City, Daily Life, South Korea, Trip
Comment 1

‘Oase’ di Negeri Ginseng

Tentang perjalanan ke Negeri Ginseng, meskipun hanya beberapa hari, namun saya bisa merasakan bagaimana warga lokal memperlakukan orang asing. Salah satu kejadian yang melekat di ingatan saya, dan mungkin pernah juga dialami oleh Muslim di Korea Selatan, yaitu ketika ada seorang petugas stasiun Gapyeong menanyakan kenapa saya memakai ‘penutup kepala’. Saat itu saya sedang bersama tiga traveler asal Indonesia yang kebetulan semuanya memakai hijab. Petugas stasiun itu pun sepertinya sama sekali tak paham bahwa yang kami pakai disebut ‘hijab’. Yang dia tanyakan seperti ini: “Kenapa kalian memakai sesuatu (kain) di kepala?”.

**

Bisa dipastikan, tiap kali berkunjung ke negara orang, ke manapun itu, akan ada hal baru yang ditemui di jalan. Terutama bagi penganut jalan mandiri alias backpacking di mana tak akan ada tourguide yang mengarahkanmu kemana-mana. Tantangan akan selalu ada, dari masalah komunikasi, perbedaan karakter dan budaya masyarakat setempat maupun selera makanan, khususnya bagi traveler Muslim.

Menjadi traveler bagi sebagian Muslim memang tidak mudah, terutama jika pergi ke negara yang muslimnya minoritas. Seperti ibuku yang selalu menanyakan hal yang sama setiap kali saya akan pergi ke tempat asing, “Nanti kamu makan apa di sana?”. Untuk tetap istiqomah mengonsumsi makanan yang terjamin halal dan mencari tempat ibadah tentu tidak mudah. Tidak sedikit yang sengaja membawa ‘modal’ makanan kering dari negara asalnya. Namun, bagi sebagian ada yang berpikiran lebih santai, asal tidak mengandung daging dan zat yang diharamkan pun sudah cukup. Apalagi mumpung di negara orang, mencicipi kuliner lokal adalah hal wajib. Tapi tetap memegang prinsip: no pork, no lard, dan no alcohol.

Korea Selatan adalah salah satu negara tujuan yang sedang populer akhir-akhir ini. Negara yang berbeda seratus-delapan-puluh-derajat dengan saudaranya, Korea Utara, ini memang sedang digandrungi para pelancong dari seluruh dunia, termasuk Indonesia dan Malaysia yang notabene kebanyakan Muslim. Pesatnya pembangunan yang mengubah dari negara miskin menjadi negara maju, serta kemajuan teknologinya yang sekarang mampu bersaing dengan negara tetangganya Jepang, menjadikan Korea Selatan negara yang ‘dilihat’ dunia. Industri hiburannya juga mampu menghipnotis dan menjadi magnet penarik yang begitu kuat terutama bagi kaum muda di Asia untuk datang ke sana. Bagi yang mengaku anti Korea-Koreaan saja, saya yakin minimal tahu istilah K-pop dan K-Drama. Tidak hanya serial drama dan musik, berbagai acara variety show juga populer sampai ke Benua Amerika. Pernah saya mendapat Pengajar Bahasa Inggris Online asal Florida AS yang mengaku penggemar berat Running Man, variety show mingguan yang tayang di salah satu stasiun TV Korea Selatan.

Pintarnya, lewat tayangan-tayangan di industri hiburan itulah promosi wisata Korea Selatan sebenarnya. Sadar atau tidak, banyak yang dibuat penasaran dengan makanan khas Korea, cara makan orang Korea, tempat setting drama Korea, kawasan entertainment company, fashion dan make up a la Korea, bahkan sampai tulisan dan Bahasa Korea. Itu hanya gara-gara nonton drama, konser K-pop, atau variety show. Ok fine, bahkan industri hiburan Hollywood pun tak sebegininya membuat orang jadi penasaran ingin datang ke Amerika.

DSC01130-1

Salah satu budaya populer di Korea Selatan: baju tradisional, Hanbok

Terlepas dari apapun tujuan orang datang ke Korea Selatan baik untuk jalan-jalan, bekerja, wisata medis dan estetika, ataupun serius mempelajari budaya dan bahasanya, yang jelas sekarang banyak pendatang Muslim di sana. Tak sedikit juga yang berasal dari Indonesia, Malaysia, dan sebagian Asia Selatan dan Timur Tengah. Tentunya kebutuhan konsumsi makanan halal cukup tinggi. Sayangnya, informasi tentang restoran Muslim friendly mungkin belum semua terakses oleh traveler Muslim. Meskipun sebenarnya sudah ada aplikasi mobile yang bisa memberikan panduan makanan halal, bahasa Korea sehari-hari dan tempat wisata di Korea Selatan, yaitu #HHWT (pakai tagar).

