All posts tagged: #Travelphotography

Obrolan Kecil di Masjid Besar Xian

Empat hari saya di Xián selalu diakhiri dengan mencari makanan di sepanjang Beiyuanmen Street atau Muslim Quarter, mencicipi makanan yang sama sekali asing di lidah dan menikmati ramenya jika hari memasuki malam. Namun di satu sore saat itu, saya menyempatkan datang lebih awal menjelang waktu Solat Ashar. Tujuan saya ke sebuah masjid tua yang terletak di samping jalan itu. Masjid yang konon adalah masjid terluas di daratan China. Dari Drum Tower tak jauh di samping kiri jalan, dekat toko souvenir, gapura di depan gang menuju masjid berdiri dengan tegap. Untuk menuju ke masjid, saya harus melewati puluhan kios souvenir begitu berbelok ke dalam gang. Mungkin ada sekitar 200 meter panjangnya, berbagai pernak pernik khas negeri Tiongkok dijual di sini. Sesekali saya pun ditawari untuk melihat-lihat, meskipun saya tak mengerti benar arti ucapan para pedagang di sana, namun bahasa tubuh mereka terlihat jelas. Sayangnya, saya selalu dikira berasal dari Malaysia. Tepat di ujung lorong deretan kios-kios tadi, pintu masuk ke area masjid berada. Lumayan membingungkan memang, saya awalnya juga sempat ragu apakah benar di sini letak …

Sore di Xian City Wall

Badan belum terlalu lelah dan kaki masih sanggup berjalan meskipun setengah hari sudah saya habiskan di Lintong, mengunjungi Terracotta Army Museum. Sempat istirahat sebentar di hotel dan mengganti baju yang basah kehujanan di Lintong, saya melanjutkan eksplorasi kota tua Xián. Kali ini saya ingin menyusuri tembok besar yang mengelilingi area tempat saya tinggal, tembok yang mengelilingi pusat kota, Xián Ancient City Wall. Jarak ke gerbang selatan (South gate) hanya satu stasiun subway dari Bell Tower,  yaitu dekat stasiun Yongningmen (Line 2), jadi saya memilih untuk berjalan kaki saja menyusuri trotoar yang sangat lebar sembari menikmati udara sore yang cukup dingin. Gerbang ini merupakan pintu masuk utama bagi pengunjung, sekaligus yang memiliki desain paling indah. Lobby tiket berada di bawah tembok yang menjulang setinggi 12 meter. Tepat sebelum pintu gerbang yang sangat megah, yang ketika saya memasukinya berasa masuk ke dunia film kolosal China. Iya, untuk bisa berjalan menyusuri tembok ini tidaklah gratis. Setiap pengunjung dewasa dikenakan biaya 54 Yuan. Persis di depan pintu masuk menuju tangga-tangga curam ada sebuah amphi theatre yang digunakan untuk pertunjukan …

Let’s Go, Shirakawa-go

Hujan dari semalam belum kunjung reda saat saya bangun tidur di pagi pertama di Takayama, kota yang baru pertama kali saya kunjungi. Meskipun udara dingin seolah membisikkan agar saya kembali menarik selimut dan merebahkan badan di atas futon yang hangat, tapi saya sadar mesti bergegas menuju depan Stasiun Takayama. Saya harus sampai di meeting point 15 menit sebelum bis berangkat, bis akan berangkat sesuai jadwal tepat jam 8 pagi, meeting point ada di depan stasiun JR Takayama atau di seberang Washington Hotel Plaza, dan warna bis tur adalah merah. Itulah penjelasan staf hostel J-Hoppers Hida Takayama semalam, saat saya memutuskan untuk ikut tur pagi ke salah satu situs UNESCO, Shirakawa-go. Karena terngiang dengan ‘doktrin’ semalam dan terbayang dengan keindahan Shirakawa-go, jam 7 pagi saya sudah rapi dan tentu saja sudah mandi. Saya tidak langsung menuju stasiun tapi memutuskan untuk setidaknya menyesap secangkir minuman hangat di dapur hostel. Pintu dapur saya buka pelan-pelan , takut membuat kegaduhan karena hostel masih sepi. “Ohayo…!” Sapa ramah seorang pria oriental -yang ternyata sudah telebih dulu berada di dapur hostel- …

Uniknya Osaka

Salah satu yang sangat saya suka dari traveling adalah bisa menemukan banyak hal tak terduga dan belajar dari apa yang saya temui di jalan. Masalah perbedaan bahasa, budaya dan kultur sepertinya sudah bukan kendala yang butuh waktu lama untuk beradaptasi. Justru saya merasa punya kewajiban untuk memahami kearifan lokal. Seperti ketika saya berada di Jepang, tiga kota yang saya kunjungi pun berbeda kultur kesehariannya. Pertama Tokyo, kota metropolitan berpenduduk paling banyak di dunia, memiliki ritme kehidupan yang serba cepat. Maka tidak heran jika berada di jalanan kota ini, saya merasa berada di tengah-tengah lautan manusia. Ke manapun seolah terburu-buru. Tidak hanya di jalan tapi juga di stasiun-stasiun kereta api bawah tanah. Kemudian Kyoto. Berbeda dengan Tokyo, Kyoto cenderung kota yang lebih tenang dan santai dengan nuansa tradisi budaya yang masih kental. Begitu juga dengan Osaka, di kota terpenting kedua di Jepang ini saya juga merasakan atmosfer kota yang berbeda. Baca juga: Top Things to Do in Osaka. Osaka adalah kota persinggahan terakhir saya di Jepang. Dibanding dua kota lainnya (Tokyo dan Kyoto), memang awalnya saya …

City Tracking, Bentuk Wisata Gratis di Singapura

Bukan Universal Studio ataupun wisata belanja yang saya cari di negara yang terkenal dengan patung Merlionnya ini, jelas saja dengan prinsip budget sekedarnya saya hanya mencari petualangannya. Ada banyak tempat yang bisa saya kunjungi dengan gratis tanpa tiket masuk maupun iuran ‘suka rela’ dengan kedok biaya perawatan, namun bukan berarti tanpa kesan. Sebagai penyuka sight seeing sambil jalan kaki menyusuri kota, banyak hal-hal tak terduga yang bisa ditemui. Nuansa Tirai Bambu di Chinatown Turun di stasiun Chinatown dan langsung memasuki kawasan semacam pujasera yang menjual makanan khas negeri tirai bambu. Namun hampir tak satupun nama-nama makanan di sana yang saya tahu. Jelas saja, semua menggunakan huruf kanji 😀 . Berjalan melewati beberapa gang, ternyata masing-masing menawarkan nuansa yang berbeda. Ada satu jalan yang berisi deretan penjual souvenir khas Singapura namun bernuansa China. Ada juga deretan toko-toko yang khusus menjual camilan dan makanan khas china. Yang membuat saya sedikit excited adalah ketika menemukan sebuah jalan bernama Mosque St. Pertama saya pikir hanya sebuah nama, ternyata di ujung jalan ini memang benar-benar terdapat sebuah masjid, yaitu Masjid …