Month: December 2013

Mengenal Batik Gumelem Banjarnegara

Memakai batik bukan hanya sebagai kelengkapan sandang dan fashion, namun juga memakai sebuah karya seni. Begitulah seharusnya agar kita menjadi lebih bangga memakai karya warisan nenek moyang bangsa ini. Kita mengenal berbagai macam batik dan mungkin Anda juga sudah mengoleksinya. Ada batik Solo, Jogja, Pekalongan atau bahkan Madura yang sudah sangat familiar. Tapi pernahkah Anda mendengar batik Gumelem?. Di Kabupaten Banjarnegara Provinsi Jawa Tengah, tepatnya di Desa Gumelem Wetan dan Gumelem Kulon Kecamatan Susukan terdapat sentra kerajinan batik. Inilah kenapa dikenal dengan nama Batik Gumelem. Gumelem berjarak sekitar 40 KM ke arah barat daya dari ibukota Kabupaten Banjarnegara. Di sini terdapat puluhan industri rumahan yang tergabung dalam komunitas Usaha Kecil dan Menengah (UKM) produk kerajinan batik tulis Banjarnegara atau Batik Gumelem. Untuk mencapai kawasan sentra batik ini bisa juga ditempuh lewat Kabupaten Banyumas, tepatnya di pinggir jalan raya Susukan. Di situ terpampang gapura besar bertuliskan Sentra Batik Gumelem Banjarnegara. Anda bisa mengunjungi gerai-gerai kecil yang menyatu dengan rumah warga. Di ruang tamu biasanya para pengrajin memajang koleksi kain batiknya maupun yang sudah berbentuk pakaian jadi. …

165 Kingdoms Gathered in Jakarta

For the first time, Jakarta organized the World Royal Heritage Festival. The event run on  December 5-8, 2013. Located in Monas (National Monument) and collected 165 of the Indonesian archipelago Kingdoms and 10 Kingdoms from around the world. Participants displayed cultural attractions and dances, also exhibited the relic from each kingdom. The top event of this festival was filled with cultural parade which was also attended by the governor and vice governor of Jakarta, Jokowi and Ahok, who wore clothing Prince of Jayakarta. Thousands of people in Jakarta and its surroundings looked very enthusiastic about taking this very lively festival.

(Ber)Sedekah Brutal ke Pandeglang

Menyapa anak-anak sekolah dan masyarakat di pelosok kampung, melihat wajah-wajah polos dan senyum ceria di tengah keterbatasan mereka  menjadi imbalan yang sepadan setelah menempuh kiloan meter jalan yang rusak berat. Itulah yang saya rasakan beberapa waktu lalu ketika berkesempatan mengikuti kawan-kawan dari Sedekah Brutal menyalurkan bantuan ke sejumlah sekolah dasar di Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten. Sedekah Brutal (SB) merupakan sebuah gerakan sedekah yang dikelola muslim alumni Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FEUI), begitu menurut bio akun twitternya, @SedekahBrutal. Gerakan ini bertujuan untuk mengajak masyarakat, terutama anak muda untuk membudayakan bersedekah, sebagaimana dianjurkan dalam agama Islam. Melalui SB ini diharapkan dapat terhimpun sejumlah dana yang kemudian akan disalurkan kepada kelompok masyarakat yang membutuhkan, sesuai dengan tema sedekah SB. Jadi memang SB tidak mengonsentrasikan penyaluran sedekah hanya pada satu kelompok masyarakat tertentu, namun akan berbeda setiap ‘proyek’ pelaksanaannya. Selengkapnya tentang SB bisa dilihat di sini SB sudah menginjak proyeknya yang ke-8 dengan tema “1 man, 1 bag, 1 book”. Proyek sedekah ini menargetkan 1.000 paket tas sekolah dan buku, yang setiap paketnya bernilai Rp 60.000. Menurut panitia, target …