Culture, Japan, Landscape, Trip
Comments 5

Let’s Go, Shirakawa-go

Hujan dari semalam belum kunjung reda saat saya bangun tidur di pagi pertama di Takayama, kota yang baru pertama kali saya kunjungi. Meskipun udara dingin seolah membisikkan agar saya kembali menarik selimut dan merebahkan badan di atas futon yang hangat, tapi saya sadar mesti bergegas menuju depan Stasiun Takayama.

Saya harus sampai di meeting point 15 menit sebelum bis berangkat, bis akan berangkat sesuai jadwal tepat jam 8 pagi, meeting point ada di depan stasiun JR Takayama atau di seberang Washington Hotel Plaza, dan warna bis tur adalah merah. Itulah penjelasan staf hostel J-Hoppers Hida Takayama semalam, saat saya memutuskan untuk ikut tur pagi ke salah satu situs UNESCO, Shirakawa-go.

Karena terngiang dengan ‘doktrin’ semalam dan terbayang dengan keindahan Shirakawa-go, jam 7 pagi saya sudah rapi dan tentu saja sudah mandi. Saya tidak langsung menuju stasiun tapi memutuskan untuk setidaknya menyesap secangkir minuman hangat di dapur hostel. Pintu dapur saya buka pelan-pelan , takut membuat kegaduhan karena hostel masih sepi.

Ohayo…!”

Sapa ramah seorang pria oriental -yang ternyata sudah telebih dulu berada di dapur hostel- lumayan membuat saya kaget. Dia terlihat bersama seorang temannya sedang sibuk menyiapkan sarapan mereka.

Ohayo gozaimasu..!”, jawabku.

Kemudian saya sibuk memilih minuman apa yang bisa saya seduh pagi itu, mumpung gratis dan banyak pilihan. Sementara, mereka sibuk menghabiskan sarapan dan berbincang dengan bahasa ibu mereka yang sama sekali tidak ku mengerti, sambil sesekali saya interupsi untuk menanyakan di mana letak peralatan dapur yang saya butuhkan. Iya, sepertinya memang mereka lebih menguasai isi dapur hostel ini.

Tak peduli orang yang kau kenal atau tidak, tapi saling menyapa di pagi hari adalah hal yang (memang) lazim dilakukan di Jepang saat kita bertemu dengan orang yang tinggal satu atap. Dari beberapa hostel yang pernah saya tempati, hampir pasti para tamu hostel maupun resepsionis saling menyapa seperti ini, and I think it works to brighten up my day and makes me believe that I am surrounded by good people.

Usai menghabiskan setengah cangkir kopi dan mencuci peralatan dapur yang saya pakai, saya langsung bergegas ke stasiun. Gerimis masih saja turun dan suhu udara sekitar 9 derajat celcius, cukup dingin untuk makhluk tropis seperti saya. Sepertinya bukan hari yang baik untuk jalan dan menikmati kota. Pun seperti yang dirasakan sekelompok turis Malaysia dan sepasang turis Cina yang berpapasan denganku di jalan. Mereka yang kecewa karena Miyagawa Morning Market tutup lantaran hujan.

IMG_20151120_073353Jalanan kota Takayama

Jarak hostel tempat saya menginap dengan Stasiun Takayama cukup dekat, tidak sampai 5 menit berjalan kaki. Jam 8 kurang 20 menit saya sudah duduk manis di jejeran bangku tempat yang dijanjikan semalam. Sambil menunggu bis merah datang, saya nikmati bento berisi sushi roll dari minimarket di seberang jalan. Rupanya, secangkir kopi belum cukup mengisi perut kosong di pagi yang dingin.

