Landscape, Malaysia, Pictures, Trip
Comment 1

Salah Jurusan dan Serombongan Dengan Turis Thailand di Putrajaya

KLIA Transit membawa saya dan Ochi dari KL Sentral menuju pusat pemerintahan negara Malaysia, Putrajaya. Kereta berkecepatan tinggi ini sejatinya akan menuju tujuan akhir Kuala Lumpur International Airport (KLIA). Namun karena kami ingin ke Putrajaya, jadi kami mengakhiri setengah perjalanan KLIA Transit di Stesen (sebutan untuk stasiun dalam bahasa Melayu) Putrajaya Dan Cyberjaya.

mtf_IGWPV_246

Di dalam gerbong KLIA Transit

IMG20140412161314

Stesen Putrajaya Dan Cyberjaya

Putrajaya terletak sekitar 25 KM sebelah selatan ibu kota Kuala Lumpur. Sengaja dibangun khusus untuk pusat administasi pemerintahan Malaysia. Bisa dikatakan letaknya persis di tengah-tengah antara Kuala Lumpur dan KLIA. Putrajaya merupakan ‘komplek’ kantor Perdana Menteri, kantor-kantor lembaga Kementerian, dan fasilitas-fasilitas pendukungnya.

Dengan harga tiket KL Sentral- Putrajaya sebesar 9,5 RM, perjalanan dengan KLIA Transit menghabiskan waktu sekitar 20 menit. Stesen Putrajaya terlihat sepi saat kami sampai di sana. Wajar saja, karena hanya KLIA Transit yang berhenti di sana dan berselang teratur setiap 15 menit sekali. Kami langsung menuju ke Putrajaya Sentral (semacam terminal bis), yang terletak bersebelahan dengan Stesen.

DSC_0736

Putrajaya Sentral

Saat sudah menginjakkan kaki di terminal bis, saya sadar bahwa kami belum tahu apa nama tempat yang akan kami tuju dan bus apa yang harus kami naiki. Bayangan saya pokoknya tempat yang banyak gedung-gedung pemerintahannya itu, yang ada masjid dan jembatannya yang bagus. Iya, kawasan Putrajaya tapi apa ya namanya?. Saya dan Ochi saling bertanya. Sampai kami menemukan sebuah kata yang ada di loket tour agent, menawarkan tur Putrajaya-Cyberjaya. Ya, mungkin itu, Cyberjaya!.

Tentu saja kami tidak mungkin mengambil paket tur, karena terlalu mahal untuk ukuran kantong kami, jadi cukup naik bis saja. Tapi bis nomer berapa?. Saya dan Ochi kembali saling bertanya. Kebetulan di dekat eskalator ada 2 satpam wanita berwajah India. Kami yakin mereka tahu persis, jadi tanpa ragu kami langsung menghampiri mereka dan bertanya dengan bahasa Inggris (karena biasanya keturunan India jarang yang bisa berbahasa Melayu).

Excuse me, what is the bus number to Cyberjaya?”, namun sepertinya mereka tidak terlalu menangkap maksud kami atau mungkin kami yang salah ngomong.

Bus to Cyberjaya?”, lanjut saya.

Ooh..bus you four two nine (U429)”, jawab salah seorang di antara mereka.

“Number 429?”, Si Ochi meyakinkan. Yes. Okay, thank you, dan kami langsung bergegas menuju platform yang terdapat bis bernomor U429 dengan display, “Putrajaya Sentral-Cyberjaya”. Itu tandanya bahwa bus akan menuju ke Cyberjaya.

Karena kami yakin harus menuju ke Cyberjaya sebagai tempat yang kami tuju, maka kami memastikan kembali bahwa itu bis yang akan menuju ke sana. Sebelum naik ke dalam bis, Pak Cik Supir yang terlihat macho berkacamata hitam kami tanya juga. Dan, dia meyakinkan bahwa itu bis akan ke Cyberjaya. Dengan membayar masing-masing 2 RM, Pak Cik Supir memberi kami slip tiket bis dan kami langsung duduk manis di bagian belakang.

