All posts filed under: Japan

Pesona Empat Musim Gunung Fuji

Bulan Juni menandakan sudah memasuki musim panas, atau orang Jepang bilang “Natsu”. Entah foto ke berapa dengan view seperti ini yang dikirim Pak Miyazaki via Line, tapi saya tak pernah bosan melihatnya. Setiap musim akan selalu ada yang berbeda dari setiap detail gambar yang diambil dari Arakurayama Sengen Park ini. Dari musim gugur, musim dingin, musim semi, dan sekarang musim panas. Perlu perjuangan untuk bisa mengambil gambar dengan angle seperti ini. Ada ratusan anak tangga yang siap ditapaki untuk mencapai bukit di samping Arakura Sengen Shrine. Pak Miyazaki sempat menyindir ketika di tengah jalan saya bertanya kira-kira tinggal berapa banyak anak tangga lagi yang harus saya lalui. Alih-alih memberi bocoran, beliau malah bilang, “Hey, kamu jauh lebih muda dari saya, masa mau menyerah. Tinggal jalan saja ke atas!”. Secara tak sengaja, saya bertemu Pak Miyazaki ketika sedang meniti anak tangga menuju Chureito Pagoda di atas bukit. Saya dianggapnya kurang beruntung saat itu, karena sebagian puncak Gunung Fuji sedang tertutup kabut. Karena itulah, kemudian dengan baik hati beliau menawarkan foto-foto hasil jepretannya ke saya. Meskipun bahasa …

Terkesima Takayama

Tanpa gedung pencakar langit, tanpa jalur subway, tanpa iklan videotron yang menyilaukan mata di setiap perempatan jalan, tanpa mall, dan tanpa ratusan pejalan kaki yang berjalan terburu-buru di trotoar. Kiranya itu adalah gambaran sebuah kota kecil di daerah pegunungan Hida yang masuk dalam daftar itinerary saya untuk menyeimbangkan hiruk pikuk kota metropolitan Tokyo, mantan ibukota Kyoto, dan kota yang menurut saya absurd, Osaka. Takayama saya pilih menjadi persinggahan terakhir saat itu, sebelum kembali ke Indonesia via bandara Kansai di Osaka. Padahal jarak tempuh tercepat ke Kansai dari Takayama adalah minimal 4,5 jam dengan dua kali berpindah kereta. Kota di Perfektur Gifu ini sudah lama menjadi incaran karena sekaligus bisa ikut tur setengah hari ke Shirakawa-go dari terminal bis Takayama. Untuk menuju Takayama, saya mengambil jalur kereta dari kota Nagoya. Dari Stasiun Nagoya terdapat kereta langsung Ltd. Express (Wide View) Hida ke Stasiun Takayama yang sepenuhnya bisa ter-cover oleh JR Pass. Perjalanan kereta Express Hida memakan waktu hampir 2,5 jam untuk sampai ke Stasiun Takayama. Bukan waktu yang singkat untuk ukuran kereta express. Namun perjalanan kereta …

Mencari ‘Oase’ di Negeri Sakura

Stasiun JR Sannomiya adalah tujuan utama saya pada hari ketiga di Kyoto. Saya berniat menyambangi Masjid Kobe yang termahsyur di kalangan Muslim Jepang. Kenapa masjid? Yaa, saya rasa suguhan shrine dan temple bisa dinikmati hampir di seluruh sudut kota, Fushimi Inari dan beberapa spot kota Kyoto pun pernah saya sambangi sebelumnya, namun untuk sebuah masjid -yang di negara ini bisa dihitung dengan jari- saya pikir bisa menjadi pengalaman tersendiri. Mencari sesuatu yang langka kiranya tak berlebihan di tengah kondisi menjadi minoritas di negeri orang, layaknya mencari sebuah oase di padang pasir. Demi masjid yang pertama di bangun di Jepang, sampai ke Perfektur Hyogo saya jalani. Saya berangkat dari stasiun Kyoto dengan menggunakan kereta JR Special Rapid Service, jenis kereta jarak menengah. Butuh waktu lima puluh menit untuk sampai di stasiun yang terletak di Kota Kobe itu. Kobe dan Kyoto berjarak sekitar 70 km, merupakan kota yang berada dalam area Kansai seperti halnya Osaka dan Nara. Perjalanan ke Kobe saya tempuh dengan tidak santai –tanpa bahasa yang saya mengerti di sepanjang perjalanan kereta dengan jadwal kereta …

