All posts filed under: Culture

Menjelajah Keramahan (Omotenashi) Kyoto

Willer Express yang kami tumpangi dari Tokyo berhasil membuat saya terlelap hingga baru tersadar ketika bis sudah memasuki kota Kyoto. Tepat jam 6 pagi bis sampai sesuai jadwal di depan Stasiun Kyoto. Perjalanan selama 7 jam semalam cukup mengesankan karena kami bertemu tiga orang Indonesia dan berbarengan dalam satu bis menuju ke Kyoto. Meskipun kami harus berpisah dan melanjutkan rencana perjalanan masing-masing pagi ini. Willer Express, yang didominasi warna pink termasuk kursi penumpangnya. Stasiun Kyoto menjadi tempat persinggahan sementara sekaligus mencari toilet umum, membersihkan badan ala kadarnya dan mencari informasi wisata. Hostel yang sudah dipesan tentunya belum bisa kami masuki karena memang masih terlalu pagi. Stasiun Kyoto memang sangat besar dan modern, “Ini sih ngalahin stasiun Gambir.”, batin saya sambil ternganga melihat keindahan bangunannya. Bahkan lebih modern dari SHIA hihihi. Ada banyak loker koin di luar gedung stasiun yang dapat kami manfaatkan untuk menyimpan beberapa barang. Loker tersedia dengan beberapa ukuran dan harganya juga berbeda. Untuk bisa memakai loker, wajib memiliki uang pecahan 100 yen, karena cuma itu yang bisa diterima untuk mengambil kunci loker. …

Cara Hemat Keliling Tokyo, Melihat Gunung Fuji dan Naik Shinkansen

Siapapun yang berkesempatan mengunjungi Jepang, pasti tidak ingin melewatkan naik kereta super cepatnya, Shinkansen. Kata ‘mumpung’ biasanya membuat kita rela mengeluarkan duit lebih jika bepergian. Apalagi tiket naik Shinkansen memang tergolong mahal, terkadang malah bisa lebih mahal dari pesawat (bisa dicek di hyperdia.com). Tapi jika jeli berburu informasi, sebenarnya bisa disiasati karena banyak tawaran fasilitas khusus bagi para turis asing yang datang ke Jepang untuk mengeksplorasi kawasan wisatanya. Pun ketika saya sudah menginjakkan kaki di bandara Haneda Tokyo waktu itu, belum terpikir untuk menjajal Shinkansen nantinya. Kalau duit untuk backpacking berlebih bisa saja membeli JR Pass sebelum datang ke Jepang. Tapi harga 29.110 yen untuk 7 hari terlalu mahal dan mungkin tidak ‘pay off’ dibanding rencana itinerary saya. Sampai akhirnya saya menemukan informasi tentang Kanto Pass. Seperti menemukan oase di tengah gurun pasir. Berrrrr. Jika Anda berniat berkunjung dan mengeksplore Tokyo, maka tidak ada salahnya untuk memperluas area eksplorasi Anda seperti Yokohama, Hakone, Kawaguchiko, Izu dan Karuizawa dengan limited express train dan Shinkansen. Kanto Pass bisa dibeli dengan harga 8.300 yen untuk dewasa atau 4.200 …

7 Hal yang Bisa Diteladani Dari Jepang

Traveling bagi saya bukan sekedar sampai ke tempat yang dituju, kemudian menikmati segala atraksinya dan berfoto-foto. Berada di tempat baru yang asing, di tengah kehidupan masyarakat lokal tentu memaksa saya untuk beradaptasi. Beradaptasi adalah berarti belajar tentang hal-hal baru, tentang kebiasaan, peraturan, dan bersikap. Selama seminggu lebih berada di Negeri Sakura, ada beberapa hal yang membuat saya ‘amazed’ dan berandai ini semua bisa saya bawa pulang ke negeri saya. Hahaha. 1. Kebersihan Jujur, saya merasa iri dengan kebersihan negara ini. Saya menempatkan kebersihan di tempat pertama yang harusnya bisa kita tiru. Karena paling sederhana dan gampang dilakukan, tidak membutuhkan biaya yang mahal hanya butuh kesadaran masing-masing orang. Jepang masuk dalam jajaran negara terbersih di dunia, dan sangat enak dipandang. Meskipun di Tokyo dan kota-kota lainnya di Jepang tidak pernah ada tulisan “Dilarang Buang Sampah di Sini”, sebagaimana yang sering ditemui di Jakarta atau kota-kota lain di Indonesia. Namun dipastikan tidak ada sampah yang tercecer sembarangan. Bahkan sampah sekecil sobekan kertaspun tak saya lihat di pinggir jalan. Mungkin budaya malu yang telah mendarah daging turut mendorong …

