All posts filed under: Features

Remarkable Dongdaemun Design Plaza

Dongdaemun Design Plaza (DDP) in Seoul, South Korea may be the most remarkable modern-architectural building I’ve ever seen. Its quaint shape reminded me of Alien’s UFO (Unidentified Flying Object) I used to see in fictional programs. DDP is located in a large shopping district, Dongdaemun, and can be reached by Subway from Dongdaemun History and Cultural Park Station (Line 2, 4 and 5) exit 1. This iconic landmark of Seoul was designed by a British Iraqi Architect, Zaha Hadid, and was officially inaugurated in 2014. This is the house for exhibiting various creative industries in Seoul such as crafts, gifts, fashions, cosmetics, etc. The Dongdaemun Design Plaza also provides convention hall and exhibition hall as well. The cherry blossom trees in the garden of DDP started blooming when I first came here just couple of hours after arrived in Korea as a sign that Spring had already started. I felt so impressed and welcomed then. There are also thousands of beautiful artificial LED roses in Design Park you can enjoy at night. Advertisements

Inilah Sisa-Sisa Kota Kuno Ayutthaya

Dua jam perjalanan kereta ke arah utara dari kota Bangkok mengubah pandangan saya bahwa tidak semua yang berbeda ataupun lebih modern adalah yang saya cari ketika bertandang ke negeri orang. Setelah melihat gemerlapnya ibu kota, kemudian menyaksikan realitas daerah pinggiran yang masih belum seluruhnya terjamah pembangunan justru membuat saya menikmati sebuah perjalanan. Perjalanan yang seolah menjadi ajang nostalgia ke zaman ‘PT. KAI belum dipegang Ignasius Jonan’. Iya. Kereta ekonomi, yang tanpa tempat duduk empuk, yang duduknya berhadap-hadapan tanpa AC, yang ada pedagang-asongan-sliweran-ikut-naik-kereta-tanpa-menyerah-menawarkan-dagangannya, yang orang bebas merokok di dalam gerbong yang panas menyengat, dan yang bisa saja saya berdiri atau ngemper di bawah karena tidak kebagian tempat duduk. Hal-hal seperti inilah yang (sayangnya) tidak bisa saya temui lagi di Indonesia. Dan suatu saat akan saya banggakan menjadi cerita unik untuk anak cucu saya. Kelar dua jam yang penuh kenangan dan penuh kedekatan dengan penduduk lokal di dalam kereta bertarif 15 Baht (kurang dari 6 ribu rupiah), kini saatnya turun di Stasiun Ayutthaya. Sebuah stasiun yang cukup sederhana untuk ukuran suatu kota. Hanya ada dua lajur rel, …

Terjebak di Lorong Tak Berujung, Fushimi Inari

Jika kamu menebak bahwa yang ada di Jepang berbentuk seperti lorong berwarna oranye itu bernama Fushimi Inari, kamu benar. Tapi jika kamu mengira bahwa Fushimi Inari hanya terdiri dari sebuah lorong torii, kamu salah. Pertama kali menginjakkan kaki di depan gerbang kuil, tepatnya dari depan Stasiun Inari, saya juga tidak menyangka bakal terjebak dalam lorong-lorong torii sepanjang 4 km. Cukup dua pemberhentian dari Stasiun Kyoto menggunakan JR Nara Line, kami sampai di shrine yang paling terkenal seantero Jepang. Menurut saya, tempat ini memang wajib dikunjungi siapapun yang berkunjung ke Negeri Sakura. Fushimi Inari berada Fushimi-ku, sebelah tenggara pusat kota Kyoto. Merupakan kuil tempat sembahyang penganut agama Shinto yang sudah berumur ratusan tahun. Perjalanan dimulai dari seberang Stasiun Inari, di depan kuil kami disambut oleh sebuah torii gate besar dan satu lagi ada sebelum memasuki gerbang utama. Bangunan yang didominasi warna merah menyala ini memang identik dengan yang ada di Kiyumizudera Temple maupun yang ada di Asakusa Shrine. Bedanya di sana tidak ada torii raksasa seperti di Inari ini. Setelah gerbang utama, terdapat aula persembahyangan dan …

