China, Daily Life, Trip
Comment 1

One Day Trip to Mt. Huashan: Perjalanan dengan Kereta Cepat

Sehari sebelum berangkat, Li Li, teman seperjalanan ke Musium Terracotta Warrior, sempat memperingatkanku bahwa hari ini akan hujan sepanjang hari. Dia menanyakan apakah saya yakin akan tetap berangkat ke Huashan. Mungkin juga akan berbahaya jika saya tetap memaksakan diri treking di pegunungan yang terkenal sebagai salah satu “the most dangerous track in the world”. Apalagi tiket kereta cepat yang sudah saya beli lewat travelchinaguide.com sayang jika hangus begitu saja. Belum lagi Mt. Huashan adalah salah satu tujuan saya datang ke Xian, jadi tanpa ragu dan bimbang meskipun sedikit galau saya semangat tetap pergi dalam kondisi cuaca apapun.

Dari Bell Tower, saya naik subway menuju ke stasiun Xian North untuk mengejar kereta pukul 09.19 pagi yang akan membawa saya ke Huashan North, stasiun terdekat menuju pegunungan Hua (Hua Shan). Di kota Xian ada dua stasiun besar yang menghubungkan Xian dengan kota-kota lain di Tiongkok, yaitu Xian North dan Xian Railway. Xian North adalah stasiun untuk menaiki kereta cepatnya Tiongkok atau disebut China Railway Hub (CRH), sedangkan kereta Ordinary naiknya dari Xian Railway. Saya memilih naik kereta cepat demi mempersingkat waktu tempuh, saya juga ingin menjajal kereta cepat produk Negeri Tirai Bambu setelah sebelumnya saya sudah merasakan duduk manis dalam kereta cepatnya Jepang dan Korea Selatan.

Cara booking tiket kereta api di China sebenarnya tidak susah, tapi juga tidak semudah di Indonesia, yang bisa lewat banyak aplikasi bahkan lewat minimarket. Saya memesannya sebelum berangkat, dari Indonesia. Ada beberapa website yang menjual tiket secara online, antara lain www.ctrip.com dan www.travelchinaguide.com. Biasanya tiap website mengenakan biaya booking di luar harga tiket. Saya memesannya lewat travelchinaguide, bukan apa-apa saya memilihnya, hanya saja saya pasti harus memilih salah satunya. Begitu booking tiket telah terkonfirmasi, kita akan mendapat semacam kode booking dan rincian itinerary, yang mesti diprint dan ditunjukkan untuk ditukar dengan tiket asli di loket stasiun. Iya, harus di loket, yang petugasnya susah diajak ngomong Inggris. Waktu menukar tiket saya disuruh bayar 5 Yuan oleh petugas loket. Entah pungli atau bukan, yang jelas tak ada keterangan di website bahwa akan terkena biaya saat mencetak tiket asli.

xian-north

Xi’an North Station, saya ambil dari google karena tak sempat foto waktu itu

train

Jadwal dan harga tiket hasil booking online

img_20160514_084056_hdr

Gate menuju peron, ada pemeriksaan tiket lagi

Naik kereta di negara ini cukup ribet, identitas dan barang bawaan akan dicek secara ketat seperti hendak naik pesawat. Belum lagi harus antri karena penumpang kereta yang sangat banyak. Jadi wajib hukumnya untuk datang minimal satu jam sebelum jadwal kereta dan sudah menukar bukti booking ke tiket fisik minimal sehari sebelumnya. Perjalanan ke Huashan North hanya memakan waktu 40 menit. Jarak dari kota Xian sekitar 130 km, dengan kecepatan kereta yang bisa mencapai 300 km/jam, perjalanan ke Huashan tidak begitu berasa.

dsc02630-1

Penumpang yang akan menuju ke Beijing

dsc02627-1

Interior gerbong second class

dsc02632-1

Tiket cetak CRH

dsc02634-1

Hiburan di kereta, menyulam

Hujan sudah mulai turun sejak saya masih dalam perjalanan di kereta ke Huashan. Bahkan saat kereta sudah sampai hujan masih saja deras. Setibanya di Huashan North, niatnya saya ingin duduk sebentar, buka internet menentukan apa yang harus saya lakukan selanjutnya. Tapi petugas keamanan stasiun langsung ‘mengusir’ semua penumpang yang baru turun untuk meninggalkan peron. Dia mengarahkan agar kami langsung berjalan ke arah pintu keluar.

