China, Trip
Comments 5

Menyapa Ribuan Tentara yang Terkubur Ribuan Tahun

Cuaca di kota Xi’an mungkin memang kurang bersahabat denganku, pasalnya tiap pagi kota ini diguyur hujan. Seperti pagi itu, ketika saya beranjak keluar kamar dan hendak menuju halte bus. Hujan masih saja turun dengan derasnya dari semalam, meskipun tak menghalangi masyarakat Xi’an untuk lalu lalang di trotoar kota yang lebar menuju ke tempat aktifitasnya.  Akupun demikian, tak menyerah karena hujan untuk menuju destinasi yang lokasinya di luar kota Xi’an.

Sepuluh menit sudah saya menunggu di halte yang letaknya tak jauh dari pintu keluar hotel, hanya fokus dengan angka 603 karena itu nomer rute bus yang saya tahu akan membawa saya ke Xi’an Railway Station. Saya mencoba mencari alternatif bus lain dengan melihat peta rute bus yang melintasi halte itu, tapi sepertinya sia-sia karena semua tempat dan nama rute bus hanya tertulis dengan aksara kanji. Rupanya mirip seperti di kota Bangkok, saya tak bisa berharap banyak dengan bus kota karena tak mampu membaca.

Hari itu saya sedang malas merangkai bahasa tarzan untuk sekedar bertanya ke penduduk lokal. Saya pun sudah tak mau gambling menunggu beberapa menit lagi bus yang tak kunjung datang. Akhirnya saya putuskan untuk naik subway saja. Dari stasiun Bell Tower, tak jauh dari halte bus tadi, saya bisa turun di stasiun Wulukau, stasiun terdekat dengan Xi’an Railway Station. Meskipun saya masih harus berjalan kaki sekitar 500 meter, tapi setidaknya saya tak akan kesiangan mengejar bus ke Lintong.

Xi’an Railway Station sangat besar, terlihat dari bangunannya yang megah dan merupakan satu dari dua stasiun besar di kota Xi’an Provinsi Shaanxi. Kabarnya pun kita bisa menyeberang ke Tibet dengan naik kereta dari stasiun ini.

IMG_20160513_143613_HDR

Lupakan tentang stasiun, karena yang saya cari adalah bus menuju Lintong. Seperti biasa, saya hanya mengandalkan intuisi, karena tak ada satupun penunjuk yang mampu saya baca. Mencari bus nomor 5 (306) tidak sulit sebenarnya karena itu adalah bus yang banyak dicari turis. Buktinya tak jauh dari pintu masuk area terminal saya langsung melihat antrian yang lumayan panjang dan di situ ada papan yang bertuliskan nomor rute bus yang saya cari. Tanpa ragu saya ikut berdiri di belakang barisan, beruntung tak lama para pengantri langsung disuruh masuk ke dalam bus.

Ketika hujan masih deras, saya sudah dapat duduk manis di dalam bus. Tak lama ada seorang wanita yang menanyakan tempat duduk di samping saya. Karena memang masih kosong, saya persilahkan dia menempatinya, hanya dengan “bahasa tarzan”. Saya mulai membuka pembicaraan, menanyakan tujuan bus hanya untuk memastikan saya menuju ke arah yang benar. Awalnya dia pun tak paham sampai saya membuka Google dan menunjukkan gambar situs Terraccota Army padanya. Dari sinilah dia memberi tahu kalau orang lokal menyebutnya Bing Maa Yong. Tak hanya itu, wanita yang memperkenalkan dirinya dengan mana Lili ini juga menawarkan diri untuk menjadi tour guide saya menuju ke Lintong. Tidak, dia tidak meminta bayaran, tapi suka rela mengajak saya bareng karena dia yang berasal dari Provinsi Hunan juga sedang traveling sendirian.

Situs Terracota Army

Ini adalah hari kedua saya di Xi’an. Saya memutuskan untuk mengunjungi salah satu situs bersejarah yang telah ditetapkan UNESCO sebagai warisan budaya dunia yang ada di Provinsi Shaanxi, China. Terletak di Distrik Lintong, sekitar 30 km ke arah timur dari kota Xi’an, Terracotta Army ditemukan pada tahun 1974. Penemuan situs ini disebut sebagai penemuan bidang arkeologi terbesar di abad ke-20. Para penggali awalnya hanya akan membuat sebuah sumur, ketika tak sengaja menemukan patung seukuran manusia berbentuk prajurit perang terbuat dari tanah liat. Bukan hanya satu, melainkan ribuan.

DSC02208-1

Diperkirakan ada 8.000 patung Terracotta Warriors yang terkubur di sini

Pembuatan ribuan patung yang tiap wajahnya menunjukkan ekspresi berbeda ini diperkirakan berlangsung pada tahun 246 – 206 Sebelum Masehi. Yang artinya sudah berusia lebih dari 2.200 tahun. Berdasarkan perintah Dinasti Qin Shihuang, dinasti pertama yang memerintah di China, ribuan patung ini dibuat untuk dikubur bersamanya. Hal ini dilakukan untuk menunjukkan kejayaan masa pemerintahannya, dan untuk mengenang para prajurit yang telah berjuang demi bersatunya negeri China. Selain itu juga ada kepercayaan bahwa patung bisa hidup di akhirat, sehingga Qin juga membutuhkan ribuan pasukan perang tersebut di akhirat. Hmm…what a story!

