Culture, Features, Japan, Landscape, Pictures, Trip
Comments 5

Terjebak di Lorong Tak Berujung, Fushimi Inari

Jika kamu menebak bahwa yang ada di Jepang berbentuk seperti lorong berwarna oranye itu bernama Fushimi Inari, kamu benar. Tapi jika kamu mengira bahwa Fushimi Inari hanya terdiri dari sebuah lorong torii, kamu salah. Pertama kali menginjakkan kaki di depan gerbang kuil, tepatnya dari depan Stasiun Inari, saya juga tidak menyangka bakal terjebak dalam lorong-lorong torii sepanjang 4 km.

Cukup dua pemberhentian dari Stasiun Kyoto menggunakan JR Nara Line, kami sampai di shrine yang paling terkenal seantero Jepang. Menurut saya, tempat ini memang wajib dikunjungi siapapun yang berkunjung ke Negeri Sakura. Fushimi Inari berada Fushimi-ku, sebelah tenggara pusat kota Kyoto. Merupakan kuil tempat sembahyang penganut agama Shinto yang sudah berumur ratusan tahun.

main gate

DSC_0738

DSC_0741

DSC_0749

Perjalanan dimulai dari seberang Stasiun Inari, di depan kuil kami disambut oleh sebuah torii gate besar dan satu lagi ada sebelum memasuki gerbang utama. Bangunan yang didominasi warna merah menyala ini memang identik dengan yang ada di Kiyumizudera Temple maupun yang ada di Asakusa Shrine. Bedanya di sana tidak ada torii raksasa seperti di Inari ini. Setelah gerbang utama, terdapat aula persembahyangan dan tempat untuk menanyakan keberuntungan (semacam fortune teller).

Jangan beranggapan bakal ada seorang peramal duduk dengan bola elektrik yang dielus-elus di depannya. Tidak, tidak seperti itu. Bagi yang percaya ramalan dan penasaran dengan nasib atau keberuntungannya, dengan 100 Yen bisa mendapat jawabannya. Jadi, bayarlah 100 Yen, kemudian kocoklah kotak yang berisi stick seukuran sumpit sampai keluar salah satu yang berisi nomor keberuntungan. Jika sudah keluar, berikanlah kepada penjaga di sana dan dia akan mengambilkan secarik kertas yang berisi peruntungan sesuai dengan nomor yang keluar. Menurut kepercayaan mereka, jika peruntungannya berisi nasib yang bagus, maka sebaiknya kertas itu dibawa. Namun jika berisi nasib yang jelek, maka mereka akan mengikatnya di tempat yang sudah disediakan. Dengan mengikatnya, kertas akan tertiup oleh angin dengan harapan nasib buruk mereka juga akan hilang bersama hembusan angin. Unik kan? Tapi saya sendiri sih tidak ikut-ikutan. Hehehe.

DSC_0755

DSC_0756

DSC_0764

DSC_0771

DSC_0774Tempat mengikatkan ‘nasib buruk’

DSC_0773

Lanjut ke bagian belakang area kuil untuk mencari di mana letak torii yang membentuk lorong yang sudah nge-hits itu. Kami harus meniti beberapa anak tangga, meskipun tidak sebanyak yang ada di Batu Cave. Ternyata anak tangga ini mengantarkan kami seperti memasuki hutan dengan banyak pohon berkayu. Mulailah tiang-tiang torii itu berbaris saling berhimpitan, membentuk jalanan setapak. Sesekali agak longgar, sesekali ada yang sedang dibongkar untuk diganti dengan torii baru menggantikan torii lama yang sudah lapuk.

Dan tibalah pada tempat yang paling dikenal sebagai wujud Fushimi Inari, lorong yang membentuk dua jalan setapak berdampingan. Torii yang tidak terlalu besar dan tinggi berdiri berhimpitan dan ini paling favourit bagi turis untuk mengambil foto. Sangat susah mendapatkan moment ketika jalan setapak ini benar-benar kosong tanpa orang yang melintas. Dan asal kamu tahu, lorong ini hanyalah permulaan jalan setapak untuk menuju ke puncak (ichinomine) Inari atau Inariyama Top yang berada 233 mdpl. Dan saya yakin, sesudah sampai di sini kamu akan penasaran untuk terus mengikuti jalan setapak ber-torii selanjutnya.

DSC_0792

DSC_0785

DSC_0795

DSC_0787

Iya, untuk menuju ke puncaknya harus berjalan meniti tangga yang dipandu oleh ribuan torii sejauh 4 km. Jadi kalau naik-turun kira-kira 8 km berjalan kaki. Nikmatilah.

Pada saat perjalanan naik, memang saat paling berat dan seperti sedang masuk jebakan. Jebakan mengikuti jalan setapak tak berujung. Untuk menyerah dan balik turun rasanya gengsi sudah jauh-jauh ke sini tapi tidak menamatkan pendakian bukit Inari. Maka, dengan nafas terengah-engah kami perlahan terus meniti tangga-tangga di bawah naungan torii yang berkelok-kelok di tengah rindangnya hutan. Apalagi melihat orang-orang tua Jepang yang juga banyak di sana, dengan lincahnya mereka mendaki seolah sedang mengejek kaum muda seperti saya. Heuh.

petaPeta pendakian Fushimi Inari shrine

DSC_0858

DSC_0833

DSC_0813

DSC_0827

DSC_0805

DSC_0802

DSC_0851

DSC_0835Inilah puncak Inari

DSC_0838

Fushimi Inari adalah kuil/shrine yang dibangun sebagai persembahan kepada Dewa Padi (Gods of Rice) atau Inari dalam agama Shinto Jepang. Di area kuil dan sepanjang jalan setapak, saya menemukan banyak patung serigala, fox statue. Mengingatkan pada serial anime Inuyasha. Serigala dianggap sebagai hewan suci sebagai utusan Inari, Si Dewa Padi. Beberapa patung serigala ada yang sedang menggigit kunci di mulutnya yang dipercaya sebagi kunci lumbung padi.

DSC_0843

DSC_0878

DSC_0905

Advertisements

5 Comments

  1. Pingback: Mencari ‘Oase’ di Negeri Sakura | Langkah - Langkah Kecil

  2. disa says

    halo mbak saya mau tanya, klo punya waktu cuman sehari kira2 tempat mana yg must visit rencana mau menggunakan kyoto one day pass.. untuk sampai puncak dan balik lagi butuh waktu brapa lama ya mbak..makasih infonya

    • Hai, Disa…kamu mau pake Kyoto one day bus pass atau yg kereta?
      Kalau ke Fushimi Inari lebih gampang naik kereta Nara Line, turun di Stasiun Inari, cuma 2 stasiun dari Kyoto. Kalau brgkat pagi2, bisa setengah hari sampai kmu turun ke bawah lagi. Habis itu, bisa ke Arashiyama atau shrine2 yg tersebar banyak di dalam kota Kyoto seperti Ginkakuji temple, Kinkakuji temple, Kiyomizudera temple, atau kamu jalan sekitar Gion distrik yg banyak bangunan tua a la jepang dan siapa tahu ketemu Geisha..hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s