Sesampainya di pintu keluar stasiun, saya tak menemukan informasi apa pun mengenai arah menuju ke pintu masuk pendakian Huashan. Ada deretan kios pedagang makanan dan barang klontong. Ada juga beberapa pedagang asongan yang rata-rata sudah tua nenawarkan ponco dan sarung tangan. Beberapa taxi juga terparkir di situ, yang supirnya sedang berlomba menawarkan jasanya ke orang-orang yang baru keluar dari stasiun, termasuk saya.

Seorang nenek menawarkan jas ponconya kepadaku, 10 Yuan akhirnya saya belanjakan untuk sebuah ponco plastik dan sarung tangan. Saya tak kuasa menahan iba, meskipun sudah lanjut usia dia tetap gigih mencari rezeki di tengah hujan deras dan udara dingin. Coba bayangkan jika kamu dalam posisinya. Saya pikir barang yang saya beli juga akan dibutuhkan nanti.

Udara terasa semakin dingin dan saya masih mencari cara ke stasiun pendakian Huashan. Berdasarkan informasi yang saya baca di internet, dari Huashan North ada minibus shuttle berwarna hijau gratis ke sana. Saya perhatikan memang ada bus berwarna hijau terparkir di ujung parkiran, tapi tak melihat ada seorang pun dari orang yang tadi keluar dari stasiun yang menuju ke bus tersebut. Supir atau petugas pun tak saya lihat. Bus kosong, dan jika saya memaksa menunggu pasti hanya akan membuang waktu. Jadi saya putuskan untuk mulai luluh terhadap tawaran para supir taxi tembak tadi.

Seorang yang dari tadi mengikuti sudah saya tolak karena dia memaksa minta tarif 30 Yuan. Kemudian ada lagi yang juga menawarkan dengan harga sama, tapi dia membawa brosur yang berbeda dari bapak-bapak tadi. Bahasa tubuhnya agak berbeda. Karena sudah tidak mau lagi membuang waktu, saya terima saja tawarannya. Sepuluh menit berlalu, saya merasa sudah jauh dari stasiun, dan perasaan saya mulai ngga enak.

dsc02662

Huashan North: kereta berjalan menuju Beijing

dsc02908-1-2

Huashan North Station

Saat taxinya berhenti, saya tidak menemukan tempat seperti yang dibayangkan. Sepi, dan hampir tak terlihat aktifitas orang. Padahal kupikir akan ada loket tiket dan setidaknya ada rombongan orang dengan atribut hendak naik gunung. Masih di dalam taxi, saya clingak-clinguk dan si supir dengan bahasa tubuhnya bilang jika saya sudah sampai. Tapi dia menunjukkan pose orang tidur, dan menunjukkan matahari pagi di brosur yang saya pegang. What? Maksudnya ini hotel? Dikira saya mau bermalam agar besok bisa menyaksikan matahari terbit dari puncak Huashan.

“No, No. This is not the place I want to go”, dengan susah payah saya berusaha memberi penjelasan kalau saya bukan mau ke sini, sambil memperlihatkan gambar cable car dan rute treking Huashan. Lalu saya tunjukkan titik stasiun cable car, “This, I want to go here!”. Untung akhirnya dia ngerti saya bukan mau mencari penginapan tapi langsung ke Hua Shan , dia pun kembali melajukan taxinya. Sepanjang sisa perjalanan taxi jujur saya was-was, pasrah mau dibawa ke mana lagi. Yang kepikiran waktu itu justru the worst thing that possibly could happen to me. Jalan raya yang sepi, tak saya lihat satu pun kendaraan taxi yang lain, apalagi angkutan umum. Hujan. Tak bisa berbahasa lokal dan ini adalah benar-benar tempat asing bagi saya. Membayangkan esok hari akan muncul di laman berita internasional seorang turis asal Indonesia yang mengalami peristiwa buruk, naudzubillah jangan sampai terjadi.

