All posts filed under: Daily Life

One Day Trip to Mt. Huashan: Perjalanan dengan Kereta Cepat

Sehari sebelum berangkat, Li Li, teman seperjalanan ke Musium Terracotta Warrior, sempat memperingatkanku bahwa hari ini akan hujan sepanjang hari. Dia menanyakan apakah saya yakin akan tetap berangkat ke Huashan. Mungkin juga akan berbahaya jika saya tetap memaksakan diri treking di pegunungan yang terkenal sebagai salah satu “the most dangerous track in the world”. Apalagi tiket kereta cepat yang sudah saya beli lewat travelchinaguide.com sayang jika hangus begitu saja. Belum lagi Mt. Huashan adalah salah satu tujuan saya datang ke Xian, jadi tanpa ragu dan bimbang meskipun sedikit galau saya semangat tetap pergi dalam kondisi cuaca apapun. Dari Bell Tower, saya naik subway menuju ke stasiun Xian North untuk mengejar kereta pukul 09.19 pagi yang akan membawa saya ke Huashan North, stasiun terdekat menuju pegunungan Hua (Hua Shan). Di kota Xian ada dua stasiun besar yang menghubungkan Xian dengan kota-kota lain di Tiongkok, yaitu Xian North dan Xian Railway. Xian North adalah stasiun untuk menaiki kereta cepatnya Tiongkok atau disebut China Railway Hub (CRH), sedangkan kereta Ordinary naiknya dari Xian Railway. Saya memilih naik kereta …

‘Oase’ di Negeri Ginseng

Tentang perjalanan ke Negeri Ginseng, meskipun hanya beberapa hari, namun saya bisa merasakan bagaimana warga lokal memperlakukan orang asing. Salah satu kejadian yang melekat di ingatan saya, dan mungkin pernah juga dialami oleh Muslim di Korea Selatan, yaitu ketika ada seorang petugas stasiun Gapyeong menanyakan kenapa saya memakai ‘penutup kepala’. Saat itu saya sedang bersama tiga traveler asal Indonesia yang kebetulan semuanya memakai hijab. Petugas stasiun itu pun sepertinya sama sekali tak paham bahwa yang kami pakai disebut ‘hijab’. Yang dia tanyakan seperti ini: “Kenapa kalian memakai sesuatu (kain) di kepala?”. ** Bisa dipastikan, tiap kali berkunjung ke negara orang, ke manapun itu, akan ada hal baru yang ditemui di jalan. Terutama bagi penganut jalan mandiri alias backpacking di mana tak akan ada tourguide yang mengarahkanmu kemana-mana. Tantangan akan selalu ada, dari masalah komunikasi, perbedaan karakter dan budaya masyarakat setempat maupun selera makanan, khususnya bagi traveler Muslim. Menjadi traveler bagi sebagian Muslim memang tidak mudah, terutama jika pergi ke negara yang muslimnya minoritas. Seperti ibuku yang selalu menanyakan hal yang sama setiap kali saya akan …

Telusur Angkutan Umum Bangkok

Pernah nonton film Thailand yang berjudul “Bangkok Traffic Love Story”?, kalau belum, tontonlah (karena menurut saya cukup recomended) dan jika datang ke Bangkok, cobalah untuk merasakan realitasnya. Bukan untuk mempromosikan film dan kota Bangkoknya, tapi kemacetan dan uniknya moda transportasi bangkok yang tidak jauh berbeda dengan yang dialami tokoh di film itu bisa menjadi salah satu pengalaman backpack travelingmu. Syukur-syukur kamu dapat love story-nya juga. 😉 Kota Bangkok sebenarnya tak jauh berbeda dengan Jakarta, dilihat dari suasana dan tampang orang-orangnya. Hanya saja, Bangkok sudah agak bersih, agak tertib, dan agak bervariasi moda transportasi umunya. Bis Kota tidak berhenti di sembarang tempat, sudah ada kereta layang yang mereka sebut BTS dan sudah ada kereta bawah tanah yang mereka sebut MRT. Wah kalau begitu Jakarta masih ketinggalan berarti. Rambu penujuk jalan adalah hal paling vital saat backpack travel. Di sudut manapun saya selalu berharap adanya rambu penunjuk arah sehingga tidak perlu malu-malu bertanya. Ditambah mayoritas orang Thailand tidak cakap berbahasa Inggris, bahkan yang tampangnya seperti pelajar pun tidak bisa kamu harapkan. Thailand bukan negara pemakai huruf alfabet, …