Gerimis belum juga reda saat sebuah bis merah datang dan berhenti tak jauh dari tempat saya duduk. Seorang pria berkaca mata dan berjaket merah turun, dan langsung menghampiri beberapa orang yang sedari tadi juga duduk di jejeran bangku belakangku. Satu persatu dari mereka kemudian naik ke dalam bis. Giliran saya mendekat ke pria itu untuk memastikan apakah ini benar bis tur yang akan menuju ke Shirakawa-go. Dan memang tidak salah. Saya masuk ke dalam bis, dan rupanya masih banyak bangku kosong. Jam 8 kurang 10 menit bis berangkat menuju Shirakawa-go -ngga pakai ngetem-ngetem kayak bis di Indonesia- , tak seperti yang dijanjikan sebelumnya, jam 8 pas.

Perjalanan 50 menit dari Takayama ke Shirakawa-go menyajikan pemandangan landscape spektakuler nan memanjakan mata. Bukit-bukit dengan pohon yang berubah warna daunnya di musim gugur, kabut pagi dan gerimis, juga ladang-ladang khas Jepang dengan rumah-rumah pedesaan yang mungil. Sesekali melewati jembatan di atas aliran sungai yang begitu jernih airnya. Jalan dibangun menyusuri pegunungan, banyak yang sengaja dibuat menembus bukit dengan terowongan berukuran kiloan meter panjangnya, bahkan ada yang mencapai 10 km.

Hanya ada 8 orang pada tur pagi itu, 2 orang asal Singapura, 2 orang asal China, 2 orang asal Malaysia, 1 orang Jepang, dan saya dari Indonesia.Tour guide kami bernama Yamamoto, orang asli Takayama, begitulah informasi yang dia sampaikan ketika memperkenalkan dirinya. Bahasa Inggrisnya tidak terlalu fasih, namun Yamamoto sangat suka berbicara. Beberapa kata Bahasa Melayu pun bisa diucapkan Yamamoto ketika menyapa saya dan turis Malaysia. Selama perjalanan menuju Shirakawa-go, suara Yamamoto seolah menjadi backsound memandangi kanan-kiri jalanan. Sambil menjelaskan isi peta desa Ogimachi Shirakawa-go, sesekali Yamamoto nenunjukkan alat peraga huruf kanji dan boneka Sarubobo. Boneka Sarubobo adalah simbol kota Takayama di perfektur Gifu. Sarubobo berasal dari kata “saru” yang berarti monyet dan “bobo” yang berarti bayi. Berwarna merah, dan meskipun memiliki bentuk seperti tubuh manusia, namun Sarubobo digambarkan tidak memiiki wajah. Hmm..

Sesampainya di Shirakawa-go langit berubah bersahabat, gerimis reda dan kabut mulai menghilang. Tentu saja saya semakin senang. Tak sabar untuk menjelajah desa dengan rumah-rumah tua tradisional yang selama ini hanya bisa dilihat di internet maupun brosur-brosur wisata. Tidak ada rute khusus untuk menjelajahi kawasan Shirakawa-go. Kita dapat menyusuri jalanan khas pedesaan sesuka hati kita. Tapi perlu mengingat waktu, karena ikut tur, jadi jangan sampai ketinggalan bis.

DSC_0567

Shirakawa-go dari bukit pandang

Shirakawa-go ditetapkan sebagai salah satu situs warisan budaya dunia oleh UNESCO pada tahun 1995. Terkenal dengan gaya bangunan rumah yang khas yang disebut Gassho. Beberapa dari yang ada sekarang konon sudah berumur lebih dari 250 tahun. Model rumah Gassho tidak lepas dari keseharian penduduk Shirakawa-go yaitu sebagai petani, untuk menyimpan hasil panennya. Sawah dan ladang langsung berjejer dengan rumah penduduk. Sistem irigasi juga sudah tertata dengan baik, airnya sangat jernih dan ada ikan yang hidup dipelihara di dalamnya. Pedesaan Shirakawa-go ini juga dikelilingi pegunungan yang cantik, yang akan semakin cantik jika diselimuti salju.

