All posts tagged: #backpacking

10 Hari: 5 Negara dan 7 Kota Asia Tenggara (1)

“Traveling is about survival, fast adaptation, learning different perspective, accept uncertainty, and kick yourself from comfort zone” Saat itu saya berpikir ingin melakukan sesuatu yang baru, dan perlu ‘memaksakan’ diri untuk mewujudkannya. Yang juga terpikirkan di kepala adalah ingin menghabiskan jatah cuti tahunan yang tak mau begitu saja hangus. Secara tak sengaja saya juga menemukan sebuah maskapai penerbangan yang menggelar promo penerbangan Jakarta – Ho Chi Minh hanya 700 ribu rupiah dengan waktu transit yang cukup lama di Singapura. Jadilah ide untuk cross country ke beberapa Negara Asia Tenggara muncul di kepala. Negara Asia Tenggara atau sebut saja ASEAN merupakan Negara bebas visa bagi pemegang paspor Indonesia. Hal ini bisa jadi kesempatan kamu untuk bepergian ke luar negeri tanpa repot mengurus visa. Sekaligus untuk menambah perbendaharaan Negara yang dikunjungi, terutama kamu yang travel addict. Begitu pun pikir saya. Beberapa Negara terletak di satu daratan yang biasa disebut Indochina, sehingga memungkinkan untuk dilakukan perjalanan darat menyeberang ke beberapa Negara sekaligus. Saya mulai berpikir demikian. Dimulai dari paling selatan, Vietnam, merambat ke utara Kamboja, kemudian bisa ke …

One Day Trip to Mt. Huashan: Salju di Bulan Mei

Setelah menempuh perjalanan dari Xi’an dan akhirnya bisa sampai di ticket hall atau visitor center menuju pendakian Huashan, saya disambut oleh pemandu yang sangat ramah. Dia bukan memandu treking di Huashan, tapi hanya menjelaskan bagaimana gambaran jalur hiking dan macam-macam rutenya. Dari informasi yang saya peroleh, Mount Hua atau dalam bahasa China, Hua Shan, adalah salah satu dari 5 gunung terbesar di daratan China. Terdapat 5 titik puncaknya, yaitu: East Peak, memiliki ketinggian 2.090 meter dan sebagai spot untuk menyaksikan sunrise. Butuh sekitar 4 sampai 6 jam untuk mendaki sampai ke puncaknya. Normalnya jika memulai pendakian dari malam hari di titik ini. Middle Peak, masih menyatu dengan East Peak dan berada di tengah antara East Peak, South Peak dan West Peak. South Peak, memiliki ketinggian 2.160 meter dan merupakan yang tertinggi. West Peak, memiliki ketinggian 2.086,6 meter dan di sini terdapat sebuah kuil Taoist di puncaknya. North Peak, memiliki ketinggian 1.614 meter. Saat kondisi cuaca hujan seperti ini, dan bagi yang memulai treking siang hari seperti saya, ada cara mudah untuk sampai ke atas. Dengan …

One Day Trip to Mt. Huashan: Perjalanan dengan Kereta Cepat

Sehari sebelum berangkat, Li Li, teman seperjalanan ke Musium Terracotta Warrior, sempat memperingatkanku bahwa hari ini akan hujan sepanjang hari. Dia menanyakan apakah saya yakin akan tetap berangkat ke Huashan. Mungkin juga akan berbahaya jika saya tetap memaksakan diri treking di pegunungan yang terkenal sebagai salah satu “the most dangerous track in the world”. Apalagi tiket kereta cepat yang sudah saya beli lewat travelchinaguide.com sayang jika hangus begitu saja. Belum lagi Mt. Huashan adalah salah satu tujuan saya datang ke Xian, jadi tanpa ragu dan bimbang meskipun sedikit galau saya semangat tetap pergi dalam kondisi cuaca apapun. Dari Bell Tower, saya naik subway menuju ke stasiun Xian North untuk mengejar kereta pukul 09.19 pagi yang akan membawa saya ke Huashan North, stasiun terdekat menuju pegunungan Hua (Hua Shan). Di kota Xian ada dua stasiun besar yang menghubungkan Xian dengan kota-kota lain di Tiongkok, yaitu Xian North dan Xian Railway. Xian North adalah stasiun untuk menaiki kereta cepatnya Tiongkok atau disebut China Railway Hub (CRH), sedangkan kereta Ordinary naiknya dari Xian Railway. Saya memilih naik kereta …