Let’s Go, Shirakawa-go

Hujan dari semalam belum kunjung reda saat saya bangun tidur di pagi pertama di Takayama, kota yang baru pertama kali saya kunjungi. Meskipun udara dingin seolah membisikkan agar saya kembali menarik selimut dan merebahkan badan di atas futon yang hangat, tapi saya sadar mesti bergegas menuju depan Stasiun Takayama. Saya harus sampai di meeting point 15 menit sebelum bis berangkat, bis akan berangkat sesuai jadwal tepat jam 8 pagi, meeting point ada di depan stasiun JR Takayama atau di seberang Washington Hotel Plaza, dan warna bis tur adalah merah. Itulah penjelasan staf hostel J-Hoppers Hida Takayama semalam, saat saya memutuskan untuk ikut tur pagi ke salah satu situs UNESCO, Shirakawa-go. Karena terngiang dengan ‘doktrin’ semalam dan terbayang dengan keindahan Shirakawa-go, jam 7 pagi saya sudah rapi dan tentu saja sudah mandi. Saya tidak langsung menuju stasiun tapi memutuskan untuk setidaknya menyesap secangkir minuman hangat di dapur hostel. Pintu dapur saya buka pelan-pelan , takut membuat kegaduhan karena hostel masih sepi. “Ohayo…!” Sapa ramah seorang pria oriental -yang ternyata sudah telebih dulu berada di dapur hostel- …

Terjebak di Lorong Tak Berujung, Fushimi Inari

Jika kamu menebak bahwa yang ada di Jepang berbentuk seperti lorong berwarna oranye itu bernama Fushimi Inari, kamu benar. Tapi jika kamu mengira bahwa Fushimi Inari hanya terdiri dari sebuah lorong torii, kamu salah. Pertama kali menginjakkan kaki di depan gerbang kuil, tepatnya dari depan Stasiun Inari, saya juga tidak menyangka bakal terjebak dalam lorong-lorong torii sepanjang 4 km. Cukup dua pemberhentian dari Stasiun Kyoto menggunakan JR Nara Line, kami sampai di shrine yang paling terkenal seantero Jepang. Menurut saya, tempat ini memang wajib dikunjungi siapapun yang berkunjung ke Negeri Sakura. Fushimi Inari berada Fushimi-ku, sebelah tenggara pusat kota Kyoto. Merupakan kuil tempat sembahyang penganut agama Shinto yang sudah berumur ratusan tahun. Perjalanan dimulai dari seberang Stasiun Inari, di depan kuil kami disambut oleh sebuah torii gate besar dan satu lagi ada sebelum memasuki gerbang utama. Bangunan yang didominasi warna merah menyala ini memang identik dengan yang ada di Kiyumizudera Temple maupun yang ada di Asakusa Shrine. Bedanya di sana tidak ada torii raksasa seperti di Inari ini. Setelah gerbang utama, terdapat aula persembahyangan dan …

Uniknya Osaka

Salah satu yang sangat saya suka dari traveling adalah bisa menemukan banyak hal tak terduga dan belajar dari apa yang saya temui di jalan. Masalah perbedaan bahasa, budaya dan kultur sepertinya sudah bukan kendala yang butuh waktu lama untuk beradaptasi. Justru saya merasa punya kewajiban untuk memahami kearifan lokal. Seperti ketika saya berada di Jepang, tiga kota yang saya kunjungi pun berbeda kultur kesehariannya. Pertama Tokyo, kota metropolitan berpenduduk paling banyak di dunia, memiliki ritme kehidupan yang serba cepat. Maka tidak heran jika berada di jalanan kota ini, saya merasa berada di tengah-tengah lautan manusia. Ke manapun seolah terburu-buru. Tidak hanya di jalan tapi juga di stasiun-stasiun kereta api bawah tanah. Kemudian Kyoto. Berbeda dengan Tokyo, Kyoto cenderung kota yang lebih tenang dan santai dengan nuansa tradisi budaya yang masih kental. Begitu juga dengan Osaka, di kota terpenting kedua di Jepang ini saya juga merasakan atmosfer kota yang berbeda. Baca juga: Top Things to Do in Osaka. Osaka adalah kota persinggahan terakhir saya di Jepang. Dibanding dua kota lainnya (Tokyo dan Kyoto), memang awalnya saya …

Menjelajah Keramahan (Omotenashi) Kyoto

Willer Express yang kami tumpangi dari Tokyo berhasil membuat saya terlelap hingga baru tersadar ketika bis sudah memasuki kota Kyoto. Tepat jam 6 pagi bis sampai sesuai jadwal di depan Stasiun Kyoto. Perjalanan selama 7 jam semalam cukup mengesankan karena kami bertemu tiga orang Indonesia dan berbarengan dalam satu bis menuju ke Kyoto. Meskipun kami harus berpisah dan melanjutkan rencana perjalanan masing-masing pagi ini. Willer Express, yang didominasi warna pink termasuk kursi penumpangnya. Stasiun Kyoto menjadi tempat persinggahan sementara sekaligus mencari toilet umum, membersihkan badan ala kadarnya dan mencari informasi wisata. Hostel yang sudah dipesan tentunya belum bisa kami masuki karena memang masih terlalu pagi. Stasiun Kyoto memang sangat besar dan modern, “Ini sih ngalahin stasiun Gambir.”, batin saya sambil ternganga melihat keindahan bangunannya. Bahkan lebih modern dari SHIA hihihi. Ada banyak loker koin di luar gedung stasiun yang dapat kami manfaatkan untuk menyimpan beberapa barang. Loker tersedia dengan beberapa ukuran dan harganya juga berbeda. Untuk bisa memakai loker, wajib memiliki uang pecahan 100 yen, karena cuma itu yang bisa diterima untuk mengambil kunci loker. …

