Culture, Daily Life, Japan, Landscape, Trip
Comments 9

Uniknya Osaka

Salah satu yang sangat saya suka dari traveling adalah bisa menemukan banyak hal tak terduga dan belajar dari apa yang saya temui di jalan. Masalah perbedaan bahasa, budaya dan kultur sepertinya sudah bukan kendala yang butuh waktu lama untuk beradaptasi. Justru saya merasa punya kewajiban untuk memahami kearifan lokal.

Seperti ketika saya berada di Jepang, tiga kota yang saya kunjungi pun berbeda kultur kesehariannya. Pertama Tokyo, kota metropolitan berpenduduk paling banyak di dunia, memiliki ritme kehidupan yang serba cepat. Maka tidak heran jika berada di jalanan kota ini, saya merasa berada di tengah-tengah lautan manusia. Ke manapun seolah terburu-buru. Tidak hanya di jalan tapi juga di stasiun-stasiun kereta api bawah tanah. Kemudian Kyoto. Berbeda dengan Tokyo, Kyoto cenderung kota yang lebih tenang dan santai dengan nuansa tradisi budaya yang masih kental. Begitu juga dengan Osaka, di kota terpenting kedua di Jepang ini saya juga merasakan atmosfer kota yang berbeda. Baca juga: Top Things to Do in Osaka.

Osaka adalah kota persinggahan terakhir saya di Jepang. Dibanding dua kota lainnya (Tokyo dan Kyoto), memang awalnya saya tidak cukup memiliki banyak referensi tentang tempat-tempat atraksi menarik di sini. Namun justru di sinilah saya menemukan banyak kejutan-kejutan selama menjelajah Osaka. Dari gedung-gedung berbentuk unik yang tidak sengaja saya lihat di jalan, kastil kuno yang megah, iklan display yang besar, dialek bahasa setempat yang saya baca di toilet hostel, dan lain sebagainya.

Dari hasil menjelajah dan mengamati, setidaknya saya menemukan 10 hal ini di Osaka:

1. Tsutenkaku Tower

Saat turun dari JR Loop Line di Stasiun Shin-Imamiya, saya belum melihat menara ini padahal stasiun terletak di atas rel layang. Sempat ragu apakah menara yang saya cari berada di sekitar stasiun ini. Setelah saya berjalan keluar stasiun baru terlihat penampakannya. Ternyata menara ini kalah tinggi dengan gedung-gedung di sekitarnya. 😀

Tsutenkaku Tower berada di tengah-tengah distrik Shinsekai. Di sekitarnya terdapat deretan restoran dan toko-toko penjual suvenir, mirip seperti pasar (atau memang pasar ya?). Menara ini dibangun pada tahun 1912 setelah pembangunan menara Eiffel di Paris, meskipun pernah dimusnahkan pada masa Perang Dunia II namun akhirnya dibangun lagi dengan tinggi hanya 103 meter. Jadi kelihatan seperti bangunan gagal, disebut tower juga tidak terlalu pantas karena tingginya yang tidak seberapa. Tapi justru Tsutenkaku Tower menjadi salah satu ikon unik kota Osaka.

2. Umeda Sky Building

Sebenarnya ini bukan satu gedung, melainkan dua buah gedung yang dihubungkan pada kedua lantai teratasnya. Menurut saya, gedung ini memiliki seni arsitektur yang cukup spektakuler. Di separo ketinggiannya, kedua gedung terhubung oleh sebuah jembatan, sementara untuk menuju lantai teratas yang dimanfaatkan sebagai “Floating Garden Observatory” juga dapat diakses dengan menggunakan eskalator yang bisa dilihat dari bawah. Eskalator ini katanya adalah yang terpanjang di dunia. Terbayangkan…sambil naik eskalator bisa melihat pemandangan kota Osaka. Untuk mencapai tempat ini, bisa dengan jalan kaki dari Stasiun Osaka sekitar 10-15 menit saja.

3. Gedung yang Ditembus Jalan Tol

Sebelum tanpa sengaja menemukannya ketika saya berjalan dari Stasiun Fukushima ke arah Stasiun Osaka, sebenarnya saya sudah pernah menonton video tentang gedung ini di Youtube. Sekarang justru tanpa mencarinya saya bisa melihatnya langsung, bahkan saya tidak tahu jika gedung ini berada di Osaka.

Setelah saya ‘Googling’, gedung ini juga memiliki julukan yaitu “beehive”. Gedung pekantoran yang memiliki 16 lantai ini ‘ditembus’ oleh Expressway (semacam jalan tol layang) Hanshin antara lantai 5 sampai lantai 7. Para insinyur Jepang memang tidak kehabisan akal, ketika lahan terbatas pembangunan harus tetap berjalan. Keren! Di bawah jalan ini dimanfaatkan juga untuk stasiun pengisian bahan bakar.