Tapi alhamdulillah semua bayangan tragis tadi tak terjadi. Saya diantar ke tempat yang benar, di depan pintu gerbang ticket hall Huashan. Saya bayar 30 Yuan sesuai perjanjian, eh si supir bilang katanya kurang, mimiknya gitu lah protes suruh saya nambah 10 Yuan lagi. What? Saya agak protes, sambil menunjuk 3 jari sesuai yang dia tunjukkan waktu saya akan naik di stasiun. Tapi dia ngotot katanya dia muter dan 30 Yuan itu kalau saya turun di hotel tadi, dan akhirnya saya ngalah. Merelakan 10 Yuan lagi, padahal ini karena salah komunikasi, tapi memang tak akan mungkin bisa terjadi komunikasi yang baik, dia tak bisa bahasa lain selain bahasa lokal sedangkan saya hanya mengerti satu kata, sie sie.

Gedung ticket hall berjarak sekitar 100 meter dari jalan raya. Saya masih harus berjalan di tengah hujan menuju gedung itu. Di jalan saya bertemu beberapa orang yang saya yakin juga memiliki tujuan yang sama. Mereka sudah lengkap dengan jas ponco hujan yang melindungi dari kepala sampai ujung kaki. Dan akhirnya, gedung berbetuk segitiga sama kaki (bukan segitiga siku apalagi segitiga sembarang) dengan latar belakang pegunungan berkabut saya lihat dengan penuh kegembiraan.

Dari pintu masuk, saya langsung dihadapkan pada ruangan luas. Banyak poster gambar masing-masing puncak Huashan, dan beberapa informasinya. Sementara di satu sisinya adalah deretan loket tiket. Sebelum menentukan untuk membeli tiket, saya berusaha mengumpulkan informasi tentang rute pendakian Huashan terlebih dulu dari beberapa poster di situ. Sampai akhirnya ada seorang pemandu mendekatiku, dan senangnya saat tahu dia bisa berbahasa Inggris.

img_20160514_102838_hdr

Ticket Hall menuju kawasan pendakian Huashan

Saya mencoba menggali banyak informasi darinya, karena dia sangat ramah menjawab seluruh rasa penasaran saya. Mulai dari titik mana saja bisa memulai pendakian, berapa lama durasi treking dari tiap-tiap titik, dan biaya atau tiket apa saja yang mesti dibeli. Karena sore harinya saya mesti balik lagi ke kota Xi’an, maka dia pun menyarankan agar saya tidak usah mengambil full route.

Huashan merupakan gugusan pegunungan batuan (cliff) bukan gunung yang berdiri sendiri dan memiliki kawah di puncaknya. Pegunungan yang memiliki rute pendakian yang cukup berbahaya ini juga merupakan gunung yang disucikan dalam ajaran Taoisme. Sehingga tidak heran jika terdapat beberapa kuil yang dibangun di atas pegunungan batu ini. Terdapat 5 titik puncak Huashan, yaitu East Peak, South Peak, Middle Peak, West Peak, dan North Peak. Dari mana pun kita memulai mendaki, semuanya bisa terhubung karena sudah ada jalurnya. Masing-masing puncaknya memiliki atraksi menarik tersendiri. Di sini lah saya mulai galau.

Dengan waktu hanya sekitar 4 jam, karena harus naik kereta jam 17.15 kembali ke Xi’an, saya mesti tepat memilih jalur yang cukup singkat namun tidak terlalu mengecewakan. Jalur mana yang saya pilih? Dan kejutan apa yang saya dapatkan di atas Huashan? Akan saya bahas di postingan inito be continued.

Advertisements

1 Comment

  1. Pingback: One Day Trip to Mt. Huashan: Salju di Bulan Mei | Langkah - Langkah Kecil

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s