Features, Indonesia, Pictures, Trip
Comments 3

(Ber)Sedekah Brutal ke Pandeglang

Menyapa anak-anak sekolah dan masyarakat di pelosok kampung, melihat wajah-wajah polos dan senyum ceria di tengah keterbatasan mereka  menjadi imbalan yang sepadan setelah menempuh kiloan meter jalan yang rusak berat. Itulah yang saya rasakan beberapa waktu lalu ketika berkesempatan mengikuti kawan-kawan dari Sedekah Brutal menyalurkan bantuan ke sejumlah sekolah dasar di Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten. Sedekah Brutal (SB) merupakan sebuah gerakan sedekah yang dikelola muslim alumni Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FEUI), begitu menurut bio akun twitternya, @SedekahBrutal. Gerakan ini bertujuan untuk mengajak masyarakat, terutama anak muda untuk membudayakan bersedekah, sebagaimana dianjurkan dalam agama Islam. Melalui SB ini diharapkan dapat terhimpun sejumlah dana yang kemudian akan disalurkan kepada kelompok masyarakat yang membutuhkan, sesuai dengan tema sedekah SB. Jadi memang SB tidak mengonsentrasikan penyaluran sedekah hanya pada satu kelompok masyarakat tertentu, namun akan berbeda setiap ‘proyek’ pelaksanaannya. Selengkapnya tentang SB bisa dilihat di sini

SB sudah menginjak proyeknya yang ke-8 dengan tema “1 man, 1 bag, 1 book”. Proyek sedekah ini menargetkan 1.000 paket tas sekolah dan buku, yang setiap paketnya bernilai Rp 60.000. Menurut panitia, target ini alhamdulillah telah tercapai sampai dengan tanggal akhir pengumpulan dana. Kali ini penyaluran SB bekerjasama dengan Gerakan UI Mengajar (GUIM) angkatan ke-2, sesuai dengan tema proyek ke-8 yang berkaitan dengan dunia pendidikan. GUIM angkatan ke-2 ini sebelumnya juga pernah ditempatkan di daerah-daerah Banten yang belum merasakan pembangunan, dengan kondisi ekonomi masyarakat yang kurang dan belum memiliki fasilitas pendidikan yang memadai.

Ada 5 (lima) titik yang menjadi tujuan penyaluran dana SB part 8. Antara lain SDN Kertaraharja 1 di Kampung Cipeuti, SDN Kertaraharja 2 di Kampung Sumurwaru, SDN Kertaraharja 3 di Kampung Depok, SDN Kutamekar 1 di Kampung Kapinango dan SDN Kutamekar 3 di Kampung Salam. Semuanya terletak di Kecamatan Sobang, Kabupaten Pandeglang, Banten. Terdapat paket tas sekolah, buku bacaan dan alat tulis untuk semua murid di sekolah tersebut serta buku cerita edukatif untuk masing-masing perpustakaan sekolah.

Menuju Pandeglang

Demi mengejar pagi, perjalanan dimulai dari UI Depok sekitar pukul 11 malam setelah mengemas barang dan memastikan jumlahnya sesuai dengan yang akan didistribusikan. Rombongan sampai di Pasar Panimbang menjelang subuh. Seusai solat Subuh, perjalanan dilanjutkan menuju Kantor Kecamatan Panimbang. Ini merupakan pemberhentian terakhir sebelum berpisah menuju ke titik masing-masing. Di sini, rombongan dijemput oleh mobil bak dari Desa Kertaraharja yang akan mengangkut barang-barang di titik 1 sampai 3 (1 jalur). Sedangkan titik 4 dan 5 menggunakan kendaraan masing-masing titik.

Sampai di Panimbang

Briefing unloading-loading barang

Buku Sponsor Dibaca sebelum diserahkan

Tas yang akan dibagikan

Ngangkut barangSaya kebagian ikut mendistribusikan di titik 1 bersama 5 teman yang lain. Konon katanya, menurut teman yang pernah menjadi Pengajar GUIM, titik ini yang paling rusak akses jalannya. Namun tidak mengurangi semangat saya, justru membuat saya lebih penasaran melihat medannya. Ternyata benar adanya, setelah keluar jalan utama dan memasuki Kecamatan Sobang hampir tak ada lapisan aspal yang menutupi jalan. Jalan berbatu tak beraturan dan kadang berlumpur seperti rawa menjadi lintasan yang wajib dilewati. Di tengah jalan, mobil yang saya tumpangi pun terjebak dalam lumpur ketika berusaha menghindari bagian jalan yang becek dan berkubang (bukan lubang) cukup dalam.  Akibatnya kami harus terhenti beberapa saat untuk berusaha mengeluarkan roda mobil dari lumpur. Namun apa daya, sampai datang beberapa warga yang tanpa kami minta, mereka berdatangan membantu mendorong mobil dari jebakan lumpur. Hanya mampu mengucapkan terimakasih dan alhamdulillah, kami bisa melanjutkan perjalanan, karena hari semakin siang, dan anak-anak sudah menunggu kami di sekolah.

