China, Culture, Trip
Leave a Comment

Obrolan Kecil di Masjid Besar Xian

Empat hari saya di Xián selalu diakhiri dengan mencari makanan di sepanjang Beiyuanmen Street atau Muslim Quarter, mencicipi makanan yang sama sekali asing di lidah dan menikmati ramenya jika hari memasuki malam. Namun di satu sore saat itu, saya menyempatkan datang lebih awal menjelang waktu Solat Ashar. Tujuan saya ke sebuah masjid tua yang terletak di samping jalan itu. Masjid yang konon adalah masjid terluas di daratan China.

DSC01858

Gapura di depan gang menuju Masjid Besar Xian

Dari Drum Tower tak jauh di samping kiri jalan, dekat toko souvenir, gapura di depan gang menuju masjid berdiri dengan tegap. Untuk menuju ke masjid, saya harus melewati puluhan kios souvenir begitu berbelok ke dalam gang. Mungkin ada sekitar 200 meter panjangnya, berbagai pernak pernik khas negeri Tiongkok dijual di sini. Sesekali saya pun ditawari untuk melihat-lihat, meskipun saya tak mengerti benar arti ucapan para pedagang di sana, namun bahasa tubuh mereka terlihat jelas. Sayangnya, saya selalu dikira berasal dari Malaysia.

Tepat di ujung lorong deretan kios-kios tadi, pintu masuk ke area masjid berada. Lumayan membingungkan memang, saya awalnya juga sempat ragu apakah benar di sini letak Masjid Besar Xián, karena tak terlihat sama sekali wujud masjid pada umumnya. Hingga saya melihat sebuah loket yang menunjukkan harga tiket masuk Masjid Xián.

Ketika hendak mengeluaran uang untuk membeli tiket masuk, seorang pria yang duduk di pinggir gerbang melarang saya dan menyuruh saya langsung masuk saja ke dalam. Sekali lagi saya ditanya, “(from) Malaysia?”dan langsung saja saya jawab, “No, I’m from Indonesia”. Untung bapak itu mengangguk sambil tersenyum bilang, “Oh… Indonesia”, dan tetap mempersilahkan saya masuk. Entah dia tahu apa tidak kami sebenarnya Negara yang berbeda, tapi bertetangga, dan mayoritas memang Muslim dan wanitanya memakai kerudung. Mungkin juga karena itu saya digratiskan dari biaya masuk 25 Yuan atau sekitar 50 ribu Rupiah. Alhamdulillah.

Sekarang masjid ini memang menjadi salah satu tourist spot yang terkenal di Kota Xián. Selain itu juga merupakan situs Islam penting yang ada di China. Xián Great Mosque telah masuk ke dalam situs sejarah yang diakui oleh UNESCO sejak tahun 1985. Keberadaanya tak terlepas dari sejarah Xián sebagai titik awal jalur sutera (silkroad) sebelah timur. Ketika ribuan tahun lalu para pedagang dan Saudagar Muslim berdatangan dari Barat. Islam masuk ke China pada masa Dinasti Tang yang dibawa oleh para Saudagar Arab. Banyak dari mereka yang menetap di China dan menikah dengan suku Han. Sampai sekarang keturunan mereka pun masih memeluk agama Islam.

Konstruksi awal masjid ini dimulai pada tahun 724 pada masa Dinasti Tang di China. Selanjutnya masjid ini terus mengalami penambahan bangunan oleh Dinasti Song (960-1279), Yuan (1271-1638), Ming (1368-1644), dan Qing (1644-1911). Sehingga tidak heran jika di kompleks Masjid terdapat beberapa jenis arsitektur bangunan yang berbeda yang menunjukkan gaya bangunan masing-masing masa Dinasti.

Memang, jangan harap bisa melihat kubah dan minaret masjid yang sering kita lihat sebagai bentuk umum tempat ibadah umat Islam. Masjid Besar Xián sama sekali tak memilikinya. Arsitektur masjid ini merupakan perpaduan antara arsitektur tradisional China dengan seni Islam. Luasnya kompleks bangunan yaitu sekitar 12.000 meter persegi terbagi menjadi empat halaman Masjid.

Begitu memasuki halaman pertama saya langsung melihat bangunan mirip gapura setinggi 9 meter yang bagian atasnya berupa kayu melengkung dilapisi ubin yang mengkilap menandakan model dari abad ke-17. Terdapat taman dengan berbagai tanaman hias yang subur berwarna hijau. Sementara di kanan kiri area halaman adalah bangunan yang memajang benda-benda peninggalan Dinasti Ming dan Qing.

