All posts filed under: Trip

Jinhae Gunhangje, Festival Bunga Sakura Terbesar di Korea

Siapa yang tidak terpesona dengan keindahan bunga Sakura? Warna putih atau merah jambu kelopaknya dengan tangkai yang tumbuh memenuhi setiap ranting pohonnya mampu mengalihkan setiap pandangan mata. Momen mekarnya yang hanya berlangsung selama satu minggu setiap tahunnya, menjadikan bunga Sakura sebagai tujuan wisata eksklusif di musim semi. Tidak mudah untuk memprediksi kapan tepatnya bunga Sakura akan mekar setiap tahunnya. Begitupun dengan merencanakan trip musim semi untuk mendapatkan momen langka ini. Bunga sakura mulai mekar jika suhu udara mulai menghangat setelah selesainya musim dingin. Di Korea, setiap daerah akan berbeda waktunya. Dari selatan ke utara, wilayah selatan sekitar Busan akan mendapatkan mekarnya bunga sakura terlebih dahulu dari akhir bulan Maret, sementara Seoul yang terletak di bagian utara tentunya akan lebih lambat yaitu sekitar pertengahan bulan April. Saya merencanakan trip ke Korea tiga bulan sebelum keberangkatan, sebenarnya bukan sengaja untuk mengejar momen bunga Sakura tapi karena adanya tiket pesawat promo waktu itu. Hehehe. Setelah browsing ke sana ke mari mengumpulkan informasi untuk menyusun itinerary, baru sadar ternyata tanggal trip saya bertepatan dengan musim semi. Musim semi adalah …

Pesona Empat Musim Gunung Fuji

Bulan Juni menandakan sudah memasuki musim panas, atau orang Jepang bilang “Natsu”. Entah foto ke berapa dengan view seperti ini yang dikirim Pak Miyazaki via Line, tapi saya tak pernah bosan melihatnya. Setiap musim akan selalu ada yang berbeda dari setiap detail gambar yang diambil dari Arakurayama Sengen Park ini. Dari musim gugur, musim dingin, musim semi, dan sekarang musim panas. Perlu perjuangan untuk bisa mengambil gambar dengan angle seperti ini. Ada ratusan anak tangga yang siap ditapaki untuk mencapai bukit di samping Arakura Sengen Shrine. Pak Miyazaki sempat menyindir ketika di tengah jalan saya bertanya kira-kira tinggal berapa banyak anak tangga lagi yang harus saya lalui. Alih-alih memberi bocoran, beliau malah bilang, “Hey, kamu jauh lebih muda dari saya, masa mau menyerah. Tinggal jalan saja ke atas!”. Secara tak sengaja, saya bertemu Pak Miyazaki ketika sedang meniti anak tangga menuju Chureito Pagoda di atas bukit. Saya dianggapnya kurang beruntung saat itu, karena sebagian puncak Gunung Fuji sedang tertutup kabut. Karena itulah, kemudian dengan baik hati beliau menawarkan foto-foto hasil jepretannya ke saya. Meskipun bahasa …

Muslim Quarter: Heaven of Delicacies in Xi’an

Just take a walk to the north of Xi’an Drum Tower in city center, you will find hundreds of food vendors along the street. This about-500-meter-long street is called Beiyuanmen Muslim Street or also better known as Xi’an Muslim Quarter. Just as its name, here is the place for Muslim community in city of Xi’an, Shaanxi Province, China. They live around the city center and are the descendants of Hui tribe. That’s why there are about ten mosques around this area including The Great Mosque. During three-day stay in the city of Xi’an, there was no day I missed to go here. Of course for adventuring the authentic local Chinese foods, and I swear I never regretted. The sounds of the crowded street, the sights of the vendors and shoppers, and the smells are very fantastic. Moreover, I could choose any food and no need to worry to eat it. There are lots of barbecue food offered here, the most common is lamb but they also have lots kind of food made from chicken, beef, …