IMG20140530085021

IMG20140530085149

4. Osaka Castle

Di antara banyaknya gedung pencakar langit yang modern di Osaka, berdiri sebuah kastil kuno nan megah di tengah kota, Osaka Castle. Kastil ini dikelilingi oleh taman seluas 2 kilometer persegi yang dipenuhi oleh 600-an pohon Sakura. Ketika saya berjalan dari stasiun JR Loop Line terdekat, yaitu Stasiun Osakajokoen, butuh waktu sekitar 15-20 menit untuk sampai ke bangunan utamanya. Namun jalan kaki di tengah hari dengan cuaca terik tidak terlalu mengenaskan. Karena akan banyak ditemani pohon-pohon Sakura dan kolam yang cantik. Ah, coba pas awal musim semi, di sini pasti banyak berkumpul warga Jepang untuk merayakan festival bunga Sakura (Hanami Matsuri).

Lihatlah pondasi yang menopang kastil, itu adalah batu-batu super besar yang ukurannya lebih besar dari manusia. Hmm…bagaimana cara memasangnya pada jaman dahulu ya?

Melukis

Melukis Osaka Castle

5. Shitenno-ji Temple

Shitennoji adalah salah satu kuil tertua di Jepang dan untuk mencapai tempat ini saya benar-benar hanya dipandu oleh aplikasi Google Map. Cukup jauh memang berjalan dari stasiun JR Loop Line terdekat yaitu Stasiun Tennoji. Letaknya yang harus ditempuh dengan melewati kios-kios pasar dan gedung perkantoran, membuat saya lebih tertantang dan harus cermat mengikuti petunjuk peta. Namun, semua terbayar dengan keberhasilan menemukan harta karun kuil megah yang di atasnya terdapat benda mirip sate ini.

Untuk melihat sekeliling kuil ini tidak dipungut biaya, tapi jika ingin masuk ke dalam Anda harus bayar, kalau saya sih cukup di luarnya saja dan sudah bisa foto-foto. 😀

DSC_0124

DSC_0139

6. Iklan-iklan Raksasa di Dotonburi

Jalan Dotonburi adalah kawasan turis yang paling terkenal di Osaka. Terletak dekat dengan Stasiun Namba dan jalan ini sejajar dengan kanal Dotonburi. Kawasan ini akan lebih hidup pada malam hari, karena banyak neon advertising dipasang dalam ukuran raksasa sepanjang jalan ini.

DSC_0058

7. Glico Running Man

Kalau suka makan snack Pocky, pasti sedikit tahu berasal dari perusahaan apa makanan ini. Yap, Glico. Perusahaan makanan asal Jepang yang berbasis di Osaka ini memang cukup terkenal di dunia. Sebuah neon sign raksasa bergambar pria yang sedang berlari di lintasan berwarna biru dipasang oleh perusahaan di Jalan Dotonburi. Glico Running Man, seolah sudah menjadi ikon Kota Osaka sejak tahun 1935. Pria berpakaian klasik khas atlet lari ini pun tetap dipertahankan. Tidak ketinggalan, background pelari juga menampilkan landmark Kota Osaka. Setiap harinya mungkin ada ratusan orang yang berfoto di depannya, termasuk saya, dan harus rela antri untuk mendapat angle gambar yang sempurna.

DSC_0019

8. Replika Makhluk Laut Raksasa

Untuk kepentingan promosi, biasanya restoran memberikan selebaran atau memasang menu-menu masakannya di depan restoran. Namun, itu tidak cukup bagi beberapa restoran di Jalan Dotonbori. Demi menarik perhatian pengunjung, ada restoran yang memasang replika kepiting raksasa di atas pintu masuknya. Tidak hanya kepiting, saya juga melihat ada yang memasang gurita raksasa, karena mungkin dia berjualan Takoyaki.

DSC_0012

9. Dialek Osaka (Osaka-ben)

Percaya atau tidak, saya baru tahu bahwa ternyata penduduk Osaka memiliki dialek bahasa sendiri ketika saya sedang duduk di toilet. Ha-ha-ha… toilet hostel memang memasang kertas bertuliskan beberapa bahasa untuk dihafalkan. Penduduk Osaka memiliki beberapa kosa kata atau disebut Osaka-ben yang khas dan berbeda dengan bahasa Jepang pada umumnya.