Bayangan kami, tinggal duduk manis saja dan ketika bis melewati bangunan-bangunan indah, kami tinggal minta turun. Namun apa yang terjadi adalah, setelah bus berputar menyusuri jalanan komplek perumahan elit dan perkantoran komersil, bangunan-bangunan pemerintahan dan masjid besar tidak kunjung terlihat. Kami mulai ragu, apakah masih jauh?. Dan satu per satu penumpang yang lain pun mulai turun dan hampir habis. Tinggal kami berdua yang masih duduk manis dan dua orang wanita yang mengobrol akrab dengan Pak Cik Supir.

Ternyata benar, Pak Cik Supir juga mulai curiga dengan kami yang tak kunjung turun sejak dari terminal tadi. Padahal bis sudah hampir sampai pada tujuan akhir. Dan ternyata tidak ada terminal di Cyberjaya.

“Hendak ke mana kalian?”, tanya Pak Cik Supir dengan logat Melayu.

“Cyberjaya..”, kami menjawab dengan percaya diri.

“Ini sudah sampai Cyberjaya…”

Hah. Kami kaget, ternyata Cyberjaya merupakan kota kecil (buatan) dengan science park yang ditata dan didesain sedemikian rupa menjadi sebuah kawasan multimedia city. Letaknya sudah di luar Putrajaya. Jadi bukan seperti yang kami bayangkan. Ini bukan tujuan kami.
Setelah sadar telah salah paham, kemudian kami mendekat ke Pak Cik Supir yang sedang bekerja mengendali kuda supaya baik jalannya bisnya. Dengan sedikit malu kami menjelaskan,”Kalau mau melihat gedung-gedung pemerintahan itu apa namanya Pak Cik?”.
“Ooh yang ada masjidnye? Masjid Putra itu. Kubahnya berwarna pink ha?”.

“Iya iya betul itu..”, jawab saya girang karena Pak Cik Paham maksud kami.

“ehhh.. kalian salah naik bas!”, kemudian Pak Cik Supir itu seolah menertawakan kami yang sok tahu dan tanpa klarifikasi dulu apa itu Cyberjaya.

Ow ow, saat itu juga saya merasa malu dan awkward. Kami telah tersesat ternyata. Ini sudah tujuan terakhir bus yang bukan ke Putrajaya tapi ini Cyberjaya.

“Seharusnya kami naik bus yang mana, Pak Cik?”, tanya kami kembali ke Si Supir. Kali ini dengan muka memelas. Tidak perduli apa pandangan Pak Cik tentang kami. Yang jelas, sepertinya dia orang baik.

“Sudah…duduk saja kalian.”, perintahnya sambil terus mengemudikan bis dan memutar balikkan arahnya.

Kami menurut saja, dan duduk persis di belakang kursi kemudinya. Tanpa bertanya apa-apa lagi, kami cuma menerka-nerka hendak diturunkan di mana kami. Pak Cik Supir kembali menaikkan dan menurunkan penumpang. Ternyata bis kembali ke arah Putrajaya Sentral, di mana kami naik bis ini tadi.

Yah, kami ‘dikembalikan’ ke terminal oleh Pak Cik Supir. Kemudian ditunjukkan di jalur mana seharusnya kami menunggu bis yang menuju ke Putrajaya. Perasaan saya waktu itu hanya tercengang, almost lost di negeri orang. Untung ketemu orang baik, tanpa meminta macam-macam atau menurunkan kami di tengah jalan. Bahkan untuk kembali ke terminal, kami tak diminta membayar bis lagi. Yeah, thanks God!.

***
Sesuai arahan Pak Cik tadi, kami langsung menuju platform L, tempat pemberhentian bis menuju Putrajaya. L11 adalah kode jurusan bis yang melewati Masjid Putra di kawasan Putrajaya. Sambil menunggu, saya membaca papan-papan informasi tentang komplek pemerintahan Putrajaya. Dari situ saya tahu bahwa kantor Perdana Menteri atau disebut Perdana Putra dan kantor-kantor Kementerian lainnya letaknya saling bersebelahan satu sama lain. Kawasan yang memiliki total luas 49 kilometer persegi ini dibangun sejak tahun 1995. Seluruh kantor instansi pemerintah Malaysia mulai direlokasi dari Kuala Lumpur ke Putrajaya pada tahun 1999. Sampai tahun 2012 tercatat hanya tinggal 3 kantor Kementerian yang masih berada di Kuala Lumpur. Begitulah kira-kira proses pemindahan pusat pemerintahan Malaysia sehingga terpisah dengan ibu kotanya, Kuala Lumpur.