Rikshaw

Begitu sampai di Arashiyama, ada satu hal yang menarik perhatian saya selain pemandangan alamnya yang sangat indah, yaitu rikshaw. Rikshaw adalah alat transportasi tradisional Jepang beroda dua yang ditarik manusia. Berbeda dengan becak di Indonesia yang pengemudinya ada di belakang atau bentor yang pengemudinya di samping, mengemudikan rikshaw sama seperti menarik gerobak. Perhatian saya bukan sepenuhnya pada bentuk rikshaw yang unik, tapi para si penarik rikshaw ini. Mereka adalah pria-pria muda berbadan atletis, memakai celana ketat dan alas kaki tradisional. Sebagian berkeliaran untuk ‘menjajakan’ jasanya dengan bermodal brosur kawasan wisata Arashiyama. Rupanya bukan sekedar jasa transportasi, naik rikshaw juga sebagai alat sightseeing dan pemandu wisata. Tidak heran jika kita harus membayar 8.000 yen untuk naik rikshaw selama 30 menit. Sayangnya, para penarik rikshaw ini hanya bisa berbahasa Jepang.Jadi jika ingin mendapat panduan wisata dengan rikshaw hukumnya wajib untuk tahu bahasa Jepang. Saya sempat memperhatikan dua gadis berpakaian tradisonal ini menaiki rikshaw.

A Taste of India in Batu Caves

I agree that The Government of Malaysia pays more attention in exploiting their tourism potential than the government of my country. A good public transport facility is one of the factors to attract tourists visiting any destination. As I can easily get to Batu Cave from Kuala Lumpur just by taking KTM Komuter Batu Caves-Port Klang line. With a very comfortable train, from KL Sentral only cost RM 2 to Batu Caves station. The station is located directly in front of the entrance of The Batu Caves Temple. Statue of Hanuman Entering the temple area, I was immediately greeted by a 15-meter tall statue of Hanuman. And as indicating that Hanuman is a king, then a flock of wild monkeys hanging around. The Hindu deity statues were engraved neat while a group of young Indians was also holding a ritual in the temple. Suddenly I felt like in the world of the Ramayana epic from the land of Hindustan. Actually, Batu Caves is a place of worship for the Indian Hindu. It was built in …

Menyusuri Keklasikan Dalam Keberagaman Etnis di George Town

Matahari begitu terik ketika pesawat Malaysia Airlines yang membawa kami dari Kuala Lumpur mendarat sempurna di Penang International Airport. Bandara yang tidak begitu besar, namun bersih dan terlihat baru direnovasi. Kami bergegas keluar dari terminal ‘ketibaan antara bangsa’ (kedatang) dan disambut oleh orang-orang yang menjemput para penumpang sementara kami tertuju mencari halte bis umum. Meskipun baru pertama kali menginjakkan kaki di bandara ini, namun tidak sulit menemukan letak halte yang kami maksud. Tidak perlu berjalan jauh, cukup melintasi parkiran mobil dan taxi setelah keluar dari pintu. Penang International Airport Suhu udara waktu itu mungkin lebih dari 30 derajat celcius, sehingga cukup membakar kulit. Apalagi bis yang kami tunggu tidak juga melintas. Akhirnya setelah lebih dari 15 menit berlalu, Rapid Penang nomor 401E jurusan Balik Pulau-Jetty datang. Tujuan kami adalah terminal bis KOMTAR. Perlu diperhatikan bahwa semua bis 401E yang melintas di bandara, baik yang arah pergi atau balik menuju KOMTAR akan lewat di situ. Sehingga harus memperhatikan layar digital di bagian atas depan bis. Jika menunjukkan Jetty-Balik Pulau berarti dari KOMTAR sedangkan Balik Pulau-Jetty akan …

