Culinary, Culture, Japan, Pictures, Trip
Comment 1

Menyusuri Keklasikan Dalam Keberagaman Etnis di George Town

Matahari begitu terik ketika pesawat Malaysia Airlines yang membawa kami dari Kuala Lumpur mendarat sempurna di Penang International Airport. Bandara yang tidak begitu besar, namun bersih dan terlihat baru direnovasi. Kami bergegas keluar dari terminal ‘ketibaan antara bangsa’ (kedatang) dan disambut oleh orang-orang yang menjemput para penumpang sementara kami tertuju mencari halte bis umum. Meskipun baru pertama kali menginjakkan kaki di bandara ini, namun tidak sulit menemukan letak halte yang kami maksud. Tidak perlu berjalan jauh, cukup melintasi parkiran mobil dan taxi setelah keluar dari pintu.

Penang International Airport

Suhu udara waktu itu mungkin lebih dari 30 derajat celcius, sehingga cukup membakar kulit. Apalagi bis yang kami tunggu tidak juga melintas. Akhirnya setelah lebih dari 15 menit berlalu, Rapid Penang nomor 401E jurusan Balik Pulau-Jetty datang. Tujuan kami adalah terminal bis KOMTAR. Perlu diperhatikan bahwa semua bis 401E yang melintas di bandara, baik yang arah pergi atau balik menuju KOMTAR akan lewat di situ. Sehingga harus memperhatikan layar digital di bagian atas depan bis. Jika menunjukkan Jetty-Balik Pulau berarti dari KOMTAR sedangkan Balik Pulau-Jetty akan menuju ke KOMTAR. Dan, semua bis kota di Penang pasti melewati KOMTAR.

Komplek Tun Abdul Razak atau disebut KOMTAR sebenarnya merupakan kawasan bisnis, mulai dari perkantoran, pertokoan, restoran dan sekaligus terdapat terminal sentral bis di George Town, ibu kota Pulau Penang. Dengan biaya 2,7 RM kami turun di kawasan itu. Jadi tidak seperti di terminal bis pada umumnya.

Kimberley House, hostel yang sudah kami pesan melalui situs booking.com, sebenarnya tidak begitu jauh dari KOMTAR. Namun untuk menemukannya, saya tetap mengandalkan Google Maps. Beruntung saya masih punya paket internet dari operator DiGi yang saya beli seminggu lalu di Kuala Lumpur. Di kanan kiri jalan berderet gedung-gedung tua berbentuk ruko. Sambil mencocokan dengan apa yang tertera di Google Maps, semua gang kami perhatikan plang nama jalannya. Sampai akhirnya kami menemukan Kimberley House yang berada di Lebuh Kimberley, juga bergaya bangunan China kuno!

Waktu sudah menunjukkan pukul 16.00 di Penang, setelah check in dan ditunjukkan kamar oleh resepsionis, kami beristirahat ‘ngadem’ sejenak dan menjalankan solat ashar. Di kamar private twin yang kami pesan dengan tarif 150 RM per malam ini, kami mendapat fasilitas double bed, AC, kipas angin, dan handuk dengan kamar yang cukup luas. Selain itu terdapat komputer dengan sambungan internet dan TV di ruang tamu serta gratis membuat kopi dan teh di samping meja resepsionis. Meskipun kamar mandi di luar, namun jumlahnya memadai tidak sampai membuat kami antri dan cukup bersih.

Kami tak mau menyiakan waktu di Penang, meskipun cuaca sangat panas waktu itu, kami memutuskan beranjak dan melanjutkan rencana eksplorasi George Town. Mulai dari Lebuh Kimberley, kami menyusuri jalan ke arah timur. Di sini saja saya sudah dibuat takjub dengan deretan bangunan bergaya arsitektur klasik yang terawat dengan baik. Ada yang dijadikan restoran, penginapan atau toko-toko (kedai). Sesuai dengan etnis pemiliknya, maka hiasan di depan tiap bangunan juga akan berbeda. Seperti di Lebuh Kimberley ini, hiasan dan ornamen gedung semua bergaya China.

