All posts tagged: #trip

Muslim Quarter: Heaven of Delicacies in Xi’an

Just take a walk to the north of Xi’an Drum Tower in city center, you will find hundreds of food vendors along the street. This about-500-meter-long street is called Beiyuanmen Muslim Street or also better known as Xi’an Muslim Quarter. Just as its name, here is the place for Muslim community in city of Xi’an, Shaanxi Province, China. They live around the city center and are the descendants of Hui tribe. That’s why there are about ten mosques around this area including The Great Mosque. During three-day stay in the city of Xi’an, there was no day I missed to go here. Of course for adventuring the authentic local Chinese foods, and I swear I never regretted. The sounds of the crowded street, the sights of the vendors and shoppers, and the smells are very fantastic. Moreover, I could choose any food and no need to worry to eat it. There are lots of barbecue food offered here, the most common is lamb but they also have lots kind of food made from chicken, beef, …

‘Oase’ di Negeri Ginseng

Tentang perjalanan ke Negeri Ginseng, meskipun hanya beberapa hari, namun saya bisa merasakan bagaimana warga lokal memperlakukan orang asing. Salah satu kejadian yang melekat di ingatan saya, dan mungkin pernah juga dialami oleh Muslim di Korea Selatan, yaitu ketika ada seorang petugas stasiun Gapyeong menanyakan kenapa saya memakai ‘penutup kepala’. Saat itu saya sedang bersama tiga traveler asal Indonesia yang kebetulan semuanya memakai hijab. Petugas stasiun itu pun sepertinya sama sekali tak paham bahwa yang kami pakai disebut ‘hijab’. Yang dia tanyakan seperti ini: “Kenapa kalian memakai sesuatu (kain) di kepala?”. ** Bisa dipastikan, tiap kali berkunjung ke negara orang, ke manapun itu, akan ada hal baru yang ditemui di jalan. Terutama bagi penganut jalan mandiri alias backpacking di mana tak akan ada tourguide yang mengarahkanmu kemana-mana. Tantangan akan selalu ada, dari masalah komunikasi, perbedaan karakter dan budaya masyarakat setempat maupun selera makanan, khususnya bagi traveler Muslim. Menjadi traveler bagi sebagian Muslim memang tidak mudah, terutama jika pergi ke negara yang muslimnya minoritas. Seperti ibuku yang selalu menanyakan hal yang sama setiap kali saya akan …

Mencari ‘Oase’ di Negeri Sakura

Stasiun JR Sannomiya adalah tujuan utama saya pada hari ketiga di Kyoto. Saya berniat menyambangi Masjid Kobe yang termahsyur di kalangan Muslim Jepang. Kenapa masjid? Yaa, saya rasa suguhan shrine dan temple bisa dinikmati hampir di seluruh sudut kota, Fushimi Inari dan beberapa spot kota Kyoto pun pernah saya sambangi sebelumnya, namun untuk sebuah masjid -yang di negara ini bisa dihitung dengan jari- saya pikir bisa menjadi pengalaman tersendiri. Mencari sesuatu yang langka kiranya tak berlebihan di tengah kondisi menjadi minoritas di negeri orang, layaknya mencari sebuah oase di padang pasir. Demi masjid yang pertama di bangun di Jepang, sampai ke Perfektur Hyogo saya jalani. Saya berangkat dari stasiun Kyoto dengan menggunakan kereta JR Special Rapid Service, jenis kereta jarak menengah. Butuh waktu lima puluh menit untuk sampai di stasiun yang terletak di Kota Kobe itu. Kobe dan Kyoto berjarak sekitar 70 km, merupakan kota yang berada dalam area Kansai seperti halnya Osaka dan Nara. Perjalanan ke Kobe saya tempuh dengan tidak santai –tanpa bahasa yang saya mengerti di sepanjang perjalanan kereta dengan jadwal kereta …