Bandara Xianyang dan Sebungkus Cup Noodle

Saat pesawat mendarat di Bandara Xianyang, saya lega. Bukan sekedar karena telah sampai dengan selamat ke tujuan dan penerbangan pun mulus tanpa turbulensi, bersyukur kali ini lebih karena akhirnya saya bebas dari berisiknya para penumpang selama penerbangan hampir 6 jam tadi. Berisiknya sudah seperti pasar dengan para penjual yang menawarkan barang dagangannya dan para pembeli yang tawar menawar harga. Sialnya.. bareng serombongan -anggap saja turis- Tiongkok yang baru pulang dari Kuala Lumpur. Jadwal maskapai merah Negeri Jiran yang mendarat di Bandara Xianyang tengah malam, memaksa saya untuk menginap dan bertahan sampai pagi di sini. Saya tak mau berspekulasi melanjutkan perjalanan ke kota Xi’an karena hostel yang dipesan juga sudah menutup batas waktu check in. Hanya bisa berharap semoga bandara -yang bukan di kota besar Negeri Tiongkok- ini bisa nyaman dan aman. Melewati counter imigrasi dan custom relatif lancar tak ada halangan apapun. Meskipun sebelumnya ada pemeriksaan suhu tubuh yang lumayan jutek petugasnya. Setelah itu, saya memasuki lorong bandara yang agak gelap. Sepertinya aktifitas penerbangan sudah sepi waktu itu, dan pesawat yang saya tumpangi termasuk di …

Menyapa Ribuan Tentara yang Terkubur Ribuan Tahun

Cuaca di kota Xi’an mungkin memang kurang bersahabat denganku, pasalnya tiap pagi kota ini diguyur hujan. Seperti pagi itu, ketika saya beranjak keluar kamar dan hendak menuju halte bus. Hujan masih saja turun dengan derasnya dari semalam, meskipun tak menghalangi masyarakat Xi’an untuk lalu lalang di trotoar kota yang lebar menuju ke tempat aktifitasnya.  Akupun demikian, tak menyerah karena hujan untuk menuju destinasi yang lokasinya di luar kota Xi’an. Sepuluh menit sudah saya menunggu di halte yang letaknya tak jauh dari pintu keluar hotel, hanya fokus dengan angka 603 karena itu nomer rute bus yang saya tahu akan membawa saya ke Xi’an Railway Station. Saya mencoba mencari alternatif bus lain dengan melihat peta rute bus yang melintasi halte itu, tapi sepertinya sia-sia karena semua tempat dan nama rute bus hanya tertulis dengan aksara kanji. Rupanya mirip seperti di kota Bangkok, saya tak bisa berharap banyak dengan bus kota karena tak mampu membaca. Hari itu saya sedang malas merangkai bahasa tarzan untuk sekedar bertanya ke penduduk lokal. Saya pun sudah tak mau gambling menunggu beberapa menit …

Jinhae Gunhangje, Festival Bunga Sakura Terbesar di Korea

Siapa yang tidak terpesona dengan keindahan bunga Sakura? Warna putih atau merah jambu kelopaknya dengan tangkai yang tumbuh memenuhi setiap ranting pohonnya mampu mengalihkan setiap pandangan mata. Momen mekarnya yang hanya berlangsung selama satu minggu setiap tahunnya, menjadikan bunga Sakura sebagai tujuan wisata eksklusif di musim semi. Tidak mudah untuk memprediksi kapan tepatnya bunga Sakura akan mekar setiap tahunnya. Begitupun dengan merencanakan trip musim semi untuk mendapatkan momen langka ini. Bunga sakura mulai mekar jika suhu udara mulai menghangat setelah selesainya musim dingin. Di Korea, setiap daerah akan berbeda waktunya. Dari selatan ke utara, wilayah selatan sekitar Busan akan mendapatkan mekarnya bunga sakura terlebih dahulu dari akhir bulan Maret, sementara Seoul yang terletak di bagian utara tentunya akan lebih lambat yaitu sekitar pertengahan bulan April. Saya merencanakan trip ke Korea tiga bulan sebelum keberangkatan, sebenarnya bukan sengaja untuk mengejar momen bunga Sakura tapi karena adanya tiket pesawat promo waktu itu. Hehehe. Setelah browsing ke sana ke mari mengumpulkan informasi untuk menyusun itinerary, baru sadar ternyata tanggal trip saya bertepatan dengan musim semi. Musim semi adalah …

