Latest Posts

10 Hari: 5 Negara dan 7 Kota Asia Tenggara (2)

Saat memutuskan untuk melakukan perjalanan solo, ada banyak hal yang telah saya pertimbangkan. Selain masalah keamanan, juga kondisi kesehatan selama di jalan. Lima negara yang bakal saya lintasi, tentu memiliki perbedaan bahasa, budaya lokal, mata uang sampai makanan yang akan saya konsumsi. Menjaga diri dan mawas diri adalah hal mutlak selama di dalam perjalanan. To be a smart traveler.

Selama 5 hari saya sudah melewati negara Singapura dan Vietnam serta ibukota Kamboja, Phnom Penh, seperti pada cerita sebelumnya. Kali ini perjalanan saya lanjutkan menuju kota lain di Kamboja yaitu Siem Reap.

Hari 6 – Perjalanan ke Siem Reap

Semalam Yuko dan saya sudah berjanji untuk joint trip ke Angkor Wat, kami bertukar akun Line untuk berkomunikasi. Karena kami tak satu perjalanan dari Phnom Penh ke Siem Reap. Dia akan mengambil jadwal bis malam hari, sementara saya mengambil jadwal pagi.

Saya bergegas membereskan barang untuk check out pagi dan sarapan di hostel karena harganya reasonable. USD 2 untuk pancake berukuran jumbo, potongan buah, dan jus jeruk. Saya ditemani roommate yang juga orang Jepang, namun saya lupa namanya. Dia memesan menu yang sama. Sambil menghabiskan sarapan, dia bercerita tentang pengalaman dan kekagumannya selama traveling ke Asia Tenggara seorang diri. Lalu kami berpisah setelah sarapan kami habis.

20161123-IMG_20161123_073031_HDR

Menunggu sarapan datang

Agen bis Mekong Express yang akan membawa saya ke Siem Reap tak jauh dari hostel. Cukup jalan kaki, saya sudah menemukan kantor kecil yang di dalamnya terdiri dari meja resepsionis dan ruang tunggu. Saya menyerahkan bukti pemesanan bis yang sudah saya print out dari sebelum berangkat. Bis saya pesan secara online di website http://www.catmekongexpress.com dengan harga USD 12 ditambah 1 dolar biaya booking.  Perjalanan Phnom Penh – Siem Reap memakan waktu 6 jam, dengan satu kali pemberhentian di sebuah rumah makan. Waktu itu bis dipenuhi oleh penumpang yang mayoritas adalah turis asing. Hampir tak ada warga lokal, karena operator bis ini memang yang paling popular di kalangan turis dan mendapat rating bagus.

Jam setengah 3 sore saya sampai di Siem Reap, turun dari bis dan menuju ke hostel dengan tuktuk. Tawar menawar tak bisa dihindari layaknya kalau saya mau naik bajaj di Jakarta, bedanya di sini dengan mata uang Dolar Amerika. Beda 1 dolar saja itu sudah lumayan itungannya. Saya hanya mampu menawar dari 3 Dolar menjadi 2 Dolar yang disetujui si pengemudi tuktuk yang bernama John.

Saya menginap di Mei Gui guesthouse dengan harga 10 Dolar per malam untuk kamar female dormitory. Selain lokasinya dekat dengan Night Market, model tempat tidurnya mirip seperti model hostel di Jepang. Selain itu, tak jauh ada masjid yang sekitarnya banyak berjejer rumah makan muslim. Sore sesudah check in hostel, saya sengaja mampir ke salah satunya yaitu Muslim Family Kitchen. Restoran keluarga ini menyajikan masakan khas Khmer, salah satu etnis Kamboja, dan beberapa menu Asia Tenggara. Restoran ini memang dikelola oleh keluarga Muslim asli Kamboja. Saya sempat mengobrol pas mau membayar di kasir. Mereka sangat ramah, termasuk pelayan yang menjelaskan kira-kira seperti apa rasa di setiap menunya. Rasanya pun enak, pas dengan lidah Indonesia. Saya tidak menyangka ternyata makanan Kamboja juga mirip dengan masakan Indonesia, gurih.

20161123-IMG_20161123_173833_HDR

Masjid di Siem Reap

Kelar makan menjelang maghrib, saya sekalian mampir ke masjid yang letaknya di seberang jalan. Solat maghrib berjamaah dilanjutkan dengan tausiah singkat oleh imam, meskipun saya tak paham bahasanya namun saya senang. Berada di tempat antah berantah namun masih bisa beribadah.

Perjalanan saya lanjutkan menuju Night Market, pasar yang memang lebih ramai pada malam hari ini semakin meriah karena café dan bar sudah mulai buka. Para pedagang pun mulai membuka lapaknya, dari street food, souvenir, sampai pijat refleksi dan pengunjung semakin ramai yang didominasi oleh turis asing. Saya di sini hanya sampai sekitar jam 8 malam dan kembali ke hostel.

20161124-DSC04624

Night Market

Di hostel saya bertemu dengan Yukiko, ya turis asal Jepang lagi yang saya temui. Di Kamboja ini saya perhatikan memang cukup banyak turis asal Negeri Sakura. Bahkan hostel tempat saya menginap ini katanya juga dimiliki oleh orang Jepang.

Saya mengobrol dengan Yukiko yang tempat tidurnya berada tepat di samping tempat tidur saya. Kami memiliki rencana yang sama keesokan harinya, yaitu ke Angkor Wat. Tanpa ragu saya mengajaknya bergabung, sekaligus menceritakan bahwa saya juga sudah merencanakan perjalanan dengan turis Jepang lainnya yang saya temui di Phnom Penh.

Hari 7 – Jelajah Angkor Wat

Jam 6 pagi kami sudah berangkat. Yuko yang baru sampai di Siem Reap pagi-pagi buta langsung bergabung bersama saya dan Yukiko. Kami menyewa tuktuk yang dikendarai John, supir tuktuk yang mengantar saya kemarin. Jadi dia menawarkan untuk antar seharian ke Angkor Wat sekaligus menjadi guide. Daripada saya mencari supir tuktuk lagi, langsung saya iyakan saja tawarannya kemarin. Meskipun dia melanggar kesepakatan dengan meminta ongkos lebih dari yang telah kami sepakati sebelumnya.

20161124-DSC04203

Bayon, candi terbesar di komplek Angkor Wat

20161124-DSC04210

Turis Eropa dan Asia Timur mendominasi pengunjung

Tiket masuk ke Angkor Wat bagi turis asing untuk satu hari dibanderol 20 Dolar waktu itu, dan menurut info sekarang harga naik menjadi 37 Dolar per hari. Setiap pengunjung akan difoto di depan loket tiket untuk dipasang di kartu tanda masuk yang wajib dibawa dan tidak boleh hilang selama di dalam area Wat. Kami berkeliling di dalam komplek candi yang luasnya mencapai 162,6 Hektar. Saking luasnya komplek candi ini, dibutuhkan waktu minimal satu hari untuk setidaknya mengunjungi candi-candi utama seperti Bayon, Ta Prohm, Angkor Thom, Beng Mealea.

Sehabis dari Angkor Wat, Yuko dan Yukiko masih ingin menghabiskan hari bersama saya. Karena ini adalah hari terakhir kami bertemu sebelum melanjutkan perjalanan masing-masing. Kami mengunjungi Night Market dan mencari makan malam di sini. Sejak awal saya sudah bilang ke mereka bahwa sebagai seorang Muslim saya tidak bisa makan makanan yang mengandung alkohol maupun pork. Dan mereka ternyata memahaminya. Ketika perut kami mulai lapar, kami berkeliling Night Market yang dipenuhi restoran, bar, ataupun warung makanan tradisional Kamboja. Namun tak satupun yang bebas menu pork atau harganya masuk budget kami. Memang pilihan yang sulit, terutama bagi saya, dan saya merasa jadi mempersulit pilihan mereka. Untungnya mereka benar-benar bertoleransi.

20161124-DSC04626

20161124-DSC04627

Pancake ini enaaak…

Sampai akhirnya saya tawari mereka untuk makan di restoran tempat saya makan kemarin. Mereka setuju, dan juga suka dengan masakan Kamboja yang relatif berbumbu. Saya sempat ragu apakah dua orang Jepang ini doyan masakan berempah. Namun ternyata mereka sangat menyukainya, bahkan sempat memuji rasa makanan yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya.

Kelar makan kami berpisah. A day with the strangers taught me that there are many good people out there, Alhamdulillah saya ditemukan dengan orang-orang baik. Sampai saat ini kami berteman di Facebook dan kadang saling bertukar kabar.

Hari 8 – Perjalanan Siem Reap-Bangkok

Saya check out dari hostel dan menunggu jemputan dari agen bis Nattakan yang akan membawa saya ke Bangkok. Jemputan disediakan gratis karena saya memang request waktu booking tiket secara online dengan memberikan nama dan alamat hostel tempat saya menginap. Jam 7 pagi mereka meminta saya sudah bersiap di lobby, namun sampai jam 7 lewat jemputan belum datang. Sampai-sampai saya meminta tolong ke resepsionis hostel untuk menelepon agen bisnya.

Tak lama kemudian ada tuktuk datang yang ternyata jemputan dari Nattakan. Tuktuk tidak langsung menuju ke tempat agen bis, dia masih harus menjemput penumpang lain di sebuah hostel juga. Dua orang Jepang yang akhirnya naik tuktuk bersama saya, dan kami sama-sama penumpang yang akan ‘menyeberang’ ke Thailand lewat jalur darat.

Sebelum naik ke dalam bis, semua penumpang diwajibkan melapor diri dengan menunjukkan bukti pemesanan. Terdapat ruang tunggu yang luas serta kamar kecil yang disediakan untuk para calon penumpang. Jam 8 bis yang menuju ke Bangkok berangkat sesuai jadwal. Bis Nattaan memiliki body cukup besar, dan karena ini adalah perusahaan bis milik Thailand jadi posisi setir pun berada di sebelah kanan. Berbeda dengan Vietnam dan Kamboja yang berada di sebelah kiri. Jadi ada yang sedikit aneh ketika bis masih melaju di jalanan Kamboja yang wajib berada di sebelah kanan jalan sementara posisi setir ada di sebelah kanan. Bis Nattakan ini adalah satu-satunya moda transportasi yang melayani perjalanan langsung lintas negara dari Siem Reap (Kamboja) ke Bangkok (Thailand). Dan menurut saya ini yang paling direkomendasikan dan paling aman. Meskipun harganya lumayan mahal, 28 Dolar.

Perjalanan dari Siem Reap ke Bangkok menempuh waktu 9 jam. Melintasi perbatasan Kamboja di Poipet dan Thailand di Aranyaprathet. Ketika sampai di Poipet, seluruh penumpang diwajibkan turun dengan semua barang bawaannya, lalu melintasi imigrasi keluar Kamboja. Sebelumnya penumpang bis diberi tanda pengenal seperti nametag yang dikalungkan di leher sebagai penanda bahwa kami adalah penumpang bis Nattakan.

20161125-IMG_20161125_105055_HDR
Gerbang negara Kamboja
20161125-IMG_20161125_103630_HDR
Menuju perbatasan Kamboja-Thailand

Kantor imigrasi Kamboja terkesan seadanya, hanya ruangan kecil sempit semi permanen dengan beberapa loket petugas imigrasi. Kami harus berjalan menyusuri daerah seperti pasar sebelum masuk ke dalam untuk mengantri dicap paspornya.  Setelah itu saya harus berjalan ke arah Thailand menyusuri trotoar. Tidak banyak rambu penanda ke mana arah saya harus berjalan. Saya hanya mengikuti turis yang hampir dipastikan juga akan menuju ke Thailand. Ada sekitar satu kilometer sebelum akhirnya saya harus melewati custom Thailand dan masuk ke gedung imigrasi yang terlihat jauh lebih bagus dibandingkan milik Kamboja tadi. Di sini antrian sangat panjang, hampir satu jam sampai akhirnya paspor saya dicap dan berhasil masuk ke Thailand.

20161125-IMG_20161125_120435_HDR

Bis Nattakan

Bis sudah menunggu di tempat parkir. Satu persatu penumpang yang telah selesai berurusan dengan imigrasi kembali ke bis dan memasukan seluruh barang bawaannya. Si kondektur terlihat dengan sabar menunggu dan menata bagasi. Di wilayah Thailand ini saya sudah merasakan perbedaan dibanding tetangganya Kamboja, betapa kawasan ini sudah lebih jauh tertata dan maju. Jalan yang lebar dilengkapi trotoar, toko-toko yang berjejer lebih rapi, serta fasilitas umum seperti toilet yang memadai. Dan memang benar ternyata, jalur perbatasan merupakan wajah dari suatu negara di mana kesan pertama tertambat.

Setelah semua penumpang kembali, bis berangkat dan sudah berjalan di posisi yang normal, sebelah kiri jalan. Tak lama, para penumpang mendapatkan makan siang yang dibagikan oleh si kondektur. Lumayan untuk mengganjal perut yang belum saya isi sedari pagi.

