All posts filed under: Pictures

Jinhae Gunhangje, Festival Bunga Sakura Terbesar di Korea

Siapa yang tidak terpesona dengan keindahan bunga Sakura? Warna putih atau merah jambu kelopaknya dengan tangkai yang tumbuh memenuhi setiap ranting pohonnya mampu mengalihkan setiap pandangan mata. Momen mekarnya yang hanya berlangsung selama satu minggu setiap tahunnya, menjadikan bunga Sakura sebagai tujuan wisata eksklusif di musim semi. Tidak mudah untuk memprediksi kapan tepatnya bunga Sakura akan mekar setiap tahunnya. Begitupun dengan merencanakan trip musim semi untuk mendapatkan momen langka ini. Bunga sakura mulai mekar jika suhu udara mulai menghangat setelah selesainya musim dingin. Di Korea, setiap daerah akan berbeda waktunya. Dari selatan ke utara, wilayah selatan sekitar Busan akan mendapatkan mekarnya bunga sakura terlebih dahulu dari akhir bulan Maret, sementara Seoul yang terletak di bagian utara tentunya akan lebih lambat yaitu sekitar pertengahan bulan April. Saya merencanakan trip ke Korea tiga bulan sebelum keberangkatan, sebenarnya bukan sengaja untuk mengejar momen bunga Sakura tapi karena adanya tiket pesawat promo waktu itu. Hehehe. Setelah browsing ke sana ke mari mengumpulkan informasi untuk menyusun itinerary, baru sadar ternyata tanggal trip saya bertepatan dengan musim semi. Musim semi adalah …

Muslim Quarter: Heaven of Delicacies in Xi’an

Just take a walk to the north of Xi’an Drum Tower in city center, you will find hundreds of food vendors along the street. This about-500-meter-long street is called Beiyuanmen Muslim Street or also better known as Xi’an Muslim Quarter. Just as its name, here is the place for Muslim community in city of Xi’an, Shaanxi Province, China. They live around the city center and are the descendants of Hui tribe. That’s why there are about ten mosques around this area including The Great Mosque. During three-day stay in the city of Xi’an, there was no day I missed to go here. Of course for adventuring the authentic local Chinese foods, and I swear I never regretted. The sounds of the crowded street, the sights of the vendors and shoppers, and the smells are very fantastic. Moreover, I could choose any food and no need to worry to eat it. There are lots of barbecue food offered here, the most common is lamb but they also have lots kind of food made from chicken, beef, …

Terkesima Takayama

Tanpa gedung pencakar langit, tanpa jalur subway, tanpa iklan videotron yang menyilaukan mata di setiap perempatan jalan, tanpa mall, dan tanpa ratusan pejalan kaki yang berjalan terburu-buru di trotoar. Kiranya itu adalah gambaran sebuah kota kecil di daerah pegunungan Hida yang masuk dalam daftar itinerary saya untuk menyeimbangkan hiruk pikuk kota metropolitan Tokyo, mantan ibukota Kyoto, dan kota yang menurut saya absurd, Osaka. Takayama saya pilih menjadi persinggahan terakhir saat itu, sebelum kembali ke Indonesia via bandara Kansai di Osaka. Padahal jarak tempuh tercepat ke Kansai dari Takayama adalah minimal 4,5 jam dengan dua kali berpindah kereta. Kota di Perfektur Gifu ini sudah lama menjadi incaran karena sekaligus bisa ikut tur setengah hari ke Shirakawa-go dari terminal bis Takayama. Untuk menuju Takayama, saya mengambil jalur kereta dari kota Nagoya. Dari Stasiun Nagoya terdapat kereta langsung Ltd. Express (Wide View) Hida ke Stasiun Takayama yang sepenuhnya bisa ter-cover oleh JR Pass. Perjalanan kereta Express Hida memakan waktu hampir 2,5 jam untuk sampai ke Stasiun Takayama. Bukan waktu yang singkat untuk ukuran kereta express. Namun perjalanan kereta …

Remarkable Dongdaemun Design Plaza

Dongdaemun Design Plaza (DDP) in Seoul, South Korea may be the most remarkable modern-architectural building I’ve ever seen. Its quaint shape reminded me of Alien’s UFO (Unidentified Flying Object) I used to see in fictional programs. DDP is located in a large shopping district, Dongdaemun, and can be reached by Subway from Dongdaemun History and Cultural Park Station (Line 2, 4 and 5) exit 1. This iconic landmark of Seoul was designed by a British Iraqi Architect, Zaha Hadid, and was officially inaugurated in 2014. This is the house for exhibiting various creative industries in Seoul such as crafts, gifts, fashions, cosmetics, etc. The Dongdaemun Design Plaza also provides convention hall and exhibition hall as well. The cherry blossom trees in the garden of DDP started blooming when I first came here just couple of hours after arrived in Korea as a sign that Spring had already started. I felt so impressed and welcomed then. There are also thousands of beautiful artificial LED roses in Design Park you can enjoy at night.

