Culture, Japan, Trip
Comments 3

Mencari ‘Oase’ di Negeri Sakura

Stasiun JR Sannomiya adalah tujuan utama saya pada hari ketiga di Kyoto. Saya berniat menyambangi Masjid Kobe yang termahsyur di kalangan Muslim Jepang. Kenapa masjid? Yaa, saya rasa suguhan shrine dan temple bisa dinikmati hampir di seluruh sudut kota, Fushimi Inari dan beberapa spot kota Kyoto pun pernah saya sambangi sebelumnya, namun untuk sebuah masjid -yang di negara ini bisa dihitung dengan jari- saya pikir bisa menjadi pengalaman tersendiri. Mencari sesuatu yang langka kiranya tak berlebihan di tengah kondisi menjadi minoritas di negeri orang, layaknya mencari sebuah oase di padang pasir. Demi masjid yang pertama di bangun di Jepang, sampai ke Perfektur Hyogo saya jalani.

Saya berangkat dari stasiun Kyoto dengan menggunakan kereta JR Special Rapid Service, jenis kereta jarak menengah. Butuh waktu lima puluh menit untuk sampai di stasiun yang terletak di Kota Kobe itu. Kobe dan Kyoto berjarak sekitar 70 km, merupakan kota yang berada dalam area Kansai seperti halnya Osaka dan Nara.

Perjalanan ke Kobe saya tempuh dengan tidak santai –tanpa bahasa yang saya mengerti di sepanjang perjalanan kereta dengan jadwal kereta yang sedang terganggu- hanya mengandalkan aplikasi Google Map untuk memastikan saya bergerak menuju arah Kota Kobe. Ada banyak kereta Rapid Service, tapi tak ada yang bertujuan akhir di Sannomiya atau Kobe. Saya hanya memastikan memilih kereta yang pasti melewati kedua stasiun tersebut. Alhamdulillah, setelah meraba-raba arah, saya sampai di Stasiun Sannomiya di Kobe. Stasiun inilah yang merupakan stasiun utama di kota Kobe, bukan Stasiun Shin-Kobe yang dilewati Shinkansen.

Persoalan saya tidak hanya untuk sampai di stasiun Sannomiya saja. Saya harus mencari di mana letak Masjid Kobe. Sementara menginjakkan kaki di kota yang terkenal dengan produk daging sapi lezat ini saja baru pertama kali bagi saya. Sekali lagi google map adalah andalan untuk mengantarkan saya sampai di Masjid Kobe. Penunjuk arah mengisyaratkan bahwa tak butuh waktu lama untuk ke sana, meskipun hanya dengan berjalan kaki. Saya pun dengan santai menyusuri beberapa gang ke arah utara dari stasiun. Setelah menyeberangi jalan, tak jauh dari stasiun, deretan bangunan pertokoan dan restoran berarsitektur western-retro sekejap membuat saya terpukau. Menjadi hiburan yang memanjakan mata, sembari sesekali mengawasi posisi di aplikasi peta. Saya juga melihat bis kota dengan model antik masih beroperasi menjadi angkutan umum di kota ini. Hmm, Kobe memang kota yang unik.

IMG_20151115_141307

IMG_20151115_142013

IMG_20151115_182351

Toko klontong bertuliskan “Halal” di pojok jalan seolah mengisyaratkan bahwa di situ sudah memasuki kawasan Muslim. Tak lama, saya pun akhirnya melihat minaret masjid terlihat dari kejauhan, berwarna coklat krem dengan ujungnya berwarna biru. Saya hanya bisa tersenyum, bernafas lega. Apalagi sebelum berbelok ke arah jalan di mana masjid berdiri, saya melihat tiga wanita berkerudung juga berjalan ke arah yang sama. Semakin yakin memang di situlah letak masjid Kobe.

IMG_20151115_182947

Ketiga wanita itu berasal dari Malaysia. Kami menyapa saat berada di depan masjid. Namun perbincangan kami tak berlanjut setelah saya menjawab pertanyaan mereka, bahwa saya berasal dari Indonesia. Saya pun menjadi tak tertarik lagi untuk mencari tahu tentang perjalanan mereka atau apa alasan mereka datang ke Masjid Kobe.