Tak terasa sudah sembilan jam lebih, akhinya bis sampai di tujuan akhir Terminal Bis Mo Chit di Bangkok. Terminal ini terletak tak jauh dari Chatuchak Market. Layaknya terminal bis di Indonesia, rupanya di sini juga banyak orang yang mengais rezeki dengan menawarkan taxi atau ojek ke penumpang yang baru turun dari bis. Tentu saja saya abaikan, saya fokus mencari jalan keluar terminal untuk menuju ke stasiun MRT. Pas melewati jajaran kios menuju pintu keluar terminal tak disangka ternyata ada mushola yang disediakan khusus untuk solat.

Saya langsung mencari jalan ke stasiun MRT Lumpini lewat aplikasi Google Map, ngga kebayang kalau ngga ada aplikasi ini. Dari Lumpini saya turun di stasiun MRT Hua Lampong, karena hostel berada di sekitar sini. Sengaja dekat stasiun kereta karena esok harinya saya akan menuju ke Lopburi, dengan kereta paling pagi dari Hua Lamphong.

Hari 9 – Sehari di Lopburi dan Bangkok

Saya hanya menjadwalkan 1 hari berada di Thailand, sebelum nanti malam melanjutkan perjalanan via pesawat menuju Kuala Lumpur. Satu hari ini memang saya khususkan untuk mengunjungi ladang bunga Matahari di Provinsi Lopburi Thailand. Lopburi terletak sekitar 150 km timur laut kota Bangkok. Setiap tahunnya para petani di daerah ini menanam bunga Matahari saat kondisi cuaca di Thailand sedang sejuk. Yaitu pada bulan November sampai dengan Januari. Saking banyaknya ladang bunga matahari, saat semua sedang mekar selalu mengundang perhatian orang untuk datang. Sehingga menjadikan ladang bunga Matahari Lopburi salah satu destinasi wisata yang sayang untuk dilewatkan terutama di saat musim mekarnya.

Kereta paling pagi menuju Lopburi ada di jam 07.00. Saya langsung check out dari hostel dan menitipkan barang di tempat penitipan barang di stasiun Hua Lamphong untuk mengejar kereta ini. Tiket kereta hanya dijual di hari keberangkatan kereta dan tidak bisa secara online. Di sini saya berpikir bahwa sistem perkeretaapian di Indonesia jauh lebih maju dari Thailand. Tiket kereta ekonomi dibanderol 50 Baht (sekitar 20 ribu Rupiah). Cukup murah memang, karena keretanya juga mirip kereta ekonomi di Indonesia. Satu baris terdiri dari kursi untuk 2 dan 3 orang dengan posisi duduk berhadap-hadapan. Jangan harap ada pendinginnya, hanya kipas angin dan jendela yang bisa dibuka untuk menambah kesejukan.

Untuk sampai ke Lopburi, perjalanan kereta memakan waktu hampir 3 jam. Kebetulan saya tak sendirian, 2 traveler asal Malaysia yang saya temui semalam di stasiun Hua Lamphong bertemu lagi pagi ini. Kami naik kereta yang sama setelah sebelumnya kami sama-sama survey jadwal kereta ke Lopburi.

20161126-DSC04676
Stasiun Lopburi

Sampai di stasiun Lopbhuri kami lanjut perjalanan dengan sewa kendaraan, karena ada teman jadi saya bisa sharing cost. Inilah the art of traveling, jika perginya sendirian bukan berarti menjadi ekslusif, cari lah traveler lain yang juga berbudget rendah untuk diajak bergabung. Ada banyak, percayalah, tapi tetap waspada.

Karena harus kembali ke Bangkok dan mengejar pesawat nanti malam, di ladang bunga matahari ini saya hanya sampai jam 12 siang. Begitupun dua teman saya tadi, yang masih punya banyak rencana lain.

20161126-DSC04688

Kota Lopburi

20161126-DSC04810

Sunflower Field

Sampai kembali di stasiun Hua Lamphong, saya langsung ke stasiun MRT untuk menuju ke Chatuchak market. Masih ada waktu beberapa jam sebelum saya ke Don Mueang airport. Saya sempat berkeliling dan makan di salah satu warung halal di tengah-tengah pasar ini. Dari depan pasar Chatuchak ada banyak alternatif kendaraan menuju bandara. Saya memilih bis umum biasa yang tarifnya murah hanya 15 Baht kalau ngga salah.Saya naik AirAsia dari Bangkok menuju Kuala Lumpur jam 21.00 dan sampai di Kuala Lumpur jam 12 malam waktu setempat. Bandara di mana pesawat AirAsia berbasis, KLIA 2, adalah favorit saya untuk ‘ngemper’. Jadi saya tak memesan hotel di Kuala Lumpur dan memilih untuk tidur di bandara demi ‘ngirit’ sebelum melanjutkan (rencana) perjalanan esok harinya.

Hari 10 – Sehari di Bandara Kuala Lumpur

Lewat tengah malam saya baru keluar imigrasi Kuala Lumpur, dan langsung mencari tempat di mana saya bisa merebahkan badan dan tidur jika memungkinkan. Di KLIA 2 ada banyak tempat ‘pewe’ di mana banyak traveler menginap, baik yang karena transit ataupun kemalaman sehingga tidak dapat angkutan umum. Terdapat di area keberangkatan maupun kedatangan. Satu hal yang saya suka ketika menginap di bandara ini adalah ketersediaan surau atau mushola yang sangat memadai dan ada banyak. Selain itu juga ada shower room gratis dan toiletnya juga ada air untuk membilas.

Di hari terakhir sudah saya rencanakan untuk mengunjungi Melaka. Niatnya akan naik bis paling pagi, jam 6 dari bandara. Ketika jam tangan menunjukkan jam 4 pagi, saya langsung bergegas ke rest room. Mandi, karena dari kemarin belum mandi, dan solat subuh. Jam 05.30 sesuai di jam tangan, saya sudah membeli tiket bis dan langsung menuju ke ruang tunggu. Di sini saya baru sadar bahwa bis pertama sudah berangkat, dan yang sedang stand by adalah bis kedua untuk keberangkatan selanjutnya. Sial, dari kemarin ternyata saya belum mengubah ke waktu lokal Malaysia yang sudah menunjukkan jam 06.30, sedangkan jam saya masih mengikuti waktu Bangkok.

Karena gagal berangkat jam 6 pagi, saya batalkan rencana ke Melaka. Perhitungan waktu tempuh perjalanan pulang-pergi ditambah eksplorasi kota tidak memungkinkan untuk mengejar pesawat nanti sore. Ya sudah saya hanya keliling bandara menghabiskan waktu sampai sore. Dari KLIA 2 saya berpindah ke KLIA dengan kereta express, karena saya pulang menggunakan pesawat KLM.

20161127-DSC04853

Kuala Lumpur International Airport 2

20171217_224951

Rezeki traveler sholehah..

Jadwal pesawat saya jam 17.00 dan baru bisa check in jam 3 sore. Meskipun begitu saya masih bisa self check in dan tinggal memasukkan bagasi nantinya.

Jam 3 sore saat konter check in dibuka dan saya siap mengantri untuk memasukan bagasi, tiba-tiba ada seorang wanita paruh baya mendekati beberapa penumpang yang sedang antri. Setiap penumpang dia tanya satu per satu. Hingga tiba giliran saya, dia ingin memastikan bahwa saya akan naik pesawat KLM menuju Jakarta. Tapi kemudian dia mengabarkan bahwa pesawat sudah full sejak penerbangan dari Amsterdam. Pesawat KLM ini memang dari terbang awal dari Amsterdam, dan transit di Kuala Lumpur sebelum akhirnya ke Jakarta. Saya was-was dong, kok bisa wong saya sudah dapat tiketnya. Tapi kemudian dia justru menawarkan untuk ganti penerbangan dengan menggunakan pesawat Malaysia Airline. Bukan hanya ganti pesawat tapi juga kelas tempat duduk menjadi bisnis. Wah, tanpa ragu saya setuju meskipun harus mengurungkan keinginan naik maskapai asal Belanda ini. Apalagi jadwal keberangkatan juga tak jauh berbeda, dan saya bisa makan gratis sepuasnya di executive lounge Malaysia Airline. Benar-benar bonus di akhir perjalanan saya.

Tak ada firasat apapun bakal mendapat rezeki seperti ini, kapan lagi merasakan kursi kelas bisnis di penerbangan internasional. Meskipun di pesawat saya sedikit canggung dengan fasilitas yang diberikan. Dari hiburan, sampai makanan yang tentunya lebih eksklusif, yang belum pernah saya dapat sebelumnya. Wong biasanya naik budget airline, hehehe. Dan yang paling penting, saya bisa kembali ke tanah air dengan selamat setelah perjalanan melintasi 5 negara. Perjalanan paling epic dan so far paling berkesan.

Demikian cerita perjalanan saya, semoga menginspirasi. Don’t dare to dream big and live your life.

PhotoGrid_1480252125686

Oleh-oleh 🙂

Advertisements

10 Hari: 5 Negara dan 7 Kota Asia Tenggara (1)

“Traveling is about survival, fast adaptation, learning different perspective, accept uncertainty, and kick yourself from comfort zone”

Saat itu saya berpikir ingin melakukan sesuatu yang baru, dan perlu ‘memaksakan’ diri untuk mewujudkannya. Yang juga terpikirkan di kepala adalah ingin menghabiskan jatah cuti tahunan yang tak mau begitu saja hangus. Secara tak sengaja saya juga menemukan sebuah maskapai penerbangan yang menggelar promo penerbangan Jakarta – Ho Chi Minh hanya 700 ribu rupiah dengan waktu transit yang cukup lama di Singapura. Jadilah ide untuk cross country ke beberapa Negara Asia Tenggara muncul di kepala.

Negara Asia Tenggara atau sebut saja ASEAN merupakan Negara bebas visa bagi pemegang paspor Indonesia. Hal ini bisa jadi kesempatan kamu untuk bepergian ke luar negeri tanpa repot mengurus visa. Sekaligus untuk menambah perbendaharaan Negara yang dikunjungi, terutama kamu yang travel addict. Begitu pun pikir saya. Beberapa Negara terletak di satu daratan yang biasa disebut Indochina, sehingga memungkinkan untuk dilakukan perjalanan darat menyeberang ke beberapa Negara sekaligus. Saya mulai berpikir demikian. Dimulai dari paling selatan, Vietnam, merambat ke utara Kamboja, kemudian bisa ke Thailand atau Laos.

Banyak hal menarik yang sebenarnya sudah ada di benak saya tentang Negara ASEAN, yang membuat saya ingin sekali untuk menjelajahnya. Dimulai dari gaya hidup, sejarah, budaya, tingkat perekonomian, cuaca dan kearifan lokal yang mungkin sebenarnya tak jauh berbeda satu sama lain. Dan justru hal itulah yang menarik dan menumbuhkan rasa penasaran bagi saya untuk merasakan perbedaannya. Bukan keindahan alamnya, karena saya yakin Indonesia masih yang terbaik.

Kebiasaan saya sebelum pergi ke suatu tempat yang baru adalah riset. Beruntung bagi traveler jaman sekarang, ketika ada kemudahan akses internet. Jendela informasi dan ilmu terbuka begitu lebar. Semua informasi tentang negara dan tempat yang akan kita kunjungi sudah pasti ada banyak, mulai dari Wikipedia, web traveling sampai blog pengalaman perjalanan. Tinggal seberapa rajin dan jeli kita menggali dan mengumpulkan informasi menjadi bekal yang cukup untuk jalan.

Selama di perjalanan tentunya tak semuanya berjalan dengan mulus. Bertemu scammer bermuka malaikat, mencicipi makanan baru yang ternyata rasanya aneh, terpaksa membayar di atas harga normal, adalah hal ‘normal’ yang saya alami, meskipun saya telah membaca pengalaman orang sebelumnya. Namun percayalah, bertemu orang baik yang tak terduga itu akan lebih sering terjadi.

Oke, saya rangkumkan perjalanan sepuluh hari saya ke lima negara ASEAN yaitu, Singapura, Vietnam, Kamboja, Thailand, dan Malaysia, dengan 4 penerbangan dan 1.260 km perjalanan darat.

Hari 1 – Perjalanan ke Singapura dari Jakarta

Berangkat ke Singapura. Sampai di sana tengah malam dan saya memutuskan menginap di Changi Airport. Demi ngirit? Pastinya. Lagian tidak ada masalah menginap di bandara yang mendapat gelar bandara terbaik di dunia selama tiga tahun terakhir. Bioskop gratis ada, restroom sangat nyaman, kursi untuk merebahkan badan juga banyak. Cukuplah untuk merasakan hotel (red-bandara) bintang lima.

Eits, meskipun diperbolehkan menginap di dalam area bandara, pihak keamanan Bandara Changi akan mengadakan sidak pas tengah malam sekitar jam 2. Jadi jangan kaget, kalau sedang enak-enaknya tidur tiba-tiba ada yang membangunkan. Petugas akan memeriksa paspor dan tiket atau boarding pass. Biasanya untuk penumpang dengan connecting flight atau penerbangan yang terlalu pagi keesokan harinya, akan aman dan diperbolehkan tidur.  Tapi kalau sengaja tidur untuk mengirit hotel tanpa ada tiket, saya pikir mending tidak di sini.

