All posts filed under: Thailand

10 Hari: 5 Negara dan 7 Kota Asia Tenggara (2)

Saat memutuskan untuk melakukan perjalanan solo, ada banyak hal yang telah saya pertimbangkan. Selain masalah keamanan, juga kondisi kesehatan selama di jalan. Lima negara yang bakal saya lintasi, tentu memiliki perbedaan bahasa, budaya lokal, mata uang sampai makanan yang akan saya konsumsi. Menjaga diri dan mawas diri adalah hal mutlak selama di dalam perjalanan. To be a smart traveler. Selama 5 hari saya sudah melewati negara Singapura dan Vietnam serta ibukota Kamboja, Phnom Penh, seperti pada cerita sebelumnya. Kali ini perjalanan saya lanjutkan menuju kota lain di Kamboja yaitu Siem Reap. Hari 6 – Perjalanan ke Siem Reap Semalam Yuko dan saya sudah berjanji untuk joint trip ke Angkor Wat, kami bertukar akun Line untuk berkomunikasi. Karena kami tak satu perjalanan dari Phnom Penh ke Siem Reap. Dia akan mengambil jadwal bis malam hari, sementara saya mengambil jadwal pagi. Saya bergegas membereskan barang untuk check out pagi dan sarapan di hostel karena harganya reasonable. USD 2 untuk pancake berukuran jumbo, potongan buah, dan jus jeruk. Saya ditemani roommate yang juga orang Jepang, namun saya lupa …

Inilah Sisa-Sisa Kota Kuno Ayutthaya

Dua jam perjalanan kereta ke arah utara dari kota Bangkok mengubah pandangan saya bahwa tidak semua yang berbeda ataupun lebih modern adalah yang saya cari ketika bertandang ke negeri orang. Setelah melihat gemerlapnya ibu kota, kemudian menyaksikan realitas daerah pinggiran yang masih belum seluruhnya terjamah pembangunan justru membuat saya menikmati sebuah perjalanan. Perjalanan yang seolah menjadi ajang nostalgia ke zaman ‘PT. KAI belum dipegang Ignasius Jonan’. Iya. Kereta ekonomi, yang tanpa tempat duduk empuk, yang duduknya berhadap-hadapan tanpa AC, yang ada pedagang-asongan-sliweran-ikut-naik-kereta-tanpa-menyerah-menawarkan-dagangannya, yang orang bebas merokok di dalam gerbong yang panas menyengat, dan yang bisa saja saya berdiri atau ngemper di bawah karena tidak kebagian tempat duduk. Hal-hal seperti inilah yang (sayangnya) tidak bisa saya temui lagi di Indonesia. Dan suatu saat akan saya banggakan menjadi cerita unik untuk anak cucu saya. Kelar dua jam yang penuh kenangan dan penuh kedekatan dengan penduduk lokal di dalam kereta bertarif 15 Baht (kurang dari 6 ribu rupiah), kini saatnya turun di Stasiun Ayutthaya. Sebuah stasiun yang cukup sederhana untuk ukuran suatu kota. Hanya ada dua lajur rel, …

Telusur Angkutan Umum Bangkok

Pernah nonton film Thailand yang berjudul “Bangkok Traffic Love Story”?, kalau belum, tontonlah (karena menurut saya cukup recomended) dan jika datang ke Bangkok, cobalah untuk merasakan realitasnya. Bukan untuk mempromosikan film dan kota Bangkoknya, tapi kemacetan dan uniknya moda transportasi bangkok yang tidak jauh berbeda dengan yang dialami tokoh di film itu bisa menjadi salah satu pengalaman backpack travelingmu. Syukur-syukur kamu dapat love story-nya juga. 😉 Kota Bangkok sebenarnya tak jauh berbeda dengan Jakarta, dilihat dari suasana dan tampang orang-orangnya. Hanya saja, Bangkok sudah agak bersih, agak tertib, dan agak bervariasi moda transportasi umunya. Bis Kota tidak berhenti di sembarang tempat, sudah ada kereta layang yang mereka sebut BTS dan sudah ada kereta bawah tanah yang mereka sebut MRT. Wah kalau begitu Jakarta masih ketinggalan berarti. Rambu penujuk jalan adalah hal paling vital saat backpack travel. Di sudut manapun saya selalu berharap adanya rambu penunjuk arah sehingga tidak perlu malu-malu bertanya. Ditambah mayoritas orang Thailand tidak cakap berbahasa Inggris, bahkan yang tampangnya seperti pelajar pun tidak bisa kamu harapkan. Thailand bukan negara pemakai huruf alfabet, …