All posts filed under: Landscape

One Day Trip to Mt. Huashan: Salju di Bulan Mei

Setelah menempuh perjalanan dari Xi’an dan akhirnya bisa sampai di ticket hall atau visitor center menuju pendakian Huashan, saya disambut oleh pemandu yang sangat ramah. Dia bukan memandu treking di Huashan, tapi hanya menjelaskan bagaimana gambaran jalur hiking dan macam-macam rutenya. Dari informasi yang saya peroleh, Mount Hua atau dalam bahasa China, Hua Shan, adalah salah satu dari 5 gunung terbesar di daratan China. Terdapat 5 titik puncaknya, yaitu: East Peak, memiliki ketinggian 2.090 meter dan sebagai spot untuk menyaksikan sunrise. Butuh sekitar 4 sampai 6 jam untuk mendaki sampai ke puncaknya. Normalnya jika memulai pendakian dari malam hari di titik ini. Middle Peak, masih menyatu dengan East Peak dan berada di tengah antara East Peak, South Peak dan West Peak. South Peak, memiliki ketinggian 2.160 meter dan merupakan yang tertinggi. West Peak, memiliki ketinggian 2.086,6 meter dan di sini terdapat sebuah kuil Taoist di puncaknya. North Peak, memiliki ketinggian 1.614 meter. Saat kondisi cuaca hujan seperti ini, dan bagi yang memulai treking siang hari seperti saya, ada cara mudah untuk sampai ke atas. Dengan …

Pesona Empat Musim Gunung Fuji

Bulan Juni menandakan sudah memasuki musim panas, atau orang Jepang bilang “Natsu”. Entah foto ke berapa dengan view seperti ini yang dikirim Pak Miyazaki via Line, tapi saya tak pernah bosan melihatnya. Setiap musim akan selalu ada yang berbeda dari setiap detail gambar yang diambil dari Arakurayama Sengen Park ini. Dari musim gugur, musim dingin, musim semi, dan sekarang musim panas. Perlu perjuangan untuk bisa mengambil gambar dengan angle seperti ini. Ada ratusan anak tangga yang siap ditapaki untuk mencapai bukit di samping Arakura Sengen Shrine. Pak Miyazaki sempat menyindir ketika di tengah jalan saya bertanya kira-kira tinggal berapa banyak anak tangga lagi yang harus saya lalui. Alih-alih memberi bocoran, beliau malah bilang, “Hey, kamu jauh lebih muda dari saya, masa mau menyerah. Tinggal jalan saja ke atas!”. Secara tak sengaja, saya bertemu Pak Miyazaki ketika sedang meniti anak tangga menuju Chureito Pagoda di atas bukit. Saya dianggapnya kurang beruntung saat itu, karena sebagian puncak Gunung Fuji sedang tertutup kabut. Karena itulah, kemudian dengan baik hati beliau menawarkan foto-foto hasil jepretannya ke saya. Meskipun bahasa …

Let’s Go, Shirakawa-go

Hujan dari semalam belum kunjung reda saat saya bangun tidur di pagi pertama di Takayama, kota yang baru pertama kali saya kunjungi. Meskipun udara dingin seolah membisikkan agar saya kembali menarik selimut dan merebahkan badan di atas futon yang hangat, tapi saya sadar mesti bergegas menuju depan Stasiun Takayama. Saya harus sampai di meeting point 15 menit sebelum bis berangkat, bis akan berangkat sesuai jadwal tepat jam 8 pagi, meeting point ada di depan stasiun JR Takayama atau di seberang Washington Hotel Plaza, dan warna bis tur adalah merah. Itulah penjelasan staf hostel J-Hoppers Hida Takayama semalam, saat saya memutuskan untuk ikut tur pagi ke salah satu situs UNESCO, Shirakawa-go. Karena terngiang dengan ‘doktrin’ semalam dan terbayang dengan keindahan Shirakawa-go, jam 7 pagi saya sudah rapi dan tentu saja sudah mandi. Saya tidak langsung menuju stasiun tapi memutuskan untuk setidaknya menyesap secangkir minuman hangat di dapur hostel. Pintu dapur saya buka pelan-pelan , takut membuat kegaduhan karena hostel masih sepi. “Ohayo…!” Sapa ramah seorang pria oriental -yang ternyata sudah telebih dulu berada di dapur hostel- …