Inilah Sisa-Sisa Kota Kuno Ayutthaya

Dua jam perjalanan kereta ke arah utara dari kota Bangkok mengubah pandangan saya bahwa tidak semua yang berbeda ataupun lebih modern adalah yang saya cari ketika bertandang ke negeri orang. Setelah melihat gemerlapnya ibu kota, kemudian menyaksikan realitas daerah pinggiran yang masih belum seluruhnya terjamah pembangunan justru membuat saya menikmati sebuah perjalanan. Perjalanan yang seolah menjadi ajang nostalgia ke zaman ‘PT. KAI belum dipegang Ignasius Jonan’. Iya. Kereta ekonomi, yang tanpa tempat duduk empuk, yang duduknya berhadap-hadapan tanpa AC, yang ada pedagang-asongan-sliweran-ikut-naik-kereta-tanpa-menyerah-menawarkan-dagangannya, yang orang bebas merokok di dalam gerbong yang panas menyengat, dan yang bisa saja saya berdiri atau ngemper di bawah karena tidak kebagian tempat duduk. Hal-hal seperti inilah yang (sayangnya) tidak bisa saya temui lagi di Indonesia. Dan suatu saat akan saya banggakan menjadi cerita unik untuk anak cucu saya. Kelar dua jam yang penuh kenangan dan penuh kedekatan dengan penduduk lokal di dalam kereta bertarif 15 Baht (kurang dari 6 ribu rupiah), kini saatnya turun di Stasiun Ayutthaya. Sebuah stasiun yang cukup sederhana untuk ukuran suatu kota. Hanya ada dua lajur rel, …

Telusur Angkutan Umum Bangkok

Pernah nonton film Thailand yang berjudul “Bangkok Traffic Love Story”?, kalau belum, tontonlah (karena menurut saya cukup recomended) dan jika datang ke Bangkok, cobalah untuk merasakan realitasnya. Bukan untuk mempromosikan film dan kota Bangkoknya, tapi kemacetan dan uniknya moda transportasi bangkok yang tidak jauh berbeda dengan yang dialami tokoh di film itu bisa menjadi salah satu pengalaman backpack travelingmu. Syukur-syukur kamu dapat love story-nya juga. 😉 Kota Bangkok sebenarnya tak jauh berbeda dengan Jakarta, dilihat dari suasana dan tampang orang-orangnya. Hanya saja, Bangkok sudah agak bersih, agak tertib, dan agak bervariasi moda transportasi umunya. Bis Kota tidak berhenti di sembarang tempat, sudah ada kereta layang yang mereka sebut BTS dan sudah ada kereta bawah tanah yang mereka sebut MRT. Wah kalau begitu Jakarta masih ketinggalan berarti. Rambu penujuk jalan adalah hal paling vital saat backpack travel. Di sudut manapun saya selalu berharap adanya rambu penunjuk arah sehingga tidak perlu malu-malu bertanya. Ditambah mayoritas orang Thailand tidak cakap berbahasa Inggris, bahkan yang tampangnya seperti pelajar pun tidak bisa kamu harapkan. Thailand bukan negara pemakai huruf alfabet, …

Terjebak di Lorong Tak Berujung, Fushimi Inari

Jika kamu menebak bahwa yang ada di Jepang berbentuk seperti lorong berwarna oranye itu bernama Fushimi Inari, kamu benar. Tapi jika kamu mengira bahwa Fushimi Inari hanya terdiri dari sebuah lorong torii, kamu salah. Pertama kali menginjakkan kaki di depan gerbang kuil, tepatnya dari depan Stasiun Inari, saya juga tidak menyangka bakal terjebak dalam lorong-lorong torii sepanjang 4 km. Cukup dua pemberhentian dari Stasiun Kyoto menggunakan JR Nara Line, kami sampai di shrine yang paling terkenal seantero Jepang. Menurut saya, tempat ini memang wajib dikunjungi siapapun yang berkunjung ke Negeri Sakura. Fushimi Inari berada Fushimi-ku, sebelah tenggara pusat kota Kyoto. Merupakan kuil tempat sembahyang penganut agama Shinto yang sudah berumur ratusan tahun. Perjalanan dimulai dari seberang Stasiun Inari, di depan kuil kami disambut oleh sebuah torii gate besar dan satu lagi ada sebelum memasuki gerbang utama. Bangunan yang didominasi warna merah menyala ini memang identik dengan yang ada di Kiyumizudera Temple maupun yang ada di Asakusa Shrine. Bedanya di sana tidak ada torii raksasa seperti di Inari ini. Setelah gerbang utama, terdapat aula persembahyangan dan …