Senja di Pulau Buatan, Odaiba

Ingin bertemu Robot Gundam seukuran aslinya? Atau ingin berfoto dengan Patung Liberty seperti yang ada di New York? datanglah ke Odaiba. Sebuah pulau buatan yang ada di Teluk Tokyo, Jepang. Menurut sejarah, awalnya pulau ini ‘dibangun’ untuk keperluan pertahanan bangsa Jepang. Namun seiring berjalannya waktu, pulau ini berkembang menjadi kota pelabuhan dan tumbuh menjadi area komersil, hiburan dan wisata. Replika Patung Liberty dengan latar belakang Rainbow Bridge dan Kota Tokyo Odaiba terhubung dengan pusat Kota Tokyo oleh sebuah jembatan dengan konstruksi yang sangat menakjubkan, Rainbow Bridge. Disebut Rainbow Bridge karena jika dilihat di malam hari, lampu-lampu yang menghiasi jembatan akan berubah-ubah warnanya. Bagian atas jembatan berfungsi sebagai jalan raya, sementara bagian bawah adalah rel yang digunakan untuk jalur monorel. Cara paling cepat untuk menuju ke sana adalah dengan naik Yurikamome Rapid Transit Line (monorel) dari Stasiun Shimbashi. Kereta tanpa masinis ini, mengajak kita untuk ‘berselancar’ di atas rel yang berketinggian seukuran lantai 5 gedung bertingkat dan menyeberangi Rainbow Bridge dengan kecepatan tinggi. Rainbow Bridge, yang menghubungkan pusat Tokyo dengan Odaiba Menunggu matahari tenggelam dari Odaiba …

Cara Hemat Keliling Tokyo, Melihat Gunung Fuji dan Naik Shinkansen

Siapapun yang berkesempatan mengunjungi Jepang, pasti tidak ingin melewatkan naik kereta super cepatnya, Shinkansen. Kata ‘mumpung’ biasanya membuat kita rela mengeluarkan duit lebih jika bepergian. Apalagi tiket naik Shinkansen memang tergolong mahal, terkadang malah bisa lebih mahal dari pesawat (bisa dicek di hyperdia.com). Tapi jika jeli berburu informasi, sebenarnya bisa disiasati karena banyak tawaran fasilitas khusus bagi para turis asing yang datang ke Jepang untuk mengeksplorasi kawasan wisatanya. Pun ketika saya sudah menginjakkan kaki di bandara Haneda Tokyo waktu itu, belum terpikir untuk menjajal Shinkansen nantinya. Kalau duit untuk backpacking berlebih bisa saja membeli JR Pass sebelum datang ke Jepang. Tapi harga 29.110 yen untuk 7 hari terlalu mahal dan mungkin tidak ‘pay off’ dibanding rencana itinerary saya. Sampai akhirnya saya menemukan informasi tentang Kanto Pass. Seperti menemukan oase di tengah gurun pasir. Berrrrr. Jika Anda berniat berkunjung dan mengeksplore Tokyo, maka tidak ada salahnya untuk memperluas area eksplorasi Anda seperti Yokohama, Hakone, Kawaguchiko, Izu dan Karuizawa dengan limited express train dan Shinkansen. Kanto Pass bisa dibeli dengan harga 8.300 yen untuk dewasa atau 4.200 …

7 Hal yang Bisa Diteladani Dari Jepang

Traveling bagi saya bukan sekedar sampai ke tempat yang dituju, kemudian menikmati segala atraksinya dan berfoto-foto. Berada di tempat baru yang asing, di tengah kehidupan masyarakat lokal tentu memaksa saya untuk beradaptasi. Beradaptasi adalah berarti belajar tentang hal-hal baru, tentang kebiasaan, peraturan, dan bersikap. Selama seminggu lebih berada di Negeri Sakura, ada beberapa hal yang membuat saya ‘amazed’ dan berandai ini semua bisa saya bawa pulang ke negeri saya. Hahaha. 1. Kebersihan Jujur, saya merasa iri dengan kebersihan negara ini. Saya menempatkan kebersihan di tempat pertama yang harusnya bisa kita tiru. Karena paling sederhana dan gampang dilakukan, tidak membutuhkan biaya yang mahal hanya butuh kesadaran masing-masing orang. Jepang masuk dalam jajaran negara terbersih di dunia, dan sangat enak dipandang. Meskipun di Tokyo dan kota-kota lainnya di Jepang tidak pernah ada tulisan “Dilarang Buang Sampah di Sini”, sebagaimana yang sering ditemui di Jakarta atau kota-kota lain di Indonesia. Namun dipastikan tidak ada sampah yang tercecer sembarangan. Bahkan sampah sekecil sobekan kertaspun tak saya lihat di pinggir jalan. Mungkin budaya malu yang telah mendarah daging turut mendorong …