DSC_0584

Rumah bergaya Gassho di area Parkir

DSC_0594

Shirakawa-go di musim gugur

DSC_0663

Aliran sungai Shogawa yang melintas sepanjang pedesaan Shirakawa-go

DSC_0653

Irigasi dan persawahan penduduk

DSC_0629

Model rumah Gassho yang digambarkan mirip sikap tangan orang yang sedang berdoa

DSC_0659

Tur kami akan berakhir jam 11 siang, Yamamoto mulai sibuk mencari peserta tur yang sedari tadi terpencar-pencar. Sementara dua orang Singapura sudah berada di depan bis bersama saya. Kami mengobrol akrab mengenai perjalanan masing-masing. Mereka berdua adalah sepasang suami istri yang sedang bulan madu dengan cara backpacking ke Jepang. Beberapa kota telah mereka singgahi juga. Saya merasa seperti menemukan ‘saudara’, mungkin karena kedekatan letak geografis negara kami. Sebelumnya dua orang Malaysia tadi juga berbagi cerita denganku sambil menyusuri jalanan Shirakawa-go dan membantu saya mengambilkan beberapa foto. Saya tak menampik karena sedikitnya peserta tur pagi itu, kami menjadi akrab meskipun baru saling bertemu dan bersama untuk waktu tak lebih dari 3 jam saja. Hal kecil dari traveling seperti ini yang justru akan lekat dalam memory saya selamanya. Bukan sekedar keindahan destinasi wisata yang saya kunjungi, tapi interaksi dengan orang-orang asing. Orang-orang baik yang masih dengan mudah saya temui di belahan bumi ini yang menyadarkan saya bahwa menjadi pribadi yang baik dan menyenangkan untuk orang lain adalah keniscayaan tanpa melihat suku, ras, agama, negara dan bahasa.

Akhirnya kami kembali ke Takayama, Yamamoto menyampaikan ucapan terimakasihnya sebagai tanda tur telah berakhir. Kami berpisah di tempat yang sama saat berangkat tadi. Perjalanan saya masih berlanjut untuk mengeksplorasi area Kota Tua Takayama, yang insyaallah akan saya ceritakan nanti. Keep exploring like a local!

 

Advertisements

5 Comments

  1. Indah says

    Bagus artikelnya mba. Saya ada rencana mo ke jpg 8 hari 7 mlm, destinasi mainstream tokyo, osaka n kyoto dan mau melipur dulu ke shirakawago dan alpen route. Pswt sampe di narita sore. Jd nginep dulu di tokyo. Dan besoknya mau ke shirakawago ato alpen route. Mohon advise nya nginepnya enaknya dimana ya. Thx

    • Hai Mba Indah..maksudnya nginep selama di Jepang ya?kalau tujuannya berpindah-pindah, memang efektifnya harus berpindah penginapan juga. Tergantung itinerary. Kalau mau ke Alpen Route, bisa dari Tokyo one-day trip jdi bsa nginep di Tokyo, asal naik Shinkansen dari dan ke Tateyama atau Nagano. Atau langsung dari Alpen Route kalau mau ke Shirakawago lgsg ke Kanazawa atau Takayama. Saya sih lebih memilih nginep di Takayama agar bisa ke Shirakawago karena lebih dekat. Kemudian baru lanjut ke Kyoto dan Osaka. Jadi rutenya Tokyo-Alpen Route-Takayama (Shirakawago)-Kyoto-Osaka. Gitu kira2 Mba..

  2. Halo mbak, mau nanya dong, kalau paket 1/2 hari ke shirakawa go beli dimana ya? Bisa reserve dari sebelum berangkat ngga ya? Trims mbak 😊

    • Hai Mba Anna, saya beli half-day tour Shirakawago di hostel tempat saya menginap, kebetulan menawarkan diskon. Biasanya beberapa hotel memang menawarkan, jadi mungkin bsa langsung kontak hotel tempat mbak menginap kalau mau reservasi dulu..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s