Cambodia, Culture, Trip, Vietnam
Leave a Comment

10 Hari: 5 Negara dan 7 Kota Asia Tenggara Part 1

“Traveling is about survival, fast adaptation, learning different perspective, accept uncertainty, and kick yourself from comfort zone”

Saat itu saya berpikir ingin melakukan sesuatu yang baru, dan perlu ‘memaksakan’ diri untuk mewujudkannya. Yang juga terpikirkan di kepala adalah ingin menghabiskan jatah cuti tahunan yang tak mau begitu saja hangus. Secara tak sengaja saya juga menemukan sebuah maskapai penerbangan yang menggelar promo penerbangan Jakarta – Ho Chi Minh hanya 700 ribu rupiah dengan waktu transit yang cukup lama di Singapura. Jadilah ide untuk cross country ke beberapa Negara Asia Tenggara muncul di kepala.

Negara Asia Tenggara atau sebut saja ASEAN merupakan Negara bebas visa bagi pemegang paspor Indonesia. Hal ini bisa jadi kesempatan kamu untuk bepergian ke luar negeri tanpa repot mengurus visa. Sekaligus untuk menambah perbendaharaan Negara yang dikunjungi, terutama kamu yang travel addict. Begitu pun pikir saya. Beberapa Negara terletak di satu daratan yang biasa disebut Indochina, sehingga memungkinkan untuk dilakukan perjalanan darat menyeberang ke beberapa Negara sekaligus. Saya mulai berpikir demikian. Dimulai dari paling selatan, Vietnam, merambat ke utara Kamboja, kemudian bisa ke Thailand atau Laos.

Banyak hal menarik yang sebenarnya sudah ada di benak saya tentang Negara ASEAN, yang membuat saya ingin sekali untuk menjelajahnya. Dimulai dari gaya hidup, sejarah, budaya, tingkat perekonomian, cuaca dan kearifan lokal yang mungkin sebenarnya tak jauh berbeda satu sama lain. Dan justru hal itulah yang menarik dan menumbuhkan rasa penasaran bagi saya untuk merasakan perbedaannya. Bukan keindahan alamnya, karena saya yakin Indonesia masih yang terbaik.

Kebiasaan saya sebelum pergi ke suatu tempat yang baru adalah riset. Beruntung bagi traveler jaman sekarang, ketika ada kemudahan akses internet. Jendela informasi dan ilmu terbuka begitu lebar. Semua informasi tentang negara dan tempat yang akan kita kunjungi sudah pasti ada banyak, mulai dari Wikipedia, web traveling sampai blog pengalaman perjalanan. Tinggal seberapa rajin dan jeli kita menggali dan mengumpulkan informasi menjadi bekal yang cukup untuk jalan.

Selama di perjalanan tentunya tak semuanya berjalan dengan mulus. Bertemu scammer bermuka malaikat, mencicipi makanan baru yang ternyata rasanya aneh, terpaksa membayar di atas harga normal, adalah hal ‘normal’ yang saya alami, meskipun saya telah membaca pengalaman orang sebelumnya. Namun percayalah, bertemu orang baik yang tak terduga itu akan lebih sering terjadi.

Oke, saya rangkumkan perjalanan sepuluh hari saya ke lima negara ASEAN yaitu, Singapura, Vietnam, Kamboja, Thailand, dan Malaysia, dengan 4 penerbangan dan 1.260 km perjalanan darat.

Hari 1

Berangkat ke Singapura. Sampai di sana tengah malam dan saya memutuskan menginap di Changi Airport. Demi ngirit? Pastinya. Lagian tidak ada masalah menginap di bandara yang mendapat gelar bandara terbaik di dunia selama tiga tahun terakhir. Bioskop gratis ada, restroom sangat nyaman, kursi untuk merebahkan badan juga banyak. Cukuplah untuk merasakan hotel (red-bandara) bintang lima.

Eits, meskipun diperbolehkan menginap di dalam area bandara, pihak keamanan Bandara Changi akan mengadakan sidak pas tengah malam sekitar jam 2. Jadi jangan kaget, kalau sedang enak-enaknya tidur tiba-tiba ada yang membangunkan. Petugas akan memeriksa paspor dan tiket atau boarding pass. Biasanya untuk penumpang dengan connecting flight atau penerbangan yang terlalu pagi keesokan harinya, akan aman dan diperbolehkan tidur.  Tapi kalau sengaja tidur untuk mengirit hotel tanpa ada tiket, saya pikir mending tidak di sini.

