun MRT karena berarti dekat dengan stasiunnya. Hal ini saya lakukan untuk menghindari kesasar lebih jauh lagi, hehe. Karena di manapun naik MRT, saya aman mau kembali atau ke destinasi selanjutnya.

Untuk ‘misi’ naik bus, saya lakukan di hari kedua karena sudah memegang kartu ‘aman’ Singapore Tourist Pass (direkomendasikan bagi turis yang tinggal selama 1-3 hari saja). Kartu ini bisa bebas dipakai untuk naik MRT dan bus dengan tujuan mana saja selama seharian penuh. Karena syarat naik bus yang juga tidak menerima uang tunai, jadi memang wajib memilik kartu bayar elektronik (semacam e-money kalau di Indonesia). Saya hanya membeli untuk satu hari dengan harga SGD 20, dan akan dapat kembalian SGD 10 jika saya mengembalikan kartu tersebut.

STPSingapore Tourist Pass

Penginapan

Selama semalam menginap di Singapura, saya memilih untuk memesan hostel secara online sebelumnya. Dengan model dormitory room, saya harus berbagi dengan 5 orang turis lainnya dalam satu kamar dan kamar mandi di luar.  The Hive yang terletak di Serangoon Road daerah Boon Keng, memberikan pelayanan yang boleh dikatakan cukup dengan harga SGD 18 per orang. Fasilitas wifi gratis yang sangat kencang, sarapan sederhana, hanya itu saja. Tapi hostel ini pun penuh oleh para backpacker.

The HiveThe Hive

Hostel GuestSarapan di hostel

Makanan

Cukup sulit menemukan makanan yang halal sekaligus murah bagi saya. Selain dolar singapura yang jumlahnya terbatas di dompet, sebagai muslim yang memakai jilbab juga tidak bisa sembarangan masuk ke tempat makan. Saya menemukan salah satu restoran halal dan murah di daerah Bugis, yang letaknya persis di seberang Capital Mall, yaitu Tongseng Coffeeshop. Di sini saya cukup mengeluarkan SGD 3,5 untuk satu porsi Roasted Chicken Hainan plus nasi dan SGD 1 untuk es teh. Harga ini jelas lebih murah dibandingkan tempat makan yang lain, bahkan jika dibandingkan dengan restoran fastfood sekalipun. Selebihnya, saya memilih membeli street food yang menggoda dan tidak terlalu mahal, lumayan untuk mengganjal perut.

CoffeeshopTongseng Coffeeshop di Daerah Bugis

Street FoodStreet food yang katanya halal

Street Food 2Street food untuk mengganjal perut

Sekelumit hal-hal tersebut setidaknya telah menjadi awal yang mengenalkan saya tentang dunia, tentang sesuatu yang baru, tentang kekaguman, tentang keberagaman, tentang perbedaan, tentang menghormati bangsa lain. Jujur, baru berada di negara tetangga terdekat saja saya sudah merasakan perbedaan sebuah sistem. Ya, saya mengagumi keteraturan sistem, kemajuan teknologi, keindahan arsitektur, kebersihan kota, kedisiplinan warga negaranya, kemajuan teknologinya, kelengkapan fasilitas umum yang tidak belum tersedia di negara saya. Namun, untuk urusan keramahtamahan orangnya, budayanya, biaya hidupnya, makanannya, kealamiannya, Indonesia masih juara hehehe.

Advertisements

1 Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s