Uniknya Osaka

Salah satu yang sangat saya suka dari traveling adalah bisa menemukan banyak hal tak terduga dan belajar dari apa yang saya temui di jalan. Masalah perbedaan bahasa, budaya dan kultur sepertinya sudah bukan kendala yang butuh waktu lama untuk beradaptasi. Justru saya merasa punya kewajiban untuk memahami kearifan lokal. Seperti ketika saya berada di Jepang, tiga kota yang saya kunjungi pun berbeda kultur kesehariannya. Pertama Tokyo, kota metropolitan berpenduduk paling banyak di dunia, memiliki ritme kehidupan yang serba cepat. Maka tidak heran jika berada di jalanan kota ini, saya merasa berada di tengah-tengah lautan manusia. Ke manapun seolah terburu-buru. Tidak hanya di jalan tapi juga di stasiun-stasiun kereta api bawah tanah. Kemudian Kyoto. Berbeda dengan Tokyo, Kyoto cenderung kota yang lebih tenang dan santai dengan nuansa tradisi budaya yang masih kental. Begitu juga dengan Osaka, di kota terpenting kedua di Jepang ini saya juga merasakan atmosfer kota yang berbeda. Baca juga: Top Things to Do in Osaka. Osaka adalah kota persinggahan terakhir saya di Jepang. Dibanding dua kota lainnya (Tokyo dan Kyoto), memang awalnya saya …

Rikshaw

Begitu sampai di Arashiyama, ada satu hal yang menarik perhatian saya selain pemandangan alamnya yang sangat indah, yaitu rikshaw. Rikshaw adalah alat transportasi tradisional Jepang beroda dua yang ditarik manusia. Berbeda dengan becak di Indonesia yang pengemudinya ada di belakang atau bentor yang pengemudinya di samping, mengemudikan rikshaw sama seperti menarik gerobak. Perhatian saya bukan sepenuhnya pada bentuk rikshaw yang unik, tapi para si penarik rikshaw ini. Mereka adalah pria-pria muda berbadan atletis, memakai celana ketat dan alas kaki tradisional. Sebagian berkeliaran untuk ‘menjajakan’ jasanya dengan bermodal brosur kawasan wisata Arashiyama. Rupanya bukan sekedar jasa transportasi, naik rikshaw juga sebagai alat sightseeing dan pemandu wisata. Tidak heran jika kita harus membayar 8.000 yen untuk naik rikshaw selama 30 menit. Sayangnya, para penarik rikshaw ini hanya bisa berbahasa Jepang.Jadi jika ingin mendapat panduan wisata dengan rikshaw hukumnya wajib untuk tahu bahasa Jepang. Saya sempat memperhatikan dua gadis berpakaian tradisonal ini menaiki rikshaw.

Mendadak Malaysia Airlines

Berita tentang hilangnya pesawat Malaysia Airlines (MAS) tanpa jejak saat terbang dari Kuala Lumpur menuju Beijing pada tanggal 8 Maret 2014 lalu, selalu menjadi headline semua media dunia selama beberapa minggu. Hal ini membuat maskapai penerbangan nasional milik Malaysia itu menjadi sorotan, terutama masalah keamanannya. Selama ini MAS terkenal dengan reputasinya yang bagus karena termasuk maskapai premium dan salah satu yang terbaik di Asia. Jika Indonesia punya Garuda Indonesia maka Malaysia punya Malaysia Airlines. Makanya dalam urusan memilih pesawat dengan harga premium (yang sama-sama mahal) untuk traveling saya sebenarnya tetap memilih Garuda Indonesia. Tapi, pada suatu kesempatan, saya dengan senang hati dipaksa naik MAS. Ketika saya menerima surat elektronik dari maskapai Garuda Indonesia, saya tahu kalau mereka sedang mengadakan early bird atau bahasa gaulnya obral tiket promo. Tentu ini sangat menggiurkan, terutama bagi yang suka traveling seperti saya. Tanpa berpikir panjang, saya langsung hunting, destinasi mana yang harganya reasonable meskipun memakai maskapai full service. Karena se-diskon-diskonnya maskapai Garuda, percayalah bahwa tetap saja lebih mahal dari harga tiket low cost airline. Tapi entahlah kali ini hati …