Terjebak di Lorong Tak Berujung, Fushimi Inari

Jika kamu menebak bahwa yang ada di Jepang berbentuk seperti lorong berwarna oranye itu bernama Fushimi Inari, kamu benar. Tapi jika kamu mengira bahwa Fushimi Inari hanya terdiri dari sebuah lorong torii, kamu salah. Pertama kali menginjakkan kaki di depan gerbang kuil, tepatnya dari depan Stasiun Inari, saya juga tidak menyangka bakal terjebak dalam lorong-lorong torii sepanjang 4 km. Cukup dua pemberhentian dari Stasiun Kyoto menggunakan JR Nara Line, kami sampai di shrine yang paling terkenal seantero Jepang. Menurut saya, tempat ini memang wajib dikunjungi siapapun yang berkunjung ke Negeri Sakura. Fushimi Inari berada Fushimi-ku, sebelah tenggara pusat kota Kyoto. Merupakan kuil tempat sembahyang penganut agama Shinto yang sudah berumur ratusan tahun. Perjalanan dimulai dari seberang Stasiun Inari, di depan kuil kami disambut oleh sebuah torii gate besar dan satu lagi ada sebelum memasuki gerbang utama. Bangunan yang didominasi warna merah menyala ini memang identik dengan yang ada di Kiyumizudera Temple maupun yang ada di Asakusa Shrine. Bedanya di sana tidak ada torii raksasa seperti di Inari ini. Setelah gerbang utama, terdapat aula persembahyangan dan …

Senja di Pulau Buatan, Odaiba

Ingin bertemu Robot Gundam seukuran aslinya? Atau ingin berfoto dengan Patung Liberty seperti yang ada di New York? datanglah ke Odaiba. Sebuah pulau buatan yang ada di Teluk Tokyo, Jepang. Menurut sejarah, awalnya pulau ini ‘dibangun’ untuk keperluan pertahanan bangsa Jepang. Namun seiring berjalannya waktu, pulau ini berkembang menjadi kota pelabuhan dan tumbuh menjadi area komersil, hiburan dan wisata. Replika Patung Liberty dengan latar belakang Rainbow Bridge dan Kota Tokyo Odaiba terhubung dengan pusat Kota Tokyo oleh sebuah jembatan dengan konstruksi yang sangat menakjubkan, Rainbow Bridge. Disebut Rainbow Bridge karena jika dilihat di malam hari, lampu-lampu yang menghiasi jembatan akan berubah-ubah warnanya. Bagian atas jembatan berfungsi sebagai jalan raya, sementara bagian bawah adalah rel yang digunakan untuk jalur monorel. Cara paling cepat untuk menuju ke sana adalah dengan naik Yurikamome Rapid Transit Line (monorel) dari Stasiun Shimbashi. Kereta tanpa masinis ini, mengajak kita untuk ‘berselancar’ di atas rel yang berketinggian seukuran lantai 5 gedung bertingkat dan menyeberangi Rainbow Bridge dengan kecepatan tinggi. Rainbow Bridge, yang menghubungkan pusat Tokyo dengan Odaiba Menunggu matahari tenggelam dari Odaiba …

Butterfly Farm dan Penang Hill

Perjalanan kami lanjutkan ke Butterfly Farm pagi harinya, keluar dari ibukota Georgetown, untuk eksplorasi tempat lain di Pulau Penang. Perjalanan dimulai dari terminal KOMTAR, yang kami tempuh hanya dengan berjalan kaki dari hostel tempat kami menginap di Kimberley Street. Untuk menuju Penang Butterfly Farm, bisa ditempuh dengan bis Rapid Penang nomor 101 jurusan Teluk Bahang. Papan Daftar Tarif Bis di Terminal KOMTAR Meskipun Pulau Penang ukurannya kurang dari 1/5 luas Pulau Bali, namun transportasi umum di sini sangat memadai. Bus umum Rapid Penang tersedia dari ujung ke ujung, menjangkau semua objek wisatanya. Bisnya besar, ber-AC dan bersih. Tarifnya pun tidak terlalu mahal, mulai dari RM 1,4 untuk 7 KM pertama dan maksimal RM 4 untuk jarak lebih dari 28 KM. Rapid Penang Meskipun demikian, sistem pembayarannya masih manual tidak memakai kartu alias harus pakai uang cash. Perlu diperhatikan juga bahwa supir bus tidak menyediakan kembalian, jadi sebaiknya sediakan uang pas jika tidak ingin rugi. Penang Butterfly Farm terletak di daerah Teluk Bahang, jauh di luar ibukota Penang, Georgetown. Berbeda dengan Georgetown yang berisi bangunan-bangunan klasik, …

