All posts tagged: #landscape

Pesona Empat Musim Gunung Fuji

Bulan Juni menandakan sudah memasuki musim panas, atau orang Jepang bilang “Natsu”. Entah foto ke berapa dengan view seperti ini yang dikirim Pak Miyazaki via Line, tapi saya tak pernah bosan melihatnya. Setiap musim akan selalu ada yang berbeda dari setiap detail gambar yang diambil dari Arakurayama Sengen Park ini. Dari musim gugur, musim dingin, musim semi, dan sekarang musim panas. Perlu perjuangan untuk bisa mengambil gambar dengan angle seperti ini. Ada ratusan anak tangga yang siap ditapaki untuk mencapai bukit di samping Arakura Sengen Shrine. Pak Miyazaki sempat menyindir ketika di tengah jalan saya bertanya kira-kira tinggal berapa banyak anak tangga lagi yang harus saya lalui. Alih-alih memberi bocoran, beliau malah bilang, “Hey, kamu jauh lebih muda dari saya, masa mau menyerah. Tinggal jalan saja ke atas!”. Secara tak sengaja, saya bertemu Pak Miyazaki ketika sedang meniti anak tangga menuju Chureito Pagoda di atas bukit. Saya dianggapnya kurang beruntung saat itu, karena sebagian puncak Gunung Fuji sedang tertutup kabut. Karena itulah, kemudian dengan baik hati beliau menawarkan foto-foto hasil jepretannya ke saya. Meskipun bahasa …

Let’s Go, Shirakawa-go

Hujan dari semalam belum kunjung reda saat saya bangun tidur di pagi pertama di Takayama, kota yang baru pertama kali saya kunjungi. Meskipun udara dingin seolah membisikkan agar saya kembali menarik selimut dan merebahkan badan di atas futon yang hangat, tapi saya sadar mesti bergegas menuju depan Stasiun Takayama. Saya harus sampai di meeting point 15 menit sebelum bis berangkat, bis akan berangkat sesuai jadwal tepat jam 8 pagi, meeting point ada di depan stasiun JR Takayama atau di seberang Washington Hotel Plaza, dan warna bis tur adalah merah. Itulah penjelasan staf hostel J-Hoppers Hida Takayama semalam, saat saya memutuskan untuk ikut tur pagi ke salah satu situs UNESCO, Shirakawa-go. Karena terngiang dengan ‘doktrin’ semalam dan terbayang dengan keindahan Shirakawa-go, jam 7 pagi saya sudah rapi dan tentu saja sudah mandi. Saya tidak langsung menuju stasiun tapi memutuskan untuk setidaknya menyesap secangkir minuman hangat di dapur hostel. Pintu dapur saya buka pelan-pelan , takut membuat kegaduhan karena hostel masih sepi. “Ohayo…!” Sapa ramah seorang pria oriental -yang ternyata sudah telebih dulu berada di dapur hostel- …

Inilah Sisa-Sisa Kota Kuno Ayutthaya

Dua jam perjalanan kereta ke arah utara dari kota Bangkok mengubah pandangan saya bahwa tidak semua yang berbeda ataupun lebih modern adalah yang saya cari ketika bertandang ke negeri orang. Setelah melihat gemerlapnya ibu kota, kemudian menyaksikan realitas daerah pinggiran yang masih belum seluruhnya terjamah pembangunan justru membuat saya menikmati sebuah perjalanan. Perjalanan yang seolah menjadi ajang nostalgia ke zaman ‘PT. KAI belum dipegang Ignasius Jonan’. Iya. Kereta ekonomi, yang tanpa tempat duduk empuk, yang duduknya berhadap-hadapan tanpa AC, yang ada pedagang-asongan-sliweran-ikut-naik-kereta-tanpa-menyerah-menawarkan-dagangannya, yang orang bebas merokok di dalam gerbong yang panas menyengat, dan yang bisa saja saya berdiri atau ngemper di bawah karena tidak kebagian tempat duduk. Hal-hal seperti inilah yang (sayangnya) tidak bisa saya temui lagi di Indonesia. Dan suatu saat akan saya banggakan menjadi cerita unik untuk anak cucu saya. Kelar dua jam yang penuh kenangan dan penuh kedekatan dengan penduduk lokal di dalam kereta bertarif 15 Baht (kurang dari 6 ribu rupiah), kini saatnya turun di Stasiun Ayutthaya. Sebuah stasiun yang cukup sederhana untuk ukuran suatu kota. Hanya ada dua lajur rel, …

Terjebak di Lorong Tak Berujung, Fushimi Inari

Jika kamu menebak bahwa yang ada di Jepang berbentuk seperti lorong berwarna oranye itu bernama Fushimi Inari, kamu benar. Tapi jika kamu mengira bahwa Fushimi Inari hanya terdiri dari sebuah lorong torii, kamu salah. Pertama kali menginjakkan kaki di depan gerbang kuil, tepatnya dari depan Stasiun Inari, saya juga tidak menyangka bakal terjebak dalam lorong-lorong torii sepanjang 4 km. Cukup dua pemberhentian dari Stasiun Kyoto menggunakan JR Nara Line, kami sampai di shrine yang paling terkenal seantero Jepang. Menurut saya, tempat ini memang wajib dikunjungi siapapun yang berkunjung ke Negeri Sakura. Fushimi Inari berada Fushimi-ku, sebelah tenggara pusat kota Kyoto. Merupakan kuil tempat sembahyang penganut agama Shinto yang sudah berumur ratusan tahun. Perjalanan dimulai dari seberang Stasiun Inari, di depan kuil kami disambut oleh sebuah torii gate besar dan satu lagi ada sebelum memasuki gerbang utama. Bangunan yang didominasi warna merah menyala ini memang identik dengan yang ada di Kiyumizudera Temple maupun yang ada di Asakusa Shrine. Bedanya di sana tidak ada torii raksasa seperti di Inari ini. Setelah gerbang utama, terdapat aula persembahyangan dan …