Saya langsung masuk ke dalam masjid melalui pintu samping ketika solat dzuhur berjamaah sedang berlangsung. Dari pintu masuk samping, terlihat bukan seperti ruangan solat. Terdapat semacam meja resepsionis, tapi tak ada orang yang menjaga saat itu. Rupanya ruang solat yang merupakan bagian utama masjid berada di sebelah kanan pintu tempat saya masuk tadi. Sementara ke arah sebelah kiri merupakan bangunan pusat kegiatan Agama Islam di Kobe. Tempat solat pria ada di lantai bawah, sementara wanita ada di lantai atas. Wajar seperti masjid-masjid pada umunya. Masjid bergaya arsitektur timur tengah ini sebenarnya tidak terlalu besar. Interior didominasi dengan warna coklat krem seperti yang terlihat dari luar. Karpet tebal warna merah maroon yang menutupi lantai seolah mendukung pemilihan warna dindingnya.

IMG_20151115_162314

Masjid Kobe, didirikan pada tahun 1935. Masjid ini telah selamat dan masih berdiri kokoh setelah Kota Hiroshima dan Nagasaki dibom atom pada tahun 1945. Serta masih mampu berdiri tegak saat bangunan lain di sekitarnya roboh akibat gempa bumi Kobe tahun 1995.

Bergegas saya mengambil air wudhu, sayangnya saya tak mendapatkan satu rakaatpun solat berjamaah yang dipimpin Imam Masjid. Yasudahlah, bisa menunaikan kewajiban dengan nyaman saat menjadi ‘musafir’ saja sudah sangat senang. Apalagi bisa bersujud mengingat kebesaranNya di masjid yang bersejarah ini.

Rasanya kaki susah diajak beranjak, ingin berlama-lama duduk tenang melihat satu dua orang berdatangan bergantian mengerjakan solat. Namun perjalanan saya mesti berlanjut.

Sebelum kembali menuju Stasiun Sannomiya, saya sempatkan mampir ke sebuah minimarket yang berada persis di depan masjid. Minimarket ini khusus hanya menjual makanan halal. Kebetulan kasir yang menjaga minimarket waktu itu adalah orang Indonesia, cewek asal Jawa Timur. Dia sedang mengenyam pendidikan S2 nya di Universitas Kobe. Cewek sederhana berkerudung itu pun sudah cakap berbahasa Jepang. Kebanyakan yang berbelanja di situ adalah warga ekspat Muslim yang tinggal di daerah Kobe. Berbagai macam makanan dan bahan makanan halal tersedia di minimaket ini. Ketika saya perhatikan, mayoritas diproduksi di Malaysia, meskipun banyak juga yang merk aslinya dari Indonesia.

DSC_0151

Sedari tadi saya cukup memberi perhatian kepada orang-orang yang berbelanja di sini. Seingatku semuanya adalah warga ekspat, namun ketika saya akan membayar di kasir ada yang berbeda. Seorang wanita muda warga lokal menunggu sampai kasir selesai melayani pelanggan yang ada di antrian depannya. Dia mendekati kasir, tidak membeli sesuatu, tapi langsung mengajukan pertanyaan ke kasir. Tapi kok, dia bertanya dalam bahasa Inggris sambil menulis dan membuat catatan di buku kecil yang dia pegang. Lama-kelamaan saya mulai mengerti apa yang ditanyakan ke kasir yang memakai kerudung itu.  Aksi bom dan penembakan di Paris, Perancis rupanya menjadi alasannya untuk mencoba dikonfrontasi ke Muslim di sekitar sini. Memang saat itu, beberapa hari yang lalu baru saja terjadi aksi penembakan brutal dan bom di kota Paris yang menggemparkan dunia. Mungkin saja dia atau media tempat dia bekerja telah terbawa persepsi yang salah, bahwa kami kaum muslim adalah bagian dari pihak yang melakukan teror tersebut. Beberapa pertanyaannya menjurus ke sana, hmm..

Saya tak mau terlalu mempermasalahkan dan mengambil hati atas apa yang awalnya si wartawan itu persepsikan, untungnya si kasir juga mampu menjelaskan bahwa Islam itu berbeda dari segelintir kelompok ekstrem tersebut, there’s nothing to do with us, that’s the point.

Kelar membeli dan memakan beberapa snack dan minuman di minimarket itu, saya langsung menuju Stasiun Sannomiya untuk kembali ke Kyoto. Perjalanan hari ini mungkin sederhana, hanya mencari masjid, bukan sebuah destinasi wisata untuk turis yang sengaja jauh-jauh datang ke Negeri Sakura. Namun, perjalanan hari ini mungkin adalah salah satu doa yang dikabulkan olehNya, doa untuk menjadi muslim yang istiqomah (aamiin). Dan tentang Kota Kobe, meskipun hanya sebentar saya menyempatkan ke sini, namun saya pastikan bahwa kota ini layak dijadikan salah satu tujuan jika datang ke Jepang.