IMG_20161118_235054_HDR

Changi Airport, kemewahannya tak diragukan lagi

Hari 2 – Jelajah Singapura dan Menuju ke Ho Chi Minh

Pagi harinya saya menuju ke kota karena connecting flight masih cukup lama yaitu jam 4 sore. Beberapa tempat bisa saya kunjungi dengan menggunakan MRT antara lain Marina Bay Sand sekalian Garden By The Bay, tanpa masuk cukup hunting foto di depannya saja. Terus saya ke Bugis, Little India, dan China Town.

DSC03580-2

Marina Bay

DSC03628

Marina Bay Sand dan Garden By The Bay

DSC03725

Masjid Sultan di kawasan Bugis

Setengah hari sudah cukup membuat saya lelah apalagi udara Singapura sangat panas. Saya juga mesti kembali ke Bandara untuk mengejar penerbangan menuju Ho Chi Minh. Kembali ke Changi dan check in masih dengan tiket yang sama dari Jakarta karena memang hanya penerbangan lanjutan dengan lama transit 15 jam. Jadi saya memanfaatkan waktu transit menjadi kunjungan 1 negara di trip ASEAN kali ini.

Sekitar pukul 6 sore mendarat dengan mulus di Bandara Tan Son Nhat di Ho Chi Minh. Di Bandara saya langsung menukar mata uang local VND dan membeli SIM Card yang harganya cukup mahal yang sebenarnya bisa dibeli di pinggir-pinggir jalan dengan harga yang lebih murah. Tapi karena saya merasa parno jika tidak konek internet, jadi terpaksa membeli kartu lengkap dengan paket internet sebelum melanjukan perjalanan ke kota. Apalagi hari juga sudah mulai malam.

Dari bandara ke kota saya naik bis lokal berwarna kuning nomor 109 dengan tarif 20.000 VND. Perjalanan sekitar 45 menit dan saya minta diturunkan di Jalan Pham Ngu Lao District 1, dekat hostel yang sudah saya booking. Saya menginap di Eco Hostel area District 1, kawasan turis backpacker, dengan tarif USD 6 per malam. Anehnya di sini, pada saat check in paspor saya diminta, bukan untuk difotokopi tapi ditahan sampai saya check out.

Hari 3 – Eksplorasi Ho Chi Minh

Saya eksplorasi Ho Chi Minh City, atau selanjutnya saya sebut Saigon saja sesuai dengan namanya yang lama. Saigon adalah kota terbesar kedua setelah ibu kota Vietnam, Hanoi. Terletak di Vietnam selatan, Saigon banyak memiliki bangunan bersejarah peninggalan kolonial Perancis maupun sisa perang Vietnam. Cukup dengan berjalan kaki dan bermodalkan peta wisata, hampir seluruh tempat-tempat ini berada di District 1. Mulai dari Ben Thanh Market, Post Office, Notre Dame Cathedral, Opera House, City Hall, dan War Remnant Museum. Untuk masuk ke dalam museum dan Independence Palace ada tiket yang mesti dibayar, selain itu semua free.

DSC03922

Ben Thanh, pasar tradisional tertua di Saigon

DSC03876

Opera House

DSC03941

Saigon Central Mosque

DSC03852

Post Office

DSC03819

Notre Dame Cathedral

DSC03804

Independence Palace

DSC03886

Saigon City Hall

Di Kantor Pos yang bangunannya Eropa banget, saya sempatkan berkirim kartu pos untuk adik saya di tanah air. Sayangnya sampai tulisan ini dibuat, kartu pos tersebut belum diketahui juntrungannya alias belum sampai ke alamat tujuan padahal saya sudah kembali ke Indonesia sejak 8 bulan yang lalu.

Tidak lupa saya juga mengunjungi masjid terbesar di Saigon yaitu, Saigon Central Mosque. Lokasinya berada di antara gedung-gedung tinggi dan hotel, tak jauh dari gedung Opera House. Inilah tempat favorit di Saigon. Karena saya menghabiskan waktu dari siang sampai petang di area ini agar bisa menjalankan solat Dzuhur sampai Isya dengan tenang. Di sekitar masjid juga ada beberapa restoran halal, dari yang bermenu Timur Tengah, Melayu maupun makanan lokal Vietnam.

Saya juga menyempatkan mencicipi makanan khas Vietnam, Pho Mie, yang halal. Lokasinya ada di gang kecil di belakang masjid Jamiul Islamiyah. Warungnya kecil, di perumahan warga namun sangat ramai dengan para pembeli yang rata-rata Muslim.

Hati-hati dengan tukang becak atau ricksaw di kawasan ini. Meskipun tidak semua seperti yang saya temui, waspada jika ada yang menawarkan paket keliling District 1 dengan harga 150.000 VND yang katanya diskon dari harga normal 400.000 VND. Si oknum yang saya temui ini bilang jika dia sering membawa turis Muslim misal dari Indonesia atau Malaysia, lengkap dengan foto dan testimoni yang positif. Dengan harga demikian dia siap mengantarkan ke manapun tujuan saya di kawasan Distrik 1 dan dia juga mau menunggu. Karena dia agak memaksa, dan saya agak kasihan akhirnya saya iyakan. Ternyata baru dua tempat yang saya kunjungi, dia sudah meminta bayaran 300.000 VND, karena saya sudah memakai jasanya lebih dari satu jam. Dan harga 150ribu itu adalah harga satu jam pertama. Bah…

Hari 4 – Mengunjungi Cu Chi Tunnel

Hari kedua di Saigon saya pergi ke Cu Chi Tunnel, lorong bawah tanah peninggalan Perang Vietnam, yang terkenal di kalangan turis dan terletak di luar kota Ho Chi Minh. Cukup memakan waktu di perjalanan dan harus berganti moda transportasi. Tapi saya sangat menikmatinya, berada bersama warga lokal di bis umum yang begitu unik. Tak mengerti Bahasa mereka sama sekali, tapi saya selamat sampai tujuan dan berhasil balik ke Saigon. Cerita lengkapnya nanti insyaallah saya ceritakan di postingan tersendiri.

DSC04089

Gerbang menuju Cu Chi Tunnel

DSC04019

Mencoba masuk ke dalam lorong bawah tanah

Sesampainya di Saigon, saya mampir lagi ke Saigon Central Mosque. Kali ini saya berjumpa dengan serombongan buruh migran asal Indonesia. Mereka sedang libur dan biasa memanfaatkannya untuk pergi ke kota untuk berbelanja atau hanya sekedar main. Maklum, pabrik sepatu tempat mereka mengais rezeki berada di luar Saigon. Katanya mereka selalu mampir ke masjid ini untuk melaksanakan kewajiban sebagai muslim. Kami sempat mengobrol, dan dari sini saya mendapatkan banyak cerita mengenai hidup sebagai Muslim di Vietnam. Tak seketat yang dikira, buktinya mereka masih dengan bebas bisa melaksanakan kewajiban sebagai Muslim, bahkan di pabrik tempat mereka bekerja bisa memanfaatkan ruangan kosong untuk menjalankan solat Jumat.

IMG_20161120_152611_HDR

Pekerja asal Indonesia di Vietnam

Hari 5 – Perjalanan Ke Phnom Penh, Kamboja

Pagi hari saya langsung check out hostel dan menuju agen travel tempat saya membeli tiket bis menuju ke Phnom Penh, Kamboja. Saya memesan bis paling pagi dan dapat bis Kumho Samco Busline pada jam 7 seharga 12 USD. Meskipun katanya saya harus sudah stand by jam setengah 7, nyatanya hampir jam 7 baru saya dijemput dengan menggunakan sepeda motor dan diantarkan ke kantor bisnya. Saya belum melihat bis di sekitar sini, dan ternyata saya dijemput lagi oleh sebuah camper van dan dibawa ke terminal bis. Di sinilah rupanya bis Kumho menunggu.

Kumho Samco memang bukan bis yang familiar dan biasa dipakai oleh para turis untuk overland Vietnam-Kamboja. Para backpacker biasanya lebih memilih Mekong Express atau Giant Ibis. Bis yang saya tumpangi ini hampir semua penumpangnya adalah warga lokal yang hendak menyeberang ke Kamboja. Sebelum berangkat kondektur membagikan satu botol minuman dan kardus berisi dua jenis camilan, paspor penumpang pun diminta dan dikumpulkan.

DSC04105

Menuju Kamboja

Perjalanan bus dari Ho chi Minh menuju Phnom Penh memakan waktu 6-7 jam. Saya masih ingat benar, ketika memasuki perbatasan darat Vietnam (Moc Bai, Provinsi Tay Ninh) dan Kamboja (Bavet, Provinsi Svay Rieng) yang bangunannya begitu ‘seadanya’, padahal itu adalah perbatasan internasional yang banyak dilintasi. Di imigrasi Vietnam, saya termasuk semua penumpang bus Kumho turun tanpa membawa paspor karena masih dibawa oleh si kondektur. Kami langsung diarahkan menuju sebuah bangunan non permanen yang lebih mirip dengan gudang. Di sini kami cukup disuruh mengantri karena si kondektur yang membawa paspor sudah berada di samping meja petugas imigrasi. Ya, saya kira mereka sudah saling kenal.

Setelah paspor dicap keluar Vietnam, tinggal melewati pos masuk ke Kamboja. Jaraknya cukup jauh, jadi kami masuk ke dalam bus lagi. Di counter imigrasi Kamboja relatif tidak terlalu ketat, tanpa banyak pertanyaan paspor saya langsung mendapatkan stempel dan resmilah saya memasuki Kingdom of Cambodia – nama resmi negara Kamboja.

Perjalanan dilanjutkan dan kami berhenti di sebuah rumah makan, mirip-mirip yang ada di jalur Pantura. Meskipun sebenarnya lapar, tapi saya memutuskan untuk tidak makan karena tak tahu komposisi makanannya. Bus hanya berhenti sekitar 30 menit dan kembali melaju menyusuri jalanan negara Kamboja. Tiba-tiba saya menjadi excited, tak mau sedikitpin mengalihkan pandangan mata melihat kanan-kiri jalan. Bukan karena pemandangan spektakulernya, melainkan kondisi kehidupan masyarakat Kamboja, yang membuat saya bersyukur hidup di Indonesia.

Jalan dari perbatasan tadi menuju ke Ibu Kota negara belum begitu bagus, bahkan fasilitas jalan raya seperti marka jalan dan trotoar pun tak begitu layak. Saya lebih sering melihat lahan kosong di sepanjang perjalanan dengan beberapa rumah penduduk berbetuk panggung tak permanen. Jarang ada pembangunan layaknya pusat kegiatan ekonomi atau bangunan semacam ruko. Jalan raya yang hanya satu lajur di setiap arahnya pun tak begitu ramai dengan kendaraan yang melintas. Sapi-sapi kurus yang diternak warga sesekali terlihat sedang merumput di ladang.

Sekitar jam 2 siang, bis sampai di pool kota Phnom Penh. Ternyata jaraknya lumayan jauh dari hostel yang telah saya booking sebelumnya. Jadi saya terpaksa harus naik tuk-tuk menuju daerah sekitar Central Market. Dari hasil tawar menawar dengan supir tuk-tuk, saya dapat harga 2 USD. Setelah saya bandingkan dengan memasukkan kurs ke Rupiah, jarak yang ditempuh ternyata sebanding dengan harga jika saya naik bajaj di Jakarta, artinya saya tak kena tipu (lagi).

DSC04127

Restaurant Halal di dekat Central Market

Karena waktu masih sore, saya memutuskan untuk mengeksplorasi kota. Cukup menyusuri pinggiran sungai Mekong yang merupakan pusat keramaian Phnom Penh. Di sini banyak warga lokal yang begitu menikmati sore duduk-duduk santai di pinggir sungai, bermain layang-layang, atau menikmati kuliner pedagang asongan.  Ibukota Kamboja ini, menurut saya jauh dari kata metropolitan. Tak ada angkutan umum nyaman yang terintegrasi, gedung perkantoran tinggi, bahkan jalanannya begitu kotor dengan sampah berserakan. Meskipun demikian, di sini saya banyak menemui turis asing.

Di Mekong riverside ada beberapa tempat yang bisa dikunjungi antara lain The Royal Palace, istana Kerajaan Kamboja, sayangnya saya telat dan sudah tutup untuk pengunjung. Selain itu ada Wat Phnom, sebuah kuil Budha yang dibangun pada tahun 1372 dekat dengan Central Market.

DSC04121

Wat Phnom

DSC04132

Mekong riverside

DSC04157

Royal Palace

DSC04179

Biksu melintas di depan Royal Palace

Saya mengabiskan satu malam di Phnom Penh dan menginap di One Stop Hostel yang berada di sekitar Central Market menghadap sungai Mekong. Dengan tarif 7 USD per malam, saya mendapatkan kamar female dormitory. Kamar yang diperuntukkan untuk delapan orang, malam itu hanya terisi 4 orang. Saya, dua orang Jepang dan satu orang Kanada. Malam itu kami semua memang memilih mager di kamar, jadilah kami bisa mengenal satu sama lain. Salah satunya adalah Yuko, solo backpacker asal Jepang ini akhirnya menjadi travelmate saya selama di Siem Reap.

Bersambung… di sini

 

Obrolan Kecil di Masjid Besar Xian

Empat hari saya di Xián selalu diakhiri dengan mencari makanan di sepanjang Beiyuanmen Street atau Muslim Quarter, mencicipi makanan yang sama sekali asing di lidah dan menikmati ramenya jika hari memasuki malam. Namun di satu sore saat itu, saya menyempatkan datang lebih awal menjelang waktu Solat Ashar. Tujuan saya ke sebuah masjid tua yang terletak di samping jalan itu. Masjid yang konon adalah masjid terluas di daratan China.