Inilah Sisa-Sisa Kota Kuno Ayutthaya

Dua jam perjalanan kereta ke arah utara dari kota Bangkok mengubah pandangan saya bahwa tidak semua yang berbeda ataupun lebih modern adalah yang saya cari ketika bertandang ke negeri orang. Setelah melihat gemerlapnya ibu kota, kemudian menyaksikan realitas daerah pinggiran yang masih belum seluruhnya terjamah pembangunan justru membuat saya menikmati sebuah perjalanan. Perjalanan yang seolah menjadi ajang nostalgia ke zaman ‘PT. KAI belum dipegang Ignasius Jonan’. Iya. Kereta ekonomi, yang tanpa tempat duduk empuk, yang duduknya berhadap-hadapan tanpa AC, yang ada pedagang-asongan-sliweran-ikut-naik-kereta-tanpa-menyerah-menawarkan-dagangannya, yang orang bebas merokok di dalam gerbong yang panas menyengat, dan yang bisa saja saya berdiri atau ngemper di bawah karena tidak kebagian tempat duduk. Hal-hal seperti inilah yang (sayangnya) tidak bisa saya temui lagi di Indonesia. Dan suatu saat akan saya banggakan menjadi cerita unik untuk anak cucu saya. Kelar dua jam yang penuh kenangan dan penuh kedekatan dengan penduduk lokal di dalam kereta bertarif 15 Baht (kurang dari 6 ribu rupiah), kini saatnya turun di Stasiun Ayutthaya. Sebuah stasiun yang cukup sederhana untuk ukuran suatu kota. Hanya ada dua lajur rel, …

Terjebak di Lorong Tak Berujung, Fushimi Inari

Jika kamu menebak bahwa yang ada di Jepang berbentuk seperti lorong berwarna oranye itu bernama Fushimi Inari, kamu benar. Tapi jika kamu mengira bahwa Fushimi Inari hanya terdiri dari sebuah lorong torii, kamu salah. Pertama kali menginjakkan kaki di depan gerbang kuil, tepatnya dari depan Stasiun Inari, saya juga tidak menyangka bakal terjebak dalam lorong-lorong torii sepanjang 4 km. Cukup dua pemberhentian dari Stasiun Kyoto menggunakan JR Nara Line, kami sampai di shrine yang paling terkenal seantero Jepang. Menurut saya, tempat ini memang wajib dikunjungi siapapun yang berkunjung ke Negeri Sakura. Fushimi Inari berada Fushimi-ku, sebelah tenggara pusat kota Kyoto. Merupakan kuil tempat sembahyang penganut agama Shinto yang sudah berumur ratusan tahun. Perjalanan dimulai dari seberang Stasiun Inari, di depan kuil kami disambut oleh sebuah torii gate besar dan satu lagi ada sebelum memasuki gerbang utama. Bangunan yang didominasi warna merah menyala ini memang identik dengan yang ada di Kiyumizudera Temple maupun yang ada di Asakusa Shrine. Bedanya di sana tidak ada torii raksasa seperti di Inari ini. Setelah gerbang utama, terdapat aula persembahyangan dan …

Uniknya Osaka

Salah satu yang sangat saya suka dari traveling adalah bisa menemukan banyak hal tak terduga dan belajar dari apa yang saya temui di jalan. Masalah perbedaan bahasa, budaya dan kultur sepertinya sudah bukan kendala yang butuh waktu lama untuk beradaptasi. Justru saya merasa punya kewajiban untuk memahami kearifan lokal. Seperti ketika saya berada di Jepang, tiga kota yang saya kunjungi pun berbeda kultur kesehariannya. Pertama Tokyo, kota metropolitan berpenduduk paling banyak di dunia, memiliki ritme kehidupan yang serba cepat. Maka tidak heran jika berada di jalanan kota ini, saya merasa berada di tengah-tengah lautan manusia. Ke manapun seolah terburu-buru. Tidak hanya di jalan tapi juga di stasiun-stasiun kereta api bawah tanah. Kemudian Kyoto. Berbeda dengan Tokyo, Kyoto cenderung kota yang lebih tenang dan santai dengan nuansa tradisi budaya yang masih kental. Begitu juga dengan Osaka, di kota terpenting kedua di Jepang ini saya juga merasakan atmosfer kota yang berbeda. Baca juga: Top Things to Do in Osaka. Osaka adalah kota persinggahan terakhir saya di Jepang. Dibanding dua kota lainnya (Tokyo dan Kyoto), memang awalnya saya …

Menjelajah Keramahan (Omotenashi) Kyoto

Willer Express yang kami tumpangi dari Tokyo berhasil membuat saya terlelap hingga baru tersadar ketika bis sudah memasuki kota Kyoto. Tepat jam 6 pagi bis sampai sesuai jadwal di depan Stasiun Kyoto. Perjalanan selama 7 jam semalam cukup mengesankan karena kami bertemu tiga orang Indonesia dan berbarengan dalam satu bis menuju ke Kyoto. Meskipun kami harus berpisah dan melanjutkan rencana perjalanan masing-masing pagi ini. Willer Express, yang didominasi warna pink termasuk kursi penumpangnya. Stasiun Kyoto menjadi tempat persinggahan sementara sekaligus mencari toilet umum, membersihkan badan ala kadarnya dan mencari informasi wisata. Hostel yang sudah dipesan tentunya belum bisa kami masuki karena memang masih terlalu pagi. Stasiun Kyoto memang sangat besar dan modern, “Ini sih ngalahin stasiun Gambir.”, batin saya sambil ternganga melihat keindahan bangunannya. Bahkan lebih modern dari SHIA hihihi. Ada banyak loker koin di luar gedung stasiun yang dapat kami manfaatkan untuk menyimpan beberapa barang. Loker tersedia dengan beberapa ukuran dan harganya juga berbeda. Untuk bisa memakai loker, wajib memiliki uang pecahan 100 yen, karena cuma itu yang bisa diterima untuk mengambil kunci loker. …

