China, Trip
Leave a Comment

Bandara Xianyang dan Sebungkus Cup Noodle

Saat pesawat mendarat di Bandara Xianyang, saya lega. Bukan sekedar karena telah sampai dengan selamat ke tujuan dan penerbangan pun mulus tanpa turbulensi, bersyukur kali ini lebih karena akhirnya saya bebas dari berisiknya para penumpang selama penerbangan hampir 6 jam tadi. Berisiknya sudah seperti pasar dengan para penjual yang menawarkan barang dagangannya dan para pembeli yang tawar menawar harga. Sialnya.. bareng serombongan -anggap saja turis- Tiongkok yang baru pulang dari Kuala Lumpur.

Jadwal maskapai merah Negeri Jiran yang mendarat di Bandara Xianyang tengah malam, memaksa saya untuk menginap dan bertahan sampai pagi di sini. Saya tak mau berspekulasi melanjutkan perjalanan ke kota Xi’an karena hostel yang dipesan juga sudah menutup batas waktu check in. Hanya bisa berharap semoga bandara -yang bukan di kota besar Negeri Tiongkok- ini bisa nyaman dan aman.

Melewati counter imigrasi dan custom relatif lancar tak ada halangan apapun. Meskipun sebelumnya ada pemeriksaan suhu tubuh yang lumayan jutek petugasnya. Setelah itu, saya memasuki lorong bandara yang agak gelap. Sepertinya aktifitas penerbangan sudah sepi waktu itu, dan pesawat yang saya tumpangi termasuk di jadwal landing akhir.

img_20160511_233821_hdr

Counter imigrasi Bandara Xianyang

Keluar pintu kedatangan hampir jam 12 malam, saya belum tahu harus menuju ke arah mana. Di situ sudah banyak pria paruh baya yang menawarkan jasa tumpangan atau semacam taxi gelap. Iya, mungkin, karena saya tak paham sama sekali bahasanya. Saya hanya menggelengkan kepala meskipun tak tahu sama sekali yang dia tawarkan. Yang jelas saya juga tak mau keluar ke arah jalan.

Since I have no clue, saya hanya mengikuti ke mana arah orang-orang keluar setelah melewati custom. Waktu itu, begitu keluar saya berjalan ke arah kanan, sekaligus untuk menghindari taxi scam, dan di sinilah rupanya area semacam arrival hall. Terdapat beberapa deretan bangku yang saling berhadapan dan terlihat banyak yang kosong. Langsung saya berpikir untuk tidur dan ngemper di sini sampai pagi. Tapi sebelumnya, biar istirahatnya nyaman saya pergi ke toilet yang letaknya persis di seberang deretan bangku. Saya pikir bisa cuci muka dan buang air kecil dengan lebih nyaman setelah penerbangan yang cukup melelahkan sebelumnya.

dsc01808

Arrival Hall

Namun…justru drama selanjutnya terjadi. Saya masuk ke toilet perempuan, cahayanya tidak terlalu terang. Oh, saya pikir karena memang sudah tengah malam dan sudah sedikit yang menggunakan sehingga lampu dikurangi. Setelah masuk, ternyata lantai di depan wastafel becek dan beberapa bilik toilet yang terbuka juga becek. Tak ada orang waktu itu, kecuali seorang perempuan berseragam cleaning service yang juga baru masuk. Kelar urusan di salah satu bilik, saya mencuci tangan di wastafel ketika kemudian ada seorang wanita yang terkesan terburu-buru masuk salah satu bilik toilet dan langsung jongkok tanpa menutup pintu. Persis di bilik yang letaknya di belakang saya berdiri menghadap wastafel dengan kaca cermin yang besar. Tanpa basa basi dia kencing dan saya cuma bisa melongo, sedikit shock. Wah ternyata apa yang saya dengar dan baca selama ini mengenai kebiasaan ‘ajaib’ penduduk China daratan adalah bukan sekedar mitos.

Kelar urusan toilet, saya langsung duduk di deretan bangku yang masih kosong. Saya letakkan tas di bawah samping kursi, dan mencoba merebahkan badan. Tapi suasana tidak terasa nyaman. Masih ada beberapa orang yang lalu lalang. Saya memilih duduk kembali, sambil melihat beberapa papan petunjuk yang sebagian tidak bisa dibaca karena menggunakan huruf kanji. Sambil mencoba mencari petunjuk ke mana arah menuju bis nanti pagi. Sampai ada seorang anak perempuan duduk di samping saya, terpisah dua bangku di sebelah kanan saya. Dia cuma diam, saya pun diam sambil membuka ponsel membuang kejenuhan.