Senja di Pulau Buatan, Odaiba

Ingin bertemu Robot Gundam seukuran aslinya? Atau ingin berfoto dengan Patung Liberty seperti yang ada di New York? datanglah ke Odaiba. Sebuah pulau buatan yang ada di Teluk Tokyo, Jepang. Menurut sejarah, awalnya pulau ini ‘dibangun’ untuk keperluan pertahanan bangsa Jepang. Namun seiring berjalannya waktu, pulau ini berkembang menjadi kota pelabuhan dan tumbuh menjadi area komersil, hiburan dan wisata. Replika Patung Liberty dengan latar belakang Rainbow Bridge dan Kota Tokyo Odaiba terhubung dengan pusat Kota Tokyo oleh sebuah jembatan dengan konstruksi yang sangat menakjubkan, Rainbow Bridge. Disebut Rainbow Bridge karena jika dilihat di malam hari, lampu-lampu yang menghiasi jembatan akan berubah-ubah warnanya. Bagian atas jembatan berfungsi sebagai jalan raya, sementara bagian bawah adalah rel yang digunakan untuk jalur monorel. Cara paling cepat untuk menuju ke sana adalah dengan naik Yurikamome Rapid Transit Line (monorel) dari Stasiun Shimbashi. Kereta tanpa masinis ini, mengajak kita untuk ‘berselancar’ di atas rel yang berketinggian seukuran lantai 5 gedung bertingkat dan menyeberangi Rainbow Bridge dengan kecepatan tinggi. Rainbow Bridge, yang menghubungkan pusat Tokyo dengan Odaiba Menunggu matahari tenggelam dari Odaiba …

7 Hal yang Bisa Diteladani Dari Jepang

Traveling bagi saya bukan sekedar sampai ke tempat yang dituju, kemudian menikmati segala atraksinya dan berfoto-foto. Berada di tempat baru yang asing, di tengah kehidupan masyarakat lokal tentu memaksa saya untuk beradaptasi. Beradaptasi adalah berarti belajar tentang hal-hal baru, tentang kebiasaan, peraturan, dan bersikap. Selama seminggu lebih berada di Negeri Sakura, ada beberapa hal yang membuat saya ‘amazed’ dan berandai ini semua bisa saya bawa pulang ke negeri saya. Hahaha. 1. Kebersihan Jujur, saya merasa iri dengan kebersihan negara ini. Saya menempatkan kebersihan di tempat pertama yang harusnya bisa kita tiru. Karena paling sederhana dan gampang dilakukan, tidak membutuhkan biaya yang mahal hanya butuh kesadaran masing-masing orang. Jepang masuk dalam jajaran negara terbersih di dunia, dan sangat enak dipandang. Meskipun di Tokyo dan kota-kota lainnya di Jepang tidak pernah ada tulisan “Dilarang Buang Sampah di Sini”, sebagaimana yang sering ditemui di Jakarta atau kota-kota lain di Indonesia. Namun dipastikan tidak ada sampah yang tercecer sembarangan. Bahkan sampah sekecil sobekan kertaspun tak saya lihat di pinggir jalan. Mungkin budaya malu yang telah mendarah daging turut mendorong …

Rikshaw

Begitu sampai di Arashiyama, ada satu hal yang menarik perhatian saya selain pemandangan alamnya yang sangat indah, yaitu rikshaw. Rikshaw adalah alat transportasi tradisional Jepang beroda dua yang ditarik manusia. Berbeda dengan becak di Indonesia yang pengemudinya ada di belakang atau bentor yang pengemudinya di samping, mengemudikan rikshaw sama seperti menarik gerobak. Perhatian saya bukan sepenuhnya pada bentuk rikshaw yang unik, tapi para si penarik rikshaw ini. Mereka adalah pria-pria muda berbadan atletis, memakai celana ketat dan alas kaki tradisional. Sebagian berkeliaran untuk ‘menjajakan’ jasanya dengan bermodal brosur kawasan wisata Arashiyama. Rupanya bukan sekedar jasa transportasi, naik rikshaw juga sebagai alat sightseeing dan pemandu wisata. Tidak heran jika kita harus membayar 8.000 yen untuk naik rikshaw selama 30 menit. Sayangnya, para penarik rikshaw ini hanya bisa berbahasa Jepang.Jadi jika ingin mendapat panduan wisata dengan rikshaw hukumnya wajib untuk tahu bahasa Jepang. Saya sempat memperhatikan dua gadis berpakaian tradisonal ini menaiki rikshaw.