IMG_20161118_235054_HDR

Changi Airport, kemewahannya tak diragukan lagi

Hari 2

Pagi harinya saya menuju ke kota karena connecting flight masih cukup lama yaitu jam 4 sore. Beberapa tempat bisa saya kunjungi dengan menggunakan MRT antara lain Marina Bay Sand sekalian Garden By The Bay, tanpa masuk cukup hunting foto di depannya saja. Terus saya ke Bugis, Little India, dan China Town.

DSC03580-2

Marina Bay

DSC03628

Marina Bay Sand dan Garden By The Bay

DSC03725

Masjid Sultan di kawasan Bugis

Setengah hari sudah cukup membuat saya lelah apalagi udara Singapura sangat panas. Saya juga mesti kembali ke Bandara untuk mengejar penerbangan menuju Ho Chi Minh. Kembali ke Changi dan check in masih dengan tiket yang sama dari Jakarta karena memang hanya penerbangan lanjutan dengan lama transit 15 jam. Jadi saya memanfaatkan waktu transit menjadi kunjungan 1 negara di trip ASEAN kali ini.

Sekitar pukul 6 sore mendarat dengan mulus di Bandara Tan Son Nhat di Ho Chi Minh. Di Bandara saya langsung menukar mata uang local VND dan membeli SIM Card yang harganya cukup mahal yang sebenarnya bisa dibeli di pinggir-pinggir jalan dengan harga yang lebih murah. Tapi karena saya merasa parno jika tidak konek internet, jadi terpaksa membeli kartu lengkap dengan paket internet sebelum melanjukan perjalanan ke kota. Apalagi hari juga sudah mulai malam.

Dari bandara ke kota saya naik bis lokal berwarna kuning nomor 109 dengan tarif 20.000 VND. Perjalanan sekitar 45 menit dan saya minta diturunkan di Jalan Pham Ngu Lao District 1, dekat hostel yang sudah saya booking. Saya menginap di Eco Hostel area District 1, kawasan turis backpacker, dengan tarif USD 6 per malam. Anehnya di sini, pada saat check in paspor saya diminta, bukan untuk difotokopi tapi ditahan sampai saya check out.

Hari 3

Saya eksplorasi Ho Chi Minh City, atau selanjutnya saya sebut Saigon saja sesuai dengan namanya yang lama. Saigon adalah kota terbesar kedua setelah ibu kota Vietnam, Hanoi. Terletak di Vietnam selatan, Saigon banyak memiliki bangunan bersejarah peninggalan kolonial Perancis maupun sisa perang Vietnam. Cukup dengan berjalan kaki dan bermodalkan peta wisata, hampir seluruh tempat-tempat ini berada di District 1. Mulai dari Ben Thanh Market, Post Office, Notre Dame Cathedral, Opera House, City Hall, dan War Remnant Museum. Untuk masuk ke dalam museum dan Independence Palace ada tiket yang mesti dibayar, selain itu semua free.

DSC03922

Ben Thanh, pasar tradisional tertua di Saigon

DSC03876

Opera House

DSC03941

Saigon Central Mosque

DSC03852

Post Office

DSC03819

Notre Dame Cathedral

DSC03804

Independence Palace

DSC03886

Saigon City Hall

Di Kantor Pos yang bangunannya Eropa banget, saya sempatkan berkirim kartu pos untuk adik saya di tanah air. Sayangnya sampai tulisan ini dibuat, kartu pos tersebut belum diketahui juntrungannya alias belum sampai ke alamat tujuan padahal saya sudah kembali ke Indonesia sejak 8 bulan yang lalu.

Tidak lupa saya juga mengunjungi masjid terbesar di Saigon yaitu, Saigon Central Mosque. Lokasinya berada di antara gedung-gedung tinggi dan hotel, tak jauh dari gedung Opera House. Inilah tempat favorit di Saigon. Karena saya menghabiskan waktu dari siang sampai petang di area ini agar bisa menjalankan solat Dzuhur sampai Isya dengan tenang. Di sekitar masjid juga ada beberapa restoran halal, dari yang bermenu Timur Tengah, Melayu maupun makanan lokal Vietnam.

Saya juga menyempatkan mencicipi makanan khas Vietnam, Pho Mie, yang halal. Lokasinya ada di gang kecil di belakang masjid Jamiul Islamiyah. Warungnya kecil, di perumahan warga namun sangat ramai dengan para pembeli yang rata-rata Muslim.