DSC01858

Gapura di depan gang menuju Masjid Besar Xian

Dari Drum Tower tak jauh di samping kiri jalan, dekat toko souvenir, gapura di depan gang menuju masjid berdiri dengan tegap. Untuk menuju ke masjid, saya harus melewati puluhan kios souvenir begitu berbelok ke dalam gang. Mungkin ada sekitar 200 meter panjangnya, berbagai pernak pernik khas negeri Tiongkok dijual di sini. Sesekali saya pun ditawari untuk melihat-lihat, meskipun saya tak mengerti benar arti ucapan para pedagang di sana, namun bahasa tubuh mereka terlihat jelas. Sayangnya, saya selalu dikira berasal dari Malaysia.

Tepat di ujung lorong deretan kios-kios tadi, pintu masuk ke area masjid berada. Lumayan membingungkan memang, saya awalnya juga sempat ragu apakah benar di sini letak Masjid Besar Xián, karena tak terlihat sama sekali wujud masjid pada umumnya. Hingga saya melihat sebuah loket yang menunjukkan harga tiket masuk Masjid Xián.

Ketika hendak mengeluaran uang untuk membeli tiket masuk, seorang pria yang duduk di pinggir gerbang melarang saya dan menyuruh saya langsung masuk saja ke dalam. Sekali lagi saya ditanya, “(from) Malaysia?”dan langsung saja saya jawab, “No, I’m from Indonesia”. Untung bapak itu mengangguk sambil tersenyum bilang, “Oh… Indonesia”, dan tetap mempersilahkan saya masuk. Entah dia tahu apa tidak kami sebenarnya Negara yang berbeda, tapi bertetangga, dan mayoritas memang Muslim dan wanitanya memakai kerudung. Mungkin juga karena itu saya digratiskan dari biaya masuk 25 Yuan atau sekitar 50 ribu Rupiah. Alhamdulillah.

Sekarang masjid ini memang menjadi salah satu tourist spot yang terkenal di Kota Xián. Selain itu juga merupakan situs Islam penting yang ada di China. Xián Great Mosque telah masuk ke dalam situs sejarah yang diakui oleh UNESCO sejak tahun 1985. Keberadaanya tak terlepas dari sejarah Xián sebagai titik awal jalur sutera (silkroad) sebelah timur. Ketika ribuan tahun lalu para pedagang dan Saudagar Muslim berdatangan dari Barat. Islam masuk ke China pada masa Dinasti Tang yang dibawa oleh para Saudagar Arab. Banyak dari mereka yang menetap di China dan menikah dengan suku Han. Sampai sekarang keturunan mereka pun masih memeluk agama Islam.

Konstruksi awal masjid ini dimulai pada tahun 724 pada masa Dinasti Tang di China. Selanjutnya masjid ini terus mengalami penambahan bangunan oleh Dinasti Song (960-1279), Yuan (1271-1638), Ming (1368-1644), dan Qing (1644-1911). Sehingga tidak heran jika di kompleks Masjid terdapat beberapa jenis arsitektur bangunan yang berbeda yang menunjukkan gaya bangunan masing-masing masa Dinasti.

Memang, jangan harap bisa melihat kubah dan minaret masjid yang sering kita lihat sebagai bentuk umum tempat ibadah umat Islam. Masjid Besar Xián sama sekali tak memilikinya. Arsitektur masjid ini merupakan perpaduan antara arsitektur tradisional China dengan seni Islam. Luasnya kompleks bangunan yaitu sekitar 12.000 meter persegi terbagi menjadi empat halaman Masjid.

Begitu memasuki halaman pertama saya langsung melihat bangunan mirip gapura setinggi 9 meter yang bagian atasnya berupa kayu melengkung dilapisi ubin yang mengkilap menandakan model dari abad ke-17. Terdapat taman dengan berbagai tanaman hias yang subur berwarna hijau. Sementara di kanan kiri area halaman adalah bangunan yang memajang benda-benda peninggalan Dinasti Ming dan Qing.

DSC02076DSC02084-1DSC02080-1

Selanjutnya saya melewati sebuah gerbang atau gapura lagi menuju halaman kedua. Di sini terdapat sebuah stone arch, semacam gerbang terbuat dari batu, yang di kanan kirinya terdapat masing-masing batu prasasti bertuliskan kaligrafi dari kaligrafer terkenal pada zamannya.

Gerbang halaman ke tiga merupakan aula yang di tengahnya ada beberapa prasasti yang berdiri di sebelah kanan dan kiri. Begitu melewatinya saya melihat Xingxin Tower yang merupakan prayer hall di sini. Di tengah-tengah halaman keempat atau terakhir ini terdapat Phoenix Gazebo, berbetuk hexagonal.

DSC02103-1

Prayer hall yang merupakan bangunan utama dan paling penting dari masjid ini bisa menampung jamaah lebih dari 1.000 orang. Mungkin tergolong kecil dibandingkan masjid-masjid Besar yang rata-rata bisa menampung lebih banyak jamaah.

DSC02112-1DSC02116-1DSC02117-1DSC02123-1

Tidak semua pengunjung kompleks Xián Great Mosque diperbolehkan masuk area prayer hall, namun saya beruntung justru disuruh masuk ke dalam untuk melihat interior masjid sekalian menjalankan solat Ashar. Sebelumnya ada seorang pria tua yang menghampiri ketika saya sedang membaca papan informasi masjid. Bapak berkopiah putih ini sangat ramah dan berinisiatif untuk memberikan informasi seputar masjid Xián. Di samping bertanya rasa penasarannya kenapa saya bisa jauh-jauh datang ke Xián, dia juga menyampaikan bahwa saya bebas jika mau melihat-lihat ke bagian dalam dan mengambil foto atau menjalankan solat. Bagi non Muslim atau yang tidak mengenakan jilbab, disediakan juga jubah jika ingin masuk ke area prayer hall, tapi hanya di luar waktu solat.

Saya begitu terkesan begitu masuk ke dalam, yang justru mengingatkan saya dengan masjid-masjid tua di Pulau Jawa peninggalan Para Wali. Semua terbuat dari kayu, masih asli dan tentunya terlihat sudah sangat tua. Dari langit-langit, dinding, pilar, lantai semua terbuat dari kayu. Semakin terkesan ketika saya mendekat dan memperhatikan dinding-dindingnya. Ternyata itu adalah lempengan kayu yang bertuliskan ayat-ayat Al Quran. Sangat detail persis seperti lembaran Al Quran dari kayu yang dipajang.

DSC02126-1DSC02133-1DSC02144-1DSC02141-1

Setelah puas berkeliling, sebelum meninggalkan masjid, saya sempatkan mengobrol dengan tiga bapak-bapak di teras prayer hall. Ketika saya bilang berasal dari Indonesia, salah satu dari mereka langsung menimpali bahwa kopiah yang dia pakai mirip dengan yang biasa dipakai oleh Soekarno, Presiden pertama Indonesia. Ya, saya juga terkejut dia tahu tentang sejarah Indonesia. Seolah tak mau kalah dengan temannya, bapak yang satunya mengeluarkan koleksi uang asing dari sakunya. Dan dengan bangganya memamerkan uang pecahan lima ribu dan seribu Rupiah, sebagai bukti dia tahu tentang Indonesia. Aahh, senangnya, mereka berusaha membuat saya merasa dekat dengan mereka. Meskipun kami tak banyak punya kata yang ‘nyambung’untuk mengobrol, tapi mereka berusaha respek ke saya.

Di akhir, saya diberi kesempatan untuk membawa salah satu buku yang tadinya ditunjukaan si bapak. Buku berisi surat-surat Al Quran dan doa-doa dengan tulisan Arab, lafal Arab ditulis dengan huruf Kanji, serta terjemahan dalam Bahasa China yang diterbitkan Xián Great Mosque. Terimakasih Pak, ini oleh-oleh tak ternilai harganya dari Xián. Bukan hanya bukunya yang saya bawa pulang, tapi juga ingatan akan keramahan kalian.

Xián, 12 Mei 2016

DSC02147-1DSC02145-1

Sore di Xian City Wall

Badan belum terlalu lelah dan kaki masih sanggup berjalan meskipun setengah hari sudah saya habiskan di Lintong, mengunjungi Terracotta Army Museum. Sempat istirahat sebentar di hotel dan mengganti baju yang basah kehujanan di Lintong, saya melanjutkan eksplorasi kota tua Xián. Kali ini saya ingin menyusuri tembok besar yang mengelilingi area tempat saya tinggal, tembok yang mengelilingi pusat kota, Xián Ancient City Wall.

Jarak ke gerbang selatan (South gate) hanya satu stasiun subway dari Bell Tower,  yaitu dekat stasiun Yongningmen (Line 2), jadi saya memilih untuk berjalan kaki saja menyusuri trotoar yang sangat lebar sembari menikmati udara sore yang cukup dingin. Gerbang ini merupakan pintu masuk utama bagi pengunjung, sekaligus yang memiliki desain paling indah.

DSC02392-1

Terowongan menuju City Wall

DSC02400-1

Peta layout City Wall

DSC02402-1

Loket Tiket

Lobby tiket berada di bawah tembok yang menjulang setinggi 12 meter. Tepat sebelum pintu gerbang yang sangat megah, yang ketika saya memasukinya berasa masuk ke dunia film kolosal China. Iya, untuk bisa berjalan menyusuri tembok ini tidaklah gratis. Setiap pengunjung dewasa dikenakan biaya 54 Yuan.

Persis di depan pintu masuk menuju tangga-tangga curam ada sebuah amphi theatre yang digunakan untuk pertunjukan Parade Warrior pada jam-jam tertentu. Tentu ada tambahan tiket yang mesti dibeli jika ingin menontonnya.

DSC02607-1

Gerbang masuk

DSC02566-1

Tempat pertunjukan

Sejarah

Xián City Wall awalnya dibangun pada masa Dinasti Tang (abad ke-7 sampai 10 M). Kemudian dikembangkan pembangunannya pada masa Dinasti Ming (abad ke-14 sampai 17 M) yang bentuk bangunannya ada sampai sekarang. Membentuk tembok keliling sempurna segi empat yang mengelilingi pusat kota sepanjang 13,7 kilo meter. Terdapat benteng di setiap jarak 120 meter, sehingga total ada 98 benteng yang dibangun untuk mencegah tentara musuh memanjat tembok. Ketinggian tembok Xián mencapai 12 meter, dengan lebar 12-15 meter pada bagian atasnya dan 15-18 meter pada bagian bawah bangunan.

***

Saya memulai memasuki bagian atas tembok setelah meniti puluhan tangga yang cukup curam. Dari atas tembok langsung terpampang nyata pemandangan indah kota Xián. Di sebelah selatan berdiri megah bangunan-bangunan tinggi modern seperti kawasan Sudirman Jakarta, sementara di sebelah utara tak jauh dari pintu gerbang ada perkampungan dengan rumah-rumah China kuno. Mungkin dulunya ini adalah perkampungan yang masuk dalam perlindungan tembok Xián.

Angin sore kala itu begitu kencang, menambah dingin udara namun tak mengurangi antusias dan perasaan takjub saya. Kekaguman terhadap kemegahan peninggalan sejarah yang masih terawat. Kekaguman terhadap modernisasi kota tanpa menghilangkan kemegahan masa lalu. Oh iya, di bawah tembok tua ini juga melintas kereta bawah tanah atau subway Kota Xián.

Jika saya berdiri tepat di atas pintu South Gate di sebelah bangunan benteng dan menghadap ke utara, maka Bell Tower akan terlihat tepat di ujung garis lurus jalan. Sangat indah dan simetris lay out bangunannya. Pengunjung bisa menyewa sepeda untuk mengelilingi tembok jika tak kuat berjalan. Rental sepeda tersedia di dekat South Gate, tentunya ketika sudah berada di atas tembok. Sewa sepeda dipatok 45 Yuan per 2 jam pemakaian untuk sepeda single, sementara sepeda tandem dibanderol 90 Yuan per 2 jam. Untuk mengelilingi seluruh bangunan tembok ini, diperkirakan memakan waktu selama 1,5 sampai 2 jam dengan bersepeda. Namun jika berjalan kaki…tergantung tingkat stamina masing-masing orang tentunya. Bagaimana? Sanggupkah kamu mengelilingi tembok sepanjang 13,7 kilo meter ini?

DSC02570-1

Bell Tower di ujung jalan

DSC02452-1

Informasi sejarah City Wall

DSC02482-1

DSC02419-1

Benteng South Gate

DSC02431-1

DSC02537-1DSC02473-1

Hemat One-Day Trip Seoul – Busan

Jika kamu tak punya banyak waktu ketika ngetrip ke Korea Selatan, tapi tetap ingin menyambangi dua kota besarnya. Atau jika kamu malas berpindah-pindah dari Seoul ke Busan, karena beban koper atau ransel yang berat. Atau jika kamu terlanjur memesan tiket pesawat pp dari Busan atau Seoul saja. Atau jika kamu ingin menyempatkan sehari ke Jinhae Cherry Blossom Festival. Mungkin kamu coba memanfaatkan salah satu fasilitas turis mancanegara yang disediakan perusahaan kereta api Korea Selatan, yaitu Korail Pass. Sekaligus menjajal kereta api cepat punya Korea, KTX.

