Culture, Daily Life, Pictures, Thailand, Trip
Comment 1

Telusur Angkutan Umum Bangkok

Pernah nonton film Thailand yang berjudul “Bangkok Traffic Love Story”?, kalau belum, tontonlah (karena menurut saya cukup recomended) dan jika datang ke Bangkok, cobalah untuk merasakan realitasnya. Bukan untuk mempromosikan film dan kota Bangkoknya, tapi kemacetan dan uniknya moda transportasi bangkok yang tidak jauh berbeda dengan yang dialami tokoh di film itu bisa menjadi salah satu pengalaman backpack travelingmu. Syukur-syukur kamu dapat love story-nya juga. 😉

Kota Bangkok sebenarnya tak jauh berbeda dengan Jakarta, dilihat dari suasana dan tampang orang-orangnya. Hanya saja, Bangkok sudah agak bersih, agak tertib, dan agak bervariasi moda transportasi umunya. Bis Kota tidak berhenti di sembarang tempat, sudah ada kereta layang yang mereka sebut BTS dan sudah ada kereta bawah tanah yang mereka sebut MRT. Wah kalau begitu Jakarta masih ketinggalan berarti.

Rambu penujuk jalan adalah hal paling vital saat backpack travel. Di sudut manapun saya selalu berharap adanya rambu penunjuk arah sehingga tidak perlu malu-malu bertanya. Ditambah mayoritas orang Thailand tidak cakap berbahasa Inggris, bahkan yang tampangnya seperti pelajar pun tidak bisa kamu harapkan. Thailand bukan negara pemakai huruf alfabet, tapi bukan berarti tidak ada sama sekali tulisan alfabet. Namun tidak semua yang bertuliskan huruf Thai ada huruf latinnya. Yang menantang, mayoritas bis umum di Bangkok hanya bertuliskan huruf Thai. Tapi bukan berarti kamu perlu belajar menghafal huruf Thai, cukup menghafal nomor bis dan jurusannya saja.

Tidak malu bertanya adalah solusi supaya tidak salah jurusan. Tapi salah cara bertanya malah bisa membuat kamu tersesat. Iya, di Bangkok seperti itu. Orang Thailand punya pengucapan atau logat yang lucu menurut saya. Ketika kami bertanya tentang transportasi apa menuju Khaosan Road-begitu tertulisnya- kepada orang lokal, dia malah bingung. Padahal Khaosan adalah tempat paling nge-hits seantero Bangkok. Kha-o-san, beberapa kali kami menegaskan seperti itu, ternyata yang benar adalah Kho-saaan-dengan pengucapan ‘n’ mirip ‘ng’. Begitu juga ketika menanyakan arah Siam Mall, salah pengucapan Si-am berujung katanya tidak ada tempat bernama itu di Bangkok. Dan memang seharusnya Siam diucapkan dengan Sa-yem. No joke.

Setidaknya ada tujuh moda transportasi umum yang wajib dicoba saat mengeksplorasi kota Bangkok

  1. Bis Kota

Bis Kota di Bangkok jumlahnya banyak dan ukurannya besar mirip PPD, meskipun demikian bus sering penuh, tak jarang harus berdesak-desakan apalagi pada jam berangkat dan pulang kantor ataupun sekolah. Bis Kota merupakan moda transportasi paling murah di Bangkok dan paling menantang. Perlu diketahui bahwa nama-nama tujuan yang tertulis di Bis Kota semua tertulis dalam huruf Thai! Nah, kan jadi tahu bagaimana rasanya jadi orang buta huruf. Tapi tidak perlu khawatir, masih ada angka yang untungnya penulisannya sama di seluruh dunia. Jadi, cari tahu dulu dan hapalkan saja nomor bis kota dan rutenya sebelum naik bis di Bangkok.

Setelah yakin nomor bis yang akan dinaiki, kemudian tunggulah bis di tempat pemberhentian yang tertulis nomor bis tersebut, tidak bisa sembarangan menyetop bis seperti di Jakarta yaa. Tempat berhenti bis tidak selalu berbentuk halte yang ada tempat duduknya dan ada atap untuk berteduh. Tempat menunggu bis bisa saja hanya papan yang berdiri di trotoar.