peta penang

Peta George Town

George Town merupakan kawasan dengan luas sekitar 250 hektar sekaligus sebagai ibu kota Negara Bagian Pulau Penang. Pada tanggal 7 Juli 2008, UNESCO menobatkan George Town sebagai World Cultural Heritage City, salah satu situs warisan dunia yang dilindungi. Menurut sejarah, kota ini mulai berdiri sejak 200 tahun yang lalu, dengan memiliki koleksi bangunan bersejarah yang mengagumkan yang menggambarkan keberagaman etnis di Pulau Penang. Tercatat mulai dari etnis China, India, Arab, Melayu, Acheh, Siam, Burma dan Eropa yaitu Portugis dan Inggris pernah mendiami pulau ini. Tidak heran jika gaya arsitektur bangunan sangat beragam dipengaruhi oleh etnis-etnis tersebut.

DSC_0862

Dari Lebuh Kimberley, kami berbelok ke kiri menyusuri Lebuh Carnarvon dan menuju ke Jalan Masjid Kapitan Keling. Sesuai dengan namanya, di jalan inilah berdiri Masjid Kapitan Keling yang sudah dibangun sejak tahun 1801. Dari luar arsitekturnya mirip dengan Masjid Raya Medan atau masjid di Aceh. Di sini pengunjung bisa mendapatkan tour guidance singkat untuk keliling komplek masjid, namun bagi turis yang memakai pakaian pendek wajib mengenakan jubah yang disediakan pengurus masjid.

Masjid Kapitan Keling

Di jalan ini, saya juga menemukan deretan penjual bunga-bunga beraneka jenis namun didominasi dengan bunga berwarna kuning baik yang sudah dirangkai maupun yang masih satuan. Ini mengingatkan saya waktu menyusuri pasar di Little India Singapura. Persis di sebelahnya, saat itu sedang ada upacara kecil-kecilan pembersihan patung Ganesha, salah satu dewa yang diagungkan oleh warga Hindu India. Hanya beberapa langkah setelah saya melewati kerumunan orang yang menyaksikan upacara itu, saya menemukan klenteng. Ya, tempat ibadah etnis Tiong Hoa. Aroma dan asap dupa begitu menyengat hidung dan mata, yang saat itu juga ada orang yang sedang berdoa.

Tidak hanya itu, di ujung Jalan Masjid Kapitan Keling ada St. George Church yang dibangun antara tahun 1817 sampai 1818. Konon gereja ini merupakan gereja Anglikan tertua di Asia Tenggara. Dari jenis gerejanya, jelas ini adalah peninggalan bangsa Inggris. Nah, kelihatan kan betapa beragamnya etnis dan agama di George Town ini, namun mereka dapat hidup damai dan saling berdampingan. Salut!

DSC_0941

St. George Church

Lanjut eksplorasi ke Jalan Farquhar dan memutar menuju jalan Lebuh Light. Di jalan Lebuh Light terdapat Gedung Dewan Sri Pinang yang biasanya dipakai untuk acara pameran, orkestra, maupun festival termasuk di dalamnya Penang Art Gallery. Jika waktu itu kami menyempatkan untuk melalui Jalan Padang dan menyusuri bibir pantai dari Esplanade, pasti kami menemukan Gedung City Hall, Town Hall, dan Port Cornwallis. Sayangnya, karena kaki sudah ‘pegel-pegel’ dan kerongkongan kering, kami memutuskan untuk tidak ke sana. Kami lebih memilih menyelamatkan kerongkongan kami dengan mencari minimarket terdekat. Ya, memang meskipun banyak turis ‘bersliweran’ di George Town, namun jangan harap kita menemukan pedagang kaki lima apalagi pedagang asongan yang nyamperin dan menawarkan minumanseperti di Indonesia. 😦

Setelah menemukan oase (red-minimarket) di Lebuh Penang, kami melanjutkan perjalanan (masih dengan jalan kaki) menuju ke Little India. Sinar matahari mulai meredup pertanda petang segera datang. Lampu-lampu di neon box pun mulai berpendar cahayanya. Kami melewati jajaran toko baju, aksesoris, riasan, kaset dan DVD yang semuanya identik dengan negeri Hindustan. Semakin terasa karena berjejer pula rumah makan Nasi Kandar dengan aroma kari yang tercium sampai ke jalanan. Apalagi toko-toko DVD juga memutar film dan lagu-lagu India. Aahh, saya benar-benar merasa berada di (film) India.