 

Hati-hati dengan tukang becak atau ricksaw di kawasan ini. Meskipun tidak semua seperti yang saya temui, waspada jika ada yang menawarkan paket keliling District 1 dengan harga 150.000 VND yang katanya diskon dari harga normal 400.000 VND. Si oknum yang saya temui ini bilang jika dia sering membawa turis Muslim misal dari Indonesia atau Malaysia, lengkap dengan foto dan testimoni yang positif. Dengan harga demikian dia siap mengantarkan ke manapun tujuan saya di kawasan Distrik 1 dan dia juga mau menunggu. Karena dia agak memaksa, dan saya agak kasihan akhirnya saya iyakan. Ternyata baru dua tempat yang saya kunjungi, dia sudah meminta bayaran 300.000 VND, karena saya sudah memakai jasanya lebih dari satu jam. Dan harga 150ribu itu adalah harga satu jam pertama. Bah…

Hari 4

Hari kedua di Saigon saya pergi ke Cu Chi Tunnel, lorong bawah tanah peninggalan Perang Vietnam, yang terkenal di kalangan turis dan terletak di luar kota Ho Chi Minh. Cukup memakan waktu di perjalanan dan harus berganti moda transportasi. Tapi saya sangat menikmatinya, berada bersama warga lokal di bis umum yang begitu unik. Tak mengerti Bahasa mereka sama sekali, tapi saya selamat sampai tujuan dan berhasil balik ke Saigon. Cerita lengkapnya nanti insyaallah saya ceritakan di postingan tersendiri.

DSC04089

Gerbang menuju Cu Chi Tunnel

DSC04019

Mencoba masuk ke dalam lorong bawah tanah

Sesampainya di Saigon, saya mampir lagi ke Saigon Central Mosque. Kali ini saya berjumpa dengan serombongan buruh migran asal Indonesia. Mereka sedang libur dan biasa memanfaatkannya untuk pergi ke kota untuk berbelanja atau hanya sekedar main. Maklum, pabrik sepatu tempat mereka mengais rezeki berada di luar Saigon. Katanya mereka selalu mampir ke masjid ini untuk melaksanakan kewajiban sebagai muslim. Kami sempat mengobrol, dan dari sini saya mendapatkan banyak cerita mengenai hidup sebagai Muslim di Vietnam. Tak seketat yang dikira, buktinya mereka masih dengan bebas bisa melaksanakan kewajiban sebagai Muslim, bahkan di pabrik tempat mereka bekerja bisa memanfaatkan ruangan kosong untuk menjalankan solat Jumat.

IMG_20161120_152611_HDR

Pekerja asal Indonesia di Vietnam

Hari 5

Pagi hari saya langsung check out hostel dan menuju agen travel tempat saya membeli tiket bis menuju ke Phnom Penh, Kamboja. Saya memesan bis paling pagi dan dapat bis Kumho Samco Busline pada jam 7 seharga 12 USD. Meskipun katanya saya harus sudah stand by jam setengah 7, nyatanya hampir jam 7 baru saya dijemput dengan menggunakan sepeda motor dan diantarkan ke kantor bisnya. Saya belum melihat bis di sekitar sini, dan ternyata saya dijemput lagi oleh sebuah camper van dan dibawa ke terminal bis. Di sinilah rupanya bis Kumho menunggu.

Kumho Samco memang bukan bis yang familiar dan biasa dipakai oleh para turis untuk overland Vietnam-Kamboja. Para backpacker biasanya lebih memilih Mekong Express atau Giant Ibis. Bis yang saya tumpangi ini hampir semua penumpangnya adalah warga lokal yang hendak menyeberang ke Kamboja. Sebelum berangkat kondektur membagikan satu botol minuman dan kardus berisi dua jenis camilan, paspor penumpang pun diminta dan dikumpulkan.

DSC04105

Menuju Kamboja

Perjalanan bus dari Ho chi Minh menuju Phnom Penh memakan waktu 6-7 jam. Saya masih ingat benar, ketika memasuki perbatasan darat Vietnam (Moc Bai, Provinsi Tay Ninh) dan Kamboja (Bavet, Provinsi Svay Rieng) yang bangunannya begitu ‘seadanya’, padahal itu adalah perbatasan internasional yang banyak dilintasi. Di imigrasi Vietnam, saya termasuk semua penumpang bus Kumho turun tanpa membawa paspor karena masih dibawa oleh si kondektur. Kami langsung diarahkan menuju sebuah bangunan non permanen yang lebih mirip dengan gudang. Di sini kami cukup disuruh mengantri karena si kondektur yang membawa paspor sudah berada di samping meja petugas imigrasi. Ya, saya kira mereka sudah saling kenal.