IMG20150207154623

Bis Non-AC dengan tarif jauh dekat 6,5 BahtIMG20150205084211

Di dalam Bis Non-AC, kenek yang seorang wanita sedang meminta ongkos

Terus, bagaimana cara bayarnya? Bis di Bangkok ada kondektur atau keneknya sama seperti di Jakarta. Jadi hanya bisa bayar tunai di dalam bis, tunggu saja sampai keneknya menagih. Ada yang unik di sini, cara kenek bis meminta ongkos dengan menggoyang-goyangkan kaleng kecil panjang tempat uang koin dan gulungan tiket bis. Jadi dipastikan kalau ada bunyi ‘kenclengan’, tandanya kenek sedang menagih ongkos, bukannya pengamen. Kemudian setelah kita bayar, kenek memberikan potongan kertas kecil-yang diambil dari dalam kaleng panjang dan disobek menggunakan ujung penutup kaleng- sebagai bukti kita telah membayar ongkos bis. Ingat, kertas itu jangan dibuang sampai kita turun dari bis, karena kadang ada pemeriksaan.

Bis kota di Bangkok terbagi menjadi bis ber-AC dan non-AC. Tarif bis kota non-AC yaitu 6,5 Baht untuk jauh dekat sama sedangkan bis AC tarifnya sesuai jarak antara 11-18 Baht. Bis ekonomi atau non-AC biasanya berwarna putih dengan sedikit merah di beberapa bagian badan bis, sedangkan bis ber-AC berwarna kuning.

  1. Tuk Tuk

Tuk Tuk itu mirip Bajaj kalau di Jakarta, sama-sama beroda tiga tapi ukurannya lebih besar. Tarifnya pun berdasarkan kesepakatan kita dengan supir Tuk Tuk sebelum kita naik. Sama seperti supir Bajaj, pengemudi Tuk Tuk juga suka sekali ngebut dan melakukan manuver untuk menghindari area macet, jadi penting untuk berpegangan erat-erat. Tidak hanya itu, dari pengalaman saya, supir Tuk Tuk juga suka menyetel musik keras-keras dan lagu yang diputar adalah lagu tradisional Thailand yang sumpah saya baru pernah mendengar jenis musik seperti itu.

DSC_0077

Tuk Tuk melintas di Monumen Demokrasi dekat Khaosan Road, BangkokIMG20150205182923

Naik Tuk Tuk menjelang malam hari

Tidak ada salahnya untuk menawar tarif yang diminta supir Tuk Tuk. Sebagai acuan tawarlah 5 – 10 Baht lebih rendah dari yang diminta si supir, atau kalau terbiasa naik Bajaj di Jakarta bisa dijadikan acuan juga jarak dan tarifnya setelah kamu hitung dalam kurs Rupiah. Tapi ingat, jangan keterlaluan menawar tarif Tuk Tuk karena si supir juga butuh duit untuk menghidupi anak dan istrinya.

  1. Kereta Api

Posisi ibu kota Thailand, yang berada di tengah-tengah negara tersebut menjadikan Bangkok sebagai pusat jalur kereta api. Stasiun kereta api terbesar di Bangkok adalah Hua Lamphong. Selain melayani rute-rute untuk kota di provinsi-provinsi Thailand, Stasiun Hua Lamphong juga terhubung dengan jalur kereta api sampai ke perbatasan Malaysia, Kamboja dan Laos. Saya dan teman-teman mencoba naik kereta dari Hua Lamphong menuju ke Ayutthaya yang merupakan ibu kota Thailand pada zaman Kerajaan Siam. Kereta yang tersedia hanya kelas ekonomi dengan tarif 15 Baht saja untuk perjalanan yang kami tempuh selama 2 jam antara Stasiun Hua Lamphong ke Ayutthaya.