Menjelajah Keramahan (Omotenashi) Kyoto

Willer Express yang kami tumpangi dari Tokyo berhasil membuat saya terlelap hingga baru tersadar ketika bis sudah memasuki kota Kyoto. Tepat jam 6 pagi bis sampai sesuai jadwal di depan Stasiun Kyoto. Perjalanan selama 7 jam semalam cukup mengesankan karena kami bertemu tiga orang Indonesia dan berbarengan dalam satu bis menuju ke Kyoto. Meskipun kami harus berpisah dan melanjutkan rencana perjalanan masing-masing pagi ini. Willer Express, yang didominasi warna pink termasuk kursi penumpangnya. Stasiun Kyoto menjadi tempat persinggahan sementara sekaligus mencari toilet umum, membersihkan badan ala kadarnya dan mencari informasi wisata. Hostel yang sudah dipesan tentunya belum bisa kami masuki karena memang masih terlalu pagi. Stasiun Kyoto memang sangat besar dan modern, “Ini sih ngalahin stasiun Gambir.”, batin saya sambil ternganga melihat keindahan bangunannya. Bahkan lebih modern dari SHIA hihihi. Ada banyak loker koin di luar gedung stasiun yang dapat kami manfaatkan untuk menyimpan beberapa barang. Loker tersedia dengan beberapa ukuran dan harganya juga berbeda. Untuk bisa memakai loker, wajib memiliki uang pecahan 100 yen, karena cuma itu yang bisa diterima untuk mengambil kunci loker. …

Senja di Pulau Buatan, Odaiba

Ingin bertemu Robot Gundam seukuran aslinya? Atau ingin berfoto dengan Patung Liberty seperti yang ada di New York? datanglah ke Odaiba. Sebuah pulau buatan yang ada di Teluk Tokyo, Jepang. Menurut sejarah, awalnya pulau ini ‘dibangun’ untuk keperluan pertahanan bangsa Jepang. Namun seiring berjalannya waktu, pulau ini berkembang menjadi kota pelabuhan dan tumbuh menjadi area komersil, hiburan dan wisata. Replika Patung Liberty dengan latar belakang Rainbow Bridge dan Kota Tokyo Odaiba terhubung dengan pusat Kota Tokyo oleh sebuah jembatan dengan konstruksi yang sangat menakjubkan, Rainbow Bridge. Disebut Rainbow Bridge karena jika dilihat di malam hari, lampu-lampu yang menghiasi jembatan akan berubah-ubah warnanya. Bagian atas jembatan berfungsi sebagai jalan raya, sementara bagian bawah adalah rel yang digunakan untuk jalur monorel. Cara paling cepat untuk menuju ke sana adalah dengan naik Yurikamome Rapid Transit Line (monorel) dari Stasiun Shimbashi. Kereta tanpa masinis ini, mengajak kita untuk ‘berselancar’ di atas rel yang berketinggian seukuran lantai 5 gedung bertingkat dan menyeberangi Rainbow Bridge dengan kecepatan tinggi. Rainbow Bridge, yang menghubungkan pusat Tokyo dengan Odaiba Menunggu matahari tenggelam dari Odaiba …

Butterfly Farm dan Penang Hill

Perjalanan kami lanjutkan ke Butterfly Farm pagi harinya, keluar dari ibukota Georgetown, untuk eksplorasi tempat lain di Pulau Penang. Perjalanan dimulai dari terminal KOMTAR, yang kami tempuh hanya dengan berjalan kaki dari hostel tempat kami menginap di Kimberley Street. Untuk menuju Penang Butterfly Farm, bisa ditempuh dengan bis Rapid Penang nomor 101 jurusan Teluk Bahang. Papan Daftar Tarif Bis di Terminal KOMTAR Meskipun Pulau Penang ukurannya kurang dari 1/5 luas Pulau Bali, namun transportasi umum di sini sangat memadai. Bus umum Rapid Penang tersedia dari ujung ke ujung, menjangkau semua objek wisatanya. Bisnya besar, ber-AC dan bersih. Tarifnya pun tidak terlalu mahal, mulai dari RM 1,4 untuk 7 KM pertama dan maksimal RM 4 untuk jarak lebih dari 28 KM. Rapid Penang Meskipun demikian, sistem pembayarannya masih manual tidak memakai kartu alias harus pakai uang cash. Perlu diperhatikan juga bahwa supir bus tidak menyediakan kembalian, jadi sebaiknya sediakan uang pas jika tidak ingin rugi. Penang Butterfly Farm terletak di daerah Teluk Bahang, jauh di luar ibukota Penang, Georgetown. Berbeda dengan Georgetown yang berisi bangunan-bangunan klasik, …