IMG_20160420_213850_HDR

Fisik Korail Pass

IMG_20160402_235054_HDR_1459608680814

Bukti reservasi tempat duduk KTX Busan-Seoul

Korail pass merupakan diskon tiket kereta yang dapat digunakan sepuasnya sesuai masa berlakunya. Ada yang 1 hari, 3, 5 dan 7 hari. Korail Pass bisa dipesan secara online sebelum berangkat ke Korea ataupun langsung beli di stasiun utama seperti Stasiun Seoul di bagian Information. Untuk memesan dan membeli Korail Pass harus menggunakan kartu kredit. Waktu itu saya memesan secara online terlebih dahulu sebelum berangkat ke Korea. Kartu kredit saya belum terkena charge, sampai saya menukarkan fisik pass-nya di Stasiun Seoul. Sayangnya, tidak terlalu banyak pilihan jalur kereta api di Korea Selatan dibanding di Jepang.

Baca juga : Oase di Negeri Ginseng

Meskipun penggunaan Korail Pass tidak terlalu signifikan perbedaannya dibanding membeli tiket satuan, menurut saya memiliki pass semacam ini tetap menguntungkan dari segi efektifitas waktu. Karena kita tak perlu mengantri membeli tiket jika terburu-buru mengejar kereta, cukup duduk di gerbong unreserved atau pesan tempat duduk di Information, bukan di loket tiket. Sebagai simulasi, saya membeli tiket 1 day pass seharga KRW 81.000 yang bisa saya gunakan untuk perjalanan KTX Seoul-Busan pp. Jika saya membeli tiket satuan sekali jalan harus membayar KRW 59.800 untuk kelas standar. Artinya saya harus membayar KRW 119.600 pp, dengan Korail Pass saya berhemat sekitar KRW 38.600.

Kabar gembiranya lagi, kalau kamu membeli Korail Pass rame-rame (2-5 orang) untuk yang one-day harganya akan lebih murah menjadi hanya KRW 72.000 saja per orang. Dan untuk kamu yang berumur 13 sampai 25 tahun harganya pun berbeda, hanya KRW 64.000. Jadi, kalau mau jalan-jalan menjelajah Korea buruan deh mumpung masih muda…

IMG_20160402_063509_HDR

IMG_20160402_063733_HDR

Interior KTX

IMG_20160402_064315_HDR

Jangan lupa beli cemilan untuk di kereta 🙂

IMG_20160402_094114_HDR

Stasiun Busan

Tentunya penggunaan Korail Pass tidak sebatas kereta dari Seoul atau Busan, tapi ke banyak tempat di seluruh Korea yang terjangkau dengan kereta KORAIL. Termasuk kalau kamu mau ke Korean Demilitarized Zone (DMZ) atau perbatasan Korea Utara dan Korea Selatan. Tapi perlu diingat Korail Pass tidak berlaku untuk kereta subway dan SRT.

Berikut rangkuman harga dan masa berlakunya dari halaman resmi letskorail.com

Korail Pass Price

One Day Trip to Mt. Huashan: Salju di Bulan Mei

Setelah menempuh perjalanan dari Xi’an dan akhirnya bisa sampai di ticket hall atau visitor center menuju pendakian Huashan, saya disambut oleh pemandu yang sangat ramah. Dia bukan memandu treking di Huashan, tapi hanya menjelaskan bagaimana gambaran jalur hiking dan macam-macam rutenya. Dari informasi yang saya peroleh, Mount Hua atau dalam bahasa China, Hua Shan, adalah salah satu dari 5 gunung terbesar di daratan China. Terdapat 5 titik puncaknya, yaitu:

East Peak, memiliki ketinggian 2.090 meter dan sebagai spot untuk menyaksikan sunrise. Butuh sekitar 4 sampai 6 jam untuk mendaki sampai ke puncaknya. Normalnya jika memulai pendakian dari malam hari di titik ini.

Middle Peak, masih menyatu dengan East Peak dan berada di tengah antara East Peak, South Peak dan West Peak.

South Peak, memiliki ketinggian 2.160 meter dan merupakan yang tertinggi.

West Peak, memiliki ketinggian 2.086,6 meter dan di sini terdapat sebuah kuil Taoist di puncaknya.

North Peak, memiliki ketinggian 1.614 meter.

Saat kondisi cuaca hujan seperti ini, dan bagi yang memulai treking siang hari seperti saya, ada cara mudah untuk sampai ke atas. Dengan naik cable car. Ada dua titik yang bisa diakses dengan cable car, yaitu West Peak dan North Peak.

Di bagian North Peak, kita dapat menikmati cable car sepanjang 1.500 meter dengan waktu tempuh sekitar 8 menit. Sedangkan di bagian West Peak kita akan menaiki cable car sepanjang 4.211 meter yang menjulang ke atas dengan waktu tempuh sekitar 20 menit. Nah, setelah dipikir dengan pertimbangan kepuasan dan pengalaman yang akan saya dapatkan, saya memilih untuk mendaki di jalur West Peak.

 

img_20160514_113548_hdr

Red carpet

dsc02898

Selamat datang di Huashan

Untuk mencapai stasiun cable car, saya harus naik bus dari ticket hall ini. Tiket bus bisa dibeli di loket seharga 40 Yuan, dan selain tiket bus, semua pengunjung yang masuk ke kawasan wisata Huashan diwajibkan membeli tiket Mt. Huashan Secenic Spot seharga 180 Yuan. Jadi total harga tiket yang saya beli sebelum naik cable car adalah 220 Yuan.

Kelar urusan di loket tiket, si pemandu tadi langsung mengarahkanku menuju bagian belakang gedung di mana bus sudah menunggu. Dua tiket yang saya beli wajib ditunjukkan pada petugas, dan seingat saya paspor/identitas juga diminta untuk diperiksa dan discan oleh petugas, baru saya diperbolehkan naik ke bus yang akan menuju ke West Peak.

Tak sampai 5 menit, bus sudah penuh dengan penumpang. Tandanya, meskipun hujan tapi antusiasme orang-orang ini tidak berkurang. Bus pun mulai melaju, perjalanan menuju cable car West Peak tidak lebih dari 30 menit. Dari dalam bus, pemandangan pegunungan batuan sudah mulai terlihat di kanan-kiri jalan. Identik seperti gambaran negeri Tiongkok yang saya lihat di serial tv Kera Sakti. Jalan berkelok membuat saya sedikit menahan nafas apalagi kondisi jalan yang licin karena hujan sempat membuat saya takut bus tergelincir.

Akhirnya bus sampai dan semua penumpang turun menuju anak tangga. Entah berapa puluh anak tangga yang harus saya naiki sebelum ke loket tempat tiket cable car. Di sini saya harus membeli tiket lagi seharga 140 Yuan untuk sekali jalan. Bukan sebuah harga yang murah memang.

img_20160514_123139_hdr

View dari gondola

Saya langsung menuju ke tempat boarding tanpa mengantri, dan di sini lah saya mulai was-was lagi. Tiba saatnya sebuah gondola datang, namun di saat itu hanya ada saya sendirian. Ku pikir si petugas yang berjaga bakal menyuruh saya menunggu penumpang yang lain sebelum gondola melaju ke atas. Ternyata tidak. Saya disuruh masuk ke dalam gondola seorang diri karena tak ada penumpang lain yang mengantri. Gondola mulai bergerak, pelan-pelan meninggalkan stasiun, menggantung hanya pada sebuah kabel.

Oh My God! Berada di gondola sendirian yang seharusnya bisa diisi 5-6 orang, semakin tinggi meninggalkan daratan, mulai berayun dan bergoncang karena angin. Tebing pegunungan samar-samar terlihat karena tertutup kabut tebal. Di luar masih hujan sehingga derasnya air menabrak gondola, menambah tingkat kengerian. Kadar adrenalin saya semakin tinggi, hanya keluarga yang saya ingat waktu itu. Karena apa yang sedang saya lakukan ini jelas mereka tak tahu. Menjeritpun tak mungkin ada yang bisa mendengar, jadi yang saya lakukan selama 20 menit perjalanan kebanyakan adalah berdoa dan swafoto. It’s something like “please don’t tell my mother”.

Dua puluh menit terlama dalam hidup saya. Namun saya percaya apapun pasti akan berlalu, pun pada dua puluh menit dalam gondola ini. Lega, saya bisa menginjakkan kaki di daratan lagi meskipun berada di ketinggian pegunungan batu. Bergegas saya menuju pintu keluar mecari jalan menuju treking. Kali ini saya berharap semoga saya tidak tersesat.

Kecewa, masih hujan ternyata. Sial rasanya sudah sampai di sini saya mesti hujan-hujanan meniti treking yang mungkin hanya sebisa kaki ini melangkah. Langsung saya buka payung yang memang selalu saya bawa. Eh tapi, ada yang aneh dengan rintik hujan yang turun. Kok berwarna putih? Apa karena saking derasnya? Air jatuhannya di tanah pun berwarna putih dan beku seperti es. Masyaallah, ternyata ini butiran es lembut yang jatuh, bukan air hujan seperti yang biasa saya rasakan. Hujan salju di bulan Mei?.

dsc02738-1

Gerbang menuju cable car

dsc02739-1

Salju mulai turun

dsc02750-1

Salju semakin lebat

dsc02756-1

Jalan setapak di pinggir jurang

dsc02770-1

Hujan salju lebat

dsc02797-1

Jalan setapak, pohon pinus, dan tebing

Tiba-tiba kekecewaan saya berubah menjadi rasa girang. Sebagai makhluk tropis, melihat salju adalah anugerah hanya bagi mereka yang mau berjalan jauh menuju daerah subtropis. Itupun kemungkinan hanya di musim dingin. Ini sudah masuk musim semi menuju panas di belahan bumi utara. Dingin, sangat dingin. Suhu pasti di bawah 5 derajat Celsius, tapi anehnya badan saya tak menggigil padahal tak memakai coat, hanya jaket biasa dan kaos. Saya gembira bukan main, ini hujan salju pertama dalam hidup saya. Norak? Iya.

Saya semakin semangat meniti jalan setapak mengikuti papan petunjuk kecil yang ada di setiap persimpangan. Hujan salju semakin deras membuat jalanan di tengah hutan licin. Mesti ekstra hati-hati karena di samping saya adalah tebing. Saat tumpukan salju sudah mulai menebal, tanpa rasa malu sesekali saya meminta pengunjung yang kebetulan berpapasan untuk mengambilkan foto untuk saya. Tak seperti biasanya, jika bukan karena ada salju.

img_20160514_131858_hdr

Maaf, norak!

dsc02794-1

My dirty shoe

dsc02789-1

Pine tree

dsc02785-1

White snow

dsc02781-1

Meniti jembatan di samping tebing

dsc02779-1

Sebelah kanan tebing, sebelah kiri jurang

dsc02860-1

Stucks of snow on branches

Waktu tak terasa saya habiskan hanya untuk berjalan melewati beberapa tebing, namun belum sampai puncak. Kabut pun masih tebal sehingga menutupi keindahan tebing-tebing yang menjulang. Jujur di sini saya kecewa, keinginan untuk meniti di treking sempit nan curam terpaksa saya pendam dahulu. Saya memutuskan tak berjalan terlalu jauh, karena harus kembali lagi ke stasiun cable car untuk turun dan mengambil bus menuju ticket hall. Jadwal kereta ke Xi’an jam 17.15 menuntut saya kembali ke ticket hall setidaknya satu jam sebelumnya.

Kembali menaiki cable car, untungnya kali ini saya tak sendirian. Bersama satu keluarga ayah-ibu-anak berada dalam gondola turun, lumayan menghibur kali ini. Saya sampai di ticket hall sebelum jam 4 sore dan langsung naik taxi menuju Huashan North.

dsc02884-1

Di dalam gondola turun

Setelah melewati security dan pemeriksaan tiket, saya duduk di ruang tunggu. Badan basah dan masih kedinginan. Namun lega dan senang, karena hari ini berhasil menyelesaikan ‘misi’ yang nyaris impossible akibat cuaca buruk. Perjalanan yang sebenarnya agak ragu saya jalani, namun berakhir dengan mendapat kejutan di luar bayangan, hujan saljuuuu. Meskipun begitu, saya belum sepenuhnya puas, saya masih ingin menaklukan puncak Huashan. Menantang adrenalin lebih tinggi dengan meniti jalan setapak di tebing-tebingnya, lalu menyaksikan cakrawala dari atas pegunungan batuannya. Entah kapan, namun saya ingin kembali, semoga. Aamiin.

trail

Image Credit: wanderpi.com — Kondisi yang diharapkan

One Day Trip to Mt. Huashan: Perjalanan dengan Kereta Cepat

Sehari sebelum berangkat, Li Li, teman seperjalanan ke Musium Terracotta Warrior, sempat memperingatkanku bahwa hari ini akan hujan sepanjang hari. Dia menanyakan apakah saya yakin akan tetap berangkat ke Huashan. Mungkin juga akan berbahaya jika saya tetap memaksakan diri treking di pegunungan yang terkenal sebagai salah satu “the most dangerous track in the world”. Apalagi tiket kereta cepat yang sudah saya beli lewat travelchinaguide.com sayang jika hangus begitu saja. Belum lagi Mt. Huashan adalah salah satu tujuan saya datang ke Xian, jadi tanpa ragu dan bimbang meskipun sedikit galau saya semangat tetap pergi dalam kondisi cuaca apapun.

