Malaysia, Pictures, Trip
Leave a Comment

Butterfly Farm dan Penang Hill

Perjalanan kami lanjutkan ke Butterfly Farm pagi harinya, keluar dari ibukota Georgetown, untuk eksplorasi tempat lain di Pulau Penang. Perjalanan dimulai dari terminal KOMTAR, yang kami tempuh hanya dengan berjalan kaki dari hostel tempat kami menginap di Kimberley Street. Untuk menuju Penang Butterfly Farm, bisa ditempuh dengan bis Rapid Penang nomor 101 jurusan Teluk Bahang.

Papan Daftar Tarif Bis di Terminal KOMTAR

Meskipun Pulau Penang ukurannya kurang dari 1/5 luas Pulau Bali, namun transportasi umum di sini sangat memadai. Bus umum Rapid Penang tersedia dari ujung ke ujung, menjangkau semua objek wisatanya. Bisnya besar, ber-AC dan bersih. Tarifnya pun tidak terlalu mahal, mulai dari RM 1,4 untuk 7 KM pertama dan maksimal RM 4 untuk jarak lebih dari 28 KM.

a4Rapid Penang

Meskipun demikian, sistem pembayarannya masih manual tidak memakai kartu alias harus pakai uang cash. Perlu diperhatikan juga bahwa supir bus tidak menyediakan kembalian, jadi sebaiknya sediakan uang pas jika tidak ingin rugi.

Penang Butterfly Farm terletak di daerah Teluk Bahang, jauh di luar ibukota Penang, Georgetown. Berbeda dengan Georgetown yang berisi bangunan-bangunan klasik, di luar ibukotanya justru banyak dibangun hotel, perumahan, resort dan apartemen modern. Terutama di dekat Batu Feringgi, yang mirip dengan pantai Kuta di Pulau Bali.

Perjalanan ke Penang Butterfly Farm memakan waktu kurang lebih 1 jam dan 30 menit. Bus dengan nomor rute 101 ini membawa kami menyusuri sepanjang pantai utara Pulau Penang. Beruntung saat itu cuaca sedang cerah, sehingga birunya air laut terlihat sangat cantik dari balik jendela bis. Jalur yang kami lalui berkelok-kelok tajam namun sang supir sudah begitu piawai mengemudikan bis yang badannya cukup besar. Sehingga kami tidak perlu khawatir meskipun bis melaju dengan kencang.

Komtar-BF route

Rute KOMTAR-Butterfly Farm (sumber: google map)

Oh iya, saat naik ke dalam bis dan membayar ke supir, jangan lupa bilang mau turun di Butterfly Farm. Maka si supir akan memberitahukan kapan saatnya turun. Kami waktu itu pun diturunkan di pemberhentian terakhir sebelum bis memutar balik. Pak Cik Supir juga menunjukkan arah ke mana kami harus berjalan menuju ke Butterfly Farm, karena memang tidak berada persis di depan halte.

b7b8Untuk masuk ke Butterfly Farm dikenakan biaya (admission fee) RM 27 (sekitar 95 ribu rupiah) untuk dewasa. Setelah antri di loket dan membayar, kami diarahkan untuk masuk ke dalam sebuah lorong remang-remang. Sampai di ujung ternyata terdapat pintu, yang ketika dibuka langsung terpancar sinar terang menyilaukan mata. Dan ketika membuka mata, saya merasa berada di dunia lain (bukan alam gaib) lebih tepatnya the lost world (tanpa dinosaurus tentunya). Kami disambut oleh ratusan atau bahkan ribuan kupu-kupu berbagai warna yang terbang sliweran. Kupu-kupu ini juga suka sembrono hinggap di mana mereka suka, termasuk di bagian manapun tubuh pengunjung. Terdapat kolam dengan airnya yang gemericik mengalir, tanaman yang sedang mekar berbunga tentunya juga banyak. Saya jadi berimajinasi untuk membuat halaman belakang rumah seperti ini, pasti menyenangkan sekali!