Cukup lama kami menunggu kedatangan bis L11 yang tak kunjung datang, sementara saya memperhatikan satu dua kelompok pelancong yang mulai berdatangan. Putrajaya Sentral yang awalnya sepi, sekarang menjadi lebih ramai. Ada satu kelompok anak muda yang terlihat heboh berfoto narsis, saling jepret bergantian sambil tertawa dan berbicara dengan bahasa yang tak saya pahami sama sekali. Ochi, sahabat saya yang kebetulan pernah bekerja untuk perusahaan Thailand mengaku mengenali bahasa itu meskipun dia juga tak paham artinya. Ya, mereka segerombolan anak muda asal Thailand. Logat dan bahasa mereka memang terdengar lucu menurut kami.

Dari bahasa tubuh mereka, lama-lama saya seolah bisa membaca kalau mereka juga sedang mencari cara menuju komplek Putrajaya. Tapi saya pikir, mungkin gampang buat mereka, toh mereka kan rombongannya banyak, tinggal memesan satu bis, beres. Sementara saya dan Ochi cuma berdua, pasti mahal jatuhnya. Ah sudahlah, kami akan menunggu bis umum saja.

Tak lama kemudian, rombongan itu melintas di depan kami menuju sebuah bis yang sedari tadi sudah terparkir. Diikuti seorang Pak Cik dengan pakaian seragam biru. Wah, pikir saya mereka pasti mangambil paket tur nih. Eh tapi, Pak Cik berseragam itu menyapa kami dan bertanya, “Hendak ke Putrajaya? Mau ikut pelancongan?”. Jangan-jangan Pak Cik ini sedari tadi juga memperhatikan bahasa tubuh kami.
Logat Melayunya membuat saya berpikir apa maksudnya. Setelah paham, saya memikirkan berapa biayanya. “Berapa harus kami bayar?”, tanya saya. “1 Ringgit…”, jawab Pak Cik itu.

Tanpa berpikir lama lagi, saya dan Ochi langsung setuju untuk ikut tur kecil-kecilan ke Putrajaya bersama serombongan turis Thailand tadi. Cuma 1 Ringgit, ini sama saja dengan tarif bis umum dua arah bolak-balik ke Putrajaya. Murah sekali, rupanya Pak Cik ini sama sekali tidak mengambil untung dari kami, para turis asing.

Masuk ke dalam bis, saya dan Ochi duduk persis di belakang supir, sementara para turis Thailand itu memilih duduk di belakang. Setelah Pak Cik yang akan menjadi tour guide datang, bis pun perlahan berjalan. Dan kemudian Pak Cik yang menjadi guide menyapa kami semua dengan bahasa Inggris, “Welcome to Putrajaya.”, dan dia memperkenalkan dirinya, sayang saya lupa namanya.

DSC_0742

Pak Cik Si Pemandu Wisata

Now, I want to know where are you from.”, lanjutnya sambil menunjuk kelompok turis paling belakang. Ternyata ada dua kelompok yang sama-sama berasal dari Thailand. Tiba giliran Pak Cik menunjuk kami, dan dengan bangganya kami menjawab, ”INDONESIA.” (ini beneran!). Wah, saat itu saya sadar bahwa ternyata kami sama-sama berasal dari negara yang bersebelahan dengan Malaysia, Thailand di utara dan Indonesia di Selatan. I love to be the part of the world in peace.

Kemudian bis terus berjalan secara perlahan sementara Pak Cik dengan sabar menjelaskan satu persatu tempat penting yang kami lewati. Untuk beberapa spot yang menarik, kami juga diberi kesempatan untuk turun dari bis dan berfoto-foto. Ah, ini sih tur beneran. Sayangnya, di tengah perjalanan cuaca tidak mendukung, hujan, sehingga tak banyak tempat yang bisa saya abadikan.

Dan di akhir perjalanan kami di Putrajaya, saya hanya bisa mengucapkan terimakasih dan mengapresiasi Pak Cik supir dan tour guide juga supir yang membawa saya dan Ochi ke Cyberjaya. Mengapresiasi kejujuran dan keramahan terhadap turis serta dedikasi mereka terhadap pekerjaan. Bagi saya, perjalanan di Putrajaya dan Cyberjaya adalah unpredictable journey and this is what so called ‘the art of travel’ and I love it. 🙂

Advertisements

1 Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s