Pesona Empat Musim Gunung Fuji

Bulan Juni menandakan sudah memasuki musim panas, atau orang Jepang bilang “Natsu”. Entah foto ke berapa dengan view seperti ini yang dikirim Pak Miyazaki via Line, tapi saya tak pernah bosan melihatnya. Setiap musim akan selalu ada yang berbeda dari setiap detail gambar yang diambil dari Arakurayama Sengen Park ini. Dari musim gugur, musim dingin, musim semi, dan sekarang musim panas. Perlu perjuangan untuk bisa mengambil gambar dengan angle seperti ini. Ada ratusan anak tangga yang siap ditapaki untuk mencapai bukit di samping Arakura Sengen Shrine. Pak Miyazaki sempat menyindir ketika di tengah jalan saya bertanya kira-kira tinggal berapa banyak anak tangga lagi yang harus saya lalui. Alih-alih memberi bocoran, beliau malah bilang, “Hey, kamu jauh lebih muda dari saya, masa mau menyerah. Tinggal jalan saja ke atas!”. Secara tak sengaja, saya bertemu Pak Miyazaki ketika sedang meniti anak tangga menuju Chureito Pagoda di atas bukit. Saya dianggapnya kurang beruntung saat itu, karena sebagian puncak Gunung Fuji sedang tertutup kabut. Karena itulah, kemudian dengan baik hati beliau menawarkan foto-foto hasil jepretannya ke saya. Meskipun bahasa …

Muslim Quarter: Heaven of Delicacies in Xi’an

Just take a walk to the north of Xi’an Drum Tower in city center, you will find hundreds of food vendors along the street. This about-500-meter-long street is called Beiyuanmen Muslim Street or also better known as Xi’an Muslim Quarter. Just as its name, here is the place for Muslim community in city of Xi’an, Shaanxi Province, China. They live around the city center and are the descendants of Hui tribe. That’s why there are about ten mosques around this area including The Great Mosque. During three-day stay in the city of Xi’an, there was no day I missed to go here. Of course for adventuring the authentic local Chinese foods, and I swear I never regretted. The sounds of the crowded street, the sights of the vendors and shoppers, and the smells are very fantastic. Moreover, I could choose any food and no need to worry to eat it. There are lots of barbecue food offered here, the most common is lamb but they also have lots kind of food made from chicken, beef, …

‘Oase’ di Negeri Ginseng

Tentang perjalanan ke Negeri Ginseng, meskipun hanya beberapa hari, namun saya bisa merasakan bagaimana warga lokal memperlakukan orang asing. Salah satu kejadian yang melekat di ingatan saya, dan mungkin pernah juga dialami oleh Muslim di Korea Selatan, yaitu ketika ada seorang petugas stasiun Gapyeong menanyakan kenapa saya memakai ‘penutup kepala’. Saat itu saya sedang bersama tiga traveler asal Indonesia yang kebetulan semuanya memakai hijab. Petugas stasiun itu pun sepertinya sama sekali tak paham bahwa yang kami pakai disebut ‘hijab’. Yang dia tanyakan seperti ini: “Kenapa kalian memakai sesuatu (kain) di kepala?”. ** Bisa dipastikan, tiap kali berkunjung ke negara orang, ke manapun itu, akan ada hal baru yang ditemui di jalan. Terutama bagi penganut jalan mandiri alias backpacking di mana tak akan ada tourguide yang mengarahkanmu kemana-mana. Tantangan akan selalu ada, dari masalah komunikasi, perbedaan karakter dan budaya masyarakat setempat maupun selera makanan, khususnya bagi traveler Muslim. Menjadi traveler bagi sebagian Muslim memang tidak mudah, terutama jika pergi ke negara yang muslimnya minoritas. Seperti ibuku yang selalu menanyakan hal yang sama setiap kali saya akan …

Terkesima Takayama

Tanpa gedung pencakar langit, tanpa jalur subway, tanpa iklan videotron yang menyilaukan mata di setiap perempatan jalan, tanpa mall, dan tanpa ratusan pejalan kaki yang berjalan terburu-buru di trotoar. Kiranya itu adalah gambaran sebuah kota kecil di daerah pegunungan Hida yang masuk dalam daftar itinerary saya untuk menyeimbangkan hiruk pikuk kota metropolitan Tokyo, mantan ibukota Kyoto, dan kota yang menurut saya absurd, Osaka. Takayama saya pilih menjadi persinggahan terakhir saat itu, sebelum kembali ke Indonesia via bandara Kansai di Osaka. Padahal jarak tempuh tercepat ke Kansai dari Takayama adalah minimal 4,5 jam dengan dua kali berpindah kereta. Kota di Perfektur Gifu ini sudah lama menjadi incaran karena sekaligus bisa ikut tur setengah hari ke Shirakawa-go dari terminal bis Takayama. Untuk menuju Takayama, saya mengambil jalur kereta dari kota Nagoya. Dari Stasiun Nagoya terdapat kereta langsung Ltd. Express (Wide View) Hida ke Stasiun Takayama yang sepenuhnya bisa ter-cover oleh JR Pass. Perjalanan kereta Express Hida memakan waktu hampir 2,5 jam untuk sampai ke Stasiun Takayama. Bukan waktu yang singkat untuk ukuran kereta express. Namun perjalanan kereta …