Mengenal Batik Gumelem Banjarnegara

Memakai batik bukan hanya sebagai kelengkapan sandang dan fashion, namun juga memakai sebuah karya seni. Begitulah seharusnya agar kita menjadi lebih bangga memakai karya warisan nenek moyang bangsa ini. Kita mengenal berbagai macam batik dan mungkin Anda juga sudah mengoleksinya. Ada batik Solo, Jogja, Pekalongan atau bahkan Madura yang sudah sangat familiar. Tapi pernahkah Anda mendengar batik Gumelem?. Di Kabupaten Banjarnegara Provinsi Jawa Tengah, tepatnya di Desa Gumelem Wetan dan Gumelem Kulon Kecamatan Susukan terdapat sentra kerajinan batik. Inilah kenapa dikenal dengan nama Batik Gumelem. Gumelem berjarak sekitar 40 KM ke arah barat daya dari ibukota Kabupaten Banjarnegara. Di sini terdapat puluhan industri rumahan yang tergabung dalam komunitas Usaha Kecil dan Menengah (UKM) produk kerajinan batik tulis Banjarnegara atau Batik Gumelem. Untuk mencapai kawasan sentra batik ini bisa juga ditempuh lewat Kabupaten Banyumas, tepatnya di pinggir jalan raya Susukan. Di situ terpampang gapura besar bertuliskan Sentra Batik Gumelem Banjarnegara. Anda bisa mengunjungi gerai-gerai kecil yang menyatu dengan rumah warga. Di ruang tamu biasanya para pengrajin memajang koleksi kain batiknya maupun yang sudah berbentuk pakaian jadi. …

(Ber)Sedekah Brutal ke Pandeglang

Menyapa anak-anak sekolah dan masyarakat di pelosok kampung, melihat wajah-wajah polos dan senyum ceria di tengah keterbatasan mereka  menjadi imbalan yang sepadan setelah menempuh kiloan meter jalan yang rusak berat. Itulah yang saya rasakan beberapa waktu lalu ketika berkesempatan mengikuti kawan-kawan dari Sedekah Brutal menyalurkan bantuan ke sejumlah sekolah dasar di Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten. Sedekah Brutal (SB) merupakan sebuah gerakan sedekah yang dikelola muslim alumni Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FEUI), begitu menurut bio akun twitternya, @SedekahBrutal. Gerakan ini bertujuan untuk mengajak masyarakat, terutama anak muda untuk membudayakan bersedekah, sebagaimana dianjurkan dalam agama Islam. Melalui SB ini diharapkan dapat terhimpun sejumlah dana yang kemudian akan disalurkan kepada kelompok masyarakat yang membutuhkan, sesuai dengan tema sedekah SB. Jadi memang SB tidak mengonsentrasikan penyaluran sedekah hanya pada satu kelompok masyarakat tertentu, namun akan berbeda setiap ‘proyek’ pelaksanaannya. Selengkapnya tentang SB bisa dilihat di sini SB sudah menginjak proyeknya yang ke-8 dengan tema “1 man, 1 bag, 1 book”. Proyek sedekah ini menargetkan 1.000 paket tas sekolah dan buku, yang setiap paketnya bernilai Rp 60.000. Menurut panitia, target …

A Trail To Samosir

The car toward Parapat moved in high speed, crossing the road up and down along the rubber and palm oil plantations. Sometimes I wanted to close my eyes and sleep, but the beauty of the tightly packed rows of trees always made me amazed and realize how rich this country is (with its natural products). As the car passed the hectares of plantations, it started crossing through the forest path and gradually lined on side by dark blue lake surface. Port of Tiga Raja The sky was cloudy when we arrived at the Port of Tiga Raja after that five-hour road trip from Kuala Namu Airport. No need to wait, as we got there, a ferry boat would already soon leave for the island. We immediately boarded, in a minute the boat moved slowly away from the port side to the middle of the lake. As a slight rain started to fall, it did not make me move from the top deck of the boat. The wind was blowing such the balmy breeze, very cool, …

Bedugul, A Holy and Peaceful Highland

Lake Beratan and Eka Karya Botanical Garden, located in the highlands of Bedugul, Tabanan, Bali, Indonesia. One of the famous tourist icons on the island of Bali is located at an altitude of over 1200 meters above sea level. This is actually two separate attractions, but because of their nearby so you may not miss one of them while visiting Bedugul. It took about 2, 5 hours drive to the north from Denpasar to get to this place. This will not be a long journey from Denpasar, because along the way I was treated by the beauty of Balinese countryside. Traditional houses with stone ornaments, as well as rice fields and the towering coconut trees truly indulgent my eyes. Not only that, if the weather is clear, the shape of the mount Batur and the mount Agung can be such a heaven on earth vistas accompany your trip. The best time to enjoy this beautiful highlands of Bedugul is towards the middle of the day. Because Lake Beratan is often covered by fog in the …