DSC_0007

Ruang tunggu Stasiun Hua Lamphong

DSC_0019

Peron Stasiun Hua LamphongDSC_0031

Kondisi gerbong kereta ekonomi

tiket kereta

Tiket Kereta Ekonomi Bangkok-AyutthayaDSC_0060

Pedagang Pasar sedang berdandan sambil menunggu kereta di StasiunDSC_0056

Kondisi Stasiun Samsen di luar kota Bangkok

Kondisi dan fasilitas kereta api di sini ternyata masih di bawah negara kita. Yap, setidaknya untuk masalah kereta api, Indonesia masih lebih unggul dari Thailand. Untuk kereta ekonomi, tempat duduk berhadap-hadapan dengan formasi 2 dan 3 tempat duduk setiap barisnya. Alat pendingin hanya berupa kipas angin dan jendela bebas terbuka. Pedagang asongan pun bebas keluar-masuk gerbong kereta menawarkan barang-barang yang dijual, berupa makanan, minuman, souvenir atapun buku bacaan. Stasiun kecil masih terbengkalai, kotor, dan belum sepenuhnya dilengkapi pagar sehingga mungkin orang bisa bebas masuk ke peron tanpa tiket. Ada juga penumpang yang terpaksa berdiri akibat kehabisan tempat duduk, karena memang di tiket tidak tertulis nomor tempat duduknya.

Jadi untuk saya, naik kereta api di Thailand adalah ajang mengenang naik kereta api ekonomi Tawangjaya dulu.

4. Chao Praya Express Boat

DSC_0247

Dermaga Tha Tien di Sungai Chao Praya dan cross-river ferrypraya boat

Posisi tempat duduk di Chao Praya Express BoatIMG20150205175552

Penumpang cross-river ferry

Chao Praya Express boat merupakan moda transportasi utama dan khas di kota Bangkok sampai saat ini, meskipun sudah banyak moda transportasi yang modern. Keberadaan sungai Chao Praya yang membelah kota Bangkok menjadi faktor utamanya. Selain bebas macet, express boat juga tarifnya murah dan menjangkau tempat-tempat utama di kota Bangkok. Rute Chao Praya express dibedakan dengan warna bendera yang terpasang di tiap perahu. Ada yang berbendera warna biru, hijau, kuning, oranye dan tanpa bendera. Warna bendera ini membedakan dermaga mana saja yang disinggahi oleh perahu tersebut. Untuk turis disarankan memilih perahu berbendera oranye karena tidak setiap dermaga berhenti jadi lebih cepat. Tarif perahu berbendera oranye sama untuk tujuan jauh dekat yaitu hanya 15 Baht. Saya mencoba naik perahu untuk menuju ke Wat Arun dari dermaga Sathorn Taksin ke dermaga Tha Tien. Dari Tha Tien saya harus menyeberang lagi dengan cross-river ferry, karena posisi Wat Arun yang berada di seberang dermaga. Tarif untuk menyeberang hanya 3 Baht saja.

  1. Bangkok Mass Transit System (BTS)

Kereta layang atau lebih populer disebut BTS oleh warga lokal adalah moda transportasi kebanggaan warga Bangkok. Semua jalurnya merupakan flyover, begitupun stasiunnya berada di atas jalur layang. BTS memiliki 2 jalur atau line, yaitu Sukhumvit Line yang memiliki 23 stasiun dan Silom Line yang memiliki 9 stasiun. Tarif BTS disesuaikan dengan zona tujuan antara 15 – 40 Baht.

IMG20150205122454

Kereta BTS memasuki stasiunDSC_0088

Siam, salah satu persimpangan jalan tersibuk di Bangkok dan lintasan rel BTS

IMG20150205091844

Tangga masuk Stasiun BTS National Stadium

Vending machine tiket BTS

Mesin penjual tiket BTSTiket BTS

Penampakan single journey ticket BTS

IMG20150205121035

Di dalam BTS

Tiket BTS bisa dibeli di mesin penjual otomatis di setiap stasiun dan ada beberapa stasiun yang hanya bisa menggunakan uang koin. Jika tidak memiliki uang koin, terdapat loket yang melayani penukaran uang, tapi tiket tetap harus dibeli di vending machine.

