All posts filed under: City

Sore di Xian City Wall

Badan belum terlalu lelah dan kaki masih sanggup berjalan meskipun setengah hari sudah saya habiskan di Lintong, mengunjungi Terracotta Army Museum. Sempat istirahat sebentar di hotel dan mengganti baju yang basah kehujanan di Lintong, saya melanjutkan eksplorasi kota tua Xián. Kali ini saya ingin menyusuri tembok besar yang mengelilingi area tempat saya tinggal, tembok yang mengelilingi pusat kota, Xián Ancient City Wall. Jarak ke gerbang selatan (South gate) hanya satu stasiun subway dari Bell Tower,  yaitu dekat stasiun Yongningmen (Line 2), jadi saya memilih untuk berjalan kaki saja menyusuri trotoar yang sangat lebar sembari menikmati udara sore yang cukup dingin. Gerbang ini merupakan pintu masuk utama bagi pengunjung, sekaligus yang memiliki desain paling indah. Lobby tiket berada di bawah tembok yang menjulang setinggi 12 meter. Tepat sebelum pintu gerbang yang sangat megah, yang ketika saya memasukinya berasa masuk ke dunia film kolosal China. Iya, untuk bisa berjalan menyusuri tembok ini tidaklah gratis. Setiap pengunjung dewasa dikenakan biaya 54 Yuan. Persis di depan pintu masuk menuju tangga-tangga curam ada sebuah amphi theatre yang digunakan untuk pertunjukan …

‘Oase’ di Negeri Ginseng

Tentang perjalanan ke Negeri Ginseng, meskipun hanya beberapa hari, namun saya bisa merasakan bagaimana warga lokal memperlakukan orang asing. Salah satu kejadian yang melekat di ingatan saya, dan mungkin pernah juga dialami oleh Muslim di Korea Selatan, yaitu ketika ada seorang petugas stasiun Gapyeong menanyakan kenapa saya memakai ‘penutup kepala’. Saat itu saya sedang bersama tiga traveler asal Indonesia yang kebetulan semuanya memakai hijab. Petugas stasiun itu pun sepertinya sama sekali tak paham bahwa yang kami pakai disebut ‘hijab’. Yang dia tanyakan seperti ini: “Kenapa kalian memakai sesuatu (kain) di kepala?”. ** Bisa dipastikan, tiap kali berkunjung ke negara orang, ke manapun itu, akan ada hal baru yang ditemui di jalan. Terutama bagi penganut jalan mandiri alias backpacking di mana tak akan ada tourguide yang mengarahkanmu kemana-mana. Tantangan akan selalu ada, dari masalah komunikasi, perbedaan karakter dan budaya masyarakat setempat maupun selera makanan, khususnya bagi traveler Muslim. Menjadi traveler bagi sebagian Muslim memang tidak mudah, terutama jika pergi ke negara yang muslimnya minoritas. Seperti ibuku yang selalu menanyakan hal yang sama setiap kali saya akan …

Terkesima Takayama

Tanpa gedung pencakar langit, tanpa jalur subway, tanpa iklan videotron yang menyilaukan mata di setiap perempatan jalan, tanpa mall, dan tanpa ratusan pejalan kaki yang berjalan terburu-buru di trotoar. Kiranya itu adalah gambaran sebuah kota kecil di daerah pegunungan Hida yang masuk dalam daftar itinerary saya untuk menyeimbangkan hiruk pikuk kota metropolitan Tokyo, mantan ibukota Kyoto, dan kota yang menurut saya absurd, Osaka. Takayama saya pilih menjadi persinggahan terakhir saat itu, sebelum kembali ke Indonesia via bandara Kansai di Osaka. Padahal jarak tempuh tercepat ke Kansai dari Takayama adalah minimal 4,5 jam dengan dua kali berpindah kereta. Kota di Perfektur Gifu ini sudah lama menjadi incaran karena sekaligus bisa ikut tur setengah hari ke Shirakawa-go dari terminal bis Takayama. Untuk menuju Takayama, saya mengambil jalur kereta dari kota Nagoya. Dari Stasiun Nagoya terdapat kereta langsung Ltd. Express (Wide View) Hida ke Stasiun Takayama yang sepenuhnya bisa ter-cover oleh JR Pass. Perjalanan kereta Express Hida memakan waktu hampir 2,5 jam untuk sampai ke Stasiun Takayama. Bukan waktu yang singkat untuk ukuran kereta express. Namun perjalanan kereta …