Dari Bell Tower, saya naik subway menuju ke stasiun Xian North untuk mengejar kereta pukul 09.19 pagi yang akan membawa saya ke Huashan North, stasiun terdekat menuju pegunungan Hua (Hua Shan). Di kota Xian ada dua stasiun besar yang menghubungkan Xian dengan kota-kota lain di Tiongkok, yaitu Xian North dan Xian Railway. Xian North adalah stasiun untuk menaiki kereta cepatnya Tiongkok atau disebut China Railway Hub (CRH), sedangkan kereta Ordinary naiknya dari Xian Railway. Saya memilih naik kereta cepat demi mempersingkat waktu tempuh, saya juga ingin menjajal kereta cepat produk Negeri Tirai Bambu setelah sebelumnya saya sudah merasakan duduk manis dalam kereta cepatnya Jepang dan Korea Selatan.

Cara booking tiket kereta api di China sebenarnya tidak susah, tapi juga tidak semudah di Indonesia, yang bisa lewat banyak aplikasi bahkan lewat minimarket. Saya memesannya sebelum berangkat, dari Indonesia. Ada beberapa website yang menjual tiket secara online, antara lain www.ctrip.com dan www.travelchinaguide.com. Biasanya tiap website mengenakan biaya booking di luar harga tiket. Saya memesannya lewat travelchinaguide, bukan apa-apa saya memilihnya, hanya saja saya pasti harus memilih salah satunya. Begitu booking tiket telah terkonfirmasi, kita akan mendapat semacam kode booking dan rincian itinerary, yang mesti diprint dan ditunjukkan untuk ditukar dengan tiket asli di loket stasiun. Iya, harus di loket, yang petugasnya susah diajak ngomong Inggris. Waktu menukar tiket saya disuruh bayar 5 Yuan oleh petugas loket. Entah pungli atau bukan, yang jelas tak ada keterangan di website bahwa akan terkena biaya saat mencetak tiket asli.

xian-north

Xi’an North Station, saya ambil dari google karena tak sempat foto waktu itu

train

Jadwal dan harga tiket hasil booking online

img_20160514_084056_hdr

Gate menuju peron, ada pemeriksaan tiket lagi

Naik kereta di negara ini cukup ribet, identitas dan barang bawaan akan dicek secara ketat seperti hendak naik pesawat. Belum lagi harus antri karena penumpang kereta yang sangat banyak. Jadi wajib hukumnya untuk datang minimal satu jam sebelum jadwal kereta dan sudah menukar bukti booking ke tiket fisik minimal sehari sebelumnya. Perjalanan ke Huashan North hanya memakan waktu 40 menit. Jarak dari kota Xian sekitar 130 km, dengan kecepatan kereta yang bisa mencapai 300 km/jam, perjalanan ke Huashan tidak begitu berasa.

dsc02630-1

Penumpang yang akan menuju ke Beijing

dsc02627-1

Interior gerbong second class

dsc02632-1

Tiket cetak CRH

dsc02634-1

Hiburan di kereta, menyulam

Hujan sudah mulai turun sejak saya masih dalam perjalanan di kereta ke Huashan. Bahkan saat kereta sudah sampai hujan masih saja deras. Setibanya di Huashan North, niatnya saya ingin duduk sebentar, buka internet menentukan apa yang harus saya lakukan selanjutnya. Tapi petugas keamanan stasiun langsung ‘mengusir’ semua penumpang yang baru turun untuk meninggalkan peron. Dia mengarahkan agar kami langsung berjalan ke arah pintu keluar.

Sesampainya di pintu keluar stasiun, saya tak menemukan informasi apa pun mengenai arah menuju ke pintu masuk pendakian Huashan. Ada deretan kios pedagang makanan dan barang klontong. Ada juga beberapa pedagang asongan yang rata-rata sudah tua nenawarkan ponco dan sarung tangan. Beberapa taxi juga terparkir di situ, yang supirnya sedang berlomba menawarkan jasanya ke orang-orang yang baru keluar dari stasiun, termasuk saya.

Seorang nenek menawarkan jas ponconya kepadaku, 10 Yuan akhirnya saya belanjakan untuk sebuah ponco plastik dan sarung tangan. Saya tak kuasa menahan iba, meskipun sudah lanjut usia dia tetap gigih mencari rezeki di tengah hujan deras dan udara dingin. Coba bayangkan jika kamu dalam posisinya. Saya pikir barang yang saya beli juga akan dibutuhkan nanti.

Udara terasa semakin dingin dan saya masih mencari cara ke stasiun pendakian Huashan. Berdasarkan informasi yang saya baca di internet, dari Huashan North ada minibus shuttle berwarna hijau gratis ke sana. Saya perhatikan memang ada bus berwarna hijau terparkir di ujung parkiran, tapi tak melihat ada seorang pun dari orang yang tadi keluar dari stasiun yang menuju ke bus tersebut. Supir atau petugas pun tak saya lihat. Bus kosong, dan jika saya memaksa menunggu pasti hanya akan membuang waktu. Jadi saya putuskan untuk mulai luluh terhadap tawaran para supir taxi tembak tadi.

Seorang yang dari tadi mengikuti sudah saya tolak karena dia memaksa minta tarif 30 Yuan. Kemudian ada lagi yang juga menawarkan dengan harga sama, tapi dia membawa brosur yang berbeda dari bapak-bapak tadi. Bahasa tubuhnya agak berbeda. Karena sudah tidak mau lagi membuang waktu, saya terima saja tawarannya. Sepuluh menit berlalu, saya merasa sudah jauh dari stasiun, dan perasaan saya mulai ngga enak.

dsc02662

Huashan North: kereta berjalan menuju Beijing

dsc02908-1-2

Huashan North Station

Saat taxinya berhenti, saya tidak menemukan tempat seperti yang dibayangkan. Sepi, dan hampir tak terlihat aktifitas orang. Padahal kupikir akan ada loket tiket dan setidaknya ada rombongan orang dengan atribut hendak naik gunung. Masih di dalam taxi, saya clingak-clinguk dan si supir dengan bahasa tubuhnya bilang jika saya sudah sampai. Tapi dia menunjukkan pose orang tidur, dan menunjukkan matahari pagi di brosur yang saya pegang. What? Maksudnya ini hotel? Dikira saya mau bermalam agar besok bisa menyaksikan matahari terbit dari puncak Huashan.

“No, No. This is not the place I want to go”, dengan susah payah saya berusaha memberi penjelasan kalau saya bukan mau ke sini, sambil memperlihatkan gambar cable car dan rute treking Huashan. Lalu saya tunjukkan titik stasiun cable car, “This, I want to go here!”. Untung akhirnya dia ngerti saya bukan mau mencari penginapan tapi langsung ke Hua Shan , dia pun kembali melajukan taxinya. Sepanjang sisa perjalanan taxi jujur saya was-was, pasrah mau dibawa ke mana lagi. Yang kepikiran waktu itu justru the worst thing that possibly could happen to me. Jalan raya yang sepi, tak saya lihat satu pun kendaraan taxi yang lain, apalagi angkutan umum. Hujan. Tak bisa berbahasa lokal dan ini adalah benar-benar tempat asing bagi saya. Membayangkan esok hari akan muncul di laman berita internasional seorang turis asal Indonesia yang mengalami peristiwa buruk, naudzubillah jangan sampai terjadi.

Tapi alhamdulillah semua bayangan tragis tadi tak terjadi. Saya diantar ke tempat yang benar, di depan pintu gerbang ticket hall Huashan. Saya bayar 30 Yuan sesuai perjanjian, eh si supir bilang katanya kurang, mimiknya gitu lah protes suruh saya nambah 10 Yuan lagi. What? Saya agak protes, sambil menunjuk 3 jari sesuai yang dia tunjukkan waktu saya akan naik di stasiun. Tapi dia ngotot katanya dia muter dan 30 Yuan itu kalau saya turun di hotel tadi, dan akhirnya saya ngalah. Merelakan 10 Yuan lagi, padahal ini karena salah komunikasi, tapi memang tak akan mungkin bisa terjadi komunikasi yang baik, dia tak bisa bahasa lain selain bahasa lokal sedangkan saya hanya mengerti satu kata, sie sie.

Gedung ticket hall berjarak sekitar 100 meter dari jalan raya. Saya masih harus berjalan di tengah hujan menuju gedung itu. Di jalan saya bertemu beberapa orang yang saya yakin juga memiliki tujuan yang sama. Mereka sudah lengkap dengan jas ponco hujan yang melindungi dari kepala sampai ujung kaki. Dan akhirnya, gedung berbetuk segitiga sama kaki (bukan segitiga siku apalagi segitiga sembarang) dengan latar belakang pegunungan berkabut saya lihat dengan penuh kegembiraan.

Dari pintu masuk, saya langsung dihadapkan pada ruangan luas. Banyak poster gambar masing-masing puncak Huashan, dan beberapa informasinya. Sementara di satu sisinya adalah deretan loket tiket. Sebelum menentukan untuk membeli tiket, saya berusaha mengumpulkan informasi tentang rute pendakian Huashan terlebih dulu dari beberapa poster di situ. Sampai akhirnya ada seorang pemandu mendekatiku, dan senangnya saat tahu dia bisa berbahasa Inggris.

img_20160514_102838_hdr

Ticket Hall menuju kawasan pendakian Huashan

Saya mencoba menggali banyak informasi darinya, karena dia sangat ramah menjawab seluruh rasa penasaran saya. Mulai dari titik mana saja bisa memulai pendakian, berapa lama durasi treking dari tiap-tiap titik, dan biaya atau tiket apa saja yang mesti dibeli. Karena sore harinya saya mesti balik lagi ke kota Xi’an, maka dia pun menyarankan agar saya tidak usah mengambil full route.

Huashan merupakan gugusan pegunungan batuan (cliff) bukan gunung yang berdiri sendiri dan memiliki kawah di puncaknya. Pegunungan yang memiliki rute pendakian yang cukup berbahaya ini juga merupakan gunung yang disucikan dalam ajaran Taoisme. Sehingga tidak heran jika terdapat beberapa kuil yang dibangun di atas pegunungan batu ini. Terdapat 5 titik puncak Huashan, yaitu East Peak, South Peak, Middle Peak, West Peak, dan North Peak. Dari mana pun kita memulai mendaki, semuanya bisa terhubung karena sudah ada jalurnya. Masing-masing puncaknya memiliki atraksi menarik tersendiri. Di sini lah saya mulai galau.

Dengan waktu hanya sekitar 4 jam, karena harus naik kereta jam 17.15 kembali ke Xi’an, saya mesti tepat memilih jalur yang cukup singkat namun tidak terlalu mengecewakan. Jalur mana yang saya pilih? Dan kejutan apa yang saya dapatkan di atas Huashan? Akan saya bahas di postingan inito be continued.

Bandara Xianyang dan Sebungkus Cup Noodle

Saat pesawat mendarat di Bandara Xianyang, saya lega. Bukan sekedar karena telah sampai dengan selamat ke tujuan dan penerbangan pun mulus tanpa turbulensi, bersyukur kali ini lebih karena akhirnya saya bebas dari berisiknya para penumpang selama penerbangan hampir 6 jam tadi. Berisiknya sudah seperti pasar dengan para penjual yang menawarkan barang dagangannya dan para pembeli yang tawar menawar harga. Sialnya.. bareng serombongan -anggap saja turis- Tiongkok yang baru pulang dari Kuala Lumpur.

Jadwal maskapai merah Negeri Jiran yang mendarat di Bandara Xianyang tengah malam, memaksa saya untuk menginap dan bertahan sampai pagi di sini. Saya tak mau berspekulasi melanjutkan perjalanan ke kota Xi’an karena hostel yang dipesan juga sudah menutup batas waktu check in. Hanya bisa berharap semoga bandara -yang bukan di kota besar Negeri Tiongkok- ini bisa nyaman dan aman.

Melewati counter imigrasi dan custom relatif lancar tak ada halangan apapun. Meskipun sebelumnya ada pemeriksaan suhu tubuh yang lumayan jutek petugasnya. Setelah itu, saya memasuki lorong bandara yang agak gelap. Sepertinya aktifitas penerbangan sudah sepi waktu itu, dan pesawat yang saya tumpangi termasuk di jadwal landing akhir.

img_20160511_233821_hdr

Counter imigrasi Bandara Xianyang

Keluar pintu kedatangan hampir jam 12 malam, saya belum tahu harus menuju ke arah mana. Di situ sudah banyak pria paruh baya yang menawarkan jasa tumpangan atau semacam taxi gelap. Iya, mungkin, karena saya tak paham sama sekali bahasanya. Saya hanya menggelengkan kepala meskipun tak tahu sama sekali yang dia tawarkan. Yang jelas saya juga tak mau keluar ke arah jalan.