Mungkin ada sekitar 15 menit sampai akhirnya dia beranjak dan berdiri, lalu menghampiri saya dan memberikan secarik robekan tisu toilet. Iya, tisu toilet. Saya tak paham apa maksudnya, saya hanya menerimanya sambil tersenyum. Lalu gadis itu pergi, namun saya masih saja memperhatikan arahnya berjalan. Sampai dia menghampiri seorang pria yang juga sedang duduk agak jauh dari deretan kursi saya. Gadis itu pun memberikan sesuatu, yang saya perkirakan sama dengan yang dia berikan kepada saya tadi. Hmm..rupanya ada yang tidak wajar, ada yang ganjil dengan gadis yang tadi duduk di samping saya.

Bolak-balik saya mengecek waktu di ponsel, kadang melirik ke jam tangan. Waktu sepertinya berjalan sangat lambat. Saya hanya ingin cepat-cepat pagi, ingin tak menemui hal-hal aneh lagi di bandara antah berantah ini. Tapi jam masih menunjukkan bahwa saya masih harus bersabar sampai kira-kira 5 jam ke depan.

Kemudian ada lagi yang duduk di sebelah saya. Seorang pria yang saya yakin adalah penduduk lokal, namun berbeda suku dari orang Tiongkok yang biasa saya temui. Saya menoleh ke arahnya, dia tersenyum sambil mengeluarkan mimik seolah dia meminta izin untuk duduk di deretan kursi saya. Saya balas dengan senyum sambil mengangguk. Dia berusaha bekomunikasi, namun saya memberi tanda bahwa saya tak mengerti bahasanya. Sampai akhirnya dia menunjukkan layar ponselnya, menyuruhku membaca tulisan dari sebuah aplikasi penerjemah. Yang kira-kira maksudnya, “Please buy my Qurán application for donation”.

Kata “donation” sebenarnya membuat saya merasa ngga enak untuk menolak. Namun, dalam kondisi saya tak mengenalnya, saya sendirian di tempat yang saya pun baru pernah menginjakkan kaki, dan ini tengah malam, mendorong saya untuk lebih mawas diri terhadap semua bentuk spam. Karena itu, saya pun menolak, “No, thank you. I already have Al-Qur’an application on my phone” sambil menggelengkan kepala lalu menunjukkan logo aplikasi iQuran Lite di ponsel. Berharap dia juga memahaminya. Syukurlah dia tidak memaksa dan cuma menganggukkan kepala, seolah tidak masalah karena saya menolak tawarannya.

Saya kembali cuek bermain ponsel, dan pria itu masih duduk di situ. Kemudian terdengar sayup lantunan bacaan Al-Quran, dari ponsel pria tersebut. Saya pun mulai konsentrasi memastikan jika itu benar bacaan ayat suci. Sampai saya kembali menoleh ke arahnya.

Karena penasaran, saya tanya dia, “Are you Muslim?” takut tak paham, saya ulangi “Muslim??”.

Dia mengangguk, “Yes Muslim” katanya dengan antusias. Kemudian membuka dompet dan menunjukkan kartu identitasnya, semacam KTP. Ada foto dirinya dan daftar identitas yang semua tertulis dalam huruf kanji, kecuali tanggal lahirnya.

Saya sempat agak girang, “You speak English?” tanyaku kembali.

“English?” jawabnya, “No” dia menambahkan.

“Ooh, ok.” timpalku kembali.

Seketika harapan saya hilang untuk sekedar bertanya tentang transportasi bandara atau lebih luas lagi tentang kehidupan Muslim di Xi’an. Saya malah menjadi canggung, bertemu sesama saudara Muslim di negara yang Islam minoritas, tapi tak banyak yang bisa dilakukan karena terkendala bahasa. Mungkin salah satu alasan pria ini sengaja duduk di samping saya adalah karena melihat saya berhijab, dan sepertinya mau tahu apa tujuan saya ada di sini.

Beberapa menit berlalu, pria itu mengisyaratkan akan meninggalkan tempat duduknya namun dia meninggalkan tas yang dia bawa tetap di kursi sebelah saya. Saya mengangguk. Dia menitipkan tasnya dan kemudian pergi ke arah kedatangan penumpang, seperti menunggu seseorang. Dalam hati saya bertanya, kenapa dia mempercayakan tasnya kepada orang yang sama sekali tak dia kenal?. Beberapa menit kemudian dia kembali dan seperti mengucapkan terimakasih, namun tanpa ucapan yang saya mengerti.

Saya sadar batere ponsel semakin menipis, saya melihat ada steker di seberang tempat saya duduk.  Sekarang gantian saya yang menitipkan tas. Saya memberi isyarat akan mengisi batere ponsel. Dia mengangguk. Saya bergegas menaruh charger dan ponsel di sana, saya tinggalkan dan kembali duduk. Saya biarkan seperti itu, karena masih bisa saya pantau selagi saya duduk dari seberang.

img_20160512_002213

Menunggu pagi.