Beberapa kata yang digunakan sehari-hari antara lain:

Ookini

Ookini dipakai untuk mengucapkan kata “terima kasih”, atau lazimnya dalam bahasa Jepang adalah “arigatou”

Nambo

Nambo digunakan untuk menanyakan harga “berapa harganya”, atau dalam bahasa Jepang umum adalah “o-ikura desu ka”

Bochi-bochi

Bochi-bochi dalam bahasa Jepang standar adalah “botsu-botsu” yang berarti menyatakan suatu hal antara bagus sekali atau jelek sekali, ya seperti kata “so-so” dalam bahasa Inggris

Makete

Makete digunakan untuk meminta pengurangan harga atau diskon ketika membeli sesuatu, seperti mengucapkan “discount, please”

Hona

Hona digunakan untuk mengucapkan kata “baiklah” atau “sampai jumpa”. Penduduk Osaka menggunakannya seperti “Hona, sampai jumpa”, semacam itu.

10. Etika Jalan di Eskalator

Jepang adalah negara dengan sistem setir sebelah kanan seperti di Indonesia. Sehingga logisnya kendaraan berjalan di sebelah kiri dan untuk menyalip kendaraan harus lewat sebelah kanan. Begitu juga dengan cara berjalan kaki maupun naik eskalator. Hal lazim seperti ini sebenarnya berlaku di Tokyo dan Kyoto. Dimana jika kita naik eskalator dan tidak sedang terburu-buru, berdirilah di sebelah kiri untuk mempersilahkan orang lain mendahului di sebelah kanan. Namun, hal seperti ini berlaku sebaliknya di Osaka. Begitu sampai di Stasiun Osaka saya sempat salah dan mengira warga kota ini tidak tertib. Tapi ternyata memang peraturannya yang berbeda dengan kota lainnya 😀

10 hal tersebut merupakan pengamatan saya pribadi, dan mungkin sebenarnya terdapat hal-hal lain yang membuat Osaka lebih unik. Keep exploring, keep learning!

Advertisements

9 Comments

  1. Nisa says

    Assalammualaikum Rosnah,
    Tulisannya enak nih, (emangnya makanan 🙂
    oya,,Boleh minta Itinerary detail ke jepangnya.. ?
    mau contek buat plan ke jepang yg insyaalloh tahun depan. hehehe

    Makasih sebelumnya,
    Nisa

  2. Halo mbak Rosnah. Trip di Jepangnya menarik banget, apalagi mbaknya solo travelling hehe.. Oya mbak, boleh minta contoh itinnya? bisa dikirim ke shean.natha@gmail.com

    sebenarnya saya udah buat itin, tapi biar lebih afdol saya liat itin orang lain juga sbg referensi hehe. thanks

    • Hai Mas Shean…hehe Jepang memang menarik banget kok negaranya, aku baru solo traveling untuk kunjungan kedua kalinya. Oke, nanti contoh itin diemail…semoga bsa membantu..

  3. Kuro says

    Thanks ka infonyaa..maaf mau tanya..gmn caranya ya ka klo mau ibadah sperti solat saat kita lagi berpergian disana?

    • Hai…sebagai pejalan muslim di negara mayoritas non muslim memang susah mencari tempat ibadah. Tapi menurut saya tidak menjadi halangan. Pergi keluar hotel pagi, tentunya sudah menjalankan solat subuh, mengunjungi beberapa tempat wisata. Kemudian saya balik ke hotel sore untuk istirahat sekalian solat, saya jamak solat dzuhur dan asar.. Kemudian biasanya saya keluar lagi setelah solat maghrib, untuk melihat suasana kota pada malam hari , sebelum tidur solat isya. Untuk di Jepang, skrg relatif lebih muslim friendly, di beberapa kota sudah banyak resto halal yang biasanya menyediakan space untuk solat..

      • Eka Noveetasary says

        Hai Mba Rosnah,

        Aku boleh ga di share penginapannya kemarin di Osaka?
        Aku sempat request Airbnb di dekat daerah Namba Station..dan aku tanya soal space di kamar apa bisa untuk sy sholat, eh malah di reject sama orangnya:)

        Jd concern juga nih, apa mereka cukup terbuka dengan muslim?khususnya airbnb?yah mungkin aku pas nemu aja kali ya yg kayak gitu 🙂 ..

      • Hallo Mba Eka, waktu di Osaka aku nginep di hostel J Hoppers Osaka. Mba sewa airbnb-nya emang bentuknya room aja atau whole apartmnet? Saya rasa kalau memang private room bisa aja kan bebas solat di dalam kamar, apalagi kalau whole apartemen/home bisa bebas, ngga perlu ditanyakan sih saya pikir, karena ngga semua orang Jepang mungkin paham tentang Muslim. Sebenarnya Jepang sudah sangat muslim friendly, terutama soal turisme, terbukti dari makin banyaknya restoran halal dan tempat ibadah muslim, bisa dilihat di http://www.halalmedia.jp

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s