DSC02076DSC02084-1DSC02080-1

Selanjutnya saya melewati sebuah gerbang atau gapura lagi menuju halaman kedua. Di sini terdapat sebuah stone arch, semacam gerbang terbuat dari batu, yang di kanan kirinya terdapat masing-masing batu prasasti bertuliskan kaligrafi dari kaligrafer terkenal pada zamannya.

Gerbang halaman ke tiga merupakan aula yang di tengahnya ada beberapa prasasti yang berdiri di sebelah kanan dan kiri. Begitu melewatinya saya melihat Xingxin Tower yang merupakan prayer hall di sini. Di tengah-tengah halaman keempat atau terakhir ini terdapat Phoenix Gazebo, berbetuk hexagonal.

DSC02103-1

Prayer hall yang merupakan bangunan utama dan paling penting dari masjid ini bisa menampung jamaah lebih dari 1.000 orang. Mungkin tergolong kecil dibandingkan masjid-masjid Besar yang rata-rata bisa menampung lebih banyak jamaah.

DSC02112-1DSC02116-1DSC02117-1DSC02123-1

Tidak semua pengunjung kompleks Xián Great Mosque diperbolehkan masuk area prayer hall, namun saya beruntung justru disuruh masuk ke dalam untuk melihat interior masjid sekalian menjalankan solat Ashar. Sebelumnya ada seorang pria tua yang menghampiri ketika saya sedang membaca papan informasi masjid. Bapak berkopiah putih ini sangat ramah dan berinisiatif untuk memberikan informasi seputar masjid Xián. Di samping bertanya rasa penasarannya kenapa saya bisa jauh-jauh datang ke Xián, dia juga menyampaikan bahwa saya bebas jika mau melihat-lihat ke bagian dalam dan mengambil foto atau menjalankan solat. Bagi non Muslim atau yang tidak mengenakan jilbab, disediakan juga jubah jika ingin masuk ke area prayer hall, tapi hanya di luar waktu solat.

Saya begitu terkesan begitu masuk ke dalam, yang justru mengingatkan saya dengan masjid-masjid tua di Pulau Jawa peninggalan Para Wali. Semua terbuat dari kayu, masih asli dan tentunya terlihat sudah sangat tua. Dari langit-langit, dinding, pilar, lantai semua terbuat dari kayu. Semakin terkesan ketika saya mendekat dan memperhatikan dinding-dindingnya. Ternyata itu adalah lempengan kayu yang bertuliskan ayat-ayat Al Quran. Sangat detail persis seperti lembaran Al Quran dari kayu yang dipajang.

DSC02126-1DSC02133-1DSC02144-1DSC02141-1

Setelah puas berkeliling, sebelum meninggalkan masjid, saya sempatkan mengobrol dengan tiga bapak-bapak di teras prayer hall. Ketika saya bilang berasal dari Indonesia, salah satu dari mereka langsung menimpali bahwa kopiah yang dia pakai mirip dengan yang biasa dipakai oleh Soekarno, Presiden pertama Indonesia. Ya, saya juga terkejut dia tahu tentang sejarah Indonesia. Seolah tak mau kalah dengan temannya, bapak yang satunya mengeluarkan koleksi uang asing dari sakunya. Dan dengan bangganya memamerkan uang pecahan lima ribu dan seribu Rupiah, sebagai bukti dia tahu tentang Indonesia. Aahh, senangnya, mereka berusaha membuat saya merasa dekat dengan mereka. Meskipun kami tak banyak punya kata yang ‘nyambung’untuk mengobrol, tapi mereka berusaha respek ke saya.

Di akhir, saya diberi kesempatan untuk membawa salah satu buku yang tadinya ditunjukaan si bapak. Buku berisi surat-surat Al Quran dan doa-doa dengan tulisan Arab, lafal Arab ditulis dengan huruf Kanji, serta terjemahan dalam Bahasa China yang diterbitkan Xián Great Mosque. Terimakasih Pak, ini oleh-oleh tak ternilai harganya dari Xián. Bukan hanya bukunya yang saya bawa pulang, tapi juga ingatan akan keramahan kalian.

Xián, 12 Mei 2016

DSC02147-1DSC02145-1

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s