Di dalam juga terdapat semacam studio yang memutar film dokumenter tentang insect (serangga). Uniknya, ada pemandu yang memberikan kuis di sela-sela pemutaran film dengan melempar pertanyaan seputar serangga. Bagi yang bisa menjawab, diberi kesempatan untuk memegang dan berfoto dengan iguana yang sudah jinak.

Tidak hanya itu, ratusan kupu-kupu yang diawetkan dan beberapa jenis hewan yang masih hidup juga ada di ruang koleksi. Sekilas mirip yang ada di Secret Zoo Malang, dan sebenarnya yang di Malang jumahnya bahkan lebih banyak dan lebih komplit. Hahaha

****

Setelah puas (dan lelah) di Penang Butterfly Farm, kami kembali ke KOMTAR menggunakan bis Rapid Penang 101 lagi. Kami memutuskan untuk sejenak kembali ke hostel menunaikan solat dzuhur dan makan siang di komplek terminal. Selanjutnya di hari yang sama, menjelang sore kami mengunjungi Penang Hill atau yang dikenal juga dengan Bukit Bendera, karena ada yang bilang “you’ve never been to Penang unless you’ve been to Penang Hill”. Karena tidak mau dikatakan belum pernah ke Penang, maka saya harus ke sini.

Penang Hill kami jangkau dengan Rapid Penang nomor 204 jurusan Penang Hill. Perjalanan memakan waktu sekitar 1 jam dengan tarif RM 2. Ini merupakan titik tertinggi di Pulau Penang yaitu 823 meter di atas permukaan laut. Selain itu, bukit ini juga dijadikan resort yang cukup tua dan popular di Malaysia. Meskipun demikian, hutan di bukit ini tetap dijaga.

c5Untuk sampai di puncak bukit, kami tidak perlu susah payah mendaki karena ada kereta yang membawa kami naik dan turun, dengan membayar RM 30 untuk turis asing dewasa. Kereta Penang Hill Railway yang dibangun antara tahun 1906 sampai 1923 ini sebenarnya yang menjadi daya tarik utama bagi turis. Dengan sudut elevasi rel sekitar 450, sensasi menaiki kereta ini memang luar biasa. Apalagi kereta beroperasi tanpa masinis, melainkan dikendalikan secara otomatis. Saran saya jika tidak takut ketinggian, saat kereta naik ambilah gerbong paling depan dan ketika turun juga begitu. Perjalanan kereta naik atau turun akan memakan waktu sekitar 10-12 menit saja. Jadi nikmatilah!

Sampai di atas, pemandangannya begitu menakjubkan. Ada gardu pandang yang sengaja disediakan dengan teropong koin maupun teropong yang disewakan. Saya bisa melihat kota Georgetown dan Jembatan Penang dari kejauhan. Seandainya ke sini malam hari, pemandangan akan berubah dengan gemerlap lampu kota Georgetown tentunya.

c8Kota Georgetown dari gardu pandang Penang Hill

Berbeda dengan kota Georgetown yang udaranya panas, Penang Hill udaranya cukup sejuk. Di sini juga terdapat café, playground untuk anak-anak, toko souvenir dan museum. Salah satu museum yang berhasil membuat saya penasaran adalah Owl Museum (museum burung hantu). Saya memang penggemar sosok muka imut burung yang berbadan besar ini. Karenanya saya rela mengeluarkan RM 10 lagi untuk masuk ke dalamnya. Tapi jangan berpikir kalau museum ini dipenuhi dengan koleksi burung besar yang masih hidup atau sosok burung hantu yang diawetkan. Salah besar. Museum ini berisi koleksi berbagai pernak-pernik lucu dan seram Si Owl, dengan berbagai ukuran dan bahan yang digunakan. Tetap saja terlihat imut.

d5 d4 d3 d2 d1Bisa melihat pemandangan kota Georgetown dan Jembatan Penang dari atas bukit, naik kereta yang relnya memiliki sudut elevasi yang curam dan melihat replika burung hantu yang imut-imut ini, saya rasa tidak berlebihan jika kita memang harus pergi ke Penang Hill jika berkunjung ke Penang. 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s