‘Oase’ di Negeri Ginseng

Tentang perjalanan ke Negeri Ginseng, meskipun hanya beberapa hari, namun saya bisa merasakan bagaimana warga lokal memperlakukan orang asing. Salah satu kejadian yang melekat di ingatan saya, dan mungkin pernah juga dialami oleh Muslim di Korea Selatan, yaitu ketika ada seorang petugas stasiun Gapyeong menanyakan kenapa saya memakai ‘penutup kepala’. Saat itu saya sedang bersama tiga traveler asal Indonesia yang kebetulan semuanya memakai hijab. Petugas stasiun itu pun sepertinya sama sekali tak paham bahwa yang kami pakai disebut ‘hijab’. Yang dia tanyakan seperti ini: “Kenapa kalian memakai sesuatu (kain) di kepala?”. ** Bisa dipastikan, tiap kali berkunjung ke negara orang, ke manapun itu, akan ada hal baru yang ditemui di jalan. Terutama bagi penganut jalan mandiri alias backpacking di mana tak akan ada tourguide yang mengarahkanmu kemana-mana. Tantangan akan selalu ada, dari masalah komunikasi, perbedaan karakter dan budaya masyarakat setempat maupun selera makanan, khususnya bagi traveler Muslim. Menjadi traveler bagi sebagian Muslim memang tidak mudah, terutama jika pergi ke negara yang muslimnya minoritas. Seperti ibuku yang selalu menanyakan hal yang sama setiap kali saya akan …

Terkesima Takayama

Tanpa gedung pencakar langit, tanpa jalur subway, tanpa iklan videotron yang menyilaukan mata di setiap perempatan jalan, tanpa mall, dan tanpa ratusan pejalan kaki yang berjalan terburu-buru di trotoar. Kiranya itu adalah gambaran sebuah kota kecil di daerah pegunungan Hida yang masuk dalam daftar itinerary saya untuk menyeimbangkan hiruk pikuk kota metropolitan Tokyo, mantan ibukota Kyoto, dan kota yang menurut saya absurd, Osaka. Takayama saya pilih menjadi persinggahan terakhir saat itu, sebelum kembali ke Indonesia via bandara Kansai di Osaka. Padahal jarak tempuh tercepat ke Kansai dari Takayama adalah minimal 4,5 jam dengan dua kali berpindah kereta. Kota di Perfektur Gifu ini sudah lama menjadi incaran karena sekaligus bisa ikut tur setengah hari ke Shirakawa-go dari terminal bis Takayama. Untuk menuju Takayama, saya mengambil jalur kereta dari kota Nagoya. Dari Stasiun Nagoya terdapat kereta langsung Ltd. Express (Wide View) Hida ke Stasiun Takayama yang sepenuhnya bisa ter-cover oleh JR Pass. Perjalanan kereta Express Hida memakan waktu hampir 2,5 jam untuk sampai ke Stasiun Takayama. Bukan waktu yang singkat untuk ukuran kereta express. Namun perjalanan kereta …

Remarkable Dongdaemun Design Plaza

Dongdaemun Design Plaza (DDP) in Seoul, South Korea may be the most remarkable modern-architectural building I’ve ever seen. Its quaint shape reminded me of Alien’s UFO (Unidentified Flying Object) I used to see in fictional programs. DDP is located in a large shopping district, Dongdaemun, and can be reached by Subway from Dongdaemun History and Cultural Park Station (Line 2, 4 and 5) exit 1. This iconic landmark of Seoul was designed by a British Iraqi Architect, Zaha Hadid, and was officially inaugurated in 2014. This is the house for exhibiting various creative industries in Seoul such as crafts, gifts, fashions, cosmetics, etc. The Dongdaemun Design Plaza also provides convention hall and exhibition hall as well. The cherry blossom trees in the garden of DDP started blooming when I first came here just couple of hours after arrived in Korea as a sign that Spring had already started. I felt so impressed and welcomed then. There are also thousands of beautiful artificial LED roses in Design Park you can enjoy at night.

Mencari ‘Oase’ di Negeri Sakura

Stasiun JR Sannomiya adalah tujuan utama saya pada hari ketiga di Kyoto. Saya berniat menyambangi Masjid Kobe yang termahsyur di kalangan Muslim Jepang. Kenapa masjid? Yaa, saya rasa suguhan shrine dan temple bisa dinikmati hampir di seluruh sudut kota, Fushimi Inari dan beberapa spot kota Kyoto pun pernah saya sambangi sebelumnya, namun untuk sebuah masjid -yang di negara ini bisa dihitung dengan jari- saya pikir bisa menjadi pengalaman tersendiri. Mencari sesuatu yang langka kiranya tak berlebihan di tengah kondisi menjadi minoritas di negeri orang, layaknya mencari sebuah oase di padang pasir. Demi masjid yang pertama di bangun di Jepang, sampai ke Perfektur Hyogo saya jalani. Saya berangkat dari stasiun Kyoto dengan menggunakan kereta JR Special Rapid Service, jenis kereta jarak menengah. Butuh waktu lima puluh menit untuk sampai di stasiun yang terletak di Kota Kobe itu. Kobe dan Kyoto berjarak sekitar 70 km, merupakan kota yang berada dalam area Kansai seperti halnya Osaka dan Nara. Perjalanan ke Kobe saya tempuh dengan tidak santai –tanpa bahasa yang saya mengerti di sepanjang perjalanan kereta dengan jadwal kereta …