Malam berjalan menuju pagi, tak banyak yang bisa dilakukan di bandara ini. Kios-kios penjual makanan pun sudah tutup, hanya tersedia air minum gratis di dispenser sebelum pintu masuk ke toilet. Mungkin wajah saya semakin menunjukkan ‘kengenesan’, sendirian, lelah dan tak bisa berbahasa lokal. Hal ini yang mendorong pria tadi tiba-tiba bertanya ke saya. Masih dengan bahasa tubuh. Sambil menyatukan semua jari tangannya dan mengarahkannya ke mulut, saya tahu yang dia maksud. Apakah saya sudah makan? Saya meniru gerakannya kemudian menggelengkan kepala. Kemudian dia membuka tas yang sedari tadi ada di samping saya, mengeluarkan bungkusan plastik dan mengambil isinya. Dia menyodorkan mie instan dalam gelas berukuran besar, atau biasa disebut cup noodle.

Saya menolak, “No, thank you. I’m still full, it’s okay”, berharap dia paham maksud saya. Tapi dia memaksa, menunjukkan logo halal di atas kemasannya. Mungkin dia takut saya tak mau makan karena cup noodle tidak halal. Saya pun takjub dengan makanan halal yang dia bawa dan kebaikannya menawarkan makan ke saya. Dia terus memaksa agar saya bisa makan, sambil menunjukkan posisi dispenser di mana saya bisa menyeduh cup noodle tadi.

Tanpa basa-basi lagi, dia menaruh cup noodle di atas tas yang sedari tadi saya pegang. Dia membawa tas plastik pembungkusnya dan membuangnya di tempat sampah. Kemudian dia pergi tapi meninggalkan tasnya masih di samping saya. Speechless dan bingung, antara sangat berterimakasih dan hampir tak percaya dengan apa yang barusan terjadi. Dari tadi saya malah menaruh curiga kepada pria yang saya anggap -sok kenal dan sok dekat-, namun justru dia berniat baik meskipun kami tak banyak berkomunikasi.

Beberapa saat kemudian dia kembali dan mengambil tasnya sambil berpamitan. Dia pergi dengan dua perempuan yang sepertinya adalah keluarga yang sudah dia tunggu dari tadi, tanpa saya mampu membalas kebaikannya. Dari kejadian ini saya belajar, tak perlu alasan untuk berbuat baik. Dari kebaikan yang saya terima, seperti ada perintah dan keinginan besar untuk membalasnya dengan berbuat baik kepada orang lain.

img_20160512_021722_hdr

Halal Cup Noodle, dari orang tak dikenal. Rezeki memang bisa datang dari sumber yang tak diduga-duga

Diusir Petugas Bandara

Waktu menunjukkan jam 2 pagi, ketika saya sudah mulai mengantuk dan berusaha memejamkan mata dengan hanya bersandar di kursi. Sampai pada saatnya ada petugas berseragam membangunkan beberapa orang yang sedang tidur dan yang sedang menonton tayangan televisi di dekat pintu toilet. Saya tak tahu apapun yang dikatakan petugas tersebut dengan cukup keras dan tegas. Dia menunjuk ke arah pintu keluar, menyuruh orang-orang untuk keluar dari area ini. Saya melihat orang-orang mulai mengemasi tas bawaannya dan bergegas menuju pintu yang ditunjuk oleh petugas itu. Jujur tak tahu ke mana saya harus pergi, di luar udara dingin dan tak ada angkutan umum, apa ya saya mesti menunggu di pick up point sampai pagi?

Saya lagi-lagi hanya mengikuti serombongan orang yang berjalan ke luar. Lalu mereka menyeberangi jalan dan memasuki sebuah gedung yang cukup besar. Ternyata di sinilah terminal bus bandara di mana seharusnya saya menunggu dari tadi. Di sini ada lebih banyak kursi, beberapa tempat makan juga walaupun sudah tutup, ada toilet, dispenser air gratis dan banyak soket untuk charger. Hmm..ternyata petugas tadi mengarahkan kami untuk menunggu bis pagi di sini.

Saya mendapat tempat cukup nyaman, satu deret kursi dan soket listrik di pojokan. Tempat yang sempurna untuk merebahkan badan dan mengisi batere ponsel, sambil menunggu bus paling pagi menuju ke kota Xi’an.

img_20160512_055644_hdr

Area terminal Airport Shuttle Bus, tempat yang cukup nyaman untuk menunggu sampai pagi

Tips bermalam dan transportasi dari Bandara Xianyang:

Jika pesawat landing malam hari, bisa tidur di bandara Xianyang. Keluarlah sampai ke jalan tempat pick up dan drop off point. Lalu menyeberang ke gedung terminal bus bandara. Di sana banyak sekali tempat duduk memanjang yang bisa digunakan untuk tidur. Colokan listrik juga ada banyak, dan tersedia dispenser air minum gratis.

Transportasi menuju ke kota Xi’an sangat mudah dengan Airport Shuttle Bus. Tiket bisa dibeli di loket tiket seharga 25 Yuan. Ada beberapa titik tujuan bis di kota Xi’an, diantaranya Xi’an Railway Station, North Railway Station, dan Hotel Oriental.

img_20160512_060037_hdr

Counter tiket Airport Shuttle Bus

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s