Kondisi jalan menuju kampung

Mobil di lumpur

Ditolong warga

Kondisi jalan menuju kampung 2Waktu menunjukkan hampir pukul 9 pagi ketika kami sampai di SDN Kertaraharja 1 Kampung Cipeuti. Anak-anak sudah berkumpul di depan kelas dan langsung menghampiri kami, yang masih sibuk menurunkan barang ‘oleh-oleh’ untuk mereka. Sejumah guru dan kepala sekolah pun dengan ramah menyambut dengan senyum. Saya sempat melihat-lihat kondisi bangunan sekolah yang sederhana, tanpa memiliki fasilitas MCK. Menurut salah seorang guru, jika terjadi hujan halaman sekolah menjadi berlumpur, sehingga terpaksa menyuruh anak-anak untuk melepas alas kakinya ketika masuk ke dalam kelas.

Sejenak berbincang dengan para guru dan kepala sekolah, selanjutnya kami menyapa anak-anak di kelas mereka masing-masing. Meskipun tanpa mandi, menggosok gigi apalagi makan pagi setelah perjalanan dari semalam, kami harus tetap tampil ceria dan semangat di depan kelas. Saya lebih banyak berbagi cerita dan mengajak diskusi tentang apa yang telah mereka pelajari serta kegiatan mereka sehari-hari. Entah terlalu cepat atau tidak saya mengambil kesimpulan dan menyayangkan, bahwa kondisi dan kualitas belajar-mengajar di sini masih tertinggal bahkan jika dibandingkan dengan pinggiran ibu kota. Saya hanya berharap semoga lebih banyak akses informasi yang bisa mereka dapatkan untuk membuka wawasan dan menginspirasi anak-anak ini tentang dunia, selain meningkatkan kualitas guru serta fasilitas sekolah tentunya.

Menyapa Masyarakat

Setelah acara di sekolah selesai, kami menuju ke rumah salah satu warga tempat kami menginap untuk melepas lelah sejenak. Agenda kami selanjutnya adalah mengunjungi warga sekitar, tempat tinggal anak-anak sekolah tadi. Kami harus berjalan kaki menyusuri jalan berbatu untuk menuju kampung sebelah. Hampir tak ada orang yang kami jumpai di jalan, begitu sepi. Terlihat beberapa warga duduk-duduk santai di depan rumah sederhana mereka. Beberapa dari mereka meminta kami untuk mampir dan berbincang. Mereka bercerita tentang keseharian mereka bekerja di ladang, atau mereka menyebutnya dengan hutan, hanya sebagai buruh cangkul atau tanam. Banyak juga yang memilih untuk pergi merantau ke pulau Sumatera untuk menjadi buruh perkebunan sawit di sana. Meninggalkan anak yang masih kecil dan diasuh oleh neneknya, terpaksa mereka lakukan demi mendapatkan nafkah. Pantas saja setelah saya perhatikan, kondisi demografi kampung ini hampir tidak ada warga dengan usia produktif. Karena begitu lulus SMP atau hanya lulus SD banyak yang langsung merantau.

Meskipun hanya berjarak sekitar 160 KM dari pusat Ibu Kota Negara, miris sekali karena kampung ini hampir belum terjamah pembangunan. Jangankan fasilitas angkutan umum untuk menuju ke kota, jalan yang mulus tanpa becek di musim hujan saja masih menjadi angan-angan dalam benak mereka. Semoga kondisi ini menjadi perhatian dan segera dibenahi oleh pihak-pihak terkait, terutama Pemerintah Daerah. Jangan hanya poster-poster mereka yang nampang di batang pohon dengan janji-janji minta diangkat menjadi legislator, tapi kemudian lupa dan disibukkan dengan kasus menjadi koruptor. Semoga.

Rumah wargaFasilitas parabola ada, tapi tak berfungsi karena banyak yang tak memiliki televisi

Advertisements

3 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s