Saat ini situs arkeologi ini dijadikan museum yang menempati area seluas 16.300 meter persegi yang terbagi menjadi 3 bagian: Pit 1, Pit 2, dan Pit 3. Urutan dibuat berdasarkan waktu penemuan.

Pit 1 merupakan area yang terluas hampir seukuran hangar pesawat, terdapat beberapa kolom berisi tentara yang tersusun rapi membentuk barisan serta beberapa patung kuda dan kereta perang. Persis seperti formasi perang pada zaman dahulu.

DSC02332-1DSC02325-1DSC02221-1

DSC02220-1

Masing-masing memiliki ekspresi wajah yang berbeda

Pit 2 ditemukan pada bulan April tahun 1976, terletak sekitar 20 meter di sebelah utara Pit 1 bagian timur. Areanya membentuk huruf “L” dengan panjang 124 meter, lebar 98 meter dan digali di kedalaman 5 meter.

DSC02320-1DSC02312-1DSC02272-1DSC02281-1DSC02270-1

Pit 3 ditemukan pada bulan Juni tahun 1976, terletak di sebelah utara Pit 1 bagian barat. Areanya membentuk huruf “U” dengan luas sekitar 520 meter persegi, dan merupakan Pit yang terkecil. Hasil investigasi menunjukkan bahwa Pit 3 ini merupakan bagian yang mengalami kerusakan paling parah. Hanya ada 68 patung tentara, 1 kereta perang, dan 38 senjata terbuat dari bahan perunggu yang bisa digali dari Pit ini.

DSC02280-1DSC02278-1

Sampai saat ini proses penggalian dan penyusunan kembali (restorasi) patung masih terus berlangsung terutama di Pit 1 dan Pit 2. Pasalnya, patung-patung yang ditemukan tak semuanya berbentuk badan utuh melainkan banyak yang hanya berupa kepingan.  Para ahli arkeologi dan pekerja masih melanjutkan proses restorasi untuk mengembalikan kepingan-kepingan terraccota menjadi sebuah bentuk patung yang utuh. Mereka mulai bekerja setelah museum ditutup untuk umum dan akan berhenti ketika museum akan dibuka di pagi harinya.

DSC02243-1DSC02240-1DSC02230-1

Dari keterangan yang ada di museum, sebenarnya patung-patung tersebut dulunya berwarna-warni sesuai wujud asli prajurit perang. Namun karena telah terkubur selama ribuan tahun, warnanya hilang dan belum ada teknologi yang mampu merestorasi warna yang telah pudar tersebut.

Sayangnya para pengunjung tidak bisa berfoto langsung dengan figur patung-patung asli, hanya replika saja. Itu juga masih harus membayar sebesar 30 Yuan untuk dapat berpose seolah dengan ribuan patung terracotta warriors. Tiket masuk ke dalam museum dibanderol 150 Yuan. Untuk ke sini tersedia bus khusus turis Nomor 5 (306) dari terminal bus di Xi’an Railway Station dengan tarif hanya 7 Yuan.

***

Hari ini saya beruntung mendapat teman jalan sekaligus penerjemah, sekaligus juga pemandu gratis. Lili tahu bahwa saya sama sekali tak memahami bahasa dan huruf China, namun dia juga menyadari tak lancar berbahasa Inggris. Dia berusaha mencarikan pemandu berbahasa Inggris agar saya memahami apa yang ada di museum, tapi sayangnya sedang tidak ada. Namun usahanya tak hanya sampai situ, terpaksa dia tetap meminta seorang pemandu yang hanya bisa berbahasa China. Semua yang dijelaskan oleh pemandu tersebut pun dia terjemahkan ke dalam bahasa Inggris, dengan menggunakan aplikasi yang ada di ponselnya! Sehingga informasi yang saya dapatkan bisa saya tulis di sini. Begitulah kira-kira cara kami berkomunikasi seharian itu.

Mendapat kebaikan dari orang yang baru ditemui di jalan adalah salah satu rezeki yang tak ternilai harganya. Saya bahkan menganggapnya sebagai ‘angel in disguise’ yang dikirim Sang Maha Pengasih. Benar kata orang, pun ketika kau traveling sendirian kau tidak akan benar-benar sendiri.

Xi’an, 13 Mei 2016

Advertisements

5 Comments

    • Saya nginep di Bell Tower Youth Hostel. Dari lokasi dan akses recommended kok sesuai harganya..begitu keluar hotel langsung akses ke stasiun subway Bell Tower. Dekat sekali dengan Bell Tower dan Muslim Quarter, ke Xian City Wall juga bisa jalan kaki. Kekurangannya cuma tak ada lift, padahal jumlah lantai kamar sampai 5. 🙂

  1. Pingback: One Day Trip to Mt. Huashan: Perjalanan dengan Kereta Cepat | Langkah - Langkah Kecil

  2. Pingback: Sore di Xian City Wall | Langkah - Langkah Kecil

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s