Kota Seoul merupakan ibukota sekaligus menjadi pusat pariwisata Korea Selatan. Pesatnya bisnis banyak menarik para pendatang dari berbagai negara. Sehingga munculah sebuah kawasan khusus kaum ekspat yang menetap di Seoul, yaitu di Itaewon. Kawasan ini disebut sebagai Special Tourist Zone. Boleh dikatakan ini adalah kawasan multikultural terbesar di Korea Selatan di mana ribuan orang asing pendatang tersebar di kawasan ini. Sebagai tempat bertemunya bermacam-macam kultur, kemudian muncul wujud jati diri masing-masing kultur tersebut yang dibawa dari negara asalnya. Salah satunya dalam wujud kuliner. Di Itaewon muncul bermacam-macam restoran yang menyajikan menu-menu berbagai negara. Seperti Turki, India, Italia, Thailand, Perancis, Melayu, bahkan Indonesia. Mungkin awalnya hanya untuk memenuhi selera masing-masing, tapi berkembang menjadi bisnis karena semakin terkenal juga bagi turis yang datang ke Seoul. Atmosfer multikultur semakin terasa dengan jajaran toko di tiap sudut jalan.

13103404_10206622766787065_7912335830060388007_n

Untuk menuju ke Itaewon, bisa dijangkau dengan naik Subway sampai Stasiun Itaewon di Line 6.

Toko Bahan Makanan Halal

Saya sendiri tak sempat menyambangi Itaewon saat berkunjung ke Korea Selatan. Namun, jika Anda Muslim dan sedang traveling ke Korea, saya sarankan untuk mengunjungi Itaewon. Menemukan makanan halal di negara ini bisa dibilang penuh dengan tantangan. Maka dengan datang ke Itaewon, Anda seakan menemukan ‘oase’ karena di sinilah banyak restoran yang sudah memiliki sertifikat halal. Banyak di antaranya yang dimiliki oleh warga asing, namun ada juga yang dikelola oleh warga lokal. Dari makanan khas Asia Selatan, Timur Tengah, Melayu sampai makanan khas Korea.

Bagi Muslim yang tinggal di kota Seoul, kawasan ini adalah andalan dalam memenuhi kebutuhan bahan makanan halal. Begitupun bagi seorang mahasiswa asal Indonesia -yang mengabadikan gambar di Itaewon ini- mengatakan bahwa tinggal di negara orang pastinya akan merindukan makanan rumah. Untuk mengobatinya, dia lebih suka memasak makanan sendiri dan mencari bahan-bahannya di Itaewon. Meskipun dengan harga yang lebih mahal karena semuanya diimpor, namun demi memperoleh bahan sesuai yang ada di Indonesia, itu tidak masalah baginya.

13151712_10206622766467057_2200986503053546294_n13124615_10206622766227051_5161766371036314121_n

Masjid Terbesar di Korea Selatan

Di Itaewon ini juga berdiri masjid pertama dan terbesar di Korea Selatan. Selain sebagai tempat ibadah, Seoul Central Mosque juga dijadikan Pusat Kegiatan Agama Islam. Lokasinya yang strategis di kawasan multikultural Itaewon menjadikan masjid ini landmark yang wajib dikunjungi oleh sebagian traveler Muslim. Masjid yang resmi dibuka pada tahun 1976 ini juga terlihat semakin megah dengan dua buah minaret yang menjulang tinggi khas bergaya arsitektural Arab. Solat Jumat yang diselenggarakan di masjid yang pembagunannya dibiayai oleh Pemerintah Arab Saudi tiap pekannya biasa dihadiri sampai 800 jamaah.

13076906_10206622765107023_2684770426453936938_n

Muslim di Korea

Korea Selatan yang berpenduduk sekitar 50 juta jiwa ini, lebih dari 96% persennya merupakan ras Korea dan sisanya adalah ras pendatang. Itulah kenapa negara ini disebut homogen, sangat berbeda dengan negara kita. Kurangnya akses informasi terhadap dunia luar atau berita luar yang kurang bisa mereka pahami, mungkin juga menjadi penyebab kurangnya pengetahuan tentang keberagaman dunia. Sehingga saat melihat wanita memakai hijab, wajar jika keingintahuan mereka tentang memakai ‘penutup kepala’ tinggi. Seperti kejadian di stasiun Gapyeong waktu, bisa saya pahami karena negara Korea Selatan memang homogen. Pertanyaan tersebut sebenarnya hanya merupakan keingintahuan mereka bukan memberikan judgement, seperti “kenapa kamu harus memakai itu?” karena mungkin sama sekali asing di negara ini.

Jumlah populasi Muslim di negara ini hanya sekitar 35.000 jiwa (Wikipedia) yang mayoritas merupakan keturunan pendatang Asia Selatan, Timur Tengah, Malaysia, dan Indonesia. Meskipun jumlah Muslimnya hanya segelintir, namun Korea Selatan sudah memiliki lembaga yang memberikan sertifikat halal pada produk makanannya. Bahkan negara ini sudah cukup gencar mempromosikan kuliner Korea Halal ke beberapa negara melalui K-Food Expo, termasuk di Jakarta beberapa waktu yang lalu. Itulah sisi lain dari Korea Selatan.

13103501_10206622765627036_7540305676362728381_n

Jadi, berani menerima tantangan menjadi traveler Muslim ke Korea Selatan? masih berpikir bahwa kamu bakalan susah mencari makan di Korea?

Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan” – Al Mulk : 15

Photos in Itaewon taken by: Jodi Quanandi

Advertisements

1 Comment

  1. Pingback: Hemat One-Day Trip Seoul – Busan | Langkah - Langkah Kecil

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s