BTS bisa dikatakan sangat nyaman, intensitas kedatangan kereta juga banyak, antara 1-2 menit di jam sibuk jadi tidak membosankan untuk menunggu. Meskipun sering penuh penumpang, namun kondisi gerbong yang bersih dan dingin membuat saya tetap menikmati angkutan umum ini apalagi bisa melihat pemandangan kota Bangkok dari balik jendela. Pengumuman di dalam kereta juga menggunakan Bahasa Inggris, jadi tidak perlu khawatir akan terlewatkan stasiun tujuan. Kecuali saya ketiduran.

  1. Metropolitan Rapid Transit (MRT)

MRT sebenarnya sama dengan BTS, bedanya semua jalur dan stasiunnya berada di bawah tanah (mirip subway). MRT dan BTS di Bangkok tidak terintegrasi satu sama lain. Yang jelas moda transportasi seperti ini bebas macet dan sudah menjadi andalan transportasi di kota-kota besar dunia. Jadi iri karena di Indonesia belum ada.

IMG20150205211745

Tempat menunggu atau peron kereta MRTinside MRT

Di dalam kereta MRT

Tiket MRT juga hanya bisa dibeli lewat mesin penjual tiket atau menggunakan kartu prabayar. Bentuk tiketnya pun berbeda dengan BTS, yaitu berbentuk seperti koin. Cara memakainya adalah dengan menempelkan di gate masuk sehingga pintu terbuka dan bawa sampai ke stasiun tujuan. setelah sampai di stasiun tujuan, koin tersebut harus dimasukkan ke dalam gate keluar sehingga pintu akan terbuka. Jadi tidak bisa digunakan untuk koleksi. Naik MRT juga ada nilai minusnya yaitu tidak bisa melihat pemandangan kota.

  1. Taxi

Taxi adalah alternatif terakhir memilih moda transportasi di Bangkok. Selain kurang menantang, dipastikan juga mahal. Apalagi di Bangkok juga banyak tipe taxi yang tarifnya nembak. Jadi pastikan untuk memilih moda taxi yang menggunakan argo.

IMG20150204143545

Taxi di jalanan Bangkok

taxi

Taxi melintas di jalan tolIMG20150208084223

Slip bukti bayar Jalan Tol

Taxi di Bangkok tertulis dengan Taxi Meter di bagian atas mobil. Karena yang hanya tertulis “Taxi” itu berarti Tuk Tuk. Ada banyak perusahaan taxi di Bangkok, tapi memang tidak ada yang spesifik direkomendasikan seperti Blue Bird di Indonesia. Warna moda taxi rata-rata mencolok, dari ungu, kuning sampai merah jambu walaupun warna putih pun ada. Saya sekalinya saja di Bangkok terpaksa naik taxi dari Khaosan road menuju ke Bandara Don Mueang. Karena bis yang ke arah bandara tidak jelas kapan datangnya dan merasa uang saku masih sisa banyak. Alhamdulillah supir taxinya baik, kami tidak diputar-putar, bahkan menawarkan apakah mau lewat jalan tol atau tidak. Kami memilih melewati jalan tol, yang pemandangan kanan kiri jalan oke banget. Dan ternyata sampai bandara tarifnya tidak sampai 150 ribu kalau dirupiahkan. What a perfect choice!

Seperti itulah kira-kira gambaran transportasi di kota Bangkok, walaupun masih ada moda transportasi lain seperti ojek motor yang belum sempat saya coba. Dibandingkan angkutan umum di Jakarta, Bangkok relaitf masih lebih nyaman. Buktinya banyak turis yang mau naik Bis Umum meskipun berdesak desakan tapi setidaknya supir tidak ugal-ugalan dan bis hanya berhenti di Halte. Sebagai pemakai angkutan umum ‘garis keras’, saya suka iri dengan negara lain yang sistem transportasi umumnya sudah tertib. Semoga secepatnya transportasi di Indonesia terutama Jakarta segera di benahi. Minimal meniru prestasi kota Bangkok ini, sebelum nantinya bisa menyaingi transportasi di Singapura atau bahkan Jepang. Aamiin. Keep exploring and experiencing like a local!

Advertisements

1 Comment

  1. Pingback: Menyapa Ribuan Tentara yang Terkubur Ribuan Tahun | Langkah - Langkah Kecil

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s