Senja di Pulau Buatan, Odaiba

Ingin bertemu Robot Gundam seukuran aslinya? Atau ingin berfoto dengan Patung Liberty seperti yang ada di New York? datanglah ke Odaiba. Sebuah pulau buatan yang ada di Teluk Tokyo, Jepang. Menurut sejarah, awalnya pulau ini ‘dibangun’ untuk keperluan pertahanan bangsa Jepang. Namun seiring berjalannya waktu, pulau ini berkembang menjadi kota pelabuhan dan tumbuh menjadi area komersil, hiburan dan wisata. Replika Patung Liberty dengan latar belakang Rainbow Bridge dan Kota Tokyo Odaiba terhubung dengan pusat Kota Tokyo oleh sebuah jembatan dengan konstruksi yang sangat menakjubkan, Rainbow Bridge. Disebut Rainbow Bridge karena jika dilihat di malam hari, lampu-lampu yang menghiasi jembatan akan berubah-ubah warnanya. Bagian atas jembatan berfungsi sebagai jalan raya, sementara bagian bawah adalah rel yang digunakan untuk jalur monorel. Cara paling cepat untuk menuju ke sana adalah dengan naik Yurikamome Rapid Transit Line (monorel) dari Stasiun Shimbashi. Kereta tanpa masinis ini, mengajak kita untuk ‘berselancar’ di atas rel yang berketinggian seukuran lantai 5 gedung bertingkat dan menyeberangi Rainbow Bridge dengan kecepatan tinggi. Rainbow Bridge, yang menghubungkan pusat Tokyo dengan Odaiba Menunggu matahari tenggelam dari Odaiba …

Salah Jurusan dan Serombongan Dengan Turis Thailand di Putrajaya

KLIA Transit membawa saya dan Ochi dari KL Sentral menuju pusat pemerintahan negara Malaysia, Putrajaya. Kereta berkecepatan tinggi ini sejatinya akan menuju tujuan akhir Kuala Lumpur International Airport (KLIA). Namun karena kami ingin ke Putrajaya, jadi kami mengakhiri setengah perjalanan KLIA Transit di Stesen (sebutan untuk stasiun dalam bahasa Melayu) Putrajaya Dan Cyberjaya. Putrajaya terletak sekitar 25 KM sebelah selatan ibu kota Kuala Lumpur. Sengaja dibangun khusus untuk pusat administasi pemerintahan Malaysia. Bisa dikatakan letaknya persis di tengah-tengah antara Kuala Lumpur dan KLIA. Putrajaya merupakan ‘komplek’ kantor Perdana Menteri, kantor-kantor lembaga Kementerian, dan fasilitas-fasilitas pendukungnya. Dengan harga tiket KL Sentral- Putrajaya sebesar 9,5 RM, perjalanan dengan KLIA Transit menghabiskan waktu sekitar 20 menit. Stesen Putrajaya terlihat sepi saat kami sampai di sana. Wajar saja, karena hanya KLIA Transit yang berhenti di sana dan berselang teratur setiap 15 menit sekali. Kami langsung menuju ke Putrajaya Sentral (semacam terminal bis), yang terletak bersebelahan dengan Stesen. Saat sudah menginjakkan kaki di terminal bis, saya sadar bahwa kami belum tahu apa nama tempat yang akan kami tuju dan bus …

A Trail To Samosir

The car toward Parapat moved in high speed, crossing the road up and down along the rubber and palm oil plantations. Sometimes I wanted to close my eyes and sleep, but the beauty of the tightly packed rows of trees always made me amazed and realize how rich this country is (with its natural products). As the car passed the hectares of plantations, it started crossing through the forest path and gradually lined on side by dark blue lake surface. Port of Tiga Raja The sky was cloudy when we arrived at the Port of Tiga Raja after that five-hour road trip from Kuala Namu Airport. No need to wait, as we got there, a ferry boat would already soon leave for the island. We immediately boarded, in a minute the boat moved slowly away from the port side to the middle of the lake. As a slight rain started to fall, it did not make me move from the top deck of the boat. The wind was blowing such the balmy breeze, very cool, …