Let’s Go, Shirakawa-go

Hujan dari semalam belum kunjung reda saat saya bangun tidur di pagi pertama di Takayama, kota yang baru pertama kali saya kunjungi. Meskipun udara dingin seolah membisikkan agar saya kembali menarik selimut dan merebahkan badan di atas futon yang hangat, tapi saya sadar mesti bergegas menuju depan Stasiun Takayama. Saya harus sampai di meeting point 15 menit sebelum bis berangkat, bis akan berangkat sesuai jadwal tepat jam 8 pagi, meeting point ada di depan stasiun JR Takayama atau di seberang Washington Hotel Plaza, dan warna bis tur adalah merah. Itulah penjelasan staf hostel J-Hoppers Hida Takayama semalam, saat saya memutuskan untuk ikut tur pagi ke salah satu situs UNESCO, Shirakawa-go. Karena terngiang dengan ‘doktrin’ semalam dan terbayang dengan keindahan Shirakawa-go, jam 7 pagi saya sudah rapi dan tentu saja sudah mandi. Saya tidak langsung menuju stasiun tapi memutuskan untuk setidaknya menyesap secangkir minuman hangat di dapur hostel. Pintu dapur saya buka pelan-pelan , takut membuat kegaduhan karena hostel masih sepi. “Ohayo…!” Sapa ramah seorang pria oriental -yang ternyata sudah telebih dulu berada di dapur hostel- …

Inilah Sisa-Sisa Kota Kuno Ayutthaya

Dua jam perjalanan kereta ke arah utara dari kota Bangkok mengubah pandangan saya bahwa tidak semua yang berbeda ataupun lebih modern adalah yang saya cari ketika bertandang ke negeri orang. Setelah melihat gemerlapnya ibu kota, kemudian menyaksikan realitas daerah pinggiran yang masih belum seluruhnya terjamah pembangunan justru membuat saya menikmati sebuah perjalanan. Perjalanan yang seolah menjadi ajang nostalgia ke zaman ‘PT. KAI belum dipegang Ignasius Jonan’. Iya. Kereta ekonomi, yang tanpa tempat duduk empuk, yang duduknya berhadap-hadapan tanpa AC, yang ada pedagang-asongan-sliweran-ikut-naik-kereta-tanpa-menyerah-menawarkan-dagangannya, yang orang bebas merokok di dalam gerbong yang panas menyengat, dan yang bisa saja saya berdiri atau ngemper di bawah karena tidak kebagian tempat duduk. Hal-hal seperti inilah yang (sayangnya) tidak bisa saya temui lagi di Indonesia. Dan suatu saat akan saya banggakan menjadi cerita unik untuk anak cucu saya. Kelar dua jam yang penuh kenangan dan penuh kedekatan dengan penduduk lokal di dalam kereta bertarif 15 Baht (kurang dari 6 ribu rupiah), kini saatnya turun di Stasiun Ayutthaya. Sebuah stasiun yang cukup sederhana untuk ukuran suatu kota. Hanya ada dua lajur rel, …

Telusur Angkutan Umum Bangkok

Pernah nonton film Thailand yang berjudul “Bangkok Traffic Love Story”?, kalau belum, tontonlah (karena menurut saya cukup recomended) dan jika datang ke Bangkok, cobalah untuk merasakan realitasnya. Bukan untuk mempromosikan film dan kota Bangkoknya, tapi kemacetan dan uniknya moda transportasi bangkok yang tidak jauh berbeda dengan yang dialami tokoh di film itu bisa menjadi salah satu pengalaman backpack travelingmu. Syukur-syukur kamu dapat love story-nya juga. 😉 Kota Bangkok sebenarnya tak jauh berbeda dengan Jakarta, dilihat dari suasana dan tampang orang-orangnya. Hanya saja, Bangkok sudah agak bersih, agak tertib, dan agak bervariasi moda transportasi umunya. Bis Kota tidak berhenti di sembarang tempat, sudah ada kereta layang yang mereka sebut BTS dan sudah ada kereta bawah tanah yang mereka sebut MRT. Wah kalau begitu Jakarta masih ketinggalan berarti. Rambu penujuk jalan adalah hal paling vital saat backpack travel. Di sudut manapun saya selalu berharap adanya rambu penunjuk arah sehingga tidak perlu malu-malu bertanya. Ditambah mayoritas orang Thailand tidak cakap berbahasa Inggris, bahkan yang tampangnya seperti pelajar pun tidak bisa kamu harapkan. Thailand bukan negara pemakai huruf alfabet, …