Since I have no clue, saya hanya mengikuti ke mana arah orang-orang keluar setelah melewati custom. Waktu itu, begitu keluar saya berjalan ke arah kanan, sekaligus untuk menghindari taxi scam, dan di sinilah rupanya area semacam arrival hall. Terdapat beberapa deretan bangku yang saling berhadapan dan terlihat banyak yang kosong. Langsung saya berpikir untuk tidur dan ngemper di sini sampai pagi. Tapi sebelumnya, biar istirahatnya nyaman saya pergi ke toilet yang letaknya persis di seberang deretan bangku. Saya pikir bisa cuci muka dan buang air kecil dengan lebih nyaman setelah penerbangan yang cukup melelahkan sebelumnya.

dsc01808

Arrival Hall

Namun…justru drama selanjutnya terjadi. Saya masuk ke toilet perempuan, cahayanya tidak terlalu terang. Oh, saya pikir karena memang sudah tengah malam dan sudah sedikit yang menggunakan sehingga lampu dikurangi. Setelah masuk, ternyata lantai di depan wastafel becek dan beberapa bilik toilet yang terbuka juga becek. Tak ada orang waktu itu, kecuali seorang perempuan berseragam cleaning service yang juga baru masuk. Kelar urusan di salah satu bilik, saya mencuci tangan di wastafel ketika kemudian ada seorang wanita yang terkesan terburu-buru masuk salah satu bilik toilet dan langsung jongkok tanpa menutup pintu. Persis di bilik yang letaknya di belakang saya berdiri menghadap wastafel dengan kaca cermin yang besar. Tanpa basa basi dia kencing dan saya cuma bisa melongo, sedikit shock. Wah ternyata apa yang saya dengar dan baca selama ini mengenai kebiasaan ‘ajaib’ penduduk China daratan adalah bukan sekedar mitos.

Kelar urusan toilet, saya langsung duduk di deretan bangku yang masih kosong. Saya letakkan tas di bawah samping kursi, dan mencoba merebahkan badan. Tapi suasana tidak terasa nyaman. Masih ada beberapa orang yang lalu lalang. Saya memilih duduk kembali, sambil melihat beberapa papan petunjuk yang sebagian tidak bisa dibaca karena menggunakan huruf kanji. Sambil mencoba mencari petunjuk ke mana arah menuju bis nanti pagi. Sampai ada seorang anak perempuan duduk di samping saya, terpisah dua bangku di sebelah kanan saya. Dia cuma diam, saya pun diam sambil membuka ponsel membuang kejenuhan.

Mungkin ada sekitar 15 menit sampai akhirnya dia beranjak dan berdiri, lalu menghampiri saya dan memberikan secarik robekan tisu toilet. Iya, tisu toilet. Saya tak paham apa maksudnya, saya hanya menerimanya sambil tersenyum. Lalu gadis itu pergi, namun saya masih saja memperhatikan arahnya berjalan. Sampai dia menghampiri seorang pria yang juga sedang duduk agak jauh dari deretan kursi saya. Gadis itu pun memberikan sesuatu, yang saya perkirakan sama dengan yang dia berikan kepada saya tadi. Hmm..rupanya ada yang tidak wajar, ada yang ganjil dengan gadis yang tadi duduk di samping saya.

Bolak-balik saya mengecek waktu di ponsel, kadang melirik ke jam tangan. Waktu sepertinya berjalan sangat lambat. Saya hanya ingin cepat-cepat pagi, ingin tak menemui hal-hal aneh lagi di bandara antah berantah ini. Tapi jam masih menunjukkan bahwa saya masih harus bersabar sampai kira-kira 5 jam ke depan.

Kemudian ada lagi yang duduk di sebelah saya. Seorang pria yang saya yakin adalah penduduk lokal, namun berbeda suku dari orang Tiongkok yang biasa saya temui. Saya menoleh ke arahnya, dia tersenyum sambil mengeluarkan mimik seolah dia meminta izin untuk duduk di deretan kursi saya. Saya balas dengan senyum sambil mengangguk. Dia berusaha bekomunikasi, namun saya memberi tanda bahwa saya tak mengerti bahasanya. Sampai akhirnya dia menunjukkan layar ponselnya, menyuruhku membaca tulisan dari sebuah aplikasi penerjemah. Yang kira-kira maksudnya, “Please buy my Qurán application for donation”.

Kata “donation” sebenarnya membuat saya merasa ngga enak untuk menolak. Namun, dalam kondisi saya tak mengenalnya, saya sendirian di tempat yang saya pun baru pernah menginjakkan kaki, dan ini tengah malam, mendorong saya untuk lebih mawas diri terhadap semua bentuk spam. Karena itu, saya pun menolak, “No, thank you. I already have Al-Qur’an application on my phone” sambil menggelengkan kepala lalu menunjukkan logo aplikasi iQuran Lite di ponsel. Berharap dia juga memahaminya. Syukurlah dia tidak memaksa dan cuma menganggukkan kepala, seolah tidak masalah karena saya menolak tawarannya.

Saya kembali cuek bermain ponsel, dan pria itu masih duduk di situ. Kemudian terdengar sayup lantunan bacaan Al-Quran, dari ponsel pria tersebut. Saya pun mulai konsentrasi memastikan jika itu benar bacaan ayat suci. Sampai saya kembali menoleh ke arahnya.

Karena penasaran, saya tanya dia, “Are you Muslim?” takut tak paham, saya ulangi “Muslim??”.

Dia mengangguk, “Yes Muslim” katanya dengan antusias. Kemudian membuka dompet dan menunjukkan kartu identitasnya, semacam KTP. Ada foto dirinya dan daftar identitas yang semua tertulis dalam huruf kanji, kecuali tanggal lahirnya.

Saya sempat agak girang, “You speak English?” tanyaku kembali.

“English?” jawabnya, “No” dia menambahkan.

“Ooh, ok.” timpalku kembali.

Seketika harapan saya hilang untuk sekedar bertanya tentang transportasi bandara atau lebih luas lagi tentang kehidupan Muslim di Xi’an. Saya malah menjadi canggung, bertemu sesama saudara Muslim di negara yang Islam minoritas, tapi tak banyak yang bisa dilakukan karena terkendala bahasa. Mungkin salah satu alasan pria ini sengaja duduk di samping saya adalah karena melihat saya berhijab, dan sepertinya mau tahu apa tujuan saya ada di sini.

Beberapa menit berlalu, pria itu mengisyaratkan akan meninggalkan tempat duduknya namun dia meninggalkan tas yang dia bawa tetap di kursi sebelah saya. Saya mengangguk. Dia menitipkan tasnya dan kemudian pergi ke arah kedatangan penumpang, seperti menunggu seseorang. Dalam hati saya bertanya, kenapa dia mempercayakan tasnya kepada orang yang sama sekali tak dia kenal?. Beberapa menit kemudian dia kembali dan seperti mengucapkan terimakasih, namun tanpa ucapan yang saya mengerti.

Saya sadar batere ponsel semakin menipis, saya melihat ada steker di seberang tempat saya duduk.  Sekarang gantian saya yang menitipkan tas. Saya memberi isyarat akan mengisi batere ponsel. Dia mengangguk. Saya bergegas menaruh charger dan ponsel di sana, saya tinggalkan dan kembali duduk. Saya biarkan seperti itu, karena masih bisa saya pantau selagi saya duduk dari seberang.

img_20160512_002213

Menunggu pagi.

Malam berjalan menuju pagi, tak banyak yang bisa dilakukan di bandara ini. Kios-kios penjual makanan pun sudah tutup, hanya tersedia air minum gratis di dispenser sebelum pintu masuk ke toilet. Mungkin wajah saya semakin menunjukkan ‘kengenesan’, sendirian, lelah dan tak bisa berbahasa lokal. Hal ini yang mendorong pria tadi tiba-tiba bertanya ke saya. Masih dengan bahasa tubuh. Sambil menyatukan semua jari tangannya dan mengarahkannya ke mulut, saya tahu yang dia maksud. Apakah saya sudah makan? Saya meniru gerakannya kemudian menggelengkan kepala. Kemudian dia membuka tas yang sedari tadi ada di samping saya, mengeluarkan bungkusan plastik dan mengambil isinya. Dia menyodorkan mie instan dalam gelas berukuran besar, atau biasa disebut cup noodle.

Saya menolak, “No, thank you. I’m still full, it’s okay”, berharap dia paham maksud saya. Tapi dia memaksa, menunjukkan logo halal di atas kemasannya. Mungkin dia takut saya tak mau makan karena cup noodle tidak halal. Saya pun takjub dengan makanan halal yang dia bawa dan kebaikannya menawarkan makan ke saya. Dia terus memaksa agar saya bisa makan, sambil menunjukkan posisi dispenser di mana saya bisa menyeduh cup noodle tadi.

Tanpa basa-basi lagi, dia menaruh cup noodle di atas tas yang sedari tadi saya pegang. Dia membawa tas plastik pembungkusnya dan membuangnya di tempat sampah. Kemudian dia pergi tapi meninggalkan tasnya masih di samping saya. Speechless dan bingung, antara sangat berterimakasih dan hampir tak percaya dengan apa yang barusan terjadi. Dari tadi saya malah menaruh curiga kepada pria yang saya anggap -sok kenal dan sok dekat-, namun justru dia berniat baik meskipun kami tak banyak berkomunikasi.

Beberapa saat kemudian dia kembali dan mengambil tasnya sambil berpamitan. Dia pergi dengan dua perempuan yang sepertinya adalah keluarga yang sudah dia tunggu dari tadi, tanpa saya mampu membalas kebaikannya. Dari kejadian ini saya belajar, tak perlu alasan untuk berbuat baik. Dari kebaikan yang saya terima, seperti ada perintah dan keinginan besar untuk membalasnya dengan berbuat baik kepada orang lain.

img_20160512_021722_hdr

Halal Cup Noodle, dari orang tak dikenal. Rezeki memang bisa datang dari sumber yang tak diduga-duga

Diusir Petugas Bandara

Waktu menunjukkan jam 2 pagi, ketika saya sudah mulai mengantuk dan berusaha memejamkan mata dengan hanya bersandar di kursi. Sampai pada saatnya ada petugas berseragam membangunkan beberapa orang yang sedang tidur dan yang sedang menonton tayangan televisi di dekat pintu toilet. Saya tak tahu apapun yang dikatakan petugas tersebut dengan cukup keras dan tegas. Dia menunjuk ke arah pintu keluar, menyuruh orang-orang untuk keluar dari area ini. Saya melihat orang-orang mulai mengemasi tas bawaannya dan bergegas menuju pintu yang ditunjuk oleh petugas itu. Jujur tak tahu ke mana saya harus pergi, di luar udara dingin dan tak ada angkutan umum, apa ya saya mesti menunggu di pick up point sampai pagi?

Saya lagi-lagi hanya mengikuti serombongan orang yang berjalan ke luar. Lalu mereka menyeberangi jalan dan memasuki sebuah gedung yang cukup besar. Ternyata di sinilah terminal bus bandara di mana seharusnya saya menunggu dari tadi. Di sini ada lebih banyak kursi, beberapa tempat makan juga walaupun sudah tutup, ada toilet, dispenser air gratis dan banyak soket untuk charger. Hmm..ternyata petugas tadi mengarahkan kami untuk menunggu bis pagi di sini.

Saya mendapat tempat cukup nyaman, satu deret kursi dan soket listrik di pojokan. Tempat yang sempurna untuk merebahkan badan dan mengisi batere ponsel, sambil menunggu bus paling pagi menuju ke kota Xi’an.

img_20160512_055644_hdr

Area terminal Airport Shuttle Bus, tempat yang cukup nyaman untuk menunggu sampai pagi

Tips bermalam dan transportasi dari Bandara Xianyang:

Jika pesawat landing malam hari, bisa tidur di bandara Xianyang. Keluarlah sampai ke jalan tempat pick up dan drop off point. Lalu menyeberang ke gedung terminal bus bandara. Di sana banyak sekali tempat duduk memanjang yang bisa digunakan untuk tidur. Colokan listrik juga ada banyak, dan tersedia dispenser air minum gratis.

Transportasi menuju ke kota Xi’an sangat mudah dengan Airport Shuttle Bus. Tiket bisa dibeli di loket tiket seharga 25 Yuan. Ada beberapa titik tujuan bis di kota Xi’an, diantaranya Xi’an Railway Station, North Railway Station, dan Hotel Oriental.

img_20160512_060037_hdr

Counter tiket Airport Shuttle Bus

Beristirahat Nyaman di Hotel Hanging Gardens Of Bali

Ubud, salah satu kawasan turis di tengah Pulau Bali, sangat terkenal sebagai Cultur Centernya Bali. Banyak sekali karya seni yang dihasilkan oleh seniman muda yang ada di kota ini. Tak heran jika Ubud sering dijuluki sebagai Kampung Seniman.

Beberapa karya seni seperting paper craft, bamboo craft, glass craft, leaves craft, wooden craft sampai dengan paintings pun semuanya bisa Anda temukan di Ubud.

Jika Anda berkesempatan untuk liburan ke Ubud, ada beberapa tempat wisata yang wajib dikunjungi di daerah ini. Sebelum ke tujuan utama wisatanya, ada baiknya Anda juga mengeksplorasi beberapa sudut desa Ubud. Cobalah melintasi Jl. Monkey Forest dan Jl. Hanomana, mata Anda dijamin akan dimanjakan dengan berbagai macam keindahan karya seni hasil para seniman Ubud. Berbagai macam lukisan mulai dari dewa-dewi, penari Bali, Pura, Budha dan banyak lagi terpajang dengan indah di sepanjang jalan.

