Features, Landscape, Pictures, Thailand, Trip
Leave a Comment

Inilah Sisa-Sisa Kota Kuno Ayutthaya

Dua jam perjalanan kereta ke arah utara dari kota Bangkok mengubah pandangan saya bahwa tidak semua yang berbeda ataupun lebih modern adalah yang saya cari ketika bertandang ke negeri orang. Setelah melihat gemerlapnya ibu kota, kemudian menyaksikan realitas daerah pinggiran yang masih belum seluruhnya terjamah pembangunan justru membuat saya menikmati sebuah perjalanan. Perjalanan yang seolah menjadi ajang nostalgia ke zaman ‘PT. KAI belum dipegang Ignasius Jonan’. Iya. Kereta ekonomi, yang tanpa tempat duduk empuk, yang duduknya berhadap-hadapan tanpa AC, yang ada pedagang-asongan-sliweran-ikut-naik-kereta-tanpa-menyerah-menawarkan-dagangannya, yang orang bebas merokok di dalam gerbong yang panas menyengat, dan yang bisa saja saya berdiri atau ngemper di bawah karena tidak kebagian tempat duduk. Hal-hal seperti inilah yang (sayangnya) tidak bisa saya temui lagi di Indonesia. Dan suatu saat akan saya banggakan menjadi cerita unik untuk anak cucu saya.

Kelar dua jam yang penuh kenangan dan penuh kedekatan dengan penduduk lokal di dalam kereta bertarif 15 Baht (kurang dari 6 ribu rupiah), kini saatnya turun di Stasiun Ayutthaya. Sebuah stasiun yang cukup sederhana untuk ukuran suatu kota. Hanya ada dua lajur rel, bangunan kantor untuk staf kereta api, loket tiket dan ruang tunggu. Untuk ke kamar kecil saja saya harus bayar, dan wajib hukumnya dibayar sebelum saya masuk ke bilik kloset, yaelah. Serius ini.

Jadi, inilah perjalanan sehari kami menyusuri Ayutthaya yang merupakan ibu kota kuno Kerajaan Siam (sebelum berdiri negara Thailand). Menurut sejarah, pada masa kejayaannya kota ini dikelilingi oleh tembok besar sepanjang 12 kilometer untuk melindunginya dari musuh. Sampai adanya serangan tentara Burma yang terjadi pada tahun 1767 mengakhiri kemegahan Ayutthaya dalam waktu semalam. Sehingga kota ini hampir rata dengan tanah dan sejak itu ibu kota Siam berpindah ke Bangkok sampai sekarang. Ayutthaya juga sudah ditetapkan menjadi Situs Warisan Dunia UNECSO.

***

Berdasarkan informasi yang kami peroleh, Ayutthaya relatif mudah untuk dijelajahi karena bukan kawasan yang luas, namun bukan dengan berjalan kaki. Makanya, begitu keluar dari stasiun, kami menyambangi deretan kios yang menyewakan sepeda dan sepeda motor di seberang jalan. Sepeda-sepeda cantik dan motor skuter atau matic berjajar rapi di depan kios siap kamu pakai keliling kawasan Ayutthaya. Tentu saja setelah kamu membayar uang sewa 40 Baht untuk sepeda atau 130 Baht untuk sepeda motor dan merelakan paspormu difotokopi oleh pemilik rental.

Setelah urusan administrasi selesai, saatnya kami touring berdasarkan arahan dan peta kawasan Ayutthaya yang diberikan gratis oleh pemilik rental tadi. Kami memilih sepeda motor dengan alasan malas mengayuh sepeda cuaca Ayutthaya yang begitu terik dan demi efektifitas waktu perjalanan balik ke Bangkok. Dan ternyata memilih sepeda motor adalah pilihan yang tepat karena jarak stasiun menuju kawasan Ayutthaya lumayan jauh. Alternatif lainnya jika tidak ingin repot berkendara, bisa menyewa Tuk Tuk tentu saja plus supirnya karena kamu ngga mugkin nyetir sendiri selama sehari penuh dengan harga sesuai negosiasi.

Daya tarik utama Ayutthaya sebenarnya hanya melihat sisa-sisa reruntuhan kota tua, cocok untuk para pecinta wisata sejarah. Yang lebih asik menurut saya adalah petualangan keliling dengan bonceng sepeda motor hanya mengandalkan peta mencari tempat-tempat wajib dikunjungi yang sudah ditandai oleh pemilik rental. Jadinya seperti memecahkan teka-teki dalam petualangan Dora The Explorer. Melewati jembatan, menyusuri kanal, melihat kawanan gajah bongsor dan wisata kuliner –yang untuk membeli saja kami susah payah berkomunikasi- adalah selingan yang menyenangkan. Objek paling menarik yang wajib jadi pemberhentian ketika menyusuri Ayutthaya antara lain Wat Mahathat, Wat Phra Ram, Wat Ratchaburana, dll.

Wat Mahathat

DSC_0130

DSC_0129

DSC_0122

DSC_0116

DSC_0102

DSC_0100

Setelah merasa cukup dan menyerah dengan kota tua Ayutthaya, saatnya mengakhiri petualangan dengan mengembalikan sepeda motor dan helm unyu-unyu yang kami sewa tadi. Untung sepeda motor yang kami sewa dipastikan tidak berkurang suatu apapun, jadi fotokopian paspor kami tadi langsung bisa dimusnahkan untuk menghindari penyalahgunaan. Terakhir, jangan lupa untuk mengisi kembali tanki bensin motor sebelum dikembalikan atau si pemilik rental bakal meminta ganti uang bensinnya ke kamu. Ya begitulah Ayutthaya, bisa dijadikan trip sehari dari Bangkok dan bersiaplah dengan kejutan-kejutannya. Keep exploring like a local! :’)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s