7 Hal yang Bisa Diteladani Dari Jepang

Traveling bagi saya bukan sekedar sampai ke tempat yang dituju, kemudian menikmati segala atraksinya dan berfoto-foto. Berada di tempat baru yang asing, di tengah kehidupan masyarakat lokal tentu memaksa saya untuk beradaptasi. Beradaptasi adalah berarti belajar tentang hal-hal baru, tentang kebiasaan, peraturan, dan bersikap. Selama seminggu lebih berada di Negeri Sakura, ada beberapa hal yang membuat saya ‘amazed’ dan berandai ini semua bisa saya bawa pulang ke negeri saya. Hahaha. 1. Kebersihan Jujur, saya merasa iri dengan kebersihan negara ini. Saya menempatkan kebersihan di tempat pertama yang harusnya bisa kita tiru. Karena paling sederhana dan gampang dilakukan, tidak membutuhkan biaya yang mahal hanya butuh kesadaran masing-masing orang. Jepang masuk dalam jajaran negara terbersih di dunia, dan sangat enak dipandang. Meskipun di Tokyo dan kota-kota lainnya di Jepang tidak pernah ada tulisan “Dilarang Buang Sampah di Sini”, sebagaimana yang sering ditemui di Jakarta atau kota-kota lain di Indonesia. Namun dipastikan tidak ada sampah yang tercecer sembarangan. Bahkan sampah sekecil sobekan kertaspun tak saya lihat di pinggir jalan. Mungkin budaya malu yang telah mendarah daging turut mendorong …

Rikshaw

Begitu sampai di Arashiyama, ada satu hal yang menarik perhatian saya selain pemandangan alamnya yang sangat indah, yaitu rikshaw. Rikshaw adalah alat transportasi tradisional Jepang beroda dua yang ditarik manusia. Berbeda dengan becak di Indonesia yang pengemudinya ada di belakang atau bentor yang pengemudinya di samping, mengemudikan rikshaw sama seperti menarik gerobak. Perhatian saya bukan sepenuhnya pada bentuk rikshaw yang unik, tapi para si penarik rikshaw ini. Mereka adalah pria-pria muda berbadan atletis, memakai celana ketat dan alas kaki tradisional. Sebagian berkeliaran untuk ‘menjajakan’ jasanya dengan bermodal brosur kawasan wisata Arashiyama. Rupanya bukan sekedar jasa transportasi, naik rikshaw juga sebagai alat sightseeing dan pemandu wisata. Tidak heran jika kita harus membayar 8.000 yen untuk naik rikshaw selama 30 menit. Sayangnya, para penarik rikshaw ini hanya bisa berbahasa Jepang.Jadi jika ingin mendapat panduan wisata dengan rikshaw hukumnya wajib untuk tahu bahasa Jepang. Saya sempat memperhatikan dua gadis berpakaian tradisonal ini menaiki rikshaw.

A Taste of India in Batu Caves

I agree that The Government of Malaysia pays more attention in exploiting their tourism potential than the government of my country. A good public transport facility is one of the factors to attract tourists visiting any destination. As I can easily get to Batu Cave from Kuala Lumpur just by taking KTM Komuter Batu Caves-Port Klang line. With a very comfortable train, from KL Sentral only cost RM 2 to Batu Caves station. The station is located directly in front of the entrance of The Batu Caves Temple. Statue of Hanuman Entering the temple area, I was immediately greeted by a 15-meter tall statue of Hanuman. And as indicating that Hanuman is a king, then a flock of wild monkeys hanging around. The Hindu deity statues were engraved neat while a group of young Indians was also holding a ritual in the temple. Suddenly I felt like in the world of the Ramayana epic from the land of Hindustan. Actually, Batu Caves is a place of worship for the Indian Hindu. It was built in …