****

Jauh ke arah timur dari Kota Kobe di area Kansai, saya kembali mengunjungi Tokyo di area Kanto. Ibu Kota Jepang ini tidak mungkin tega saya lewatkan. Keriuhan orang-orangnya di stasiun-stasiun kereta, belasan jalur kereta bawah tanahnya, dan belasan lainnya yang mengular di jalur layang menjadikan Tokyo ‘ngangeni’ . Tokyo Skytree dan Sumida River adalah hal ‘takjub’ pertama saya ketika pertama kali menginjakkan kaki di Tokyo satu setengah tahun yang lalu. Itu juga membuat saya kangen. Selain itu, ada satu hal lagi yang sempat saya lewatkan di Kota Tokyo saat kunjungan pertama saya ke Jepang waktu itu, yang kali ini tidak mau saya lewatkan lagi. Masjid Cami Tokyo, masjid terbesar di Jepang.

Masjid Camii Tokyo dapat diakses dari Stasiun Yoyogi-Uehara dengan Odakyu Line, tak jauh dari hingar bingar Shibuya. Sore itu, saat kota Tokyo diguyur gerimis, saya mencari jalur Odakyu Line di stasiun Harajuku. Harajuku adalah stasiun terdekat yang tercover JR Pass sehingga tak banyak biaya yang saya keluarkan untuk kereta Odakyu Line yang merupakan Private Railway.  Hanya dua stasiun dari Harajuku.

Dari Yoyogi-Uehara saya mengambil pintu keluar yang mengarah ke sebelah selatan lalu berjalan di pinggir bangunan stasiun, sementara di seberang jalan berjejer tempat-tempat makan modern. Terdapat perempatan jalan, saya terus berjalan mengarah ke jalan flyover dan melintas di bawahnya. Masjid ini tak sulit dicari, hanya sekitar 300 meter dan terletak di sebelah kiri jalan dari stasiun. Berada di antara deretan gedung-gedung, namun dengan minaret yang tinggi dan berbentuk berbeda dengan gedung lainnya membuat masjid ini mudah terlihat dari kejauhan.

DSC_0489

Masjid yang bergaya arsitektur Turki ini memang dibangun oleh Pemerintah Turki dan sekaligus menjadi pusat kebudayaan negara tersebut di Jepang. Untuk menuju tempat solat, saya harus menaiki anak tangga dari pinggir trotoar yang terletak di sebelah pintu masuk Pusat Kebudayaan. Tempat wudhu ada di bawah, bisa diakses dengan menuruni anak tangga dari plataran masjid.

Berbeda dengan Masjid Kobe yang didominasi warna krem, Masjid Tokyo terlihat lebih ‘segar’ dengan sentuhan warna putih-biru dengan tambahan beraneka warna di detail mozaik-mozaik keramiknya. Sangat indah, dan terkesan sejuk. Lagi-lagi di sini saya bertemu orang Malaysia, kali ini mereka adalah mahasiswa yang sedang memanfaatkan libur semester. Saya juga melihat beberapa warga lokal silih berganti masuk ke dalam masjid. Mereka berkeliling area masjid dan dari mimik wajah mereka terlihat begitu mengagumi keindahan arsitektur Masjid Tokyo. Masjid ini memang terbuka untuk siapapun, bagi mereka yang tidak mengenakan jilbab wajib mengenakan jubah yang disediakan di dekat pintu masuk.

Advertisements

3 Comments

  1. meska says

    pengalaman ke jepang agak susah nyari mesjid. waktu d kyoto shalat di islamic centernya dan alhamdulillah waktu di asakusa ketemu mesjid meskipun nyasar karena kurang googling, nanya infomation center juga pada ga tau. malah mereka nyaranin buat nanya ke restoran turki yang ada di sana.
    pernah juga ijin ke security di hiroshima memorial center buat shalat di area yang berkarpet , seringnya sih jamak di hostel 🙂

    • iya ya Mba, berusaha untuk tetap istiqomah memang luar biasa saat traveling…saya juga seringnya dijamak sih di hostel, ini sekali-kali disengajain nyari dua masjid yang paling terkenal di Jepang..

  2. iya ya Mba, berusaha untuk tetap istiqomah memang luar biasa saat traveling…saya juga seringnya dijamah sih di hostel, ini sekali-kali disengajain nyari dua masjid yang paling terkenal di Jepang..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s