Setelah paspor dicap keluar Vietnam, tinggal melewati pos masuk ke Kamboja. Jaraknya cukup jauh, jadi kami masuk ke dalam bus lagi. Di counter imigrasi Kamboja relatif tidak terlalu ketat, tanpa banyak pertanyaan paspor saya langsung mendapatkan stempel dan resmilah saya memasuki Kingdom of Cambodia – nama resmi negara Kamboja.

Perjalanan dilanjutkan dan kami berhenti di sebuah rumah makan, mirip-mirip yang ada di jalur Pantura. Meskipun sebenarnya lapar, tapi saya memutuskan untuk tidak makan karena tak tahu komposisi makanannya. Bus hanya berhenti sekitar 30 menit dan kembali melaju menyusuri jalanan negara Kamboja. Tiba-tiba saya menjadi excited, tak mau sedikitpin mengalihkan pandangan mata melihat kanan-kiri jalan. Bukan karena pemandangan spektakulernya, melainkan kondisi kehidupan masyarakat Kamboja, yang membuat saya bersyukur hidup di Indonesia.

Jalan dari perbatasan tadi menuju ke Ibu Kota negara belum begitu bagus, bahkan fasilitas jalan raya seperti marka jalan dan trotoar pun tak begitu layak. Saya lebih sering melihat lahan kosong di sepanjang perjalanan dengan beberapa rumah penduduk berbetuk panggung tak permanen. Jarang ada pembangunan layaknya pusat kegiatan ekonomi atau bangunan semacam ruko. Jalan raya yang hanya satu lajur di setiap arahnya pun tak begitu ramai dengan kendaraan yang melintas. Sapi-sapi kurus yang diternak warga sesekali terlihat sedang merumput di ladang.

Sekitar jam 2 siang, bis sampai di pool kota Phnom Penh. Ternyata jaraknya lumayan jauh dari hostel yang telah saya booking sebelumnya. Jadi saya terpaksa harus naik tuk-tuk menuju daerah sekitar Central Market. Dari hasil tawar menawar dengan supir tuk-tuk, saya dapat harga 2 USD. Setelah saya bandingkan dengan memasukkan kurs ke Rupiah, jarak yang ditempuh ternyata sebanding dengan harga jika saya naik bajaj di Jakarta, artinya saya tak kena tipu (lagi).

DSC04127

Restaurant Halal di dekat Central Market

Karena waktu masih sore, saya memutuskan untuk mengeksplorasi kota. Cukup menyusuri pinggiran sungai Mekong yang merupakan pusat keramaian Phnom Penh. Di sini banyak warga lokal yang begitu menikmati sore duduk-duduk santai di pinggir sungai, bermain layang-layang, atau menikmati kuliner pedagang asongan.  Ibukota Kamboja ini, menurut saya jauh dari kata metropolitan. Tak ada angkutan umum nyaman yang terintegrasi, gedung perkantoran tinggi, bahkan jalanannya begitu kotor dengan sampah berserakan. Meskipun demikian, di sini saya banyak menemui turis asing.

Di Mekong riverside ada beberapa tempat yang bisa dikunjungi antara lain The Royal Palace, istana Kerajaan Kamboja, sayangnya saya telat dan sudah tutup untuk pengunjung. Selain itu ada Wat Phnom, sebuah kuil Budha yang dibangun pada tahun 1372 dekat dengan Central Market.

DSC04121

Wat Phnom

DSC04132

Mekong riverside

DSC04157

Royal Palace

DSC04179

Biksu melintas di depan Royal Palace

Saya mengabiskan satu malam di Phnom Penh dan menginap di One Stop Hostel yang berada di sekitar Central Market menghadap sungai Mekong. Dengan tarif 7 USD per malam, saya mendapatkan kamar female dormitory. Kamar yang diperuntukkan untuk delapan orang, malam itu hanya terisi 4 orang. Saya, dua orang Jepang dan satu orang Kanada. Malam itu kami semua memang memilih mager di kamar, jadilah kami bisa mengenal satu sama lain. Salah satunya adalah Yuko, solo backpacker asal Jepang ini akhirnya menjadi travelmate saya selama di Siem Reap.

Bersambung…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s