Buat para solo traveler, menyewa motor adalah cara terbaik dan asik untuk mengelilingi kawasan Ubud. Mampirlah ke art shop yang ada di Ubud, di sini Anda bisa membeli berbagai macam souvenir khas Bali. Untuk harga memang agak sedikit mahal, tapi sebanding dengan kepuasan kualitas barang seninya.

Tidak perlu bingung memilih penginapan untuk bisa menikmati indahnya Ubud. Anda bisa memilih Hanging Gardens Of Bali, Ubud yang terletak di Desa Buahan, Gianyar-Bali. Selain menawarkan kenyamanan, view ke arah hutannya dijamin sangat keren. Sayangnya breakfast kurang variatif sehingga kurang bisa memilih. Lokasi hotel tidak jauh dari Elephant Safari Park.

gambar 3

sumber foto : balistarisland.com

Nah, lokasi hotel yang dekat dengan Elephant Safari Park bisa Anda manfaatkan untuk berkunjung ke sini. Elephant Safari Park terletak di Desa Taro, jaraknya sekitar 5 km dari hotel. Jika berkendara dengan motor bisa ditempuh kurang lebih 30 menit.

Bagi Anda yang datang langsung dari Bandara Ngurah Rai, tidak perlu khawatir karena sudah ada beberapa alternatif transportasi yang bisa Anda pilih untuk bisa sampai di Elephant Safari Park, antara lain bus, taksi maupun mobil travel.

Kalau di Kebun Binatang biasa Anda hanya bisa melihat gajah di dalam kandang, maka berbeda dengan di Elephan Safari Park. Di sini Anda bisa melihat gajah secara langsung bahkan bisa berinteraksi langsung.

Elephant Safari Park memiliki luas kurang lebih 2,12 Ha, di mana Anda bisa dimanjakan dengan atraksi gajah-gajah yang lincah dan terlatih. Ada sekitar 20 gajah yang siap menghibur Anda. Iya, gajah-gajah penghibur! Gajah di Elephant Safari Park sudah sangat terlatih, ada yang bisa bermain bola bahkan bisa melukis pun ada!

Selain melihat atraksi gajah, Anda juga bisa jalan-jalan santai sambil naik gajah berkeliling taman. Atau jika Anda ingin berinteraksi langsung dengan cara memandikan gajah pun bisa. Asal rela berbasah ria dengan para gajah.

Jadi, sedikit tips buat Anda yang ingin datang ke Elephant Safari Park, jangan lupa membawa baju ganti, dan siapkan kamera!

Gambar 2

sumber foto : balistarisland.com

Selesai bersenang-senang dengan gajah, dan sebelum kembali ke hotel Anda juga bisa  menyempatkan untuk berkunjung ke Pura yang tidak jauh dari Elephant Safari Park, yaitu Tirta Empul Temple. Anda juga bisa berkeliling kawasan ubud yang terkenal dengan sawah dan hutannya yang asri dan berinteraksi dengan masyarakat local yang terkenal sangat ramah. Apalagi bagi Anda yang solo traveling adalah kesempatan yang bagus untuk bebas menentukan tujuan Anda tapi jangan lupa berhati- hati dan tidak malu bertanya jika tersesat di jalan.

Kelar mengunjungi Elephant Safari Park, Pura, melihat-lihat Art Shop, dan mengelilingi sawah dan hutan Ubud Anda dapat kembali ke hotel untuk beristirahat. Saatnya dimanjakan oleh Hotel Hanging Garden Of Bali dengan berbagai macam pelayanannya.

Hotel Hanging Garden Of Bali dapat menjadi tempat istirahat sekaligus menenangkan diri dari hingar bingar kota. Anda juga bisa dimanjakan bersama keluarga maupun pasangan untuk berbulan madu.

gambar 1

Menyapa Ribuan Tentara yang Terkubur Ribuan Tahun

Cuaca di kota Xi’an mungkin memang kurang bersahabat denganku, pasalnya tiap pagi kota ini diguyur hujan. Seperti pagi itu, ketika saya beranjak keluar kamar dan hendak menuju halte bus. Hujan masih saja turun dengan derasnya dari semalam, meskipun tak menghalangi masyarakat Xi’an untuk lalu lalang di trotoar kota yang lebar menuju ke tempat aktifitasnya.  Akupun demikian, tak menyerah karena hujan untuk menuju destinasi yang lokasinya di luar kota Xi’an.

Sepuluh menit sudah saya menunggu di halte yang letaknya tak jauh dari pintu keluar hotel, hanya fokus dengan angka 603 karena itu nomer rute bus yang saya tahu akan membawa saya ke Xi’an Railway Station. Saya mencoba mencari alternatif bus lain dengan melihat peta rute bus yang melintasi halte itu, tapi sepertinya sia-sia karena semua tempat dan nama rute bus hanya tertulis dengan aksara kanji. Rupanya mirip seperti di kota Bangkok, saya tak bisa berharap banyak dengan bus kota karena tak mampu membaca.

Hari itu saya sedang malas merangkai bahasa tarzan untuk sekedar bertanya ke penduduk lokal. Saya pun sudah tak mau gambling menunggu beberapa menit lagi bus yang tak kunjung datang. Akhirnya saya putuskan untuk naik subway saja. Dari stasiun Bell Tower, tak jauh dari halte bus tadi, saya bisa turun di stasiun Wulukau, stasiun terdekat dengan Xi’an Railway Station. Meskipun saya masih harus berjalan kaki sekitar 500 meter, tapi setidaknya saya tak akan kesiangan mengejar bus ke Lintong.

Xi’an Railway Station sangat besar, terlihat dari bangunannya yang megah dan merupakan satu dari dua stasiun besar di kota Xi’an Provinsi Shaanxi. Kabarnya pun kita bisa menyeberang ke Tibet dengan naik kereta dari stasiun ini.

IMG_20160513_143613_HDR

Lupakan tentang stasiun, karena yang saya cari adalah bus menuju Lintong. Seperti biasa, saya hanya mengandalkan intuisi, karena tak ada satupun penunjuk yang mampu saya baca. Mencari bus nomor 5 (306) tidak sulit sebenarnya karena itu adalah bus yang banyak dicari turis. Buktinya tak jauh dari pintu masuk area terminal saya langsung melihat antrian yang lumayan panjang dan di situ ada papan yang bertuliskan nomor rute bus yang saya cari. Tanpa ragu saya ikut berdiri di belakang barisan, beruntung tak lama para pengantri langsung disuruh masuk ke dalam bus.

Ketika hujan masih deras, saya sudah dapat duduk manis di dalam bus. Tak lama ada seorang wanita yang menanyakan tempat duduk di samping saya. Karena memang masih kosong, saya persilahkan dia menempatinya, hanya dengan “bahasa tarzan”. Saya mulai membuka pembicaraan, menanyakan tujuan bus hanya untuk memastikan saya menuju ke arah yang benar. Awalnya dia pun tak paham sampai saya membuka Google dan menunjukkan gambar situs Terraccota Army padanya. Dari sinilah dia memberi tahu kalau orang lokal menyebutnya Bing Maa Yong. Tak hanya itu, wanita yang memperkenalkan dirinya dengan mana Lili ini juga menawarkan diri untuk menjadi tour guide saya menuju ke Lintong. Tidak, dia tidak meminta bayaran, tapi suka rela mengajak saya bareng karena dia yang berasal dari Provinsi Hunan juga sedang traveling sendirian.

Situs Terracota Army

Ini adalah hari kedua saya di Xi’an. Saya memutuskan untuk mengunjungi salah satu situs bersejarah yang telah ditetapkan UNESCO sebagai warisan budaya dunia yang ada di Provinsi Shaanxi, China. Terletak di Distrik Lintong, sekitar 30 km ke arah timur dari kota Xi’an, Terracotta Army ditemukan pada tahun 1974. Penemuan situs ini disebut sebagai penemuan bidang arkeologi terbesar di abad ke-20. Para penggali awalnya hanya akan membuat sebuah sumur, ketika tak sengaja menemukan patung seukuran manusia berbentuk prajurit perang terbuat dari tanah liat. Bukan hanya satu, melainkan ribuan.

DSC02208-1

Diperkirakan ada 8.000 patung Terracotta Warriors yang terkubur di sini

Pembuatan ribuan patung yang tiap wajahnya menunjukkan ekspresi berbeda ini diperkirakan berlangsung pada tahun 246 – 206 Sebelum Masehi. Yang artinya sudah berusia lebih dari 2.200 tahun. Berdasarkan perintah Dinasti Qin Shihuang, dinasti pertama yang memerintah di China, ribuan patung ini dibuat untuk dikubur bersamanya. Hal ini dilakukan untuk menunjukkan kejayaan masa pemerintahannya, dan untuk mengenang para prajurit yang telah berjuang demi bersatunya negeri China. Selain itu juga ada kepercayaan bahwa patung bisa hidup di akhirat, sehingga Qin juga membutuhkan ribuan pasukan perang tersebut di akhirat. Hmm…what a story!

Saat ini situs arkeologi ini dijadikan museum yang menempati area seluas 16.300 meter persegi yang terbagi menjadi 3 bagian: Pit 1, Pit 2, dan Pit 3. Urutan dibuat berdasarkan waktu penemuan.

Pit 1 merupakan area yang terluas hampir seukuran hangar pesawat, terdapat beberapa kolom berisi tentara yang tersusun rapi membentuk barisan serta beberapa patung kuda dan kereta perang. Persis seperti formasi perang pada zaman dahulu.

DSC02332-1DSC02325-1DSC02221-1

DSC02220-1

Masing-masing memiliki ekspresi wajah yang berbeda

Pit 2 ditemukan pada bulan April tahun 1976, terletak sekitar 20 meter di sebelah utara Pit 1 bagian timur. Areanya membentuk huruf “L” dengan panjang 124 meter, lebar 98 meter dan digali di kedalaman 5 meter.

DSC02320-1DSC02312-1DSC02272-1DSC02281-1DSC02270-1

Pit 3 ditemukan pada bulan Juni tahun 1976, terletak di sebelah utara Pit 1 bagian barat. Areanya membentuk huruf “U” dengan luas sekitar 520 meter persegi, dan merupakan Pit yang terkecil. Hasil investigasi menunjukkan bahwa Pit 3 ini merupakan bagian yang mengalami kerusakan paling parah. Hanya ada 68 patung tentara, 1 kereta perang, dan 38 senjata terbuat dari bahan perunggu yang bisa digali dari Pit ini.

DSC02280-1DSC02278-1

Sampai saat ini proses penggalian dan penyusunan kembali (restorasi) patung masih terus berlangsung terutama di Pit 1 dan Pit 2. Pasalnya, patung-patung yang ditemukan tak semuanya berbentuk badan utuh melainkan banyak yang hanya berupa kepingan.  Para ahli arkeologi dan pekerja masih melanjutkan proses restorasi untuk mengembalikan kepingan-kepingan terraccota menjadi sebuah bentuk patung yang utuh. Mereka mulai bekerja setelah museum ditutup untuk umum dan akan berhenti ketika museum akan dibuka di pagi harinya.

DSC02243-1DSC02240-1DSC02230-1

Dari keterangan yang ada di museum, sebenarnya patung-patung tersebut dulunya berwarna-warni sesuai wujud asli prajurit perang. Namun karena telah terkubur selama ribuan tahun, warnanya hilang dan belum ada teknologi yang mampu merestorasi warna yang telah pudar tersebut.

Sayangnya para pengunjung tidak bisa berfoto langsung dengan figur patung-patung asli, hanya replika saja. Itu juga masih harus membayar sebesar 30 Yuan untuk dapat berpose seolah dengan ribuan patung terracotta warriors. Tiket masuk ke dalam museum dibanderol 150 Yuan. Untuk ke sini tersedia bus khusus turis Nomor 5 (306) dari terminal bus di Xi’an Railway Station dengan tarif hanya 7 Yuan.

***

Hari ini saya beruntung mendapat teman jalan sekaligus penerjemah, sekaligus juga pemandu gratis. Lili tahu bahwa saya sama sekali tak memahami bahasa dan huruf China, namun dia juga menyadari tak lancar berbahasa Inggris. Dia berusaha mencarikan pemandu berbahasa Inggris agar saya memahami apa yang ada di museum, tapi sayangnya sedang tidak ada. Namun usahanya tak hanya sampai situ, terpaksa dia tetap meminta seorang pemandu yang hanya bisa berbahasa China. Semua yang dijelaskan oleh pemandu tersebut pun dia terjemahkan ke dalam bahasa Inggris, dengan menggunakan aplikasi yang ada di ponselnya! Sehingga informasi yang saya dapatkan bisa saya tulis di sini. Begitulah kira-kira cara kami berkomunikasi seharian itu.

Mendapat kebaikan dari orang yang baru ditemui di jalan adalah salah satu rezeki yang tak ternilai harganya. Saya bahkan menganggapnya sebagai ‘angel in disguise’ yang dikirim Sang Maha Pengasih. Benar kata orang, pun ketika kau traveling sendirian kau tidak akan benar-benar sendiri.

Xi’an, 13 Mei 2016