Mengenal Batik Gumelem Banjarnegara

Memakai batik bukan hanya sebagai kelengkapan sandang dan fashion, namun juga memakai sebuah karya seni. Begitulah seharusnya agar kita menjadi lebih bangga memakai karya warisan nenek moyang bangsa ini. Kita mengenal berbagai macam batik dan mungkin Anda juga sudah mengoleksinya. Ada batik Solo, Jogja, Pekalongan atau bahkan Madura yang sudah sangat familiar. Tapi pernahkah Anda mendengar batik Gumelem?. Di Kabupaten Banjarnegara Provinsi Jawa Tengah, tepatnya di Desa Gumelem Wetan dan Gumelem Kulon Kecamatan Susukan terdapat sentra kerajinan batik. Inilah kenapa dikenal dengan nama Batik Gumelem. Gumelem berjarak sekitar 40 KM ke arah barat daya dari ibukota Kabupaten Banjarnegara. Di sini terdapat puluhan industri rumahan yang tergabung dalam komunitas Usaha Kecil dan Menengah (UKM) produk kerajinan batik tulis Banjarnegara atau Batik Gumelem. Untuk mencapai kawasan sentra batik ini bisa juga ditempuh lewat Kabupaten Banyumas, tepatnya di pinggir jalan raya Susukan. Di situ terpampang gapura besar bertuliskan Sentra Batik Gumelem Banjarnegara. Anda bisa mengunjungi gerai-gerai kecil yang menyatu dengan rumah warga. Di ruang tamu biasanya para pengrajin memajang koleksi kain batiknya maupun yang sudah berbentuk pakaian jadi. …

165 Kingdoms Gathered in Jakarta

For the first time, Jakarta organized the World Royal Heritage Festival. The event run on  December 5-8, 2013. Located in Monas (National Monument) and collected 165 of the Indonesian archipelago Kingdoms and 10 Kingdoms from around the world. Participants displayed cultural attractions and dances, also exhibited the relic from each kingdom. The top event of this festival was filled with cultural parade which was also attended by the governor and vice governor of Jakarta, Jokowi and Ahok, who wore clothing Prince of Jayakarta. Thousands of people in Jakarta and its surroundings looked very enthusiastic about taking this very lively festival.

A Trail To Samosir

The car toward Parapat moved in high speed, crossing the road up and down along the rubber and palm oil plantations. Sometimes I wanted to close my eyes and sleep, but the beauty of the tightly packed rows of trees always made me amazed and realize how rich this country is (with its natural products). As the car passed the hectares of plantations, it started crossing through the forest path and gradually lined on side by dark blue lake surface. Port of Tiga Raja The sky was cloudy when we arrived at the Port of Tiga Raja after that five-hour road trip from Kuala Namu Airport. No need to wait, as we got there, a ferry boat would already soon leave for the island. We immediately boarded, in a minute the boat moved slowly away from the port side to the middle of the lake. As a slight rain started to fall, it did not make me move from the top deck of the boat. The wind was blowing such the balmy breeze, very cool, …

City Tracking, Bentuk Wisata Gratis di Singapura

Bukan Universal Studio ataupun wisata belanja yang saya cari di negara yang terkenal dengan patung Merlionnya ini, jelas saja dengan prinsip budget sekedarnya saya hanya mencari petualangannya. Ada banyak tempat yang bisa saya kunjungi dengan gratis tanpa tiket masuk maupun iuran ‘suka rela’ dengan kedok biaya perawatan, namun bukan berarti tanpa kesan. Sebagai penyuka sight seeing sambil jalan kaki menyusuri kota, banyak hal-hal tak terduga yang bisa ditemui. Nuansa Tirai Bambu di Chinatown Turun di stasiun Chinatown dan langsung memasuki kawasan semacam pujasera yang menjual makanan khas negeri tirai bambu. Namun hampir tak satupun nama-nama makanan di sana yang saya tahu. Jelas saja, semua menggunakan huruf kanji 😀 . Berjalan melewati beberapa gang, ternyata masing-masing menawarkan nuansa yang berbeda. Ada satu jalan yang berisi deretan penjual souvenir khas Singapura namun bernuansa China. Ada juga deretan toko-toko yang khusus menjual camilan dan makanan khas china. Yang membuat saya sedikit excited adalah ketika menemukan sebuah jalan bernama Mosque St. Pertama saya pikir hanya sebuah nama, ternyata di ujung jalan ini memang benar-benar terdapat sebuah masjid, yaitu Masjid …