Sebelum menyudahi eksplorasi Little India, perhatian kami tertuju pada sebuah kedai kaki lima di ujung gang. Saya tertarik dengan gerobak penjual minumannya. Mirip dengan Angkringan kalau di Indonesia. Di sana ada seorang pria yang sedang meracik minuman, dan beberapa bapak yang sedang minum di sekeliling gerobaknya. Karena penasaran, kami langsung mencari tahu apa yang mungkin bisa kami pesan. Dari menu yang tertempel di samping gerobak, ternyata banyak jenis minuman bisa dipesan yang langsung diracik oleh penjualnya. Bisa untuk dibawa pulang atau diminum di tempat.

Saya memesan satu gelas teh tarik panas, begitupun dengan teman saya, dan kami memutuskan untuk meminumnya di tempat. Sambil melepas lelah sekaligus melihat ‘atraksi’ pembuatan teh tarik langsung di depan mata. Ini benar-benar pengalaman pertama saya. Tak perlu menunggu lama, dengan kelihaian pria itu ‘menarik’ campuran teh dan susu, pesanan kami segera datang. Cukup 1 RM untuk 1 gelas kecil teh tarik panas. Aroma wanginya langsung tercium begitu tersaji di depan saya. Busa yang menyembul di bibir gelas semakin meyakinkan kekentalan racikannya. Hmmm, sungguh sangat nikmat, teh tarik terenak yang pernah saya minum. Rasanya belum ada teh tarik seenak ini di Indonesia, meskipun dengan harga yang lebih mahal.

Kelar menyeruput teh tarik, kami balik menuju Masjid Kapitan Keling untuk menjalankan Sholat Maghrib. Kebetulan jaraknya memang dekat dengan kedai tempat kami minum tadi. Setelah sebelumnya kami belum sempat memasuki masjid ini, sekarang kami sengaja menyempatkan waktu untuk menjalankan salah satu kewajiban sebagai muslim di masjid tua ini. Saat itu, selepas sholat maghrib, diadakan semacam sholawatan yang dipimpin oleh imam masjid. Begitu syahdu dan khusyu.

Selepas maghrib, jam sudah menunjukkan pukul 8 malam. Jalanan George Town terlihat mulai sepi meskipun hitungannya belum larut malam. Hampir semua toko sudah tutup. Hanya beberapa kedai kaki lima penjual makanan yang masih ramai. Kami memutuskan untuk kembali ke penginapan, mengingat seharian ini kami habiskan waktu di jalan. Mulai berangkat dari Jakarta, transit di Kuala Lumpur dan langsung tracking di George Town. Beristirahat dan me-recharge energi untuk mengunjungi spot-spot lain di Pulau Penang esok hari.

George Town di waktu malam

Jika tidak cukup energi untuk berjaan kaki menyusuri satu persatu public interest di George Town, sebenarnya kita masih bisa memanfaatkan fasilitas bis gratis, Penang City Hop On Free, yang disediakan oleh Pemerintah Negara Bagian Penang. Penang City Hop On Free ini memiliki dua rute, yaitu Jetty-KOMTAR dan KOMTAR-Jetty. Meskipun tujuannya sama, namun rute yang ditempuh berbeda. Nah, Anda bisa menaikinya dari terminal KOMTAR atau di halte-halte yang terdapat tanda “Free Shuttle” untuk mengelilingi George Town.

Advertisements

1 Comment

  1. Pingback: Butterfly Farm dan Penang Hill | Langkah - Langkah Kecil

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s